KHUTBAH JUMAT - DUNIA BUKANLAH TEMPAT PEMBALASAN
Connect with us

Mimbar Islam

KHUTBAH JUMAT – DUNIA BUKANLAH TEMPAT PEMBALASAN

Published

on

KHUTBAH JUMAT - DUNIA BUKANLAH TEMPAT PEMBALASAN

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه
قال الله تعالى فى كتابه الكريم، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
وقال تعالى، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ، فإِنَّ أَصَدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ ، وَكُلَّ ضَلالَةٍ فِي النَّارِ

Suatu pagi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam setelah selesai melaksanakan shalat subuh, dia bersabda kepada para sahabatnya:

هَلْ رَأَى أَحَدٌ مِنْكُمُ الْبَارِحَةَ

“Apakah ada di antara kalian yang mimpi tadi malam?” (HR. Muslim)

Bila ada sahabat yang tentang mimpinya, maka Rasulullah pun mentakwilnya, bila tidak ada maka Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya tadi malam aku bermimpi, aku diajak oleh dua malaikat. Lalu aku pun pergi bersama keduanya, lalu aku melewati seorang laki-laki yang ditelentangkan, kemudian satu lagi membawa batu besar. Lalu kemudian orang yang membawa batu besar ini menghancurkan kepala orang yang telentang tersebut, sehingga kemudian batu itupun menggelinding. Baru kemudian ia mengambil batu tersebut. Ketika kembali maka kepala orang tersebut telah menjadi bagus kembali dan dihancurkan, demikian terus sampai hari kiamat.

Maka aku bertanya kepada malaikat itu: ‘Siapa dia?’ Kata malaikat itu: ‘Pergilah, pergilah.’

Kemudian aku pun pergi, lalu aku melihat seorang laki-laki yang mulutnya disobek sampai ke tengkuknya. Ketika yang kanannya telah selesai lalu kemudian yang kirinya pun disobek lagi, mulutnya, matanya, demikian pula bagian wajahnya, dicabik-cabik. Aku bertanya: ‘Siapa dia?’ Malaikat itu berkata: ‘Pergilah, pergilah.’

Kemudian aku melewat laki-laki dan wanita yang telanjang berada dalam tungku. Ketika api menyambar dari bawahnya, mereka menjerit kesakitan, mereka berusaha untuk keluar namun mereka tidak mampu. Lalu aku bertanya: ‘Siapa mereka?’ Maka malaikat itu berkata: ‘Pergilah, pergilah.’

Kemudian -kata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam- aku melewati seorang laki-laki yang berada di pinggir sungai, sementara di sungai itu adalah sungai darah. Setiap kali orang yang berenang itu sampai ke tepian, maka lelaki yang berada di tepi itu kemudian membuka mulut orang yang berenang itu dan dimasukkan batu ke dalam mulutnya. Kemudian dia kembali berenang. Lalu aku bertanya: ‘Siapa dia?’ Kata malaikat: ‘Pergilah, pergilah.’”

Dalam riwayat yang lain, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam diajak ke sebuah bukit yang sangat terjal kemudian malaikat itu berkata: ‘Naiklah!’ Kata Rasulullah: ‘Aku tidak mampu’ Malaikat itu berkata: ‘Kami akan membantumu.’ Lalu kemudian Rasulullah naik dan ternyata -kata Rasulullah- aku mendengar suara yang sangat mengerikan sekali. Dan aku melihat orang yang digantung kakinya dan kepalanya di bawah, sementara mulutnya disobek berdarah-darah. Aku bertanya: ‘Siapa mereka?’ Kata malaikat: ‘Pergilah.’

Dalam satu riwayat Ibnu Khuzaimah, Rasulullah melewati wanita yang payudaranya dipatuki ular-ular yang beracun. Dan aku bertanya: ‘Siapa dia?’ Kata malaikat: ‘Pergilah.’ Sehingga aku pun pergi lalu aku masuk ke sebuah taman dan aku melihat di kebun tersebut ada seorang laki-laki yang sangat tinggi yang hampir aku tidak bisa melihat kepalanya. Dan di sekitarnya ada anak-anak kecil.

Kemudian aku diajak kepada sebuah kota yang sangat indah sekali, kata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dan ternyata aku dapati di dalamnya adalah arwah kaum mukminin.

Kemudian aku diajak lagi ke sebuah tempat yang lebih indah dari yang pertama. Dan aku dapati di sana adalah arwah orang-orang yang mati syahid.

Kemudian diperlihatkan kepadaku sebuah istana yang sangat megah, lalu dikatakan kepadaku bahwa itu adalah tempatmu kelak. Lalu aku minta izin untuk memasukinya, maka malaikat itu berkata: ‘Adapun sekarang belum waktunya’. Lalu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: ‘Tolong ceritakan kepadaku apa yang aku lihat.”

Maka malaikat itu berkata: ‘Adapun orang yang berbaring dan dihancurkan kepalanya, ia adalah orang yang sudah diajarkan oleh Allah ayat-ayatNya, dia sudah mempelajari Al-Qur’an tapi dia tidak mengamalkannya, ia pun juga tidur dari shalat. Adapun yang kamu lihat mulut dan tengkuknya dihancurkan dan disobek, itu adalah orang yang keluar dari rumahnya lalu kemudian membuat berita-berita palsu yang tersebar kesana-kemari. Adapun yang kamu lihat laki-laki dan wanita yang telanjang, itu adalah para pezina. Adapun yang kamu lihat ia berenang di sungai darah, ia adalah pemakan riba. Adapun yang kamu lihat tergantung ia dengan mulut yang berdarah adalah mereka yang berbuka puasa di bulan Ramadan tanpa ada udzur. Adapun wanita yang dipatuki payudaranya, maka ia adalah wanita yang tidak mau memberikan asinya kepada anaknya.’

Saudaraku sekalian, ini adalah mimpi Rasulullah yang tentunya mimpi Rasulullah adalah haq, menceritakan tentang adzab kubur yang terjadi di alam sana. Allah Subhanahu wa Ta’ala mampu untuk mengadzab manusia di alam kuburnya dan bagi Allah itu adalah mudah, saudaraku.

Kita sekarang hidup di dunia, dunia bukanlah tempat pembalasan, dunia adalah tempat kita beramal. Berapa banyak orang yang berbuat kejahatan tidak diberikan balasan karena memang di dunia bukan tempat pembalasan, pembalasan itu kelak ketika kita telah meninggal dunia, ketika kita telah dikuburkan, di sanalah kita akan melihat pembalasan, terlebih ketika kita dibangunkan kelak di Padang Mahsyar, kemudian kita akan dihisab oleh Allah, di sanalah kita akan merasakan adzab yang amat keras, saudaraku.

Maka setiap kita memikirkan tentang bagaimana kehidupan nanti setelah kematiannya. Kalau kita sekarang memikirkan bagaimana nasib kita di dunia, kita ingin hidup enak, kita ingin tidur nikmat, maka akankah setelah di kuburan kita akan diberikan kenikmatan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala? Maka setiap kita, saudaraku, pasti akan mengalami kematian. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ

Setiap jiwa pasti merasakan kematian.” (QS. Ali-Imran[3]: 185)

Sesungguhnya kematian itu sesuatu yang pasti. Semua manusia tidak akan pernah ada yang berani berkata “Saya akan hidup di dunia selama-lamanya” Siapa manusia yang akan hidup kekal di dunia? Tidak akan pernah ada. Akan tetapi Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak pernah memberi tahu kepada kita kapan kematian itu tiba, saudaraku.

Allah tidak pernah memberitahukan kepada kita berapa umur kita. Kenapa demikian? Yaitu agar kita senantiasa berada dalam persiapan. Agar senantiasa terus berada diatas ketaatan. Kita tidak ingin saat kita berbuat maksiat kepada Allah tiba-tiba malaikat maut menjemput kita lalu ajal pun datang kepada kita dalam keadaan –na’udzubillah– kita meninggal dalam keadaan memaksiati Allah Jalla wa ‘Ala.

Ummatal Islam,

Setiap mukmin pasti berharap agar ia wafat dalam keadaan khusnul khatimah. Setiap mukmin pasti berharap agar ia wafat diatas ketaatan. Maka mungkinkah kita mendapatkan itu jika kita tidak membiasakan dari hari ini? Dari waktu sekarang ini? Ataukah kita akan tertipu oleh buaian-buaian angan-angan? Kita berkata: “Nanti saya akan beramal, nanti saya akan taubat,” kapan nanti tersebut? Karena sesungguhnya ajal tidak pernah memberitahu kita.

Maka kewajiban kita adalah sekarang kita banyak bertaubat kepada Allah, sekarang kita banyak beramal shalih, sekarang kita banyak kembali kepada Allah. Dan kita berusaha untuk menjihadi diri kita. Jangan sampai kita menjadi hamba-hamba setan.

أقول قولي هذا واستغفر الله لي ولكم

Artikel sudah ditayangkan pada radiorodja.com

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Mimbar Islam

Hakekat Orang yang Berpuasa yang harus Diketahui

Published

on

Hakekat Orang yang Berpusa yang harus Diketahui

Gencil News – Hakekat Orang yang Berpuasa yang harus Diketahui. Banyak dari umat Islam yang belum memahami hakekat dari berpuasa sehingga menyepelekan kewajiban berpuasa tersebut.

 عَن جَابِرٍ بنُ عَبدِ اللهِ الأنصَارِيِّ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – قَالَ :

《 إذَا صُمتَ فَليَصُم سَمعُكَ ، وبَصَرُكَ ، ولِسانُكَ عَن الكَذِبِ والمَأثَمِ ، ودَع أذَى الخَادِمِ ، وليَكُن عَلَيكَ وَقارٌ وسَكِينَةٌ يَومَ صَومِكَ ، ولا تَجعَل يَومَ فِطرِكَ وَيَومَ صَومِكَ سَوَاءً 》.

|[ المُصَنَّف لِابنِ أبِي شَيبَة (٨٨٨٠) ، 

شُعَبُ الإيمَانِ لِلبَيهَقِيِّ (٣٣٧٤) ]|

Sahabat Nabi yang mulia, Jabir bin Abdillah Al-Anshory rodhiyallohu anhuma pernah berkata :

“Jika kamu berpuasa, maka berpuasalah (pula) pendengaranmu dan pandanganmu, (dan berpuasa pula) lisanmu dari perkataan dusta atau perkataan (yang mengandung) dosa-dosa!

Tinggalkanlah perbuatan mengganggu pembantu/pelayan (yakni jangan menyakitinya).

Hendaknya kamu bersikap wibawa dan tenang ketika sedang berpuasa!

Jangan kamu jadikan hari-harimu ketika sedang berbuka (yakni ketika tidak berpuasa) sama seperti hari-harimu ketika sedang BERPUASA!”

[Al-Mushonnaf (no. 8880) karya Al-Imam Ibnu Abi Syaibah rohimahulloh, dan di dalam Syu’abul Iman (no. 3374) karya Al-Imam Al-Baihaqi rohimahulloh) 

قال العلامة ابن عثيمين – رحمه الله – :

واعلموا أنّ الصيام إنما شُرع ليتحلى الإنسان بالتقوىٰ، ويمنع جوارحه من محارم الله، فيترك كل فعل محرم من الغش والخداع والظلم، ونقص المكاييل والموازين، ومنع الحقوق، والنظر المحرم، وسماع الأغاني المحرمة، 

فإن سماع الأغاني ينقص أجر الصائم، كل قوم محرم من الكذب والغيبة والنميمة والسب والشتم، وإن سابّه أحد أو شاتمه أحد، فليقل: إني صائم، ولا يرد عليه بالمثل، فلا تجعل أيها المسلم يوم صومك ويوم فطرك سواء،

قال النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم :

« من لم يدع قول الزور والعمل به والجهل، فليس لله حاجة في أن يدع طعامه وشرابه » .

        |[ الضياء اللامع (١٦٦/٢) ]|

Syaikh Al-‘Allamah Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin rohimahulloh juga pernah berkata:

“Ketahuilah oleh kalian semua, bahwa berpuasa itu hanyalah disyari’atkan agar seseorang itu bisa meraih predikat TAQWA!

Dan mencegah seluruh anggota badannya dari (melakukan) hal-hal yang diharamkan oleh Alloh.

Maka hendaknya dia meninggalkan semua perbuatan yang diharamkan, apakah itu yang berupa berbuat curang, menipu, berbuat dholim (kepada orang lain), mengurangi takaran dan timbangan, menahan hak-hak (yang harus dia tunaikan), melihat/memandang hal-hal yang diharamkan, dan mendengar lagu-lagu/nyanyian yang diharamkan!

Karena sesungguhnya mendengar lagu-lagu/nyanyian itu akan bisa mengurangi pahala orang yang berpuasa (krn hal itu termasuk perbuatan fasik/dosa).

(Dan juga hendaknya dia menjauhi) semua perkara yang diharamkan, apakah itu yang berupa dusta/bohong, ghibah, namimah, mencela, mencaci maki dan sebagainya.

Maka jika ada orang yang mencela atau mencaci maki, hendaknya dia mengatakan (kepadanya): “Sesungguhnya aku sedang berpuasa!” Dan dia tidak akan membalas (yang setimpal) dengan celaan tersebut.

Oleh karena itu, wahai kaum Muslimin. Janganlah engkau jadikan hari-hari puasamu sama seperti hari-hari ketika kamu berbuka (sedang tidak berpuasa)!

Nabi shollallohu alaihi wa sallam telah bersabda:

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta, bahkan dia mengamalkannya, dan dia bertindak bodoh, maka Alloh tidak butuh kepada puasanya tersebut!”

[Ad-Dhiyaa-u Al-Laami’, 2/166]

 قَالَ الشيخ العلامة صالحُ الفَوزَان – حَفظهُ الله – :

《 فقد يصومُ الصائمُ ويشتدُّ جوعُهُ وعطشُهُ ويشتدُّ تعبُهُ وليس له أجرٌ عند الله -عز وجل- بسبب أنه : سلط لسانهُ في الكلام الحرام ، وسلط نظره على النظر الحرام ، وسلط أذنيه على استماع المحرم ،

فهذا في الحقيقة لم يَصُمْ وإنما ترك الطعام والشراب فقط فهو يتعب بلا فائدة ،

فالصيام يشمل جميع هذه الأشياء : صيام البطن عن الأكل والشرب وسائر المفطرات ، وصيام السمع عن كل كلامٍ محرم ، وصيام النظر عن كل ما حرم الله النظر إليه ، وصيام اللسان عن النطق بالفحش والآثام ، فتصوم جميع جوارحه 》.

|[ مجالس شهر رمضان (ص١٥) ]|

Syaikh Al-‘Allamah Sholih Al-Fauzan hafidzohulloh pernah berkata:

“Terkadang orang yang berpuasa itu merasakan sangat lapar dan haus, dan juga sangat payah (terasa berat sekali dengan ibadah puasanya tersebut,  edt.), tetapi dia tidak mendapatkan (pahala) sedikitpun di sisi Alloh.

Hal itu karena beberapa sebab, (diantaranya):

– lisannya didominasi dengan perkataan-perkataan yang harom!

– pandangannya pun didominasi dengan pandangan yang harom (yakni melihat hal-hal yang harom)

– pendengarannya pun digunakan untuk mendengar hal-hal yang haram.

Maka orang seperti ini secara hakekatnya adalah orang yang TIDAK BERPUASA!

Dia hanya sekedar tidak makan dan tidak minum, tetapi tanpa faedah.

Maka puasa itu (hendaknya) meliputi semua perkara berikut ini:

  • puasanya perut dari makan dan minum dan semua perkara yang membatalkan puasa.
  • puasanya pendengaran dari (mendengar) semua perkataan yang haram.
  • puasanya penglihatan dari (melihat) semua perkara yang haram untuk dilihat.
  • puasanya lisan dari (membicarakan) kekejian dan dosa-dosa

Sehingga, berpuasalah seluruh anggota badannya!

[Majalis Syahri Romadhon, hal. 15)

Demikianlah, semoga Alloh ta’ala memberikan taufiq-Nya kepada kita semua, agar kita bisa menjadi orang yang benar-benar berpuasa seluruh anggota badan kita.

Dan semoga hal ini bisa menjadi nasehat yang bermanfaat bagi kita semuanya. (Abu Abdirrohman Yoyok WN Sby)

Continue Reading

Mimbar Islam

Timbangan Amal yang Paling Berat adalah Akhlak Baik

Published

on

Timbangan Amal yang Paling Berat adalah Akhlak Baik

Gencil News- Timbangan amal manusia yang paling berat dalam menjalani kehidupan sehari-hari adalah akhlak baik atau perbuatan baik.

Nabi Muhammad SAW bersabda;

“Tidak ada yang lebih berat dalam timbangan amal selain akhlak yang baik.”

(HR Abu Dawud)

Dalam sabda Rasulullah SAW lainnya, beliau mengatakan akan menjamin orang yang berakhlak baik dengan memberi rumah di surga yang paling tinggi.

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عُثْمَانَ الدِّمَشْقِيُّ أَبُو الْجَمَاهِرِ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو كَعْبٍ أَيُّوبُ بْنُ مُحَمَّدٍ السَّعْدِيُّ قَالَ حَدَّثَنِي سُلَيْمَانُ بْنُ حَبِيبٍ الْمُحَارِبِيُّ عَنْ أَبِي أُمَامَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا وَبِبَيْتٍ فِي وَسَطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا وَبِبَيْتٍ فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسَّنَ خُلُقَهُ

Nabi Muhammad SAW bersabda, “Aku akan menjamin rumah di tepi surga bagi seseorang yang meninggalkan perdebatan meskipun benar. Aku juga menjamin rumah di tengah surga bagi seseorang yang meninggalkan kedustaan meskipun bersifat gurau. Aku juga menjamin rumah di surga yang paling tinggi bagi seseorang yang berakhlak baik.” (HR Abu Dawud

Bila amal kebaikan yang lebih berat dalam timbangan Akhirat, maka ia akan mendapatkan keberuntungan dan menyenangkan.

Karena pertanda awal akan dimasukkan kedalam surga. Adapun apabila timbangan kebaikan lebih ringan dari keburukan, maka itu merupakan kerugian yang panjang, karena ia akan menjadi penghuni neraka.

Continue Reading

Mimbar Islam

Taukah? Puasa Ramadhan adalah Penggugur Dosa-dosa

Published

on

Taukah? Puasa Ramadhan adalah Penggugur Dosa-dosa

Gencil news – Taukah? Puasa Ramadhan adalah Penggugur Dosa-dosa. An-Nawawi mengatakan bahwa pendapat yang populer di kalangan para ulama ahli fikih menyatakan bahwa dosa-dosa yang terampuni dengan melakukan puasa Ramadhan itu adalah dosa-dosa kecil bukan dosa-dosa besar (lihat Al-Minhaj, 4/76). 

Hal itu sebagaimana tercantum dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu’anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,

الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ

“Shalat lima waktu. Ibadah Jum’at yang satu dengan ibadah jum’at berikutnya. Puasa Ramadhan yang satu dengan puasa Ramadhan berikutnya. Itu semua merupakan penghapus dosa antara keduanya, selama dosa-dosa besar dijauhi.” (HR. Muslim [233])

Bersemangatlah dengan semangat yang besar untuk melakukan ketaatan kepada Allah melalui puasa ramadhan ini.

Berhati hatilah dari melalaikan diri kalian dan melalaikan kesempatan yang besar ini. Ini adalah musim keberuntungan, musim perdagangan akhirat yang akan mendatangkan keberuntungan yang besar dan apabila dia pergi tidak akan kembali lagi⁣.

Wallaahu ta’ala a’lam. Semoga bermanfaat.

Continue Reading

Mimbar Islam

Apakah Seruan Jangan Makan & Minum 10-20 Menit sebelum Adzan Subuh pada Sahur, Hal Itu Ada Tuntunan-Nya?

Published

on

Apakah Seruan Jangan Makan & Minum 10-20 Menit sebelum Adzan Subuh pada Sahur, Hal Itu Ada Tuntunan-Nya?

Gencil News – Apakah Seruan Jangan Makan & Minum 10-20 Menit sebelum Adzan Subuh pada Sahur, Hal Itu Ada Tuntunan-Nya? Diantara kebiasaan yang ada di masyarakat kita, yaitu adanya seruan IMSAK, yakni “tidak boleh makan dan minum (sahur), beberapa menit sebelum masuknya adzan Shubuh.”

Ketahuilah, hal seperti itu, meskipun tujuan dan niatnya baik, yaitu untuk berhati-hati agar tidak terlambat waktu sahur atau tidak didahului oleh waktu shubuh dan sebagainya.

Maka apapun alasan dan tujuannya, selama itu tidak ada contohnya dari Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam, hal itu tidak bisa dibenarkan.

Di masa dulu, memang sudah ada amalan seperti itu, tetapi para ulama mengingkari perbuatan itu, dan menyatakannya sebagai suatu kebid’ahan dalam agama ini.

Diantaranya adalah Al-Imam Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqolani rohimahulloh, beliau berkata :

“Termasuk dari bid’ah yang mungkar, adalah apa yang diada-adakan di zaman ini (di masa beliau hidup), yaitu membuat adzan (seruan semacam adzan) yang kedua, sebelum waktu Fajar (Shubuh) di bulan Romadhon, yakni kira-kira sepertiga jam (kurang lebih 20 menit sebelum waktu Shubuh).

Kemudian mematikan lampu, sebagai tanda diharamkannya (dilarangnya) makan dan minum/sahur bagi orang yang hendak berpuasa.

(Mereka) mengira/menyangka, bahwa yang dilakukannya itu adalah untuk ikhtiyath (sikap berhati-hati/kehati-hatian) dalam beribadah (yakni agar jangan kedahuluan masuknya waktu shubuh). Dan tidaklah bisa mengetahui hal itu, kecuali hanya satu orang saja.

(Akibat dari sangkaan seperti ini pula), terkadang menyeret mereka untuk melakukan (berbagai perbuatan, seperti) : mereka tidaklah adzan (Maghrib), kecuali setelah tenggelamnya (hilangnya) cahaya kemerahan, dalam rangka untuk memantapkan waktu sholat (menurut sangkaan mereka). 

Atau mereka mengakhirkan waktu berbuka puasa, atau menyegerakan waktu sahur (di awal malam atau di tengah malam) (padahal, sunnahnya waktu sahur itu adalah diakhirkan).

(Dengan perbuatannya itu semua), mereka telah menyelisihi As-Sunnah.

Karena itulah, sedikit sekali kebaikan dari mereka, bahkan lebih banyak kejelekan yang ada pada mereka itu.

Wallohul Musta’an (Hanya Alloh ta’ala sajalah tempat kita memohon pertolongan).

(Fathul Bari Syarh Shohih Al-Bukhori, penjelasan hadits no. 1957)

Jadi, hal itu tidaklah benar. Imsak yang sesungguhnya adalah ketika masuk waktu fajar, yaitu dengan ditandai dikumandangkannya adzan Shubuh. 

Itulah waktu yang kita mulai dilarang untuk makan dan minum (sahur), dan itu pula waktu kita mulai berrpuasa di hari itu.

Demikianlah beberapa pembahasan seputar Sahur. 

Semoga pembahasan yang ringkas ini bermanfaat untuk penulisnya, dan juga untuk seluruh kaum muslimin di mana saja berada.

Walhamdu lillahi robbil ‘aalamiin. (Abu Abdirrohman Yoyok WN Sby)

Continue Reading

Advertisement

DOWNLOAD APLIKASI GENCILNEWS

TRENDING