Connect with us

Mimbar Islam

Muslim AS Pilih ‘Home Schooling’ untuk Pendidikan Agama Anak-anak

Published

on

Muslim AS Pilih 'Home Schooling' untuk Pendidikan Agama Anak-anak
Banyak keluarga Muslim di Amerika ingin anak-anak mereka mendapat pendidikan agama Islam di sekolah. Namun pendidikan agama, apalagi Islam, tidak masuk dalam kurikulum pendidikan. Pilihan mereka, satu di antaranya, adalah sekolah rumah.
Muslim AS Pilih 'Home Schooling' untuk Pendidikan Agama Anak-anak
Muslim AS Pilih ‘Home Schooling’ untuk Pendidikan Agama Anak-anak

Muslim AS Pilih ‘Home Schooling’ untuk Pendidikan Agama Anak-anak -Keluarga Muslim di Amerika sering kesulitan memilih sekolah bagi pendidikan anak-anak mereka. Satu pertimbangan yang paling mendasar adalah pendidikan agama– termasuk Islam – tidak termasuk dalam kurikulum sekolah. Padahal mereka ingin anak-anak mereka bisa belajar membaca Quran dan dapat menerapkan ajaran-ajaran Islam.

Keluarga Shakir di Northville, Michigan, menemukan solusi bagi masalah mereka itu, yakni home schooling atau sekolah rumah — metode pendidikan alternatif yang dilakukan di rumah, di bawah pengarahan orang tua atau tutor pendamping, dan tidak dilaksanakan di tempat formal seperti di sekolah negeri, sekolah swasta, atau di institusi pendidikan lainnya dengan model kegiatan belajar yang terstruktur dan kolektif.

“Nama saya Shadia Shakir. Profesi saya pengacara dan biasanya menerima klien pada malam hari. Saat ini saya menyekolahkan anak saya di rumah. Anak tertua saya sudah pada jenjang pendidikan setingkat SMA,” kata Shakir.

Raneem Haque, putri bungsu Shakir, tidak keberatan dengan keputusan orang tuanya.

“Ibu saya mengajarkan sebagian besar mata pelajaran. Ketika dia mengajar, dia benar-benar membantu saya,” kata Haque.

Hannah Shraim, 17 tahun (tengah) berbincang dengan teman-teman sekelasnya di SMU Northwest di Germantown, 10 Mei 2016. (Foto: AP/Ilustrasi)
Hannah Shraim, 17 tahun (tengah) berbincang dengan teman-teman sekelasnya di SMU Northwest di Germantown, 10 Mei 2016. (Foto: AP/Ilustrasi)

Tidak semua mata pelajaran bisa diajarkan di rumah. Raneem Haque dan kakaknya harus pergi ke perpustakaan untuk menemui salah satu guru mereka.

“Tiga kali seminggu kami pergi ke perpustakaan, di mana anak-anak saya bertemu guru bahasa mereka. Mereka melakukan aktivitas seperti halnya di sekolah umum. Saya dan suami saya sepakat untuk membiarkan anak-anak mengejar cita-cita sesuai minta mereka. Satu hal yang kami harapkan adalah mereka menjadi pemikir yang kritis. Ya, itulah harapan kami,” kata Shakir.

Apa perbedaan mendasar yang diajarkan Shakir dan suaminya terhadap anak-anak mereka dibanding sekolah-sekolah umum.

“Kami berusaha menggabungkan pendidikan agama, dan kajian Alquran. Sesuatu yang yang tidak dapat dilakukan pada sekolah tradisional sesuai keinginan kami,” tutur Shakir.

Bagi Shakir dan suaminya, mendengar anak-anak mereka membaca Alquran di rumah memberikan kedamaian tersendiri.

“Ketika Alquran dibacakan, yang terdengar adalah suara yang penuh melodi dan indah. Yang membahagiakan, anak saya ingin Alquran menjadi fokus pendidikannya.Sungguh mengejutkan bahwa ia tertarik. Saya berharap ia terus mempertahankan minatnya tersebut,” kata Shakir.

Raneem Haque mencontohkan surat Alquran yang menjadi kegemarannya.

“Surat favorit saya An-Nasr,” ujar Raneem

Anak-anak membawa bendera Amerika melewati petugas kepolisian New York dalam pawai tahunan Hari Muslim di New York, 24 September 2017. (Foto: REUTERS/Stephanie Keith)
Anak-anak membawa bendera Amerika melewati petugas kepolisian New York dalam pawai tahunan Hari Muslim di New York, 24 September 2017. (Foto: REUTERS/Stephanie Keith)

Menurut Shakir, anak-anaknya perlu mempelajari Alquran.

“Bagi Muslim, kami salat lima kali sehari. Kami membacakan sebagian dari Alquran saat melaksanakannya. Mempertimbangkan hal itu, saya pikir, manfaat yang diperoleh dari sekolah rumah jauh lebih besar dari sekolah tradisional,” papar Shakir.

Tentu tidak semua materi dikuasai Shakir dan suaminya. Karena itu, mereka mempekerjakan seseorang yang secara khusus mengajarkan anak-anak mereka cara membaca Alquran dengan benar.

Shakir dan suaminya mengaku tidak mudah menyelenggarakan sekolah rumah, namun mereka bertekad terus melaksanakannya.

”Saran saya untuk mereka yang ingin menyekolahkan anak-anak mereka di rumah, saya akan bilang pada mereka ‘Ini tidak mudah’, tapi siapapun dapat melakukannya jika memang benar-benar menginginkannya,” kata Shakir.

“Hal lain yang saya ingin sarankan pada mereka adalah sekolah rumah tidak bisa diterapkan pada semua anak. Jadi mereka harus benar-benar mempertimbangkan apa yang sesuai dengan anak mereka, apa yang mereka butuhkan, dan kemudian berusaha menyesuaikan,” tambahnya.

Sekolah rumah semakin populer di AS. Departemen Pendidikan AS mencatat, jumlahnya terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada 2003, tercatat ada 1,3 juta anak Amerika yang mengenyam pendidikan lewat sekolah rumah, dan pada 2007 angkanya meningkat menjadi 1,5 juta. Pada 2018, angka itu melambung menjadi 2,3 juta. [ab]

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Mimbar Islam

Tahukah Engkau Musibah itu dapat Menghapus Dosa?

Published

on

Tahukah Engkau Musibah itu dapat Menghapus Dosa

Gencil News – Tahukah Engkau Musibah itu dapat Menghapus Dosa? Sebagai manusia tentu kita tidak akan pernah lepas dari kesalahan. Namun, Allah ta’alaa maha pengampun dari segala dosa selama kita mau bertaubat kepada-Nya.

Allah ta’alaa mempunyai cara menerima taubat seseorang salahsatunya dengan memberikan cobaan kepada hamba-Nya berubah musibah. 

Sahih al-Bukhori : 5209

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا زَوْجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: 

مَا مِنْ مُصِيبَةٍ تُصِيبُ الْمُسْلِمَ إِلاَّ كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا عَنْهُ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا.

Dari Aisyah ra, istri Nabi saw, dia berkata: Rasulullah saw bersabda: 

Tidaklah suatu musibah yang menimpa seorang Muslim melainkan Allah akan menghapus (dosa orang itu) dengannya, bahkan duri yang menyakitinya sekalipun.

Pesan:

1. Musibah yang menimpa seorang hamba, sekecil apapun itu akan menghapus kesalahannya.

2. Maha baik Allah yang tidak menyia-nyiakan hal sekecil apapun, bahkan sepotong duri saja yang melukai kita akan Allah jadikan penghapus dosa.

Ketika seseorang mendapatkan musibah, yakinlah bahwa Allah ta’alaa sedang menghapuskan dosa-dosa hambaNya. Berprasangka baiklah kepada Allah dan jangan pernah berputus asa.

WaAllahu ‘Alam. Semoga bermanfaat.

Continue Reading

Mimbar Islam

Bertakwalah kepada Allah Dimanapun Kamu Berada!

Published

on

Bertakwalah kepada Allah Dimanapun Kamu Berada

Gencil News – Bertakwalah kepada Allah Dimanapun Kamu Berada! Berikut ini adalah beberapa nasehat Nabi kita Muhammad shollallohu alaihi wa sallam yang sangat penting untuk selalu kita perhatikan dan kita pegang teguh.

Nasehat itu adalah seperti apa yang terdapat dalam hadits yang shohih, yang bersumber dari Sahabat Nabi yang mulia, Abu Dzar Al Ghifari radhiyallahu ’anhu, bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam pernah bersabda:

اتق الله حيثما كنت ، وأتبع السيئة الحسنة تمحها، وخالق الناس بخلق حسن

“Bertakwalah kamu kepada Allah dimanapun kamu berada. Iringilah kejelekan yang telah kamu lakukan dengan kebaikan, yang akan dapat menghapus kejelekan tersebut. Dan pergauilah orang lain dengan akhlak yang baik.” 

(HR. Ahmad (5/236), At-Tirmidzi no. 1987, dan lainnya, dihasankan oleh Syaikh Al-Albani rohimahulloh dalam Shohih Al-Jami’ no. 97)

Faedah berharga yang bisa kita ambil dari hadits yang mulia ini, diantaranya adalah:

1. Wajibnya bagi kita semua bertakwa kepada Alloh ta’ala, dimana pun kita berada.

Dan takwa itu sendiri, sebagaimana dijelaskan oleh para ulama, maknanya adalah:

وقاية العبد نفسه من عذاب الله بامتثال أوامره واجتناب نواهيه

“Penjagaan diri seorang hamba dari adzab Alloh, dgn melaksanakan apa yang diperintahkan Alloh kepadanya, dan menjauhi apa saja yang dilarang Alloh.”

Pengertian seperti ini, disimpulkan dari beberapa pendapat dan penjelasan para ulama tentang makna takwa.

Diantaranya adalah: Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata:

المُتَّقُوْنَ اتَّقَوا مَا حُرِّمَ عَلَيْهِمْ ، وَأدَّوْا مَا افْتُرِضَ عَلَيْهِمْ

“Orang yang bertakwa itu adalah mereka yang menjaga diri (menjauhi) dari hal-hal yang diharamkan atas mereka, dan menunaikan apa saja yang diwajibkan atas mereka.”

Umar bin ‘Abdul ‘Aziz rahimahullah juga pernah berkata:

لَيْسَ تَقْوَى اللهِ بِصِيَامِ النَّهَارِ ، وَلاَ بِقِيَامِ اللَّيْلِ ، وَالتَّخْلِيْطِ فِيْمَا بَيْنَ ذَلِكَ ، وَلَكِنْ تَقْوَى اللهِ تَرْكُ مَا حَرَّمَ اللهُ ، وَأَدَاءُ مَا افْتَرَضَ اللهُ ،فَمَنْ رُزِقَ بَعْدَ ذَلِكَ خَيْراً ، فَهُوَ خَيْرٌ إِلَى خَيْرٍ

“Takwa kepada Alloh itu bukanlah hanya dengan berpuasa di siang hari atau mendirikan shalat malam hari, atau melakukan kedua-duanya.

Namun takwa kepada Alloh itu adalah meninggalkan apa saja yang diharamkan Alloh, dan menunaikan apa saja yang diwajibkan oleh Alloh.

Siapa yang setelah itu dianugerahi kebaikan lainnya, maka itu adalah kebaikan kepada kebaikan (yakni kebaikan di atas kebaikan yang lainnya).”

Tholq bin Habib rohimahulloh juga pernah mengatakan:

التَّقْوَى أَنْ تَعْمَلَ بِطَاعَةِ اللهِ ، عَلَى نُوْرٍ مِنَ اللهِ ، تَرْجُوْ ثَوَابَ اللهِ ، وَأَنْ تَتْرُكَ مَعْصِيَةَ اللهِ عَلَى نُوْرٍ مِنَ اللهِ تَخَافُ عِقَابَ اللهِ

“Takwa itu berarti kamu menjalankan ketaatan pada Allah atas petunjuk cahaya dari Allah, dan kamu mengharap pahala dari Alloh.

(Takwa itu juga) adalah kamu meninggalkan/ menjauhi maksiat kepada Alloh atas petunjuk cahaya dari Alloh, dan kamu takut terhadap siksaan Alloh.”

Itulah diantara pengertian takwa, yang wajib bagi kita untuk melakukannya, dimana pun kita berada.

2. Bahwa perbuatan baik yang kita lakukan, akan bisa menghapus dosa-dosa atau kejelekan kita.

Dan yang dimaksud disini adalah: dosa-dosa kecil.

Karena, untuk terhapuskannya dosa-dosa besar, harus diiringi dengan sikap tobat dan memperbanyak istighfar dari dosa-dosa tersebut, tdk cukup hanya dgn amal sholih yang kita lakukan.

3. Anjuran untuk mempergauli orang lain dengan akhlak yang baik.

Yakni akhlak-akhlak mulia yang disyari’atkan untuk kita beramal dengannya, seperti: bermanis muka, bertutur kata yang baik, tolong menolong, menjenguk orang yang sakit, saling memberi nasehat kebaikan, dan sebagainya.

4. Dianjurkan bagi seorang muslim, untuk memberi wasiat yang bermanfaat bagi dirinya sendiri dan bagi kaum muslimin secara umum.

5. Bahwa setiap orang itu hendaknya selalu merasa diawasi oleh Alloh dalam semua keadaannya, dan dimana pun dia berada.

6. Bahwa hadits ini berisi tentang wasiat yang agung, dan wasiat yang termasuk dalam Jawaami’ul Kalim-nya Rosululloh  shollallohu alaihi wa sallam, yaitu kata-kata yang padat dan ringkas, tetapi luas maknanya dan faedahnya.

(lihat: Bahjatun Nadhirin Syarh Riyadhis Sholihin, (1/133), Syarh Arba’in An-Nawawiyyah, hal. 221 dan sumber lainnya)

Semoga pembahasan dan nasehat yang ringkas ini bermanfaat bagi kita semuanya. Allohu yubaarik fiikum.  (Abu Abdirrohman Yoyok WN Sby)

Continue Reading

Mimbar Islam

Kelompok Muslim AS Donasikan Masker Semasa Pandemi

Published

on

Kelompok Muslim AS Donasikan Masker Semasa Pandemi
Donasi masker yang dilakukan oleh umat muslim di California, AS. (Foto: VOA)

Gencil News – Voa – Pandemi virus corona membangkitkan rasa kedermawanan pada banyak kalangan untuk membantu mereka yang terdampak. Komunitas dan organisasi Muslim juga tidak ketinggalan mengulurkan bantuan

Sebagaimana kelompok masyarakat lainnya, warga Muslim merupakan bagian tak terpisahkan dari komunitasnya masing-masing. Sesuai ajaran Islam, setiap Muslim memiliki kewajiban individual untuk berbuat baik kepada tetangga-tetangganya.

Berbuat kebaikan atau beramal terhadap sesama anggota masyarakat juga merupakan salah satu cara untuk menguatkan hubungan sosial maupun membantu menciptakan masyarakat yang inklusif.

Salah satu kegiatan beramal yang dilakukan Muslim pada masa pandemi Covid-19 ini adalah memberikan bantuan yang sangat dibutuhkan, yakni masker.

Menjelang International Day of Charity atau Hari Amal Internasional yang diperingati setiap tanggal 5 September, tokoh-tokoh masyarakat Islam di Berkeley, California, mendonasikan ratusan masker serta paket-paket perawatan lainnya.

Donasi itu diserahkan sehari sebelumnya ke Prescott-Joseph Center for Community Enhancement di Oakland.

Mana Nazeri, adalah wakil dari komunitas Muslim yang tergabung dalam MTO (Maktab Tarighat Oveyssi) Center di Berkeley yang menyerahkan bantuan tersebut. ​

Menjelang Hari Amal Internasional, kami di MTO Oveyssi Center ingin berbuat sesuatu untuk kota tetangga kami, Oakland, untuk mengulurkan bantuan,” kata Nazeri dalam laporan yang ditayangkan ABC News.

MTO adalah organisasi nirlaba internasional yang antara lain menyelenggarakan ajaran meditasi Sufi yang melayani seluruh kalangan dan bukan hanya Muslim.

Sementara itu, ABC Newsjuga mengutip Wali Kota Oakland Libby Schaaf, yang hadir dalam acara penyerahan bantuan itu.

“Saya ingin berterima kasih kepada komunitas Sufi dan khususnya organisasi MTO atas kontribusi amal kalian yang luar biasa,” kata Schaaf.

MTO hanya segelintir dari organisasi dan kelompok Muslim yang merupakan minoritas di negara-negara Barat, yang bekerja tanpa kenal lelah untuk membantu menyediakan kebutuhan peralatan pelindung bagi para pekerja kesehatan di garis depan.

Di Inggris, misalnya, Loft25, produsen kebutuhan interior dan taman yang bermula di Birmingham. Bekerja sama dengan Masjid dan Pusat Komunitas Green Lane di kota itu, Loft25 menyediakan 1 juta masker untuk para petugas kesehatan di garis depan beberapa bulan lalu.

Tak ketinggalan, pengusaha Muslim Inggris, Yousuf Bhaliok, yang pada awal merebaknya pandemi Covud-19, Maret lalu, menyumbangkan hampir $ 260 ribu untuk lembaga kesehatan Inggris. Jumlah itu mengawali kampanyenya menggalang dana dengan target $ 1,3 juta.

Kembali ke Amerika, pada April lalu jemaah Masjid Hamzah al-Mahmood Foundation di Minnesota bekerja sukarela menjahit 1.500 masker.

Masker-masker ini ditujukan untuk para pasien dengan risiko rendah serta para staf nonmedis di rumah sakit-rumah sakit lokal di sekitar Minneapolis-Saint Paul, atau yang biasa disebut sebagai Twin Cities.

Bagi para jemaah masjid itu, menjahit masker tersebut merupakan cara mereka untuk bertemu satu sama lain dan membantu komunitas mereka. Sekitar 40 keluarga tercatat bekerja sukarela menjahit masker-masker tersebut.

Sebagaimana dilaporkan Sahan Journal, imam masjid, Sheikh Muhammad Faraz mengemukakan, menjahit masker merupakan kegiatan pengganti bagi jemaah yang tidak dapat berkumpul di masjid.

Selain membuat jemaah tetap merasa bersemangat, ternyata aktivitas semacam itu menimbulkan perasaan berkumpul yang lebih besar daripada pertemuan yang biasa mereka lakukan di masjid, lanjut Sheikh Faraz.

Continue Reading

TRENDING