Nabung Yuk untuk Bisa Berqurban Tahun Ini – Gencil News
Connect with us

Mimbar Islam

Nabung Yuk untuk Bisa Berqurban Tahun Ini

Published

on

Nabung Yuk untuk Bisa Berqurban Tahun Ini

GENCIL NEWS – Nabung yuk untuk bisa berqurban tahun Ini karena keutamaan berqurban sangatlah istimewa. Idul Adha, menjadi kesempatan istimewa bagi kaum muslimin. Di hari itu, mereka disyariatkan mengerjakan ibadah tahunan, menyembelih qurban. Untuk itu, nabung yuk untuk bisa berqurban tahun Ini.

Mengapa ini istimewa?

Karena berqurban, merupakan syiar semua penganut agama. Menyembelih hewan, dalam rangka mendekatkan diri kepada tuhannya.

Ketika orang musyrikin memberikan sesajian dengan menyembelih binatang untuk sesembahan mereka, umat islam melakukan amal tandingannya, menyembelih qurban untuk mengagungkan Allah.

Sama-sama menyembelih, namun yang satu mengantarkan pelakunya menuju surga, sementara satunya mengantarkan pelakunya untuk kekal di neraka.

Untuk itulah, sebagai wujud rasa syukur akan janji surga, Allah perintahkan kaum muslimin untuk shalat dan menyembelih qurban. Allah berfirman,

‎إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ . فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Sesungguhnya Aku telah memberikan kepadamu telaga al-Kautsar. Karena itu kerjakanlah shalat karena Tuhanmu dan sembelihlah qurban.” (QS. al-Kautsar: 1 – 2).

Menurut 3 ulama tafsir zaman tabiin, Qatadah, Atha’, dan Ikrimah – ahli tafsir murid Ibnu Abbas –, makna perintah shalat dalam ayat itu adalah shalat id, dan perintah menyembelih adalah menyembelih qurban. (Tafsir al-Qurthubi, 20/218).

Berdasarkan tafsir di atas, kesempatan bagi kita untuk bisa menjalankan perintah dalam ayat ini hanyalah ketika idul adha.

Karena itulah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat menekankan agar umatnya selalu berqurban.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‎مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ وَلَمْ يُضَحِّ, فَلَا يَقْرَبَنَّ مُصَلَّانَا

“Barangsiapa yang memiliki kelapangan rezeki, namun tidak berqurban, maka janganlah ia mendekati tempat shalat kami.”_ (HR. Ahmad 8273, Ibnu Majah 3123, dan sanad hadits  dihasankan al-Hafizh Abu Thohir).

Mulai Menabung dari Sekarang

Anda tentu tidak ingin ketinggalan untuk turut mengamalkan ayat di atas. Berqurban di hari Idul Adha merupakan amal paling mulia.

Saatnya Anda menyisihkan dana untuk bisa membeli hewan qurban. Kurangi pengeluaran yang tidak mendesak. Saatnya merencanakan qurban di hari Idul Adha.

Ketika kita telah bersiap untuk berqurban sejak sekarang. Atau bahkan kita sudah merencanakan untuk membeli hewan qurban, berarti kita telah siaga untuk beramal soleh.

Di saat itulah, kita bisa berharap, semoga Allah memberikan pahala untuk kita sejak sekarang.

Pahala karena siaga beramal…

Pahala karena merencanakan kebaikan.

Sebagaimana orang yang menunggu iqamat shalat di masjid terhitung mendapatkan shalat, karena dia siaga untuk melaksanakan shalat.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Kalian akan senantiasa terhitung mengerjakan shalat, selama shalat yang menghalanginya untuk tetap di masjid. Tidak ada yang menghalanginya untuk pulang menemui istrinya, selain shalat. (HR. Bukhari 659 & Muslim 1542).

Iringi dengan Doa

Jangan lupa iringi upaya Anda dengan doa. Terutama bagi Anda yang telah memiliki tekad untuk berqurban meskipun dengan keterbatasan ekonomi. Kita yang lemah tidak bisa beramal tanpa pertolongan dari Allah.

Salah satu doa yang bisa anda rutinkan,

Ya Allah, bantulah kami untuk selalu berdzikir kepada-Mu, mensyukuri nikmat-Mu, dan beribadah sebaik mungkin kepada-Mu. (HR. Ahmad 22119, Abu Daud 1524 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Semoga Allah memudahkan kita untuk bisa menjalankan ibadah qurban.

Allahu  a’lam.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Mimbar Islam

Hakekat Orang yang Berpuasa yang harus Diketahui

Published

on

Hakekat Orang yang Berpusa yang harus Diketahui

Gencil News – Hakekat Orang yang Berpuasa yang harus Diketahui. Banyak dari umat Islam yang belum memahami hakekat dari berpuasa sehingga menyepelekan kewajiban berpuasa tersebut.

 عَن جَابِرٍ بنُ عَبدِ اللهِ الأنصَارِيِّ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – قَالَ :

《 إذَا صُمتَ فَليَصُم سَمعُكَ ، وبَصَرُكَ ، ولِسانُكَ عَن الكَذِبِ والمَأثَمِ ، ودَع أذَى الخَادِمِ ، وليَكُن عَلَيكَ وَقارٌ وسَكِينَةٌ يَومَ صَومِكَ ، ولا تَجعَل يَومَ فِطرِكَ وَيَومَ صَومِكَ سَوَاءً 》.

|[ المُصَنَّف لِابنِ أبِي شَيبَة (٨٨٨٠) ، 

شُعَبُ الإيمَانِ لِلبَيهَقِيِّ (٣٣٧٤) ]|

Sahabat Nabi yang mulia, Jabir bin Abdillah Al-Anshory rodhiyallohu anhuma pernah berkata :

“Jika kamu berpuasa, maka berpuasalah (pula) pendengaranmu dan pandanganmu, (dan berpuasa pula) lisanmu dari perkataan dusta atau perkataan (yang mengandung) dosa-dosa!

Tinggalkanlah perbuatan mengganggu pembantu/pelayan (yakni jangan menyakitinya).

Hendaknya kamu bersikap wibawa dan tenang ketika sedang berpuasa!

Jangan kamu jadikan hari-harimu ketika sedang berbuka (yakni ketika tidak berpuasa) sama seperti hari-harimu ketika sedang BERPUASA!”

[Al-Mushonnaf (no. 8880) karya Al-Imam Ibnu Abi Syaibah rohimahulloh, dan di dalam Syu’abul Iman (no. 3374) karya Al-Imam Al-Baihaqi rohimahulloh) 

قال العلامة ابن عثيمين – رحمه الله – :

واعلموا أنّ الصيام إنما شُرع ليتحلى الإنسان بالتقوىٰ، ويمنع جوارحه من محارم الله، فيترك كل فعل محرم من الغش والخداع والظلم، ونقص المكاييل والموازين، ومنع الحقوق، والنظر المحرم، وسماع الأغاني المحرمة، 

فإن سماع الأغاني ينقص أجر الصائم، كل قوم محرم من الكذب والغيبة والنميمة والسب والشتم، وإن سابّه أحد أو شاتمه أحد، فليقل: إني صائم، ولا يرد عليه بالمثل، فلا تجعل أيها المسلم يوم صومك ويوم فطرك سواء،

قال النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم :

« من لم يدع قول الزور والعمل به والجهل، فليس لله حاجة في أن يدع طعامه وشرابه » .

        |[ الضياء اللامع (١٦٦/٢) ]|

Syaikh Al-‘Allamah Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin rohimahulloh juga pernah berkata:

“Ketahuilah oleh kalian semua, bahwa berpuasa itu hanyalah disyari’atkan agar seseorang itu bisa meraih predikat TAQWA!

Dan mencegah seluruh anggota badannya dari (melakukan) hal-hal yang diharamkan oleh Alloh.

Maka hendaknya dia meninggalkan semua perbuatan yang diharamkan, apakah itu yang berupa berbuat curang, menipu, berbuat dholim (kepada orang lain), mengurangi takaran dan timbangan, menahan hak-hak (yang harus dia tunaikan), melihat/memandang hal-hal yang diharamkan, dan mendengar lagu-lagu/nyanyian yang diharamkan!

Karena sesungguhnya mendengar lagu-lagu/nyanyian itu akan bisa mengurangi pahala orang yang berpuasa (krn hal itu termasuk perbuatan fasik/dosa).

(Dan juga hendaknya dia menjauhi) semua perkara yang diharamkan, apakah itu yang berupa dusta/bohong, ghibah, namimah, mencela, mencaci maki dan sebagainya.

Maka jika ada orang yang mencela atau mencaci maki, hendaknya dia mengatakan (kepadanya): “Sesungguhnya aku sedang berpuasa!” Dan dia tidak akan membalas (yang setimpal) dengan celaan tersebut.

Oleh karena itu, wahai kaum Muslimin. Janganlah engkau jadikan hari-hari puasamu sama seperti hari-hari ketika kamu berbuka (sedang tidak berpuasa)!

Nabi shollallohu alaihi wa sallam telah bersabda:

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta, bahkan dia mengamalkannya, dan dia bertindak bodoh, maka Alloh tidak butuh kepada puasanya tersebut!”

[Ad-Dhiyaa-u Al-Laami’, 2/166]

 قَالَ الشيخ العلامة صالحُ الفَوزَان – حَفظهُ الله – :

《 فقد يصومُ الصائمُ ويشتدُّ جوعُهُ وعطشُهُ ويشتدُّ تعبُهُ وليس له أجرٌ عند الله -عز وجل- بسبب أنه : سلط لسانهُ في الكلام الحرام ، وسلط نظره على النظر الحرام ، وسلط أذنيه على استماع المحرم ،

فهذا في الحقيقة لم يَصُمْ وإنما ترك الطعام والشراب فقط فهو يتعب بلا فائدة ،

فالصيام يشمل جميع هذه الأشياء : صيام البطن عن الأكل والشرب وسائر المفطرات ، وصيام السمع عن كل كلامٍ محرم ، وصيام النظر عن كل ما حرم الله النظر إليه ، وصيام اللسان عن النطق بالفحش والآثام ، فتصوم جميع جوارحه 》.

|[ مجالس شهر رمضان (ص١٥) ]|

Syaikh Al-‘Allamah Sholih Al-Fauzan hafidzohulloh pernah berkata:

“Terkadang orang yang berpuasa itu merasakan sangat lapar dan haus, dan juga sangat payah (terasa berat sekali dengan ibadah puasanya tersebut,  edt.), tetapi dia tidak mendapatkan (pahala) sedikitpun di sisi Alloh.

Hal itu karena beberapa sebab, (diantaranya):

– lisannya didominasi dengan perkataan-perkataan yang harom!

– pandangannya pun didominasi dengan pandangan yang harom (yakni melihat hal-hal yang harom)

– pendengarannya pun digunakan untuk mendengar hal-hal yang haram.

Maka orang seperti ini secara hakekatnya adalah orang yang TIDAK BERPUASA!

Dia hanya sekedar tidak makan dan tidak minum, tetapi tanpa faedah.

Maka puasa itu (hendaknya) meliputi semua perkara berikut ini:

  • puasanya perut dari makan dan minum dan semua perkara yang membatalkan puasa.
  • puasanya pendengaran dari (mendengar) semua perkataan yang haram.
  • puasanya penglihatan dari (melihat) semua perkara yang haram untuk dilihat.
  • puasanya lisan dari (membicarakan) kekejian dan dosa-dosa

Sehingga, berpuasalah seluruh anggota badannya!

[Majalis Syahri Romadhon, hal. 15)

Demikianlah, semoga Alloh ta’ala memberikan taufiq-Nya kepada kita semua, agar kita bisa menjadi orang yang benar-benar berpuasa seluruh anggota badan kita.

Dan semoga hal ini bisa menjadi nasehat yang bermanfaat bagi kita semuanya. (Abu Abdirrohman Yoyok WN Sby)

Continue Reading

Mimbar Islam

Timbangan Amal yang Paling Berat adalah Akhlak Baik

Published

on

Timbangan Amal yang Paling Berat adalah Akhlak Baik

Gencil News- Timbangan amal manusia yang paling berat dalam menjalani kehidupan sehari-hari adalah akhlak baik atau perbuatan baik.

Nabi Muhammad SAW bersabda;

“Tidak ada yang lebih berat dalam timbangan amal selain akhlak yang baik.”

(HR Abu Dawud)

Dalam sabda Rasulullah SAW lainnya, beliau mengatakan akan menjamin orang yang berakhlak baik dengan memberi rumah di surga yang paling tinggi.

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عُثْمَانَ الدِّمَشْقِيُّ أَبُو الْجَمَاهِرِ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو كَعْبٍ أَيُّوبُ بْنُ مُحَمَّدٍ السَّعْدِيُّ قَالَ حَدَّثَنِي سُلَيْمَانُ بْنُ حَبِيبٍ الْمُحَارِبِيُّ عَنْ أَبِي أُمَامَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا وَبِبَيْتٍ فِي وَسَطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا وَبِبَيْتٍ فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسَّنَ خُلُقَهُ

Nabi Muhammad SAW bersabda, “Aku akan menjamin rumah di tepi surga bagi seseorang yang meninggalkan perdebatan meskipun benar. Aku juga menjamin rumah di tengah surga bagi seseorang yang meninggalkan kedustaan meskipun bersifat gurau. Aku juga menjamin rumah di surga yang paling tinggi bagi seseorang yang berakhlak baik.” (HR Abu Dawud

Bila amal kebaikan yang lebih berat dalam timbangan Akhirat, maka ia akan mendapatkan keberuntungan dan menyenangkan.

Karena pertanda awal akan dimasukkan kedalam surga. Adapun apabila timbangan kebaikan lebih ringan dari keburukan, maka itu merupakan kerugian yang panjang, karena ia akan menjadi penghuni neraka.

Continue Reading

Mimbar Islam

Taukah? Puasa Ramadhan adalah Penggugur Dosa-dosa

Published

on

Taukah? Puasa Ramadhan adalah Penggugur Dosa-dosa

Gencil news – Taukah? Puasa Ramadhan adalah Penggugur Dosa-dosa. An-Nawawi mengatakan bahwa pendapat yang populer di kalangan para ulama ahli fikih menyatakan bahwa dosa-dosa yang terampuni dengan melakukan puasa Ramadhan itu adalah dosa-dosa kecil bukan dosa-dosa besar (lihat Al-Minhaj, 4/76). 

Hal itu sebagaimana tercantum dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu’anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,

الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ

“Shalat lima waktu. Ibadah Jum’at yang satu dengan ibadah jum’at berikutnya. Puasa Ramadhan yang satu dengan puasa Ramadhan berikutnya. Itu semua merupakan penghapus dosa antara keduanya, selama dosa-dosa besar dijauhi.” (HR. Muslim [233])

Bersemangatlah dengan semangat yang besar untuk melakukan ketaatan kepada Allah melalui puasa ramadhan ini.

Berhati hatilah dari melalaikan diri kalian dan melalaikan kesempatan yang besar ini. Ini adalah musim keberuntungan, musim perdagangan akhirat yang akan mendatangkan keberuntungan yang besar dan apabila dia pergi tidak akan kembali lagi⁣.

Wallaahu ta’ala a’lam. Semoga bermanfaat.

Continue Reading

Mimbar Islam

Apakah Seruan Jangan Makan & Minum 10-20 Menit sebelum Adzan Subuh pada Sahur, Hal Itu Ada Tuntunan-Nya?

Published

on

Apakah Seruan Jangan Makan & Minum 10-20 Menit sebelum Adzan Subuh pada Sahur, Hal Itu Ada Tuntunan-Nya?

Gencil News – Apakah Seruan Jangan Makan & Minum 10-20 Menit sebelum Adzan Subuh pada Sahur, Hal Itu Ada Tuntunan-Nya? Diantara kebiasaan yang ada di masyarakat kita, yaitu adanya seruan IMSAK, yakni “tidak boleh makan dan minum (sahur), beberapa menit sebelum masuknya adzan Shubuh.”

Ketahuilah, hal seperti itu, meskipun tujuan dan niatnya baik, yaitu untuk berhati-hati agar tidak terlambat waktu sahur atau tidak didahului oleh waktu shubuh dan sebagainya.

Maka apapun alasan dan tujuannya, selama itu tidak ada contohnya dari Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam, hal itu tidak bisa dibenarkan.

Di masa dulu, memang sudah ada amalan seperti itu, tetapi para ulama mengingkari perbuatan itu, dan menyatakannya sebagai suatu kebid’ahan dalam agama ini.

Diantaranya adalah Al-Imam Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqolani rohimahulloh, beliau berkata :

“Termasuk dari bid’ah yang mungkar, adalah apa yang diada-adakan di zaman ini (di masa beliau hidup), yaitu membuat adzan (seruan semacam adzan) yang kedua, sebelum waktu Fajar (Shubuh) di bulan Romadhon, yakni kira-kira sepertiga jam (kurang lebih 20 menit sebelum waktu Shubuh).

Kemudian mematikan lampu, sebagai tanda diharamkannya (dilarangnya) makan dan minum/sahur bagi orang yang hendak berpuasa.

(Mereka) mengira/menyangka, bahwa yang dilakukannya itu adalah untuk ikhtiyath (sikap berhati-hati/kehati-hatian) dalam beribadah (yakni agar jangan kedahuluan masuknya waktu shubuh). Dan tidaklah bisa mengetahui hal itu, kecuali hanya satu orang saja.

(Akibat dari sangkaan seperti ini pula), terkadang menyeret mereka untuk melakukan (berbagai perbuatan, seperti) : mereka tidaklah adzan (Maghrib), kecuali setelah tenggelamnya (hilangnya) cahaya kemerahan, dalam rangka untuk memantapkan waktu sholat (menurut sangkaan mereka). 

Atau mereka mengakhirkan waktu berbuka puasa, atau menyegerakan waktu sahur (di awal malam atau di tengah malam) (padahal, sunnahnya waktu sahur itu adalah diakhirkan).

(Dengan perbuatannya itu semua), mereka telah menyelisihi As-Sunnah.

Karena itulah, sedikit sekali kebaikan dari mereka, bahkan lebih banyak kejelekan yang ada pada mereka itu.

Wallohul Musta’an (Hanya Alloh ta’ala sajalah tempat kita memohon pertolongan).

(Fathul Bari Syarh Shohih Al-Bukhori, penjelasan hadits no. 1957)

Jadi, hal itu tidaklah benar. Imsak yang sesungguhnya adalah ketika masuk waktu fajar, yaitu dengan ditandai dikumandangkannya adzan Shubuh. 

Itulah waktu yang kita mulai dilarang untuk makan dan minum (sahur), dan itu pula waktu kita mulai berrpuasa di hari itu.

Demikianlah beberapa pembahasan seputar Sahur. 

Semoga pembahasan yang ringkas ini bermanfaat untuk penulisnya, dan juga untuk seluruh kaum muslimin di mana saja berada.

Walhamdu lillahi robbil ‘aalamiin. (Abu Abdirrohman Yoyok WN Sby)

Continue Reading

Advertisement

DOWNLOAD APLIKASI GENCILNEWS

TRENDING