Penyakit Hati yang Merusak Amalan Ibadah – Gencil News
Connect with us

Mimbar Islam

Penyakit Hati yang Merusak Amalan Ibadah

Published

on

Penyakit Hati yang Merusak Amalan Ibadah

Setiap anggota tubuh manusia sudah sesuai untuk fungsinya masing-masing. Bila ada yang rusak, maka kerja dan fungsinya akan terganggu, atau tidak berfungsi sama sekali. Termasuk pula bila seseorang terserang penyakit hati.

Bila hati terserang penyakit maksiat, penyakit yang menjauhkannya dari Allâh Azza wa Jalla, maka hati tidak bisa menjalankan fungsi kerjanya.

Ia tidak bisa menghadirkan amalan-amalan untuk ibadah kepada-Nya. Ia akan jauh dari mengenal Allâh Azza wa Jalla .

Melansir dari Almanhaj Penyakit hati adalah penyakit yang sangat berbahaya, dan terkadang si penderita tidak bisa merasakannya.

Kalaupun ia merasakannya, namun susah baginya untuk bersabar dalam mengobatinya. Karena obat sakit hati adalah dengan melawan hawa nafsunya.

Dan ini hal yang memerlukan pengorbanan besar. Memang hati adalah poros kebahagiaan sekaligus sumber kebinasaannya.

Selanjutnya, penyakit yang merusak amalan ibadah antara lain ; Sombong, Hasad, Ujub, Bakhil dan Riya

“Waspadalah terhadap hasud (iri dan dengki), sesungguhnya hasud mengikis pahala-pahala sebagaimana api memakan kayu”. (HR. Abu Dawud)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ

Ingatlah, sesungguhnya dalam tubuh kalian terdapat segumpal daging; bila ia baik, maka akan baik seluruh badannya.

Namun bila ia rusak, akan rusak pula semua tubuhnya. Ingatlah, itu adalah hati. [Muttafaq ‘alaih]

Hadits tersebut menunjukkan bahwa baiknya amalan seorang hamba tergantung pada baiknya hati. Sebaliknya, rusaknya amalan seorang hamba adalah sesuai dengan rusaknya hati.

Hati yang baik, itu adalah jiwa yang sehat selamat. Hanya hati seperti ini yang akan bermanfaat di sisi Allâh Azza wa Jalla kelak.

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ ﴿٨٨﴾ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih. [Asy-Syu’arâ’/ 26: 88-89] Semoga kita terhindar dari penyakit hati yang merusak amalan ibadah.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Mimbar Islam

Begini Wasiat Nabi agar Kita Menjaga Sholat

Published

on

Begini Wasiat Nabi agar Kita Menjaga Sholat

Gencil News – Begini Wasiat Nabi agar Kita Menjaga Sholat. Al-Imam Al-Bukhori dan Al-Imam Muslim rohimahumalloh, meriwayatkan sebuah hadits dari Sahabat Nabi yg mulia, Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:

أَنَّ أَبَا بَكْرٍ كَانَ يُصَلِّي لَهُمْ فِي وَجَعِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الَّذِي تُوُفِّيَ فِيهِ، حَتَّى إِذَا كَانَ يَوْمُ الِاثْنَيْنِ وَهُمْ صُفُوفٌ فِي الصَّلاَةِ، فَكَشَفَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سِتْرَ الحُجْرَةِ يَنْظُرُ إِلَيْنَا وَهُوَ قَائِمٌ كَأَنَّ وَجْهَهُ وَرَقَةُ مُصْحَفٍ، ثُمَّ تَبَسَّمَ يَضْحَكُ، فَهَمَمْنَا أَنْ نَفْتَتِنَ مِنَ الفَرَحِ بِرُؤْيَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَنَكَصَ أَبُو بَكْرٍ عَلَى عَقِبَيْهِ لِيَصِلَ الصَّفَّ، وَظَنَّ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَارِجٌ إِلَى الصَّلاَةِ «فَأَشَارَ إِلَيْنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ أَتِمُّوا صَلاَتَكُمْ وَأَرْخَى السِّتْرَ فَتُوُفِّيَ مِنْ يَوْمِهِ

“Abu Bakar pernah mengimami mereka sholat di saat sakitnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang membawanya pada kewafatannya.

Hingga pada suatu hari, pada hari Senin, saat orang-orang sudah berada pada barisan (shof) sholat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyingkap tabir kamar rumah beliau dan memandang ke arah kami sambil berdiri, sementara wajah beliau pucat seperti kertas.

Beliau tersenyum dan tertawa. Hampir saja kami terkena fitnah (yakni keluar dari shof sholat) karena sangat gembiranya melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Abu Bakar lalu berkeinginan untuk berbalik masuk ke dalam barisan shof karena menduga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan keluar untuk sholat. Namun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi isyarat kepada kami agar : “Sempurnakanlah (yakni teruskanlah) sholat kalian.”

Setelah itu beliau menutup tabir, dan wafat pada hari itu juga.”

(HR. Imam Al-Bukhari no. 680 dan Imam Muslim no. 419)

Catatan:

1. Hadits tersebut di atas menjelaskan tentang saat-saat terakhir kehidupan Nabi Muhammad shollallohu alaihi wa sallam, sebelum beliau wafat. 

Ya, sebelum beliau wafat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memandang para sahabatnya yang sedang menunaikan sholat di masjid dengan tatapan mata perpisahan. 

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memandang para sahabatnya dengan pandangan kesejukan dan kebahagiaan, karena melihat para sahabatnya sedang mendirikan sholat.

Ya, karena sholat adalah “qurrota a’yun (sesuatu yg menyejukkan/menyenangkan pandangan mata kita).

Allah Ta’ala telah menjadikan akhir hidup beliau dengan melihat umatnya berkumpul di masjid di pagi hari mendirikan sholat berjamaah. Ini adalah perkara yang sangat disenangi oleh beliau shollallohu alaihi wa sallam. 

2. Ketahuilah wahai saudaraku kaum Muslimin.

Sholat terakhir yang dikerjakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan berjama’ah bersama para Sahabat beliau adalah salat Dhuhur pada hari Kamis. Karena setelah itu beliau sakit, dan tidak bisa sholat berjama’ah lagi bersama para Sahabat beliau. 

Setelah itu, sakit beliau bertambah parah, dan selama tiga hari berikutnya beliau tidak mampu keluar rumah untuk sholat berjamaah, yaitu pada hari Jumat, Sabtu, dan Ahad. 

Yang menggantikan posisi beliau sebagai imam sholat bagi kaum muslimin adalah Sahabat beliau yang mulia, Abu Bakr As-Shiddiq rodhiyallohu ‘anhu.

Di waktu fajar (Shubuh) di hari Senin, yaitu hari ketika beliau wafat, beliau membuka jendela kamarnya untuk melihat para Sahabatnya dengan tatapan mata perpisahan. 

Betapa besarnya perpisahan yang terjadi pada hari itu.

Selanjutnya, kisahnya adalah sebagaimana disebutkan oleh Anas bin Malik rodhiyallohu anhu dalam hadits tersebut di atas. 

3. Hadits tersebut di atas, juga menunjukkan kepada kita, betapa besar perhatian Nabi Muhammad shollallohu alaihi wa sallam terhadap ibadah Sholat itu bagi umat beliau.

Bahkan disebutkan dalam hadits-hadits dan riwayat-riwayat yang lainnya yang menunjukkan, bahwa ibadah sholat itu adalah WASIAT NABI shallallahu alaihi wa sallam di akhir-akhir kehidupan beliau.

Ali bin Abi Tholib radhiyallahu ‘anhu pernah berkata: 

“Ucapan terakhir Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam adalah:

الصَّلَاةَ الصَّلَاةَ، اتَّقُوا اللَّهَ فِيمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ

“(Kerjakanlah) sholat, (kerjakanlah) sholat ! Dan takutlah kalian kepada Alloh atas hak-hak hamba sahaya (budak) kalian.”

(HR. Ahmad no. 585, Abu Daud no. 5156, dan Ibnu Majah no. 2698. Dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani rohimahulloh dalam Shohih Al-Jami’ no. 4616)

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu juga pernah berkata:

كَانَتْ عَامَّةُ وَصِيَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ حَضَرَتْهُ الْوَفَاةُ، وَهُوَ يُغَرْغِرُ بِنَفْسِهِ: الصَّلَاةَ، وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ

“Wasiat umum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelang wafat, ketika beliau mengalami sakarotul maut yaitu: “Jagalah sholat, serta perhatikanlah hamba sahaya kalian.”

(HR. Ibnu Majah no. 2697, dinilai sahih oleh Syaikh Al-Albani rohimahulloh dalam Al-Irwa’ no. 2178)

Demikian pula hadits dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, salah seorang istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau pernah mengatakan:

كَانَ مِنْ آخِرِ وَصِيَّةِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الصَّلَاةَ الصَّلَاةَ، وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ، حَتَّى جَعَلَ نَبِيُّ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُلَجْلِجُهَا فِي صَدْرِهِ، وَمَا يَفِيصُ بِهَا لِسَانُهُ

“Sesungguhnya wasiat terakhir Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelang wafat adalah “Jagalah sholat, serta perhatikanlah hamba sahaya kalian.”

“Beliau terus-menerus mengulang perkataan tersebut dan lisan beliau tidak berhenti.”

(HR. Ahmad no. 26483, 26684 dan An-Nasa’i dalam Sunan Al-Kubro no. 7060. Sanadnya dinilai shohih oleh Syaikh Al-Albani rohimahulloh dalam Al-Irwa’, 7/238)

Demikianlah wasiat terakhir Nabi kita Muhammad shollallohu alaihi wa sallam. 

Hal itu menunjukkan, betapa tingginya kedudukan ibadah sholat itu dalam agama Islam, dan betapa besar perhatian Nabi Muhammad shollallohu alaihi wa sallam terhadap ibadah sholat tersebut. 

4. Karena itu, perhatikanlah ibadah sholat ini, wahai saudaraku kaum Muslimin semuanya. 

Jangan meremehkan sholat dan jangan sekali-kali meninggalkannya!

Dalam banyak hadits-haditsnya, Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam memberikan ancaman bagi siapa saja orang yang meninggalkan ibadah sholat ini, sebagai orang yang telah KAFIR, keluar dari agama Islam, bahkan akan dikumpulkan di neraka di hari kiamat nanti bersama tokoh-tokoh kekufuran. 

Dalam hadits ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, beliau menceritakan bahwa suatu hari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan tentang sholat, lalu beliau bersabda :

مَنْ حَافَظَ عَلَيْهَا كَانَتْ لَهُ نُورًا، وَبُرْهَانًا، وَنَجَاةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ لَمْ يُحَافِظْ عَلَيْهَا لَمْ يَكُنْ لَهُ نُورٌ، وَلَا بُرْهَانٌ، وَلَا نَجَاةٌ، وَكَانَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَعَ قَارُونَ، وَفِرْعَوْنَ، وَهَامَانَ، وَأُبَيِّ بْنِ خَلَفٍ

“Siapa saja yang menjaga ibadah sholat, maka dia akan mendapatkan cahaya, petunjuk, dan keselamatan pada hari kiamat.

Sedangkan siapa saja yang tidak menjaga ibadah sholat, maka dia tidak akan mendapatkan cahaya, petunjuk, dan keselamatan pada hari kiamat.

Dan pada hari kiamat nanti, dia akan dikumpulkan bersama dengan Qarun, Fir’aun, Haman, dan Ubay bin Khalaf.”

(HR. Ahmad no. 6576 dan Ibnu Hibban no. 1467. Syaikh Ibnu Baaz berkata dalam Majmu’ Fatawa (10/278) : “Sanadnya Hasan.”)

Artinya, orang-orang yang meninggalkan sholat di dunia ini dan tidak mau menjaga sholatnya, mereka akan dikumpulkan di hari kiamat nanti bersama dengan para pembesar (tokoh-tokoh) orang kafir. 

Semoga Alloh Ta’ala melindungi kita dari kejelekan semacam ini!

Kemudian dalam hadits Jabir radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكَ الصَّلَاةِ

“Sungguh, yang memisahkan/membedakan antara seseorang dengan kesyirikan dan kekufuran adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim no. 82)

Dalam hadits dari Abdullah bin Buraidah, dari ayahnya, beliau berkata:

“Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الْعَهْدُ الَّذِي بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ الصَّلَاةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ

“Perjanjian antara kita dan mereka adalah sholat. Siapa saja yang meninggalkan sholat, sungguh dia telah kafir.”

(HR. Ahmad no. 22937, *At-Tirmidzi no. 2621, An-Nasa’i no. 463, Ibnu Majah no. 1079. Hadits ini dinilai shohih oleh Syaikh Al-Albani rohimahulloh dalam Shohih Al-Jaami’ no. 4143)

Kemudian dalam hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ صَلَّى صَلاَتَنَا وَاسْتَقْبَلَ قِبْلَتَنَا، وَأَكَلَ ذَبِيحَتَنَا فَذَلِكَ المُسْلِمُ الَّذِي لَهُ ذِمَّةُ اللَّهِ وَذِمَّةُ رَسُولِهِ، فَلاَ تُخْفِرُوا اللَّهَ فِي ذِمَّتِهِ

“Barangsiapa sholat seperti sholat kita, menghadap ke arah kiblat kita, dan memakan sembelihan kita, maka dia adalah seorang muslim.

Dia memiliki perlindungan dari Alloh dan Rosul-Nya. Maka janganlah kalian mendurhakai Allah dengan mencederai perlindungan-Nya.” (HR. Bukhari no. 391)

Demikianlah hadits-hadits yang menganjurkan kepada kita semua, agar menjaga ibadah sholat. 

Sekaligus ancaman bagi mereka yang meremehkan dan meninggalkan ibadah sholat yang mulia ini! 

Semoga Alloh ta’ala jadikan kita orang-orang yang istiqomah dalam menjaga dan mengamalkan dengan baik ibadah sholat ini. 

Demikianlah tulisan dan nasehat yang ringkas ini, semoga menjadi nasehat dan ilmu yang bermanfaat bagi kita semuanya. (Abu Abdirrohman Yoyok WN Sby)

Continue Reading

Mimbar Islam

Golongan Manusia Terbaik yang Diungkap Rasulullah SAW

Published

on

Golongan Manusia Terbaik yang Diungkap Rasulullah SAW
Sumber Foto ; Pixnio/ Ilustrasi Musafir

Dalam beberapa hadits, Nabi Muhammad SAW menyatakan beberapa golongan manusia terbaik. dan setidaknya ada tiga hadits yang bisa menjelaskan manusia-manusia terbaik, sehingga bisa menjadi teladan umat Islam.

Pertama, yaitu hadits tentang manusia yang mempelajari Alquran.

Rasulullah SAW bersabda:   خيركم من تعلم القرآن وعلمه

Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Alqur’an dan mengajarkannya.” (HR Bukhari).

Imam Ibnul Qoyyim rahimahullahu setelah membawakan hadits tersebut, lalu menjelaskan maknanya.

Menurut ia, yang mempelajari Alqur`an dan mengajarkannya itu mencakup, mempelajari dan mengajarkan huruf-hurufnya dan makna-maknanya.

Kedua, yaitu hadits yang menjelaskan akhlak manusia.

Rasulullah SAW bersabda:  خياركم أحاسنكم أخلاقا

Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik akhlaknya.” (HR Bukhari).

Allah SWT mengutus Nabi Muhammad SAW sebagai nabi dan rasul sekaligus menjadi uswah hasanah (suri teladan yang baik) bagi umatnya.

Jika ingin mengetahui kemuliaan akhlak Rasulullah Muhammad SAW, maka kita perlu menyelami seluruh sisi kehidupan beliau.

Sebab, seluruh perikehidupan beliau memang penuh dengan akhlak mulia.

Ketiga, hadits yang berkaitan dengan membayar utang.

Beliau bersabda:  خيركم أحسنكم قضاء

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik ketika membayar utang).” (HR Bukhari).

Masalah ini merupakan hal sepele, tapi bisa menjadi masalah besar jika tidak segera terlunasi.

Utang memang bukan suatu hal yang diharamkan sebagaimana mencuri, tapi baik buruknya seseorang bisa dilihat juga dari caranya memperlakukan utang-utangnya.

Rasulullah SAW telah memasukkan orang yang bisa membayar utangnya tepat waktu sebagai salah satu manusia terbaik.

Semoga kita masuk dalam golongan manusia yang terbaik dalam rahmat ALLAH SWT.

Sumber: Republika

Continue Reading

Mimbar Islam

Tamak adalah Pangkal Segala Kemungkaran

Published

on

Tamak adalah Pangkal Segala Kemungkaran

Selain pangkal dari segala kemungkaran, Tamak adalah sikap rakus terhadap harta dunia tanpa melihat halal dan haramnya. Tamak terhadap harta dunia merupakan penyakit hati yang sangat membahayakan kehidupan manusia.

Imam Ibnu al-Jauzi berkata, “Jika sifat rakus lepas kendali maka ia akan membuat seseorang terkuasai nafsu untuk sepuas-puasnya. Sifat ini menuntut terpenuhinya banyak hal yang menjerumuskan seseorang ke liang kehancuran.”

Rasulullah S.A.W. pernah mengabarkan bahwa sifat tamak tidak pernah mengenal kata puas sekalipun telah terpenuhi kepada satu sampai dua lembah emas.

Al-Bukhari meriwayatkan dari Ibnu al-Zubair tatkala di atas mimbar di Mekah dalam khubtahnya, beliau berkata;

Wahai manusia sekalian, Sesungguhnya Nabi S.A.W. pernah bersabda, “Seandainya anak keturunan Adam terpenuhi satu lembah penuh dengan emas niscaya ia masih akan menginginkan yang kedua.

Jika ada lembah emas yang kedua maka ia menginginkan lembah emas ketiga.

Tidak akan pernah menyumbat rongga anak Adam selain tanah, dan Allah menerima taubat bagi siapa pun yang mau bertaubat.” (HR. Al-Bukhari)

Dampak buruk dari sifat tamak, bisa membuat seseorang melakukan segala cara yang haram demi mendapatkan harta.

Tamak pangkal dari segala kemungkaran Menyibukkan diri dengan harta secara berlebihan adalah fitnah (yang merusak agama seseorang).

Karena harta dapat melalaikan pikiran manusia dari melaksanakan ketaatan kepada Allah SWT dan membuatnya lupa kepada akhirat.

Continue Reading

Advertisement

TRENDING