Rumahnya Kok Tutupan Terus Sih, Kenapa – Gencil News
Connect with us

Mimbar Islam

Rumahnya Kok Tutupan Terus Sih, Kenapa?

Published

on

Rumahnya Kok Tutupan Terus Sih, Kenapa

GENCIL NEWS – Rumahnya Kok Tutupan Terus Sih, Kenapa? Mba, Rumahnya kok tutupan terus sih? Pernah ngga dapat komentar kayak begitu? Saya  pernah. Mau tau kenapa rumah kami selalu ditutup pintunya?

Pertama, Setiap hari yang dirumah hanyalah istri dan anak. Suami  bekerja pergi pagi pulang sore.  Pintu rumah selalu ditutup karena di dalam rumah saya cuma memakai baju rumahan, baju daster, atau rok pendek selutut. Sementara wanita muslimah tidak diperbolehkan memperlihatkan auratnya, perhiasannya, kecantikannya kecuali  pada suaminya dan mahramnya.

Allah Ta ala berfirman :

Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera–putera mereka, atau putera–putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allâh, wahai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. [an-Nûr/24:31]

Nah, kalau pintu rumah dalam keadaan terbuka, sudah pasti aurat pemilik rumah akan terlihat oleh orang banyak (laki laki non mahram) yang lalu lalang di depan rumah.

Masa’ sih kita harus memakai jilbab cadar dan kaus kaki sepanjang hari ? Kalo saya sih gak mau, wong dirumah sendiri kok dibikin repot? 

Kedua, sebagai istri kita tidak diperbolehkan menerima tamu laki laki saat suami tidak dirumah. 

Jika pintu rumah selalu terbuka, maka siapa saja yang hendak bertamu kerumah bisa dengan bebas ‘ujug ujug’ di depan pintu, tinggal melangkahkan kaki dan masuk rumah. Belum lagi jika ada orang yang memiliki niat jahat, maka akan sangat mudah melakukan niat jahatnya bila pintu selalu terbuka. 

Di dalam syariat Islam, istri  tidak diperbolehkan sembarangan menerima tamu, khususnya tamu laki laki, ini ‘Sangat Dilarang’ saat suami tidak dirumah. 

Berdasarkan hadist dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Tidak halal bagi wanita untuk puasa sunah, sementara suaminya ada di rumah, kecuali dengan izin suaminya. Dan istri tidak boleh mengizinkan orang lain masuk ke rumahnya kecuali dengan izin suaminya.” (HR. Bukhari 4899 & Muslim 1026).

Ketiga, pintu selalu dikunci dari dalam. Agar ketika ada tamu siapapun itu, mau kerabat, tetangga, atau teman yang mungkin memiliki hubungan dekat tidak langsung nyelonong masuk, ketika memanggil atau sudah  mengucapkan salam. 

Namanya dirumah sendiri, bisa saja kita sedang dalam keadaan aurat terbuka. Dengan pintu yang tertutup dan dikunci, maka kita bisa mempersiapkan diri atau menutupi aib yang tidak boleh diketahui orang lain, meski pun  (teman sesama wanita,kerabat wanita). 

Allah Ta ala berfirman : 

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat.” (QS. An-Nuur [24]: 27)

Sebagaimana juga terdapat dalam hadits dari Kildah ibn al-Hambal radhiallahu’anhu, ia berkata,

“Aku mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu aku masuk ke rumahnya tanpa mengucap salam. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Keluar dan ulangi lagi dengan mengucapkan ‘assalamu’alaikum’, boleh aku masuk?’” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi berkata: Hadits Hasan)

Dalam hal ini (memberi salam dan minta izin),  maka batasannya adalah tiga kali. Maksudnya adalah, jika kita telah memberi salam tiga kali namun tidak ada jawaban atau tidak diizinkan, maka itu berarti kita harus menunda kunjungan kita kali itu. 

Adapun ketika salam kita telah dijawab, bukan berarti kita dapat membuka pintu kemudian masuk begitu saja atau jika pintu telah terbuka, bukan berarti kita dapat langsung masuk. Mintalah izin untuk masuk dan tunggulah izin dari sang pemilik rumah untuk memasuki rumahnya. 

Hal ini disebabkan, sangat dimungkinkan jika seseorang langsung masuk, maka ‘aib atau hal yang tidak diinginkan untuk dilihat belum sempat ditutupi oleh sang pemilik rumah. 

Sebagaimana diriwayatkan dari Sahal ibn Sa’ad radhiallahu’anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اِنّما جُعل الاستئذان من أجل البصر

“Sesungguhnya disyari’atkan minta izin adalah karena untuk menjaga pandangan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Nah, saat ada tamu yang sudah di izinkan masuk, barulah pintu saya biarkan terbuka. Ketika tamu pulang, pintu ditutup kembali dan dikunci.

Jadi, itulah sebabnya mengapa pintu rumah saya  selalu tertutup. 

Sumber (almanhaj.or.id/konsultasisyariah.com/muslimah.or.id)

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Mimbar Islam

Menjauhi Neraka Meski Hanya dengan Bersedekah Kurma

Published

on

Menjauhi Neraka Meski Hanya dengan Bersedekah Kurma

Rasulullah SAW telah memperingatkan umatnya untuk menjauh dari apa neraka dengan bertakwa kepada Allah SWT.

Bahkan, beliau memerintahkan kepada umatnya untuk bersedekah dengan sebutir kurma jika ingin selamat daripada api neraka.

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan sebuah hadits dari ‘Adi ibn Hatim bahwa Rasulullah SAW bersabda:

اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ، فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَبِكَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ

“Jauhilah neraka walaupun dengan bersedekah sebelah butir kurma, maka siapa saja yang tidak mendapatkannya, maka hendaklah (bersedekah) dengan kata-kata yang baik’.”

(HR Bukhari dan Muslim).

Dalam hadits tersebut Rasulullah SAW memerintahkan umat Islam untuk selalu istiqamah dalam bersedekah, walaupun sedekah dengan jumlah sangat sedikit.

Karena, sedekah itu lah justru bisa menyelematkan umat Islam dari api neraka.

Pemahaman mengenai dengan sebutir kurma dalam hadits tersebut merupakan kiasan tentang amal-amal yang ringan.

Kendati demikian, amal yang ringan tersebut bernilai tinggi di hadapan Allah SWT. Karena itu, bersedekahlah dengan apapun yang engkau miliki, terutama masa pandemi Covid-19 sekarang ini.

Bersedekah tidak harus berupa uang atau barang, tetapi cukup dengan perbuatan atau kalimat kebaikan yang mana akan menjadi penyelamat pada Hari Kiamat kelak.

“Dan aku melihat seorang laki-laki dari umatku ketakutan melihat jilatan api neraka. Ia mengusir (jilatan tersebut) dari wajahnya dengan menggunakan tangannya. Kemudian datanglah amalan sedekah laki-laki tersebut. Amalan itu pun menghalangi dan melindungi wajah serta kepalanya (dari jilatan api neraka)”

(Tafsir Ibnu Katsir)

Dalam hadits yang pertama, Rasulullah SAW juga memperingatkan umat Islam untuk selalu selalu menjauhi api neraka.

Dalam hadits Al-Baihaqi dengan sanad ada dalamnya terdapat musnid yang jahalah (tidak diketahui), dari Anas dari Nabi SAW bersabda:

يا معشر المسلمين ارغبوا فيما رغبكم الله فيه و احذروا و خافوا ما خوفكم الله به من عذابه و عقابه و من جهنم فإنها لو كانت قطرة من الجنة معكم في دنياكم التي أنتم فيها حلتها لكم و لو كانت قطرة من النار معكم في دنياكم التي أنتم فيها خبثتها عليكم

“Wahai seluruh kaum muslimin berharaplah terhadap apa-apa yang Allah harapkan atas kalian, dan jauhi serta takutlah terhadap apa yang ditakutkan Allah atas kalian dari adzab-Nya dan hukuman-hukman Allah dan juga jahanam, sesungguhnya kalau satu tetes kenikmatan dari surga di jatuhkan di atas dunia maka akan menjadikan indah dunia ini dan apabila satu percik api neraka dipercikan ke dalam dunia ini maka akan menjadikan dunia yang kalian tempati ini rusak.”

Continue Reading

Mimbar Islam

2 Maksiat yang Segera Mendapat Siksaan di Dunia

Published

on

2 Maksiat yang Segera Mendapat Siksaan di Dunia

Terdapat dua perilaku maksiat yang akan Allah SWT segerakan siksanya selama hidup dalam dunia, sebelum mati dan sebelum kelak bangkit pada hari kiamat.

Penegasan ini sebagaimana Rasulullah SAW sampaikan dalam haditsnya. Beliau bersabda:

 اثنان يعجلهما الله في الدنيا: البغي وعقوق الوالدين 

‘Dua dosa yang langsung dapat balasannya saat dalam dunia oleh Allah SWT, yaitu berlaku zalim dan berlaku kasar kepada kedua orang tua.(HR Thabrani dari Ibn Asakirah).

Hadits tersebut memberikan gambaran yang sangat jelas, sekaligus peringatan kepada orang-orang yang beriman.

Bahwa perilaku maksiat dengan menzalimi dan menganiaya kepada orang atau pihak lain dan berlaku buruk kepada kedua orang tua.

adalah sama halnya dengan mengundang azab dan malapetaka bagi diri sendiri, baik dalam kehidupan dunia maupun akhirat hanti.

Kezaliman ini sifatnya sangat bervariasi, dalam praktiknya bisa terjadi pada atau oleh orang juga kelompok manapun.

Seorang suami yang tidak bertanggung jawab terhadap istri dan anak-anaknya dan tidak memberikan nafkah lahiriyah maupun batiniyah.

Atau seorang istri yang tidak mempedulikan kewajiban kepada suami dan anak-anaknya bahkan membangkang kepadanya, adalah istri yang zalim.

Selanjutnya, Majikan yang hanya menekankan kewajiban para pegawai dan karyawannya tanpa mengimbanginya dengan pemberian hak yang wajar dan manusiawi kepada mereka, adalah majikan yang zalim.

Demikian pula pegawai dan karyawan yang hanya menuntut haknya tanpa peduli dengan pemenuhan tugas dan kewajibannya adalah karyawan yang zalim.

Demikian pula memfitnah, mengadu domba, mengambil hak orang lain, adalah perbuatan zalim, yang apabila pelakunya tidak segera sadar maka akan mengundang siksa kemurkaan Allah SWT di dunia ini, dan di akhirat akan berada dalam kegelapan yang teramat dahsyat dan menakutkan.

Rasulullah saw bersabda:

اِتَّقُوا اَلظُّلْمَ فَإِنَّ اَلظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ اَلْقِيَامَةِ 

”Takutlah kalian terhadap perbuatan menzalimi orang lain, karena kezaliman tersebut akan menyebabkan kegelapan pada Hari Kiamat.”

Republika- Naskah hikmah Prof Didin Hafidhuddin pada tahun 2000.

Continue Reading

Mimbar Islam

Lima Langkah Manusia Meredam Amarah dan Emosi

Published

on

Lima Langkah Manusia Meredam Amarah dan Emosi

Manusia terkadang tak bisa menahan amarah dan emosinya ketika sedang kesal terhadap seseorang. Padahal, marah adalah salah satu senjata setan untuk membinasakan manusia.

Jika manusia mulai memiliki amarah dan emosi, maka setan akan sangat mudah mengendalikannya.

Seperti Mengutip dari buku “Menjadi Manusia Luhur” karya Arjuna Wibowo, setidaknya ada lima langkah yang bisa meredam emosi.

Pertama, ketika manusia sedang emosi hendaknya segera memohon pertolongan kepada Allah.

Agar terhindar dari godaan hendaknya orang yang emosi segera membaca ta’awudz:

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

A’udzu billahi minasy syaithonir rojiim”

Artinya: “Aku berlindung kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dari setan yang terkutuk”.

Kedua, saat sedang emosi sebaiknya langsung diam dan menjaga lisan. Menurut Arjuna, bawaan orang marah adalah berbicara tanpa aturan, sehingga bisa saja dia berbicara sesuatu yang justru mengundang murka Allah.

“Jika kalian marah, berdiamlah.” (HR. Ahmad dan Syuaib Al-Arnauth menilai Hasan Lighairih).

Ketiga, orang yang sedang emosi hendaknya mengambil posisi lebih rendah. Karena, kecenderungan orang marah adalah ingin selalu lebih tinggi.

“Apabila kalian marah, dan dia dalam posisi berdiri, hendaknya dia duduk. Karena dengan itu marahnya bisa hilang. Jika belum hilang, hendaknya dia mengambil posisi tidur. (HR. Ahmad 21348), Abdu Daud 4782 dan perawinya shahih oleh Syuaib al-Arnauth).

Keempat, saat sedang emosi hendaknya segera berwudhu.

Hal ini sebagaimana hadits yang artinya: “Sesungguhnya marah itu dari setan, dan setan diciptakan dari api, dan api bisa padam dengan air.

Apabila kalian marah, hendaknya berwudhulah”. (HR. Ahmad 17985 dan Abu Daud 4784).

Sedangkan langkah kelima, ketika sedang marah seseorang bisa mengingat pesan dari hadits yang diriwayatkan Muadz bin Anas Al-Juhani rashiyallahu anhu, Rasulullah Saw bersabda:

“Siapa yang berusaha menahan amarahnya, padahal dia mampu meluapkannya, maka dia akan Allah panggil di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat, sampai Allah menyuruhnya untuk memilih bidadari yang dia kehendaki. (HR. Abu Daud, Turmudzi)

Sumber: Republika- Lima Langkah Redam Emosi

Continue Reading

TRENDING