Connect with us

Mimbar Islam

Siapakah Orang yang Cerdas Itu?

Published

on

Siapakah Orang yang Cerdas Itu

Gencil News – Siapakah Orang yang Cerdas Itu? Seperti apa kriterianya, apakah yang lulusan doktoral, profesor dari universitas ternama? Atau seperti apa?

(1). Rasulullah صلى الله عليه و سلم bersabda:

أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا، أُولَئِكَ أَكْيَاسٌ

“Seseorang yang paling banyak mengingat kematian dan paling baik persiapannya untuk kehidupan setelah mati, maka mereka itulah orang-orang yang cerdas” (HR. Ibnu Majah no. 4259, lihat ash-Shahihah no. 1384)

(2). Imam Abu Hatim Muhammad Ibn Hibban al-Busty رحمه الله berkata:

لسان العاقل يكون وراء قلبه ، فإذا أراد القول رجع إلى القلب ، فإن كان له قَالَ ، وإلا فلا.والجاهل قلبه في طرف لسانه ، مَا أتى على لسانه تكلم به ، وما عقل دينه من لم يحفظ لسانه

“Lisan orang yang cerdas berada di belakang hatinya. Ketika dia hendak berbicara, maka dia akan bertanya terlebih dahulu kepada hatinya. Apabila (perkataan itu bermanfaat) bagi dirinya, maka dia pun akan berbicara, namun apabila tidak bermanfaat, maka dia akan diam. Sementara orang yang bodoh, hatinya itu berada di ujung lisannya. Dia akan membicarakan apa saja yang ingin diucapkan oleh lisannya. Seseorang yang tidak bisa menjaga lidahnya, berarti tidak cerdas terhadap agamanya” (Raudhatul ‘Uqalaa’ wa Nuzhatul Fudhalaa’ hal 49)

(3). Imam Ibnu Taimiyah رحمه الله berkata: 

لَيْسَ الْعَاقِلُ الَّذِي يَعْلَمُ الْخَيْرَ مِنْ الشَّرِّ وَإِنَّمَا الْعَاقِلُ الَّذِي يَعْلَمُ خَيْرَ الْخَيْرَيْنِ وَشَرَّ الشَّرَّيْنِ

“Seseorang yang cerdas itu bukanlah orang yang tahu mana yang baik dari yang buruk. Akan tetapi, orang yang cerdas itu adalah orang yang tahu mana yang terbaik dari dua kebaikan, dan manakah yang lebih buruk dari dua keburukan” (Majmuu’ al-Fatawa XII)

(4). Imam al-Utsaimin رحمه الله berkata:

“Seorang yang cerdas, apabila dia membaca al-Qur’an dn berusaha menghayatinya, maka dia akan tahu nilai dunia ini, bahwa dunia ini bukanlah apa-apa, bahwa dunia ini ladang untuk akhirat. Maka, lihatlah apa yang telah engkau tanam di dunia ini untuk akhiratmu. Jika engkau telah menanam kebaikan, maka berbahagialah dengan hasil panen yang akan membuatmu ridha. Namun bila keadaannya sebaliknya, berarti engkau telah rugi dunia & akhirat” (Syarah Riyadhus Shalihin III/358)

WaAllahu ‘Alam. Semoga bermanfaat. (Ustadz Najmi Umar Bakkar)

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Mimbar Islam

Muslim AS Pilih ‘Home Schooling’ untuk Pendidikan Agama Anak-anak

Published

on

Muslim AS Pilih 'Home Schooling' untuk Pendidikan Agama Anak-anak
Banyak keluarga Muslim di Amerika ingin anak-anak mereka mendapat pendidikan agama Islam di sekolah. Namun pendidikan agama, apalagi Islam, tidak masuk dalam kurikulum pendidikan. Pilihan mereka, satu di antaranya, adalah sekolah rumah.
Muslim AS Pilih 'Home Schooling' untuk Pendidikan Agama Anak-anak
Muslim AS Pilih ‘Home Schooling’ untuk Pendidikan Agama Anak-anak

Muslim AS Pilih ‘Home Schooling’ untuk Pendidikan Agama Anak-anak -Keluarga Muslim di Amerika sering kesulitan memilih sekolah bagi pendidikan anak-anak mereka. Satu pertimbangan yang paling mendasar adalah pendidikan agama– termasuk Islam – tidak termasuk dalam kurikulum sekolah. Padahal mereka ingin anak-anak mereka bisa belajar membaca Quran dan dapat menerapkan ajaran-ajaran Islam.

Keluarga Shakir di Northville, Michigan, menemukan solusi bagi masalah mereka itu, yakni home schooling atau sekolah rumah — metode pendidikan alternatif yang dilakukan di rumah, di bawah pengarahan orang tua atau tutor pendamping, dan tidak dilaksanakan di tempat formal seperti di sekolah negeri, sekolah swasta, atau di institusi pendidikan lainnya dengan model kegiatan belajar yang terstruktur dan kolektif.

“Nama saya Shadia Shakir. Profesi saya pengacara dan biasanya menerima klien pada malam hari. Saat ini saya menyekolahkan anak saya di rumah. Anak tertua saya sudah pada jenjang pendidikan setingkat SMA,” kata Shakir.

Raneem Haque, putri bungsu Shakir, tidak keberatan dengan keputusan orang tuanya.

“Ibu saya mengajarkan sebagian besar mata pelajaran. Ketika dia mengajar, dia benar-benar membantu saya,” kata Haque.

Hannah Shraim, 17 tahun (tengah) berbincang dengan teman-teman sekelasnya di SMU Northwest di Germantown, 10 Mei 2016. (Foto: AP/Ilustrasi)
Hannah Shraim, 17 tahun (tengah) berbincang dengan teman-teman sekelasnya di SMU Northwest di Germantown, 10 Mei 2016. (Foto: AP/Ilustrasi)

Tidak semua mata pelajaran bisa diajarkan di rumah. Raneem Haque dan kakaknya harus pergi ke perpustakaan untuk menemui salah satu guru mereka.

“Tiga kali seminggu kami pergi ke perpustakaan, di mana anak-anak saya bertemu guru bahasa mereka. Mereka melakukan aktivitas seperti halnya di sekolah umum. Saya dan suami saya sepakat untuk membiarkan anak-anak mengejar cita-cita sesuai minta mereka. Satu hal yang kami harapkan adalah mereka menjadi pemikir yang kritis. Ya, itulah harapan kami,” kata Shakir.

Apa perbedaan mendasar yang diajarkan Shakir dan suaminya terhadap anak-anak mereka dibanding sekolah-sekolah umum.

“Kami berusaha menggabungkan pendidikan agama, dan kajian Alquran. Sesuatu yang yang tidak dapat dilakukan pada sekolah tradisional sesuai keinginan kami,” tutur Shakir.

Bagi Shakir dan suaminya, mendengar anak-anak mereka membaca Alquran di rumah memberikan kedamaian tersendiri.

“Ketika Alquran dibacakan, yang terdengar adalah suara yang penuh melodi dan indah. Yang membahagiakan, anak saya ingin Alquran menjadi fokus pendidikannya.Sungguh mengejutkan bahwa ia tertarik. Saya berharap ia terus mempertahankan minatnya tersebut,” kata Shakir.

Raneem Haque mencontohkan surat Alquran yang menjadi kegemarannya.

“Surat favorit saya An-Nasr,” ujar Raneem

Anak-anak membawa bendera Amerika melewati petugas kepolisian New York dalam pawai tahunan Hari Muslim di New York, 24 September 2017. (Foto: REUTERS/Stephanie Keith)
Anak-anak membawa bendera Amerika melewati petugas kepolisian New York dalam pawai tahunan Hari Muslim di New York, 24 September 2017. (Foto: REUTERS/Stephanie Keith)

Menurut Shakir, anak-anaknya perlu mempelajari Alquran.

“Bagi Muslim, kami salat lima kali sehari. Kami membacakan sebagian dari Alquran saat melaksanakannya. Mempertimbangkan hal itu, saya pikir, manfaat yang diperoleh dari sekolah rumah jauh lebih besar dari sekolah tradisional,” papar Shakir.

Tentu tidak semua materi dikuasai Shakir dan suaminya. Karena itu, mereka mempekerjakan seseorang yang secara khusus mengajarkan anak-anak mereka cara membaca Alquran dengan benar.

Shakir dan suaminya mengaku tidak mudah menyelenggarakan sekolah rumah, namun mereka bertekad terus melaksanakannya.

”Saran saya untuk mereka yang ingin menyekolahkan anak-anak mereka di rumah, saya akan bilang pada mereka ‘Ini tidak mudah’, tapi siapapun dapat melakukannya jika memang benar-benar menginginkannya,” kata Shakir.

“Hal lain yang saya ingin sarankan pada mereka adalah sekolah rumah tidak bisa diterapkan pada semua anak. Jadi mereka harus benar-benar mempertimbangkan apa yang sesuai dengan anak mereka, apa yang mereka butuhkan, dan kemudian berusaha menyesuaikan,” tambahnya.

Sekolah rumah semakin populer di AS. Departemen Pendidikan AS mencatat, jumlahnya terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada 2003, tercatat ada 1,3 juta anak Amerika yang mengenyam pendidikan lewat sekolah rumah, dan pada 2007 angkanya meningkat menjadi 1,5 juta. Pada 2018, angka itu melambung menjadi 2,3 juta. [ab]

Continue Reading

Mimbar Islam

Andai Saja Kubur Bisa Berbicara

Published

on

Andai Saja Kubur Bisa Berbicara

GENCIL NEWS – Andai Saja Kubur Bisa Berbicara. Duhai kaum muslimin seandainya kubur bicara bicara kepada ahli dunia. Niscaya tentu kita akan terus bermuhasabah diri dan menjauhi kemaksiatan.

Wahai orang yang hidup di dunia.

Wahai saudaraku yang akan mati.

Wahai yang diajak kepada keselamatan.

Wahai yang rela mendapatkan kerugian.

Wahai yang amal dibungkus kemunafikan.

Setiap hari ada jenazah yang diantar.

Kenapa lupa mati yang tinggal sebentar?

Bertaubatlah karena maut telah dekat.

Jangan ikuti hawa nafsu yang memikat.

Karena hari di akhirat itu amatlah berat.

Ziarahilah kuburan dan menangislah di sana, cucilah hatimu dengan air mata kesedihan.

Ingatlah orang yang telah tertimpa kematian, bagaimana hari yang sangat pedih itu datang kepada mereka dengan kesengsaraan.

Dimana kekayaan dan perhiasanmu?

Dimana kecantikan dan keindahanmu?

Dimana kesehatan dan kehormatanmu?

Dimana kedudukan dan kekuasaanmu?

Dimana ketundukan dan kerendahanmu?

Dimana kekuatan dan kebanggaanmu?

Dimana keangkuhan & kesombonganmu?

Semuanya akan berhenti di lubang kubur.

Rasulullah صلى الله عليه و سلم bersabda : “Kubur itu adalah tempat pertama dari alam akhirat. Apabila seseorang selamat darinya, maka setelahnya akan lebih mudah. Dan jika seseorang itu tidak selamat darinya, maka setelahnya akan lebih berat” (HR. At-Tirmidzi no. 2308, Ibnu Majah no. 4267 dan Ahmad I/225, hadits dari Utsman bin Affan, lihat Shahiihut Targhiib wat Tarhiib no. 3550)

Ya Allah, yang mengetahui semua rahasiaku, menguasai semua hidupku, yang menolong setelah kematianku, yang Maha Mendengar ratapanku, janganlah Engkau siksa diriku di dalam kuburku.

WaAllah ‘Alam. Semoga bermanfaat. (Ustadz Najmi Umar Bakkar)

Continue Reading

Mimbar Islam

Jangan Pernah Rusak Hati dan Amalmu

Published

on

Jangan Pernah Rusak Hati dan Amalmu

GENCIL NEWS – Jangan Pernah Rusak Hati dan Amalmu. Hati adalah cerminan diri sedangkan amal merupakan bekal untuk akhirat kita. Jangan rusak hatimu dengan sifat burukmu. Dan jangan rusak amalmu dengan rasa banggamu.

Berkata Ibnul Qayyim rahimahullah:

الرِيَاءُ ، والعُجبُّ ، والكِبرُ ، والفَخرُ ، والخُيَلاءُ ، والقُنوطُ مِن رَحمةِ اللهِ ، واليَأسُ مِن رُوحِ اللهِ ، والأمنُ مِن مَكرِ اللهِ ، والفَرحُ والسرُورُ بِأذَى المُسلمِين ، والشَمَاتةُ بِمُصِيبَتِهم ، ومَحبَةُ أن تَشِيعَ الفَاحِشَةَ فِيهم ، وحَسدُهم عَلى مَا آتاهُم اللهُ مِن فَضلهِ ، وتَمنِي زَوالُ ذلِكَ عَنهُم :

أشدُّ تَحرِيمًا مِن الزِنَا ، وشُربِّ الخَمرِ ، وغَيرُهمَا مِن الكَبَائِر الظَاهِرَة ، ولا صَلاحُ للقَلب ، ولا للجَسَدِ إلا بِاجتنَابِهَا ، والتَوبَةُ مِنهَا ؛ وإلا فَهو قَلبٌ فَاسِد ..! 

Riya’, ujub, sombong, bangga diri, congkak, putus asa dari rahmat Allah, aman dari makar Allah, senang dan bahagia dengan derita kaum muslimin, senang dengan musibah yang menimpa mereka, suka menyebarkan kekejian diantara mereka, hasad terhadap apa yang Allah berikan keutamaan kepada mereka, berharap hilangnya nikmat tersebut dari mereka:

Lebih dahsyat keharamannya dari zina, minuman keras, dan selainnya dari dosa-dosa besar yang nampak, dan tidaklah ada kebaikan pada hati demikian pula pada jasad kecuali dengan menjauhinya, bertaubat darinya, jika tidak maka itulah hati yang rusak!!

Madarijus Salikin (1/402).

WaAllahu ‘Alam. Semoga kita semua dijauhkan dari rusaknya hati dan amal. Aamiin. (Ust Fauzan Abu Muhammad Al Kutawy Hafizhahullah)

Continue Reading

TRENDING