Sombong, Rakus, Dengki adalah Sumber Kesalahan dan Dosa
Connect with us

Mimbar Islam

Sombong, Rakus, Dengki adalah Sumber Kesalahan dan Dosa

Published

on

Sombong, Rakus, Dengki adalah Sumber Kesalahan dan Dosa

GENCIL NEWS – Sombong, Rakus, Dengki adalah Sumber Kesalahan dan Dosa. Manusia tidak akan terhindar dari kesalahan dan dosa. Namun perlu diketahui tiga pokok sumber kesalahan yang seyogyanya dihindari.

قال الإمام ابن القيم رحمه الله :

(أصول الخطايا كلها ثلاثة : الكبر وهو الذي أصار إبليس إلى ما أصاره. والحرص وهو الذي أخرج آدم من الجنة، والحسد وهو الذي جرأ أحد ابني آدم على أخيه)

(الفوائد، ص.٦٤)

Al-Imam Ibnul Qoyyim rohimahulloh pernah berkata:

“Pokok-pokok (sumber) kesalahan itu ada tiga (yakni bermuara pada tiga hal, edt), yaitu:

Sombong (takabbur), itulah yang menjerumuskan iblis pada kedudukan yang hina.

Tamak (rakus), itulah yang mengeluarkan Nabi Adam dari surga.

Hasad (iri dengki), itulah yang menyebabkan salah satu putra Nabi Adam membunuh saudaranya.”

(Al-Fawaid, hal. 64)

Catatan:

1. Ya, itulah tiga macam dosa, yang pertama kali dilakukan oleh para makhluk Alloh ta’ala di alam semesta ini.

Karena kesombongan,  Iblis terusir dari surga, dan menjadi makhluk yang paling hina dan jelek, baik bentuk tubuhnya maupun kelakuannya.

Karena tamak (rakus) terhadap kenikmatan yang ada di dalam surga (yakni menginginkan kenikmatan lainnya yang dilarang oleh Alloh, yang dikira lebih bisa mengekalkannya untuk hidup di dlm surga), menyebabkan Nabi Adam alaihis salam melanggar larangan Alloh ta’ala, meskipun pada akhirnya beliau pun bertobat, dan Alloh ta’ala menerima tobat beliau.

Dan karena perasaan Hasad (iri dengki) lah, terjadinya dosa pembunuhan yang pertama kali terjadi di muka bumi.

2. Dan jika kita perhatikan banyaknya perbuatan dosa-dosa yang dilakukan oleh manusia, lebih-lebih di jaman kita sekarang ini, sumber utama dan penyebabnya adalah tidak lepas dari tiga perkara tersebut di atas.

Allohul Musta’an.

Semoga Alloh ta’ala menjauhkan kita dari semua kejelekan, terutama dari dosa-dosa yang bisa membinasakan kita, di dunia maupun di akhirat nanti.

Nas-alulloha As-Salamah minal Fitan, fii Ad-Dunya wal Akhiroh. Semoga bermanfaat bagi kita semuanya. (Abu Abdirrohman Yoyok WN Sby)

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Mimbar Islam

Yuk Bersholawat bahkan Jibril Pun tidak Bisa Menghitung Pahalanya

Published

on

Yuk Bersholawat bahkan Jibril Pun tidak Bisa Menghitung Pahalanya

GENCIL NEWS – Yuk Bersholawat bahkan Jibril Pun tidak Bisa Menghitung Pahalanya. Dahsyatnya pahala bersholawat kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Mari diamalkan.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, “Ketika aku diperjalankan di malam hari untuk Mi’raj ke langit, aku melihat malaikat yang mempunyai seribu tangan, disetiap tangannya terdapat seribu jari-jemari.

Ketika ia sedang menghitung dengan jari-jarinya, aku bertanya kepada Jibril, “Siapakah malaikat itu dan apa yang sedang ia hitung?”

Jibril menjawab, “Ia adalah malaikat yang ditugaskan untuk menghitung setiap tetesan hujan, ia menghafal setiap tetesan hujan yang diturunkan dari langit ke bumi.”

Aku bertanya kepada malaikat itu, “Apakah kamu mengetahui jumlah tetesan hujan yang diturunkan dari langit ke bumi sejak Allah menciptakan dunia?”

Ia menjawab, “Ya Rasulullah, demi Allah yang mengutusmu membawa kebenaran kepada makhluk-Nya, aku tidak hanya mengetahui setiap tetesan hujan yang turun dari langit ke bumi, tetapi aku juga mengetahui secara rinci berapa jumlah tetesan hujan yang jatuh di lautan, di daratan, di bangunan, di perkebunan, di daratan yang bergaram dan di pekuburan.”

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, “Aku kagum terhadap kemampuan hafalan dan ingatanmu dalam perhitungan.”

Ia berkata, “Ya Rasulullah, ada yang tak sanggup aku menghafal dan mengingatnya dengan perhitungan tangan dan jari-jemariku.”

Rasulullah saw bertanya, “Perhitungan apakah itu?”

Ia menjawab, “Aku tidak sanggup menghitung pahala shalawat yang disampaikan oleh sekelompok umatmu ketika namamu disebut di suatu majlis.”

Sumber: al-Mustadrah, Syeikh An-Nuri, 5: 355, hadits ke-72.

WaAllahu ‘Alam. Semoga bermanfaat.

Continue Reading

Mimbar Islam

Taukah Engkau Kebanyakan Para Penghuni Kubur itu Disiksa?

Published

on

Taukah Engkau Kebanyakan Para Penghuni Kubur itu Disiksa

GENCIL NEWS – Wahai Saudaraku, Taukah Engkau Kebanyakan Para Penghuni Kubur itu Disiksa? Bisa jadi sebentar lagi engkau dalam barisan orang yang mati, tapi kenapakah masih asyik berleha-leha tanpa taubat dan intropeksi diri.

Bisa jadi pada saat ini Malaikat Maut sudah bersiap-siap untuk mencabut nyawamu.

Mengapa engkau tidak juga menangis atas sisa-sisa umur dari kehidupan fana ini?

Berapa banyak orang yang diakhir hidupnya tergelincir dengan melakukan amalan buruk ketika ajal telah datang menjemputnya?

Ketahuilah, semenit yang telah terlewatkan adalah angan-angannya berjuta ruh, supaya mereka bisa beramal dan bertaubat, namun itu semua tidak mungkin bisa terjadi karena sudah terlambat & berada di alam akhirat.

Imam Ibnul Qayyim رحمه الله berkata:

كان أكثر أصحاب القبور معذَّبين، و الفائزُ منهم قليل، فظواهر القبور تراب، و بواطنها حسرات و عذاب، ظواهرُها بالتراب و الحجارة المنقوشة مَبْنِيَّات، و في باطنها الدواهي و البَلِيَّات

“Kebanyakan penghuni kubur adalah disiksa, sedangkan yang selamat darinya sangatlah sedikit. Yang tampak dari kuburan adalah tanah, sedangkan yang di dalamnya adalah kerugian (penyesalan) dan siksaan. Tampak dari luar adalah tanah serta batu-batu yang diukir, sedangkan yang di dalamnya adalah musibah dan bencana” (Ar-Ruh hal 229)

Syaikh Mahmud Syakir رحمه الله berkata:

‌‏حرصوا على الحياة وأسباب الحياة؛ فذلوا حتى أماتهم الذل، ولو حرصوا على الموت وأسباب الموت، لعزوا في الحياة الدنيا وفي الآخرة

“Mereka (yaitu kebanyakan manusia) sangat mencintai kehidupan dan sebab-sebab hidup (dengan mengorbankan akhirat), akibatnya mereka terhina sampai mereka mati dalam keadaan hina. Padahal seandainya mereka itu mencintai kematian (di atas kebenaran) dan (juga) sebab-sebab kematian, niscaya mereka pun akan meraih kemuliaan pada kehidupan di dunia dan akhirat” (Jamharah Maqaalaat al-Ustadz Mahmud Syakir II/937) 

WaAllahu ‘Alam. Semoga bermanfaat. (Ustadz Najmi Umar Bakkar)

Continue Reading

Mimbar Islam

Inilah Diantara Dosa Besar setelah Kesyirikan

Published

on

Inilah Diantara Dosa Besar setelah Kesyirikan

Gencil News – Inilah Diantara Dosa Besar setelah Kesyirikan yang perlu diketahui oleh kaum muslimin. Terkadang kita tidak menyadarinya atau sudah tahu tapi tidak mau tahu.

Seorang beriman tentu akan terus bermuhasabah diri untuk menjadikan dirinya berkualitas di dunia dan akhirat. Karenanya, ketahuilah dosa besar setelah kesyirikan sehingga kita tetap terus bermawas diri.

قال الإمام وهب بن منبه رحمه الله :

( إن أعظم الذنوب عند الله بعد الشرك, السخرية بالناس) 

حلية الأولياء 【 ٥١/٤ 】

Al-Imam Wahb bin Munabbih* rohimahulloh pernah berkata:

“Sesungguhnya dosa yang paling besar di sisi Alloh setelah Syirik (menyekutukan Alloh dalam beribadah) yaitu: mengolok-olok terhadap orang lain.”

(Hilyatul Auliya’, 4/51)

Catatan :

1. Ya, dosa besar yg paling besar itu adalah Kesyirikan, yaitu : _perbuatan menyekutukan Alloh subhanahu wa ta’ala dalam beribadah._

Tentang hal ini, banyak sekali dalil-dalil yg menunjukkannya, dan juga seringkali kita membahasnya di sini. Sehingga pada saat ini, kita tidak perlu mengulanginya kembali, kecuali jika suatu saat nanti dibutuhkan. 

2. Adapun dosa besar yg lainnya, diantaranya adalah: mengolok-olok orang lain dan merendahkan mereka.

Sungguh, Alloh Ta’ala telah melarang kita dari perbuatan yang jelek seperti ini. 

Alloh ta’ala berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, *janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain*, (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) itu lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok). Dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita yang lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olok) itu lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri (maksudnya, janganlah kamu mencela orang lain, pen.). Dan janganlah kamu saling memanggil dengan gelar (yang buruk). Seburuk-buruk panggilan ialah (penggilan) yang buruk (fasik) sesudah iman. Dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang dzalim.” (QS. Al-Hujuraat [49]: 11).

Nabi Muhammad shollallohu alaihi wa sallam juga melarangnya, sebagaimana dalam sabda beliau :

سِبَابُ المُسْلِمِ فُسُوقٌ، وَقِتَالُهُ كُفْرٌ

“Mencela seorang muslim adalah suatu kefasikan (dosa besar), dan memerangi (membunuh) mereka adalah suatu kekafiran.”_ (HR. Al-Bukhari no. 48 dan Muslim no. 64)

3. Bahwa mengolok-olok atau mencela atau menghina atau merendahkan orang lain itu, bentuknya bisa dengan lisan ataupun dengan perbuatan.

Tetapi semuanya itu termasuk perbuatan yg jelek dan dilarang. 

Nabi shollallohu alaihi wa sallam juga pernah bersabda :

: لاَ تَحَاسَدُوْا ، وَلاَ تَنَاجَشُوْا ، وَلاَ تَبَاغَضُوْا ، وَلاَ تَدَابَرُوْا ، وَلاَ يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ ، وَكُوْنُوْا عِبَادَ اللهِ إِخْوَانًا ، اَلْـمُسْلِمُ أَخُوْ الْـمُسْلِمِ ، لاَ يَظْلِمُهُ ، وَلاَ يَخْذُلُهُ ، وَلاَ يَحْقِرُهُ ، اَلتَّقْوَى هٰهُنَا ، وَيُشِيْرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ ، بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْـمُسْلِمَ ، كُلُّ الْـمُسْلِمِ عَلَى الْـمُسْلِمِ حَرَامٌ ، دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ.

“Janganlah kalian saling mendengki, jangan saling *najasy,* jangan saling membenci, jangan saling membelakangi ! Janganlah sebagian kalian membeli barang yang sedang ditawar orang lain, dan hendaklah kalian menjadi hamba-hamba Allâh yang bersaudara.

Seorang muslim itu adalah saudara bagi muslim yang lain, maka dia tidak boleh menzhaliminya, menelantarkannya, dan menghinakannya. Takwa itu disini (beliau memberi isyarat ke dadanya tiga kali).

Cukuplah keburukan bagi seseorang jika ia menghina saudaranya yang Muslim. Setiap orang Muslim itu haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya atas muslim lainnya.”

(HR Muslim (no. 2564), Imam Ahmad (II/277, 311-dengan ringkas, 360), Ibnu Mâjah (no. 3933, 4213-secara ringkas), Al-Baihaqi (VI/92; VIII/250), Al-Baghawy dalam Syarhus Sunnah (XIII/130, no. 3549) dan lainnya)

Keterangan:

Makna Najasy, seperti yg disebutkan dalam hadits di atas, dijelaskan oleh banyak Ulama dengan najasy dalam permasalahan jual beli. Yaitu : menaikkan harga suatu barang yang dilakukan oleh orang yang tidak berminat membelinya, untuk kepentingan penjual, supaya untungnya lebih besar atau untuk merugikan pembeli.

Termasuk praktek najasy yaitu memuji barang dagangan seorang penjual supaya laku atau menawarnya dengan harga yang tinggi, padahal dia tidak berminat.

Apa yang dilakukannya itu hanyalah untuk mengecoh pembeli, sehingga tidak merasa kemahalan kalau jadi beli.

Perbuatan Najasy seperti ini adalah dilarang! 

Dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma, diriwayatkan bahwasannya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang perbuatan najasy.

(HR. Al-Bukhâri no. 2142 dan 6963, Muslim no. 1516) 

Ibnu Abi Aufa rohimahulloh pernah mengatakan : 

“Nâjisy (pelaku perbuatan najasy) adalah pemakan harta riba dan pengkhianat.”  (HR. Al-Bukhâri no. 2675). 

Al-Imam Ibnu Abdil Barr rohimahulloh juga mengatakan : 

“Para Ulama sepakat, bahwa pelaku najasy telah bermaksiat kepada Allâh Azza wa Jalla, jika ia tahu bahwa najasy itu adalah terlarang.” (At-Tamhîd, 12/290).

Atau bisa juga najasy dalam hadits diatas ditafsirkan dengan penafsiran yang lebih umum. Yaitu : semua muamalah yang mengandung unsur penipuan atau makar. Ini pun juga dilarang. Wallohu a’lam  bis showab. 

4. Intinya, janganlah kita suka mengolok-olok, jangan suka mencela dan menghina, karena semua itu adalah dosa yg besar. 

Apalagi jika yg kita olok-olok itu adalah saudara kita sesama Muslim. Tentu, dosanya lebih besar lagi.

Semoga Alloh ta’ala senantiasa memberikan taufiq-Nya kepada kita, agar selalu lurus dan benar, baik dalam perkataan maupun perbuatan.

Dan semoga pula Alloh ta’ala menjaga dan menjauhkan lisan kita dari berkata-kata yg jelek dan keji. (Abu Abdirrohman Yoyok WN Sby)

Continue Reading

TRENDING