Ucapan Salam, Amalan Mulia yang Ditinggalkan dan Dilupakan
Connect with us

Mimbar Islam

Ucapan Salam, Amalan Mulia yang Ditinggalkan dan Dilupakan

Published

on

Ucapan Salam, Amalan Mulia yang Ditinggalkan dan Dilupakan

GENCIL NEWS – Ucapan salam, amalan mulia yang ditinggalkan dan dilupakan oleh sebadian masyarakat muslimin. Sungguh kita berlindung kepada Allah Ta’alaa agar terhindar dari perbuatan tersebut. Karena saat ini ucapan salam, amalan mulia yang ditinggalkan dan dilupakan oleh kita.

An Nawawi menyebutkan dalam Shohih Muslim Bab ‘Di antara kewajiban seorang muslim adalah menjawab salam’.

 Lalu dibawakanlah hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ ». قِيلَ مَا هُنَّ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللَّهَ فَسَمِّتْهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ وَإِذَا مَاتَ فَاتَّبِعْهُ ».

“Hak muslim pada muslim yang lain ada enam.” Lalu ada yang menanyakan, ”Apa saja keenam hal itu?” Lantas beliau shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, 

(1) Apabila engkau bertemu, ucapkanlah salam padanya,

(2) Apabila engkau diundang, penuhilah undangannya, 

(3) Apabila engkau dimintai nasehat, berilah nasehat padanya, 

(4) Apabila dia bersin lalu dia memuji Allah (mengucapkan ’alhamdulillah’), doakanlah dia (dengan mengucapkan ’yarhamukallah’), 

(5) Apabila dia sakit, jenguklah dia, dan 

(6) Apabila dia meninggal dunia, iringilah jenazahnya (sampai ke pemakaman).” 

(HR. Muslim no. 2162)

Apakah hak-hak yang disebutkan di sini adalah wajib?

Ash Shon’ani mengatakan, “Hadits ini menunjukkan bahwa inilah hak muslim pada muslim lainnya. 

Yang dimaksud dengan hak di sini adalah sesuatu yang tidak pantas untuk ditinggalkan. 

Hak-hak di sini ada yang hukumnya wajib dan ada yang sunnah mu’akkad (sunnah yang sangat ditekankan) yang sunnah ini sangat mirip dengan wajib.” (Subulus Salam, 7/7)

Hukum Memulai Mengucapkan dan Membalas Salam

Jika kita melihat dari hadits di atas, akan terlihat perintah untuk memulai mengucapkan salam ketika bertemu saudara muslim kita yang lain. 

Namun sebagaimana dinukil dari Ibnu ‘Abdil Barr dan selainnya, mereka mengatakan bahwa hukum memulai mengucapkan salam adalah sunnah, sedangkan hukum membalas salam adalah wajib. 

(Subulus Salam, 7/7)

Ucapkanlah Salam Kepada Orang yang Engkau Kenali dan Tidak Engkau Kenali

Bukhari membawakan dalam kitab shohihnya Bab ‘Mengucapkan salam kepada orang yang dikenal maupun tidak dikenal’. 

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bahwasanya ada seseorang yang bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أَىُّ الإِسْلاَمِ خَيْرٌ قَالَ « تُطْعِمُ الطَّعَامَ ، وَتَقْرَأُ السَّلاَمَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ ، وَعَلَى مَنْ لَمْ تَعْرِفْ »

“Amalan islam apa yang paling baik?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas menjawab, “Memberi makan (kepada orang yang butuh) dan mengucapkan salam kepada orang yang engkau kenali dan kepada orang yang tidak engkau kenali. ”

(HR. Bukhari no. 6236)

Bahkan mengucapkan salam kepada orang yang dikenal saja, tidak mau mengucapkan salam kepada orang yang tidak dikenal merupakan tanda hari kiamat.

Bukhari mengeluarkan sebuah hadits dalam Adabul Mufrod dengan sanad yang shohih dari Ibnu Mas’ud. Ibnu Mas’ud mengatakan bahwa dia melewati seseorang, lalu orang tersebut mengucapkan, “Assalamu ‘alaika, wahai Abu ‘Abdir Rahman.” 

Kemudian Ibnu Mas’ud membalas salam tadi, lalu dia berkata,

إِنَّهُ سَيَأْتِي عَلَى النَّاس زَمَان يَكُون السَّلَام فِيهِ لِلْمَعْرِفَةِ

“Nanti akan datang suatu masa, pada masa tersebut seseorang hanya akan mengucapkan salam pada orang yang dia kenali saja.”

Begitu juga dikeluarkan oleh Ath Thohawiy, Ath Thobroniy, Al Baihaqi dalam Asy Syu’ab dengan bentuk yang lain dari Ibnu Mas’ud . 

Hadits ini sampai pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (baca: hadits marfu’). Lafazh hadits tersebut adalah:

مِنْ أَشْرَاط السَّاعَة أَنْ يَمُرّ الرَّجُل بِالْمَسْجِدِ لَا يُصَلِّي فِيهِ ، وَأَنْ لَا يُسَلِّم إِلَّا عَلَى مَنْ يَعْرِفهُ

“Di antara tanda-tanda (dekatnya) hari kiamat adalah seseorang melewati masjid yang tidak pernah dia shalat di sana, lalu dia hanya mengucapkan salam kepada orang yang dia kenali saja.”

(Lihat Fathul Bari, 17/458)

Ibnu Hajar mengatakan, “Mengucapkan salam kepada orang yang tidak kenal merupakan tanda ikhlash dalam beramal kepada Allah Ta’ala, tanda tawadhu’ (rendah diri) dan menyebarkan salam merupakan syi’ar dari umat ini.” 

(Lihat Fathul Bari, 17/459)

Dan tidak tepat berdalil dengan hadits di atas untuk memulai mengucapkan salam pada orang kafir karena memulai salam hanya disyari’atkan bagi sesama muslim. 

Jika kita tahu bahwa orang tersebut muslim, maka hendaklah kita mengucapkan salam padanya. Atau mungkin dalam rangka hati-hati, kita  juga tidak terlarang memulai mengucapkan salam padanya sampai kita mengetahui bahwa dia itu kafir. 

(Lihat Fathul Bari, 17/459)

Mengucapkan Salam dapat Mencapai Kesempurnaan Iman

Dari ‘Amar bin Yasir, beliau mengatakan,

ثَلاَثٌ مَنْ جَمَعَهُنَّ فَقَدْ جَمَعَ الإِيمَانَ الإِنْصَافُ مِنْ نَفْسِكَ ، وَبَذْلُ السَّلاَمِ لِلْعَالَمِ ، وَالإِنْفَاقُ مِنَ الإِقْتَارِ

“Tiga perkara yang apabila seseorang memiliki ketiga-tiganya, maka akan sempurna imannya: 

[1] bersikap adil pada diri sendiri, 

[2] mengucapkan salam pada setiap orang, dan

[3] berinfak ketika kondisi pas-pasan.  

(Diriwayatkan oleh Bukhari secara mu’allaq yaitu tanpa sanad. Syaikh Al Albani dalam Al Iman mengatakan bahwa hadits ini shohih)

Ibnu Hajar mengatakan, 

“Memulai mengucapkan salam menunjukkan akhlaq yang mulia, tawadhu’ (rendah diri), tidak merendahkan orang lain, juga akan timbul kesatuan dan rasa cinta sesama muslim.” 

(Fathul Bari, 1/46)

Saling Mengucapkan Salam akan Menimbulkan Rasa Cinta

Mengucapkan salam merupakan sebab terwujudnya kesatuan hati dan rasa cinta di antara sesama muslim sebagaimana kenyataan yang kita temukan (Huquq Da’at Ilaihal Fithroh, 46). 

Dalil yang menunjukkan hal ini adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لاَ تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلاَ تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا. أَوَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى شَىْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ أَفْشُوا السَّلاَمَ بَيْنَكُمْ

“Kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman. 

Kalian tidak akan beriman sampai kalian saling mencintai. 

Maukah aku tunjukkan pada kalian suatu amalan yang jika kalian melakukannya kalian akan saling mencintai? 

Sebarkanlah salam di antara kalian.” (HR. Muslim no. 54)

Siapa yang Seharusnya Mendahului Salam?

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يُسَلِّمُ الرَّاكِبُ عَلَى الْمَاشِى ، وَالْمَاشِى عَلَى الْقَاعِدِ ، وَالْقَلِيلُ عَلَى الْكَثِيرِ

“Hendaklah orang yang berkendaraan memberi salam pada orang yang berjalan. Orang yang berjalan memberi salam kepada orang yang duduk. Rombongan yang sedikit memberi salam kepada rombongan yang banyak.” (HR. Bukhari no. 6233 dan Muslim no 2160)

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يُسَلِّمُ الصَّغِيرُ عَلَى الْكَبِيرِ ، وَالْمَارُّ عَلَى الْقَاعِدِ ، وَالْقَلِيلُ عَلَى الْكَثِيرِ

“Yang muda hendaklah memberi salam pada yang tua. Yang berjalan (lewat) hendaklah memberi salam kepada  orang yang duduk. Yang sedikit hendaklah memberi salam pada orang yang lebih banyak.” (HR. Bukhari no. 6231)

Ibnu Baththol mengatakan, 

“Dari Al Muhallab, disyari’atkannya orang yang muda mengucapkan salam pada yang tua karena kedudukan orang yang lebih tua yang lebih tinggi. 

Orang yang muda ini diperintahkan untuk menghormati dan tawadhu’ di hadapan orang yang lebih tua.”  (Subulus Salam, 7/31)

Jika orang yang bertemu sama-sama memiliki sifat yang sama yaitu sama-sama muda, sama-sama berjalan, atau sama-sama berkendaraan dengan kendaraan yang jenisnya sama, maka di antara kedua pihak tersebut sama-sama diperintahkan untuk memulai mengucapkan salam. 

Yang mulai mengucapkan salam, itulah yang lebih utama.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْمَاشِيَانِ إِذَا اجْتَمَعَا فَأَيُّهُمَا بَدَأَ بِالسَّلاَمِ فَهُوَ أَفْضَلُ

“Dua orang yang berjalan, jika keduanya bertemu, maka yang lebih dulu memulai mengucapkan salam itulah yang lebih utama.”

(Diriwayatkan oleh Bukhari dalam Adabul Mufrod dan Al Baihaqi dalam Sunannya. Syaikh Al Albani dalam Shohih Adabil Mufrod mengatakan bahwa hadits ini shohih)

Namun jika orang yang seharusnya mengucapkan salam pertama kali tidak memulai mengucapkan salam, maka yang lain hendaklah memulai mengucapkan salam agar salam tersebut tidak ditinggalkan. 

Jadi ketika ini, hendaklah yang tua memberi salam pada yang muda, yang sedikit memberi salam pada yang banyak, dengan tujuan agar pahala mengucapkan salam ini tetap ada. (Huquq Da’at Ilaihal Fithroh, 47)

Jika yang Diberi Salam adalah Jama’ah

Jika yang diberi salam adalah jama’ah (banyak orang), *maka hukum menjawab salam adalah fardhu kifayah* jika yang lain telah menunaikannya. 

Jika jama’ah diberi salam, lalu hanya satu orang yang membalasnya, maka yang lain gugur kewajibannya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يُجْزِئُ عَنِ الْجَمَاعَةِ إِذَا مَرُّوا أَنْ يُسَلِّمَ أَحَدُهُمْ وَيُجْزِئُ عَنِ الْجُلُوسِ أَنْ يَرُدَّ أَحَدُهُمْ

“Sudah cukup bagi jama’ah (sekelompok orang), jika mereka lewat, maka salah seorang dari mereka memberi salam dan sudah cukup salah seorang dari sekelompok orang yang duduk membalas salam tersebut.”

(HR. Abu Daud no. 5210. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih). 

Dan sebagaimana dijelaskan oleh Ash Shon’ani bahwa hukum jama’ah (orang yang jumlahnya banyak) untuk memulai salam adalah sunnah kifayah (jika satu sudah mengucapkan, maka yang lain gugur kewajibannya).

Namun, jika suatu jama’ah diberi salam, maka membalasnya dihukumi fardhu kifayah. (Subulus Salam, 7/8)

Balaslah Salam dengan Yang Lebih Baik atau Minimal dengan Yang Semisal

Allah Ta’ala berfirman,

وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا

“Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa).”(QS. An Nisa’: 86)

Bentuk membalas salam di sini boleh dengan yang semisal atau yang lebih baik, dan tidak boleh lebih rendah dari ucapan salamnya tadi. 

Contohnya di sini adalah jika saudara kita memberi salam: 

Assalaamu ‘alaikum, maka minimal kita jawab: Wa’laikumus salam.

Atau lebih lengkap lagi dan ini lebih baik, kita jawab dengan: 

Wa’alaikumus salam wa rahmatullah, atau kita tambahkan lagi: Wa’alaikumus salam wa rahmatullah wa barokatuh. 

Begitu pula jika kita diberi salam: Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah, maka minimal kita jawab: 

Wa’alaikumus salam wa rahmatullahi, atau jika ingin melengkapi, kita ucapkan: Wa’alaikumus salam wa rahmatullahi wa barokatuh. 

Ini di antara bentuknya.

Bentuk lainnya adalah jika kita diberi salam dengan suara yang jelas, maka hendaklah kita jawab dengan suara yang jelas, dan tidak boleh dibalas hanya dengan lirih.

Begitu juga jika saudara kita memberi salam dengan tersenyum dan menghadapkan wajahnya pada kita, maka hendaklah kita balas salam tersebut sambil tersenyum dan menghadapkan wajah padanya.

Inilah di antara bentuk membalas. 

Hendaklah kita membalas salam minimal sama dengan salam pertama tadi, begitu juga dalam tata cara penyampaiannya. 

Namun, jika kita ingin lebih baik dan lebih mendapatkan keutamaan, maka hendaklah kita membalas salam tersebut dengan yang lebih baik, sebagaimana yang kami contohkan di atas. (Lihat penjelasan ini di Syarh Riyadhus Sholihin, Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin pada Bab ‘Al Mubadaroh ilal Khiyarot)

Referensi:

Subulus Salam, Ash Shon’ani, Mawqi’ Al Islam, Asy Syamilah

Huquq Da’at Ilaihal Fithroh, Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin, Darul Istiqomah

Fathul Bari, Ibnu Hajar, Mawqi’ Al Islam, Asy Syamilah

Syarh Riyadhus Sholihin, Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin, Asy Syamilah

***

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Mimbar Islam

Hakekat Orang yang Berpuasa yang harus Diketahui

Published

on

Hakekat Orang yang Berpusa yang harus Diketahui

Gencil News – Hakekat Orang yang Berpuasa yang harus Diketahui. Banyak dari umat Islam yang belum memahami hakekat dari berpuasa sehingga menyepelekan kewajiban berpuasa tersebut.

 عَن جَابِرٍ بنُ عَبدِ اللهِ الأنصَارِيِّ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – قَالَ :

《 إذَا صُمتَ فَليَصُم سَمعُكَ ، وبَصَرُكَ ، ولِسانُكَ عَن الكَذِبِ والمَأثَمِ ، ودَع أذَى الخَادِمِ ، وليَكُن عَلَيكَ وَقارٌ وسَكِينَةٌ يَومَ صَومِكَ ، ولا تَجعَل يَومَ فِطرِكَ وَيَومَ صَومِكَ سَوَاءً 》.

|[ المُصَنَّف لِابنِ أبِي شَيبَة (٨٨٨٠) ، 

شُعَبُ الإيمَانِ لِلبَيهَقِيِّ (٣٣٧٤) ]|

Sahabat Nabi yang mulia, Jabir bin Abdillah Al-Anshory rodhiyallohu anhuma pernah berkata :

“Jika kamu berpuasa, maka berpuasalah (pula) pendengaranmu dan pandanganmu, (dan berpuasa pula) lisanmu dari perkataan dusta atau perkataan (yang mengandung) dosa-dosa!

Tinggalkanlah perbuatan mengganggu pembantu/pelayan (yakni jangan menyakitinya).

Hendaknya kamu bersikap wibawa dan tenang ketika sedang berpuasa!

Jangan kamu jadikan hari-harimu ketika sedang berbuka (yakni ketika tidak berpuasa) sama seperti hari-harimu ketika sedang BERPUASA!”

[Al-Mushonnaf (no. 8880) karya Al-Imam Ibnu Abi Syaibah rohimahulloh, dan di dalam Syu’abul Iman (no. 3374) karya Al-Imam Al-Baihaqi rohimahulloh) 

قال العلامة ابن عثيمين – رحمه الله – :

واعلموا أنّ الصيام إنما شُرع ليتحلى الإنسان بالتقوىٰ، ويمنع جوارحه من محارم الله، فيترك كل فعل محرم من الغش والخداع والظلم، ونقص المكاييل والموازين، ومنع الحقوق، والنظر المحرم، وسماع الأغاني المحرمة، 

فإن سماع الأغاني ينقص أجر الصائم، كل قوم محرم من الكذب والغيبة والنميمة والسب والشتم، وإن سابّه أحد أو شاتمه أحد، فليقل: إني صائم، ولا يرد عليه بالمثل، فلا تجعل أيها المسلم يوم صومك ويوم فطرك سواء،

قال النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم :

« من لم يدع قول الزور والعمل به والجهل، فليس لله حاجة في أن يدع طعامه وشرابه » .

        |[ الضياء اللامع (١٦٦/٢) ]|

Syaikh Al-‘Allamah Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin rohimahulloh juga pernah berkata:

“Ketahuilah oleh kalian semua, bahwa berpuasa itu hanyalah disyari’atkan agar seseorang itu bisa meraih predikat TAQWA!

Dan mencegah seluruh anggota badannya dari (melakukan) hal-hal yang diharamkan oleh Alloh.

Maka hendaknya dia meninggalkan semua perbuatan yang diharamkan, apakah itu yang berupa berbuat curang, menipu, berbuat dholim (kepada orang lain), mengurangi takaran dan timbangan, menahan hak-hak (yang harus dia tunaikan), melihat/memandang hal-hal yang diharamkan, dan mendengar lagu-lagu/nyanyian yang diharamkan!

Karena sesungguhnya mendengar lagu-lagu/nyanyian itu akan bisa mengurangi pahala orang yang berpuasa (krn hal itu termasuk perbuatan fasik/dosa).

(Dan juga hendaknya dia menjauhi) semua perkara yang diharamkan, apakah itu yang berupa dusta/bohong, ghibah, namimah, mencela, mencaci maki dan sebagainya.

Maka jika ada orang yang mencela atau mencaci maki, hendaknya dia mengatakan (kepadanya): “Sesungguhnya aku sedang berpuasa!” Dan dia tidak akan membalas (yang setimpal) dengan celaan tersebut.

Oleh karena itu, wahai kaum Muslimin. Janganlah engkau jadikan hari-hari puasamu sama seperti hari-hari ketika kamu berbuka (sedang tidak berpuasa)!

Nabi shollallohu alaihi wa sallam telah bersabda:

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta, bahkan dia mengamalkannya, dan dia bertindak bodoh, maka Alloh tidak butuh kepada puasanya tersebut!”

[Ad-Dhiyaa-u Al-Laami’, 2/166]

 قَالَ الشيخ العلامة صالحُ الفَوزَان – حَفظهُ الله – :

《 فقد يصومُ الصائمُ ويشتدُّ جوعُهُ وعطشُهُ ويشتدُّ تعبُهُ وليس له أجرٌ عند الله -عز وجل- بسبب أنه : سلط لسانهُ في الكلام الحرام ، وسلط نظره على النظر الحرام ، وسلط أذنيه على استماع المحرم ،

فهذا في الحقيقة لم يَصُمْ وإنما ترك الطعام والشراب فقط فهو يتعب بلا فائدة ،

فالصيام يشمل جميع هذه الأشياء : صيام البطن عن الأكل والشرب وسائر المفطرات ، وصيام السمع عن كل كلامٍ محرم ، وصيام النظر عن كل ما حرم الله النظر إليه ، وصيام اللسان عن النطق بالفحش والآثام ، فتصوم جميع جوارحه 》.

|[ مجالس شهر رمضان (ص١٥) ]|

Syaikh Al-‘Allamah Sholih Al-Fauzan hafidzohulloh pernah berkata:

“Terkadang orang yang berpuasa itu merasakan sangat lapar dan haus, dan juga sangat payah (terasa berat sekali dengan ibadah puasanya tersebut,  edt.), tetapi dia tidak mendapatkan (pahala) sedikitpun di sisi Alloh.

Hal itu karena beberapa sebab, (diantaranya):

– lisannya didominasi dengan perkataan-perkataan yang harom!

– pandangannya pun didominasi dengan pandangan yang harom (yakni melihat hal-hal yang harom)

– pendengarannya pun digunakan untuk mendengar hal-hal yang haram.

Maka orang seperti ini secara hakekatnya adalah orang yang TIDAK BERPUASA!

Dia hanya sekedar tidak makan dan tidak minum, tetapi tanpa faedah.

Maka puasa itu (hendaknya) meliputi semua perkara berikut ini:

  • puasanya perut dari makan dan minum dan semua perkara yang membatalkan puasa.
  • puasanya pendengaran dari (mendengar) semua perkataan yang haram.
  • puasanya penglihatan dari (melihat) semua perkara yang haram untuk dilihat.
  • puasanya lisan dari (membicarakan) kekejian dan dosa-dosa

Sehingga, berpuasalah seluruh anggota badannya!

[Majalis Syahri Romadhon, hal. 15)

Demikianlah, semoga Alloh ta’ala memberikan taufiq-Nya kepada kita semua, agar kita bisa menjadi orang yang benar-benar berpuasa seluruh anggota badan kita.

Dan semoga hal ini bisa menjadi nasehat yang bermanfaat bagi kita semuanya. (Abu Abdirrohman Yoyok WN Sby)

Continue Reading

Mimbar Islam

Timbangan Amal yang Paling Berat adalah Akhlak Baik

Published

on

Timbangan Amal yang Paling Berat adalah Akhlak Baik

Gencil News- Timbangan amal manusia yang paling berat dalam menjalani kehidupan sehari-hari adalah akhlak baik atau perbuatan baik.

Nabi Muhammad SAW bersabda;

“Tidak ada yang lebih berat dalam timbangan amal selain akhlak yang baik.”

(HR Abu Dawud)

Dalam sabda Rasulullah SAW lainnya, beliau mengatakan akan menjamin orang yang berakhlak baik dengan memberi rumah di surga yang paling tinggi.

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عُثْمَانَ الدِّمَشْقِيُّ أَبُو الْجَمَاهِرِ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو كَعْبٍ أَيُّوبُ بْنُ مُحَمَّدٍ السَّعْدِيُّ قَالَ حَدَّثَنِي سُلَيْمَانُ بْنُ حَبِيبٍ الْمُحَارِبِيُّ عَنْ أَبِي أُمَامَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا وَبِبَيْتٍ فِي وَسَطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا وَبِبَيْتٍ فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسَّنَ خُلُقَهُ

Nabi Muhammad SAW bersabda, “Aku akan menjamin rumah di tepi surga bagi seseorang yang meninggalkan perdebatan meskipun benar. Aku juga menjamin rumah di tengah surga bagi seseorang yang meninggalkan kedustaan meskipun bersifat gurau. Aku juga menjamin rumah di surga yang paling tinggi bagi seseorang yang berakhlak baik.” (HR Abu Dawud

Bila amal kebaikan yang lebih berat dalam timbangan Akhirat, maka ia akan mendapatkan keberuntungan dan menyenangkan.

Karena pertanda awal akan dimasukkan kedalam surga. Adapun apabila timbangan kebaikan lebih ringan dari keburukan, maka itu merupakan kerugian yang panjang, karena ia akan menjadi penghuni neraka.

Continue Reading

Mimbar Islam

Taukah? Puasa Ramadhan adalah Penggugur Dosa-dosa

Published

on

Taukah? Puasa Ramadhan adalah Penggugur Dosa-dosa

Gencil news – Taukah? Puasa Ramadhan adalah Penggugur Dosa-dosa. An-Nawawi mengatakan bahwa pendapat yang populer di kalangan para ulama ahli fikih menyatakan bahwa dosa-dosa yang terampuni dengan melakukan puasa Ramadhan itu adalah dosa-dosa kecil bukan dosa-dosa besar (lihat Al-Minhaj, 4/76). 

Hal itu sebagaimana tercantum dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu’anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,

الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ

“Shalat lima waktu. Ibadah Jum’at yang satu dengan ibadah jum’at berikutnya. Puasa Ramadhan yang satu dengan puasa Ramadhan berikutnya. Itu semua merupakan penghapus dosa antara keduanya, selama dosa-dosa besar dijauhi.” (HR. Muslim [233])

Bersemangatlah dengan semangat yang besar untuk melakukan ketaatan kepada Allah melalui puasa ramadhan ini.

Berhati hatilah dari melalaikan diri kalian dan melalaikan kesempatan yang besar ini. Ini adalah musim keberuntungan, musim perdagangan akhirat yang akan mendatangkan keberuntungan yang besar dan apabila dia pergi tidak akan kembali lagi⁣.

Wallaahu ta’ala a’lam. Semoga bermanfaat.

Continue Reading

Mimbar Islam

Apakah Seruan Jangan Makan & Minum 10-20 Menit sebelum Adzan Subuh pada Sahur, Hal Itu Ada Tuntunan-Nya?

Published

on

Apakah Seruan Jangan Makan & Minum 10-20 Menit sebelum Adzan Subuh pada Sahur, Hal Itu Ada Tuntunan-Nya?

Gencil News – Apakah Seruan Jangan Makan & Minum 10-20 Menit sebelum Adzan Subuh pada Sahur, Hal Itu Ada Tuntunan-Nya? Diantara kebiasaan yang ada di masyarakat kita, yaitu adanya seruan IMSAK, yakni “tidak boleh makan dan minum (sahur), beberapa menit sebelum masuknya adzan Shubuh.”

Ketahuilah, hal seperti itu, meskipun tujuan dan niatnya baik, yaitu untuk berhati-hati agar tidak terlambat waktu sahur atau tidak didahului oleh waktu shubuh dan sebagainya.

Maka apapun alasan dan tujuannya, selama itu tidak ada contohnya dari Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam, hal itu tidak bisa dibenarkan.

Di masa dulu, memang sudah ada amalan seperti itu, tetapi para ulama mengingkari perbuatan itu, dan menyatakannya sebagai suatu kebid’ahan dalam agama ini.

Diantaranya adalah Al-Imam Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqolani rohimahulloh, beliau berkata :

“Termasuk dari bid’ah yang mungkar, adalah apa yang diada-adakan di zaman ini (di masa beliau hidup), yaitu membuat adzan (seruan semacam adzan) yang kedua, sebelum waktu Fajar (Shubuh) di bulan Romadhon, yakni kira-kira sepertiga jam (kurang lebih 20 menit sebelum waktu Shubuh).

Kemudian mematikan lampu, sebagai tanda diharamkannya (dilarangnya) makan dan minum/sahur bagi orang yang hendak berpuasa.

(Mereka) mengira/menyangka, bahwa yang dilakukannya itu adalah untuk ikhtiyath (sikap berhati-hati/kehati-hatian) dalam beribadah (yakni agar jangan kedahuluan masuknya waktu shubuh). Dan tidaklah bisa mengetahui hal itu, kecuali hanya satu orang saja.

(Akibat dari sangkaan seperti ini pula), terkadang menyeret mereka untuk melakukan (berbagai perbuatan, seperti) : mereka tidaklah adzan (Maghrib), kecuali setelah tenggelamnya (hilangnya) cahaya kemerahan, dalam rangka untuk memantapkan waktu sholat (menurut sangkaan mereka). 

Atau mereka mengakhirkan waktu berbuka puasa, atau menyegerakan waktu sahur (di awal malam atau di tengah malam) (padahal, sunnahnya waktu sahur itu adalah diakhirkan).

(Dengan perbuatannya itu semua), mereka telah menyelisihi As-Sunnah.

Karena itulah, sedikit sekali kebaikan dari mereka, bahkan lebih banyak kejelekan yang ada pada mereka itu.

Wallohul Musta’an (Hanya Alloh ta’ala sajalah tempat kita memohon pertolongan).

(Fathul Bari Syarh Shohih Al-Bukhori, penjelasan hadits no. 1957)

Jadi, hal itu tidaklah benar. Imsak yang sesungguhnya adalah ketika masuk waktu fajar, yaitu dengan ditandai dikumandangkannya adzan Shubuh. 

Itulah waktu yang kita mulai dilarang untuk makan dan minum (sahur), dan itu pula waktu kita mulai berrpuasa di hari itu.

Demikianlah beberapa pembahasan seputar Sahur. 

Semoga pembahasan yang ringkas ini bermanfaat untuk penulisnya, dan juga untuk seluruh kaum muslimin di mana saja berada.

Walhamdu lillahi robbil ‘aalamiin. (Abu Abdirrohman Yoyok WN Sby)

Continue Reading

Advertisement

DOWNLOAD APLIKASI GENCILNEWS

TRENDING