Wahai Suami, Berbuat Baiklah Kamu kepada Istrimu
Connect with us

Mimbar Islam

Wahai Suami, Berbuat Baiklah Kamu kepada Istrimu

Published

on

Wahai Suami, Berbuat Baiklah Kamu kepada Istrimu

Gencil News – Wahai Suami, Berbuat Baiklah Kamu kepada Istrimu. Pergaulilah istrimu secara ma’ruf dan maafkanlah istrimu ketika ia melakukan suatu kesalahan.

Karena sebaik-baik lelaki adalah dia selalu berbuat baik kepada istrinya dan sabar terhadap perilakunya.

 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُول اللَّه صَلَّى الله عَلَيهِ وَسَلَّمَ : أَكْمَل الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهمْ خُلُقًا، وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ … رواه الترمذي وغيره

Dari Abu Huroiroh rodhiyallohu anhu, bahwa Rosûlulloh shollallohu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda :

“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.

Dan sebaik-sebaik kamu adalah orang yang paling baik (akhlak/pergaulannya) kepada istrinya.”

(HR. At-Tirmidzi, (3/466);  Ahmad, (2/250) dan Ibnu Hibban (9/483). Pernyataan Hadits shahih oleh Imam at-Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Syaikh al-Albani)

Faedah Hadits :

1. Hadits yang mulia ini menunjukkan kepada kita besarnya keutamaan akhlak yang baik.

Hubungan akhlak yang baik dengan kesempurnaan iman, hal itu berarti bahwa akhlak yang baik itu merupakan konsekuensi iman yang benar.

Artinya, tanda kesempurnaan dan benarnya iman seseorang itu adalah akhlak yang baik secara pribadi. Wallohu a’lam

(lihat : Tuhfatul Ahwadzi, 4/273) 

2. Hadits yang mulia ini juga menunjukkan bahwa akhlak yang baik itu lebih utama untuk ditujukan kepada keluarga kita, yakni istri, anak-anak dan orang-orang yang terdekat dengan kita, sebelum kepada orang-orang yang selain mereka.

Lebih-lebih kepada istri kita sendiri!

Makna inilah yang ditunjukkan dalam firman Alloh ‘Azza wa Jalla :

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۚ فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا

“Dan pergaulilah istrimu dengan (akhlak yang) baik. Kemudian jika kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah), karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Alloh menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS An-Nisâ’ : 19) 

3. Dalam hadits ini terdapat anjuran untuk berakhlak baik kepada istri dalam berbagai hal. seperti : selalu menampakkan wajah berseri-seri, tidak menyakitinya, berbuat baik dan bersabar dalam menghadapinya, dan sebagainya.

(lihat : Bahjatun Nâzhirîn Syarh Riyadhis Sholihin, 1/363)

4. Berakhlak baik kepada istri karena kaum perempuan itu lemah, sehingga mereka pantas mendapatkan perhatian dan kasih sayang yang lebih.

(lihat : Tuhfatul Ahwadzi, 4/273) 

Dalam sebuah hadits yang shohih, Rosûlulloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada budak Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam : 

“Bersikap lembutlah kepada para wanita.”  (Al-Bukhori,(5/2281) dan Muslim no. 2323) 

5. Bahwa orang yang tidak bisa berakhlak yang baik kepada keluarganya (terutama kepada istrinya), maka kepada orang lain tentu lebih tidak bisa lagi. 

(lihat kitab : Bahjatun Nâzhirîn (1/363) ) 

Demikianlah beberapa faedah atau pelajaran yang bisa kita ambil dari hadits yang shohih tersebut di atas.

Semoga menjadikan pelajaran, khususnya bagi para suami atau para pemimpin keluarga, agar benar-benar berbuat baik kepada keluarga nya semuanya, lebih khusus lagi kepada istri tercintanya.

Semoga uraian dan nasehat yg ringkas ini bermanfaat bagi kita semuanya. (Abu Abdirrohman Yoyok WN Sby)

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Mimbar Islam

Ringkasan Amalan-Amalan Sunnah di Hari Jum’at

Published

on

Ringkasan Amalan-Amalan Sunnah di Hari Jum’at

GENCIL NEWS – Beberapa ringkasan amalan-amalan Sunnah pada Hari Jum’at yang perlu kita ketahui dan lakukan pada hari Jum’at.

Berikut ringkasan amalan-amalan Sunnah tersebut:

1. Mandi jum’at (seperti mandi janabat), sebagaimana pendapat kebanyakan para ulama (bahkan sebagian ulama berpendapat mandi jum’at adalah wajib bagi yang hendak menghadiri shalat jum’at). Waktu mandi Jumat dimulai sejak terbit fajar.

2. Bersiwak

3. Memakai pakaian yang terbaik dan terindah, berdasarkan kesepakatan para Ulama (sebagaimana perkataan Ibnu Quddamah rahimahullah)

4. Mengenakan parfum (minyak wangi).

5. Anjuran untuk membaca surat khusus ketika shalat subuh di hari Jumat Surat As-Sajdah di rakaat pertama dan surat Al-Insan di rekaat kedua.

6. Menyegerakan pergi ke masjid untuk menghadiri shalat jum’at, kalau bisa datang sedini mungkin, semakin cepat semakin baik.

7. Menuju masjid dengan berjalan kaki, bukan dengan menaiki kendaraan, berdasarkan kesepakatan Ulama (sebagaimana dikatakan oleh Imam An-Nawawi).

8. Berjalan menuju masjid dengan penuh ketenangan.

9. Shalat jum’at di masjid yang terdekat dengan tempat tinggal anda.

10. Sholat tahiyyatul masjid (meski khatib sedang khutbah).

11. Mendekat kepada khatib, tidak memisahkan antara dua orang dan tidak melangkahi pundak-pundak manusia.

12. Melakukan shalat tathawwu’ (shalat sunnah mutlak) hingga khatib naik ke mimbar.

13. Diam, mendengar khutbah dan tidak berbuat yang sia-sia seperti memainkan kerikil, jari-jari, HP, jenggot dan lain-lain Karena bila khatib berkhutbah anda juga berbicara atau bahkan bermain dengan sesuatu semisal kerikil , HP atau lainnya, maka pahala shalat jum’at anda sia-sia.

14. Mengarahkan wajah kearah khatib ketika ia berkhutbah, berdasarkan Ijma’ para Ulama. (sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Quddamah rahimahullah).

15. Apabila sang khatib bershalawat atas Nabi sallalahu alaihi wasallam, maka hendaklah orang yang mendengarkan juga membaca shalawat tanpa mengangkat suara.[Al-Lajnah Ad-Da’imah : 8/217].

16. Ketika khutbah sedang berlangsung, maka tidak dibolehkan menjawab orang yang bersin, demikian pula membalas salam, menurut pendapat yang lebih kuat dikalangan ulama.[Al-Lajnah Ad-Da’imah : 8/242].

17. Barangsiapa yang kehilangan 1 raka’at dari sholat jum’at, hendaklah melengkapi kekurangan 1 raka’at, dan dia dianggap mendapatkan sholat jum’at,  sebagaimana diterangkan didalam hadits yang shohih.[Al-Lajnah Ad-Da’imah : 8/225].

18. Melaksanakan Sholat Jum’at (wajib bagi laki-laki).

19. Boleh menegakkan sholat jum’at, meskipun jumlah orang yang menghadirinya kurang dari 40 orang, berdasarkan keumuman firman Allah Ta’ala dalam Surah Al-Jum’ah ayat 9.[Al-Lajnah Ad-Da’imah :8/215].

20. Shalat sunnah rawatib setelah shalat jum’at 2 rakaat atau 4 rekaat (dengan dua kali salam).

21. Membaca surat Al-Kahfi di malam dan hari Jum’at hingga selesai.

22. Memperbanyak shalawat dan salam kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam di malam dan hari Jum’at

23. Memperbanyak doa, karena pada hari jum’at terdapat satu waktu yang mustajab, terutama saat khatib naik mimbar sampai sholat dan setelah sholat Ashar sampai maghrib.

Oleh karena itu hendaknya berdoa dengan segala bentuk doa yang diinginkan baik untuk kebaikan dunia maupun akhirat, baik untuk diri kita sendiri maupun utk seluruh muslimin.

24. Mengurangi aktifitas termasuk kajian atau ceramah agar bisa menghadiri shalat jum’at dengan khidmat.

25. Memberikan wewangian pada masjid dengan bukhur atau sejenisnya, sebagaimana pendapat Jumhur Ulama.

26. Bersedekah pada hari ini memiliki keistimewaan dibandingkan hari-hari lainnya (sebagaimana dikatakan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah di dalam kitabnya ‘Zadul Ma’ad’).

Catatan :

Memotong kuku disunnahkan kapan saja waktunya, dan tidak terikat dengan waktu-waktu tertentu, seperti hari Jum’at atau Kamis. Karena dalil-dalil yang menunjukkan keutamaan tersebut dha’if (lemah). 

Demikian beberapa ringkasan amalan-amalan Sunnah di Hari Jum’at yang dirangkum berdasarkan dari hadits Nabi Sholallahu ‘Alaihi Wassallam. (Abu Syamil Humaidy)

Continue Reading

Mimbar Islam

Ucapan Salam, Amalan Mulia yang Ditinggalkan dan Dilupakan

Published

on

Ucapan Salam, Amalan Mulia yang Ditinggalkan dan Dilupakan

GENCIL NEWS – Ucapan salam, amalan mulia yang ditinggalkan dan dilupakan oleh sebadian masyarakat muslimin. Sungguh kita berlindung kepada Allah Ta’alaa agar terhindar dari perbuatan tersebut. Karena saat ini ucapan salam, amalan mulia yang ditinggalkan dan dilupakan oleh kita.

An Nawawi menyebutkan dalam Shohih Muslim Bab ‘Di antara kewajiban seorang muslim adalah menjawab salam’.

 Lalu dibawakanlah hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ ». قِيلَ مَا هُنَّ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللَّهَ فَسَمِّتْهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ وَإِذَا مَاتَ فَاتَّبِعْهُ ».

“Hak muslim pada muslim yang lain ada enam.” Lalu ada yang menanyakan, ”Apa saja keenam hal itu?” Lantas beliau shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, 

(1) Apabila engkau bertemu, ucapkanlah salam padanya,

(2) Apabila engkau diundang, penuhilah undangannya, 

(3) Apabila engkau dimintai nasehat, berilah nasehat padanya, 

(4) Apabila dia bersin lalu dia memuji Allah (mengucapkan ’alhamdulillah’), doakanlah dia (dengan mengucapkan ’yarhamukallah’), 

(5) Apabila dia sakit, jenguklah dia, dan 

(6) Apabila dia meninggal dunia, iringilah jenazahnya (sampai ke pemakaman).” 

(HR. Muslim no. 2162)

Apakah hak-hak yang disebutkan di sini adalah wajib?

Ash Shon’ani mengatakan, “Hadits ini menunjukkan bahwa inilah hak muslim pada muslim lainnya. 

Yang dimaksud dengan hak di sini adalah sesuatu yang tidak pantas untuk ditinggalkan. 

Hak-hak di sini ada yang hukumnya wajib dan ada yang sunnah mu’akkad (sunnah yang sangat ditekankan) yang sunnah ini sangat mirip dengan wajib.” (Subulus Salam, 7/7)

Hukum Memulai Mengucapkan dan Membalas Salam

Jika kita melihat dari hadits di atas, akan terlihat perintah untuk memulai mengucapkan salam ketika bertemu saudara muslim kita yang lain. 

Namun sebagaimana dinukil dari Ibnu ‘Abdil Barr dan selainnya, mereka mengatakan bahwa hukum memulai mengucapkan salam adalah sunnah, sedangkan hukum membalas salam adalah wajib. 

(Subulus Salam, 7/7)

Ucapkanlah Salam Kepada Orang yang Engkau Kenali dan Tidak Engkau Kenali

Bukhari membawakan dalam kitab shohihnya Bab ‘Mengucapkan salam kepada orang yang dikenal maupun tidak dikenal’. 

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bahwasanya ada seseorang yang bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أَىُّ الإِسْلاَمِ خَيْرٌ قَالَ « تُطْعِمُ الطَّعَامَ ، وَتَقْرَأُ السَّلاَمَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ ، وَعَلَى مَنْ لَمْ تَعْرِفْ »

“Amalan islam apa yang paling baik?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas menjawab, “Memberi makan (kepada orang yang butuh) dan mengucapkan salam kepada orang yang engkau kenali dan kepada orang yang tidak engkau kenali. ”

(HR. Bukhari no. 6236)

Bahkan mengucapkan salam kepada orang yang dikenal saja, tidak mau mengucapkan salam kepada orang yang tidak dikenal merupakan tanda hari kiamat.

Bukhari mengeluarkan sebuah hadits dalam Adabul Mufrod dengan sanad yang shohih dari Ibnu Mas’ud. Ibnu Mas’ud mengatakan bahwa dia melewati seseorang, lalu orang tersebut mengucapkan, “Assalamu ‘alaika, wahai Abu ‘Abdir Rahman.” 

Kemudian Ibnu Mas’ud membalas salam tadi, lalu dia berkata,

إِنَّهُ سَيَأْتِي عَلَى النَّاس زَمَان يَكُون السَّلَام فِيهِ لِلْمَعْرِفَةِ

“Nanti akan datang suatu masa, pada masa tersebut seseorang hanya akan mengucapkan salam pada orang yang dia kenali saja.”

Begitu juga dikeluarkan oleh Ath Thohawiy, Ath Thobroniy, Al Baihaqi dalam Asy Syu’ab dengan bentuk yang lain dari Ibnu Mas’ud . 

Hadits ini sampai pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (baca: hadits marfu’). Lafazh hadits tersebut adalah:

مِنْ أَشْرَاط السَّاعَة أَنْ يَمُرّ الرَّجُل بِالْمَسْجِدِ لَا يُصَلِّي فِيهِ ، وَأَنْ لَا يُسَلِّم إِلَّا عَلَى مَنْ يَعْرِفهُ

“Di antara tanda-tanda (dekatnya) hari kiamat adalah seseorang melewati masjid yang tidak pernah dia shalat di sana, lalu dia hanya mengucapkan salam kepada orang yang dia kenali saja.”

(Lihat Fathul Bari, 17/458)

Ibnu Hajar mengatakan, “Mengucapkan salam kepada orang yang tidak kenal merupakan tanda ikhlash dalam beramal kepada Allah Ta’ala, tanda tawadhu’ (rendah diri) dan menyebarkan salam merupakan syi’ar dari umat ini.” 

(Lihat Fathul Bari, 17/459)

Dan tidak tepat berdalil dengan hadits di atas untuk memulai mengucapkan salam pada orang kafir karena memulai salam hanya disyari’atkan bagi sesama muslim. 

Jika kita tahu bahwa orang tersebut muslim, maka hendaklah kita mengucapkan salam padanya. Atau mungkin dalam rangka hati-hati, kita  juga tidak terlarang memulai mengucapkan salam padanya sampai kita mengetahui bahwa dia itu kafir. 

(Lihat Fathul Bari, 17/459)

Mengucapkan Salam dapat Mencapai Kesempurnaan Iman

Dari ‘Amar bin Yasir, beliau mengatakan,

ثَلاَثٌ مَنْ جَمَعَهُنَّ فَقَدْ جَمَعَ الإِيمَانَ الإِنْصَافُ مِنْ نَفْسِكَ ، وَبَذْلُ السَّلاَمِ لِلْعَالَمِ ، وَالإِنْفَاقُ مِنَ الإِقْتَارِ

“Tiga perkara yang apabila seseorang memiliki ketiga-tiganya, maka akan sempurna imannya: 

[1] bersikap adil pada diri sendiri, 

[2] mengucapkan salam pada setiap orang, dan

[3] berinfak ketika kondisi pas-pasan.  

(Diriwayatkan oleh Bukhari secara mu’allaq yaitu tanpa sanad. Syaikh Al Albani dalam Al Iman mengatakan bahwa hadits ini shohih)

Ibnu Hajar mengatakan, 

“Memulai mengucapkan salam menunjukkan akhlaq yang mulia, tawadhu’ (rendah diri), tidak merendahkan orang lain, juga akan timbul kesatuan dan rasa cinta sesama muslim.” 

(Fathul Bari, 1/46)

Saling Mengucapkan Salam akan Menimbulkan Rasa Cinta

Mengucapkan salam merupakan sebab terwujudnya kesatuan hati dan rasa cinta di antara sesama muslim sebagaimana kenyataan yang kita temukan (Huquq Da’at Ilaihal Fithroh, 46). 

Dalil yang menunjukkan hal ini adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لاَ تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلاَ تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا. أَوَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى شَىْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ أَفْشُوا السَّلاَمَ بَيْنَكُمْ

“Kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman. 

Kalian tidak akan beriman sampai kalian saling mencintai. 

Maukah aku tunjukkan pada kalian suatu amalan yang jika kalian melakukannya kalian akan saling mencintai? 

Sebarkanlah salam di antara kalian.” (HR. Muslim no. 54)

Siapa yang Seharusnya Mendahului Salam?

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يُسَلِّمُ الرَّاكِبُ عَلَى الْمَاشِى ، وَالْمَاشِى عَلَى الْقَاعِدِ ، وَالْقَلِيلُ عَلَى الْكَثِيرِ

“Hendaklah orang yang berkendaraan memberi salam pada orang yang berjalan. Orang yang berjalan memberi salam kepada orang yang duduk. Rombongan yang sedikit memberi salam kepada rombongan yang banyak.” (HR. Bukhari no. 6233 dan Muslim no 2160)

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يُسَلِّمُ الصَّغِيرُ عَلَى الْكَبِيرِ ، وَالْمَارُّ عَلَى الْقَاعِدِ ، وَالْقَلِيلُ عَلَى الْكَثِيرِ

“Yang muda hendaklah memberi salam pada yang tua. Yang berjalan (lewat) hendaklah memberi salam kepada  orang yang duduk. Yang sedikit hendaklah memberi salam pada orang yang lebih banyak.” (HR. Bukhari no. 6231)

Ibnu Baththol mengatakan, 

“Dari Al Muhallab, disyari’atkannya orang yang muda mengucapkan salam pada yang tua karena kedudukan orang yang lebih tua yang lebih tinggi. 

Orang yang muda ini diperintahkan untuk menghormati dan tawadhu’ di hadapan orang yang lebih tua.”  (Subulus Salam, 7/31)

Jika orang yang bertemu sama-sama memiliki sifat yang sama yaitu sama-sama muda, sama-sama berjalan, atau sama-sama berkendaraan dengan kendaraan yang jenisnya sama, maka di antara kedua pihak tersebut sama-sama diperintahkan untuk memulai mengucapkan salam. 

Yang mulai mengucapkan salam, itulah yang lebih utama.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْمَاشِيَانِ إِذَا اجْتَمَعَا فَأَيُّهُمَا بَدَأَ بِالسَّلاَمِ فَهُوَ أَفْضَلُ

“Dua orang yang berjalan, jika keduanya bertemu, maka yang lebih dulu memulai mengucapkan salam itulah yang lebih utama.”

(Diriwayatkan oleh Bukhari dalam Adabul Mufrod dan Al Baihaqi dalam Sunannya. Syaikh Al Albani dalam Shohih Adabil Mufrod mengatakan bahwa hadits ini shohih)

Namun jika orang yang seharusnya mengucapkan salam pertama kali tidak memulai mengucapkan salam, maka yang lain hendaklah memulai mengucapkan salam agar salam tersebut tidak ditinggalkan. 

Jadi ketika ini, hendaklah yang tua memberi salam pada yang muda, yang sedikit memberi salam pada yang banyak, dengan tujuan agar pahala mengucapkan salam ini tetap ada. (Huquq Da’at Ilaihal Fithroh, 47)

Jika yang Diberi Salam adalah Jama’ah

Jika yang diberi salam adalah jama’ah (banyak orang), *maka hukum menjawab salam adalah fardhu kifayah* jika yang lain telah menunaikannya. 

Jika jama’ah diberi salam, lalu hanya satu orang yang membalasnya, maka yang lain gugur kewajibannya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يُجْزِئُ عَنِ الْجَمَاعَةِ إِذَا مَرُّوا أَنْ يُسَلِّمَ أَحَدُهُمْ وَيُجْزِئُ عَنِ الْجُلُوسِ أَنْ يَرُدَّ أَحَدُهُمْ

“Sudah cukup bagi jama’ah (sekelompok orang), jika mereka lewat, maka salah seorang dari mereka memberi salam dan sudah cukup salah seorang dari sekelompok orang yang duduk membalas salam tersebut.”

(HR. Abu Daud no. 5210. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih). 

Dan sebagaimana dijelaskan oleh Ash Shon’ani bahwa hukum jama’ah (orang yang jumlahnya banyak) untuk memulai salam adalah sunnah kifayah (jika satu sudah mengucapkan, maka yang lain gugur kewajibannya).

Namun, jika suatu jama’ah diberi salam, maka membalasnya dihukumi fardhu kifayah. (Subulus Salam, 7/8)

Balaslah Salam dengan Yang Lebih Baik atau Minimal dengan Yang Semisal

Allah Ta’ala berfirman,

وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا

“Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa).”(QS. An Nisa’: 86)

Bentuk membalas salam di sini boleh dengan yang semisal atau yang lebih baik, dan tidak boleh lebih rendah dari ucapan salamnya tadi. 

Contohnya di sini adalah jika saudara kita memberi salam: 

Assalaamu ‘alaikum, maka minimal kita jawab: Wa’laikumus salam.

Atau lebih lengkap lagi dan ini lebih baik, kita jawab dengan: 

Wa’alaikumus salam wa rahmatullah, atau kita tambahkan lagi: Wa’alaikumus salam wa rahmatullah wa barokatuh. 

Begitu pula jika kita diberi salam: Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah, maka minimal kita jawab: 

Wa’alaikumus salam wa rahmatullahi, atau jika ingin melengkapi, kita ucapkan: Wa’alaikumus salam wa rahmatullahi wa barokatuh. 

Ini di antara bentuknya.

Bentuk lainnya adalah jika kita diberi salam dengan suara yang jelas, maka hendaklah kita jawab dengan suara yang jelas, dan tidak boleh dibalas hanya dengan lirih.

Begitu juga jika saudara kita memberi salam dengan tersenyum dan menghadapkan wajahnya pada kita, maka hendaklah kita balas salam tersebut sambil tersenyum dan menghadapkan wajah padanya.

Inilah di antara bentuk membalas. 

Hendaklah kita membalas salam minimal sama dengan salam pertama tadi, begitu juga dalam tata cara penyampaiannya. 

Namun, jika kita ingin lebih baik dan lebih mendapatkan keutamaan, maka hendaklah kita membalas salam tersebut dengan yang lebih baik, sebagaimana yang kami contohkan di atas. (Lihat penjelasan ini di Syarh Riyadhus Sholihin, Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin pada Bab ‘Al Mubadaroh ilal Khiyarot)

Referensi:

Subulus Salam, Ash Shon’ani, Mawqi’ Al Islam, Asy Syamilah

Huquq Da’at Ilaihal Fithroh, Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin, Darul Istiqomah

Fathul Bari, Ibnu Hajar, Mawqi’ Al Islam, Asy Syamilah

Syarh Riyadhus Sholihin, Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin, Asy Syamilah

***

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Continue Reading

Mimbar Islam

Menjaga dan Memelihara Akal Supaya Tetap menjadi Ibadah

Published

on

Menjaga dan Memelihara Akal Supaya Tetap menjadi Ibadah

Gencil News- Menjaga perkataan dan perilaku serta memelihara akal sehat supaya tetap menjadi ibadah bukan perkara mudah setiap harinya.

Dalam Islam, yang menjadi pemandu atau pembimbing akal adalah Alquran dan As-Sunnah.

Tanpa adanya bimbingan dari Alquran dan as-Sunnah, maka akal menjadi tidak berfungsi.

Hendaknya, kita menggunakan akal sebaik mungkin yakni untuk berfikir dan melakukan segala sesuatu karena Allah.

Akal merupakan kelebihan yang Allah SWT berikan kepada manusia. Dalam surat Al-Israa’ ayat 70 Allah SWT berfirman yang artinya;

“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkat mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.”

(QS. Al-Israa’ : 70)

Allah SWT memberikan manusia akal untuk membedakan dengan makhlukNya yang lain.

Dengan akal, manusia bisa menggunakan indra yang Ia miliki untuk menikmati ibadah serta keindahan yang Allah Ciptakan.

Hal tersebut bertujuan agar manusia lebih banyak melakukan bersyukur karena telah ditinggikan derajatnya dibanding makhluk yang lain.

Hai Manusia, jangan gunakan akal untuk memikirkan hal yang batil, sebagaimana manusia wajib menggunakan akalnya untuk kebaikan seperti berfikir yang positif dan melihat segala sesuatu sebagai hal yang bermanfaat.

Namun, manusia harus menggunakan akalnya untuk mengingat kehidupan akherat agar selalu dekat pada-Nya. Jaga dan pelihara akal dan perilaku mu.

Continue Reading

Advertisement

KORAN GENCIL NEWS

TRENDING