Muhammad Ali Petinju Inspiratif Dari Abad 19 – Gencil News
Connect with us

Tokoh

Muhammad Ali Petinju Inspiratif Dari Abad 19

Published

on

Muhammad Ali Petinju Inspiratif Dari Abad 19
Muhammad Ali Petinju Inspiratif Dari Abad 19 - foto wikipedia

Muhammad Ali lahir dengan nama Cassius Marcellus Clay Jr. di Louisville, Kentucky, pada 17 Januari 1942. Ibunya bernama Odessa O’Grady Clay dan dia memiliki saudara perempuan dan empat saudara laki-laki.

Sang ayah, Cassius Marcellus Clay Senior adalah seorang pelukis papan reklame, sementara ibunya menjadi pekerja rumah tangga.

Dia meraih gelar juara dunia pertamanya pada 25 Februari 1964. Ali yang saat itu masih bernama Cassius Clay keluar sebagai pemenang atas juara kelas berat Sonny Liston.

Dia menang setelah pertandingan berjalan enam ronde dan Liston tak mampu melanjutkan pertarungan ronde ketujuh.

Ditahun ini pula, Ali memilih untuk menganut agama Islam dan resmi berganti nama dari Cassius Clay menjadi Muhammad Ali.

Oleh pemimpin Nation of Islam, Cassius diberi nama baru “Muhammad Ali”. Karena prestasinya yang hebat dan latar belakangnya sebagai seorang muslim, nama Muhammad Ali mulai mendunia.

Ia kemudian berkenalan dengan banyak orang yang memperkenalkannya dengan ajaran Islam yang sejati. Beberapa tahun kemudian ia menjadi seorang muslim sunni yang taat.

Pada tahun 1981 seorang pemuda berusia 21 tahun melakukan percobaan bunuh diri di sebuah bangunan di Los Angeles.

Ia berkata para Vietcong sedang mengejarnya, dan ia mengancam akan melompat dari jendela gedung bertingkat tersebut.

Muhammad Ali yang kebetulan berada di sekitar daerah itu mendengar kejadian ini dan segera bergegas ke sana.

 Ia lalu mendatangi polisi yang sudah berada di sana dan menawarkan diri untuk berbicara dengan pemuda itu.

Polisi melarang Ali karena ditakutkan pemuda itu membawa senjata dan bisa berbahaya bagi keselamatan Ali sendiri. Tetapi Ali tidak perduli dan mengambil resiko untuk menyelamatkan pemuda itu.

Ali kemudian naik ke bangunan tersebut dan berbicara dengan pemuda itu melalui jendela yang bersebelahan.

Sang pemuda yang kaget melihat sang juara dunia  bagai muncul dari ‘antah berantah’ dan berbicara kepadanya. Selama 30 menit Ali berbicara kepadanya.

Si pemuda itu kemudian curhat tentang kesulitan hidupnya. Ali yang mendengar hal ini berjanji untuk membantunya. Katanya, “Kau adalah saudaraku. Aku berjanji untuk membantumu.”

Ali berhasil meyakinkan pemuda itu untuk membuka pintu bagi pasukan penyelamatnya. Pemuda itu diantar turun dan langsung masuk ke mobil Rolls Royce milik Ali.

Bahkan petinju itu menemaninya sampai ke rumah sakit. Ia juga memenuhi janjinya untuk menolong pemuda itu.

“Menyelamatkan nyawa orang lain itu jauh lebih penting bagiku daripada memenangkan kejuaraan dunia,” kata Ali saat diwawancara mengenai hal itu.

Ada satu kisah lain dimana Saat ia menjuarai olimpiade, ia memakai medali emas itu ke mana-mana. Saat berjalan-jalan di tengah kota pun ia tetap memakainya.

Suatu hari ia masuk ke sebuah restoran untuk makan, tetapi pemilik restoran menolaknya dan mengatakan, “Kami tidak melayani orang kulit hitam.”

Ali begitu terhenyak dengan kenyataan bahwa ia dianggap pahlawan karena memenangkan Olimpiade, tetapi masih saja ditolak orang hanya karena warna kulitnya.

Cerita yang beredar mengatakan bahwa Ali kemudian membuang medali olimpiadenya itu ke sebuah sungai karena kecewa dengan perlakuan rasisme itu.

Di sepanjang hidupnya Ali kemudian menjadi aktivis persamaan hak, dan bahkan menjadi pahlawan pergerakan ini di seluruh dunia, terutama di Afrika.

Menderita gangguan pernapasan, sebuah kondisi komplikasi yang disebabkan oleh penyakit Parkinson yang dideritanya, di sebuah RS di Kota Phoenix negara bagian Arizona. pada tanggal 04 Juni 2006 Muhammad Ali menutup mata selama nya..

Ali adalah seorang yang rendah hati, tidak membeda-bedakan orang, sangat memegang teguh ajaran agama, dan sangat perduli dengan kemanusiaan.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Tokoh

Harry Lim, Warga Indonesia yang Jadi Produser Jazz di Amerika

Published

on

Harry Lim, Warga Indonesia yang Jadi Produser Jazz di Amerika
Harry Lim, warga Indonesia yang jadi "Produser Jazz" di Amerika (Courtesy: Charles Peterson (fotographer)).
Tidak banyak yang tahu, di kalangan penggemar musik jazz di Indonesia sekalipun, bahwa pernah ada orang asal Indonesia yang berperan sebagai produser musik jazz terkemuka di Amerika.

Gencil News – VOA – Harry Lim tiba di Amerika pada tahun 1939. Di dalam dokumentasi mengenai dirinya, dia digambarkan sebagai orang yang ramah, tulus, dan senang bergaul. Akibatnya, dia secara cepat diterima dalam dunia jazz Amerika.

Harry Lim dilahirkan pada 23 Februari 1919 di Jakarta. Masa kanak-kanak dan remaja dijalaninya di Indonesia dan Belanda. Pada tahun 1938 dia mengelola sebuah program musik jazz di radio di Jakarta. Dia juga mendirikan the Batavia Rhythm Club, entitas yang mempromosikan musik jazz melalui film dan seminar. Selain itu, dia menerbitkan majalah bernama Swing: de Officieel Orgaan van de Batavia Rhythm Club, dan berperan sebagai redakturnya serta bertanggung jawab atas pendanaannya.

VOA mewawancarai Alfred Ticoalu, peneliti, penulis musik, khususnya jazz, dan pengelola Arsip Jazz Indonesia. Tentang Harry Lim, dia mengungkapkan, “Dia (Harry Lim) mulailah membuat acara konser jazz di downtown Chicago di Hotel Sherman. Dia kerja sama bareng promotor-promotor jazz di Chicago juga, dan mulailah di situ dia mulai dikenal sebagai promotor atau produser konser jazz.”

Pada awal karirnya di Amerika, Harry Lim berhasil memproduksi sesi-sesi jazz dengan sederetan musisi jazz kondang, terutama yang berirama swing.

Dari kiri ke kanan: Hot Lips Page (trumpet), Harry Lim, Clyde Newcombe (bass), Billie Holiday (vocal) (Courtesy: fotografer Charles Peterson).
Dari kiri ke kanan: Hot Lips Page (trumpet), Harry Lim, Clyde Newcombe (bass), Billie Holiday (vocal) (Courtesy: fotografer Charles Peterson).

Dua tenor saxophonist jazz terkenal, Lester Young dan Coleman Hawkins, yang sudah tidak asing lagi dalam dunia jazz Amerika.

Musik mereka termasuk yang diproduseri Harry Lim, seperti dikatakan Alfred Ticoalu, “Lester Young itu salah satu pionir tenor saxophone di dunia jazz, di era swing, merupakan salah satu originator style tenor saxophone. Dan ada juga Coleman Hawkins, salah satu pionir lagi tenor saxophone jazz yang sangat ternama. Itu salah satu yang direkam Harry juga. Banyak sekali nama yang dia rekam, luar biasa memang.”

Dari penelitian yang dilakukannya, Alfred Ticoalu menyimpulkan, Harry Lim adalah sosok idealis, sangat mencintai jazz, dan mencurahkan seluruh hidupnya untuk jazz.

“Yang membuat menarik adalah bagaimana, kok tiba-tiba ada Tionghoa peranakan yang lahir di Batavia, atau Jakarta sekarang, bisa nyasar sampai ke United States of America dan memiliki andil yang luar biasa, cukup besar di dunia musik jazz,” ungkap Alfred.

Complete Box Set Keynote Records yang dirilis ulang tahun 1986 (Courtesy: Koleksi Alfred Ticoalu).
Complete Box Set Keynote Records yang dirilis ulang tahun 1986 (Courtesy: Koleksi Alfred Ticoalu).

Diwawancarai secara terpisah, sejarawan Didi Kwartanada, mengungkapkan, “Ternyata seorang Javanese Jazzman ini luar biasa, karena selama ini kalau kita baca literatur mengenai jazz itu sangat Amerika sentrik ya, kita bicara tentang komponis jazz Amerika, pemain-pemain jazz Amerika, rekaman-rekaman Amerika, tetapi tidak pernah terpikirkan seorang Tionghoa peranakan dari Indonesia yang begitu dikenal di Amerika. Jadi Harry Lim benar-benar seorang tokoh yang outstanding tetapi forgotten ya,” ujarnya.

Harry Lim kemudian dikenal di kalangan jazz sebagai “that Javanese Jazzman.” Anggota Duke Ellington Orchestra serta pemain clarinet, Barney Biggard, terilhami perjalanan hidup Harry Lim.

“Menarik sekali ini, bagaimana seorang tokoh jazz ini, Barney Biggard, mendengarkan kisah-kisah Harry Lim, bagaimana dia kisahnya orang dari Jawa, bagaimana ada candi Budha di pulau Jawa yang bernama Borobudur, yang sedemikian besarnya, sedemikian indahnya, sedemikian megahnya,” tambah Alfred Ticoalu.

Biggard tergerak untuk menciptakan lagu Borobudur. Meskipun waktu itu tidak dirilis, setelah berbagai rekaman Keynote Records di re-issue pada tahun 80-an, rekaman Borobudur diikutsertakan.

Pada 26 Juli 1991 Harry Lim wafat di New York. Ia meninggalkan banyak karya. Berikut petikan ‘Borobudur’ yang diciptakan dan dimainkan pada clarinet oleh Barney Biggard, salah seorang yang terilhami perjalanan hidup Harry Lim.

Continue Reading

Tokoh

Dokter Perempuan Pertama Indonesia Jadi Ikon Google Doodle

Published

on

Dokter Perempuan Pertama Indonesia Jadi Ikon Google Doodle
Dr. Marie Thomas menjadi ikon Google Doodle, pada perayaan ke-125 hari lahirnya, tanggal 17 Februari 2021. (Ilustrasi: Google Doodle, 17 Februari 2021)

GENCIL NEWS – VOA – Dr. Marie Thomas, salah satu dokter perempuan pertama di Indonesia, menjadi ikon Google Doodle hari Rabu 17 Februari ini.

Marie Thomas, yang lahir di Likupang pada 17 Februari 1896, menjadi perempuan pertama di Indonesia yang mengkhususkan diri sebagai dokter spesialis bidang kebidanan dan ginekologi.

Semasa kecil ia sempat pindah ke beberapa daerah mengikuti orang tuanya sebelum lulus dari sebuah sekolah Eropa di Manado. Ketika itu salah seorang apoteker perempuan pertama di Belanda, Charlotte Jocobs, mendukungnya untuk mendapatkan beasiswa bagi calon dokter perempuan Indonesia.

Tahun 1912 ia diterima bersekolah di School of Training of Native Physicians (STOVIA), sekolah yang sebelumnya hanya dikhususkan bagi laki-laki. Ia lulus tahun 1922 sebagai perempuan pertama yang lulus dari sekolah ternama itu. Pencapaiannya yang sangat luar biasa di STOVIA membuat sebuah surat kabar Belanda dengan bangga mengumumkan kelulusannya.

Marie Thomas memulai praktik medisnya di Centrale Burgerlijke Ziekeninrichting CBZ (sekarang menjadi RS Cipto Mangunkusumo) dan kemudian berpindah-pindah tugas di Medan, Padang dan Manado, sebelum kemudian kembali ke Jakarta dan bekerja di RS Budi Kemuliaan, sebuah rumah sakit bersalin yang didirikan oleh Yayasan Sovia.

Dirikan Sekolah Kebidanan

Pada tahun 1929 ia menikah dengan seorang dokter, Mohammad Joesoef, dan kemudian pindah ke Padang, tempat asal suaminya. Di Padang, Marie Thomas menduduki jabatan Pelayanan Kesehatan Masyarakat di sebuah rumah sakit di sana. Ia menjadi dokter pertama yang memperkenalkan metode kontrasepsi baru di Indonesia, seperti IUD.

Beberapa laporan menulis bagaimana ia dikenal sebagai sosok dokter yang murah hati, yang memberikan pelayanan medis kepada mereka yang tidak mampu membayar sekali pun.

Marie Thomas sempat kembali ke Jakarta dan ikut menjadi anggota sebuah partai politik yang salah seorang anggotanya adalah pahlawan Indonesia Sam Ratulangi.

Ketika akhirnya ia dan suaminya menetap di Bukittingi, ia mendirikan sekolah kebidanan pertama di Sumatera, dan saat itu merupakan yang kedua dari jenis sekolah itu di Indonesia.

Selain mengucapkan selamat ulang tahun kepada Dr. Marie Thomas, Google Doodle dalam penjelasannya pada publik menyampaikan terima kasih kepadanya atas “dedikasi tanpa pamrih bagi kehidupan orang lain, yang membuka jalan bagi perempuan di Indonesia untuk mengejar pendidikan kedokteran dan pendidikan tinggi lainnya.”

Doodle Ikut Ramaikan Beranda Google

Doodle adalah salah satu aplikasi di dalam Google yang menghadirkan perubahan pada layar utama dan informasi yang menyenangkan, mengejutkan dan terkadang spontan; untuk merayakan hari libur, hari jadi, kehidupan perintis, ilmuwan, atau artis terkenal.

Pendiri Google Sergey Brin (kiri) dan Larry Page di Frankfurt Book Fair, Jerman, 7 Oktober 2004. (Foto: JOHN MACDOUGALL / AFP)
Pendiri Google Sergey Brin (kiri) dan Larry Page di Frankfurt Book Fair, Jerman, 7 Oktober 2004. (Foto: JOHN MACDOUGALL / AFP)

Doodle yang ada sejak tahun 1998, jauh sebelum Google dikenal luas, adalah konsep yang diperkenalkan dua pendiri Google, Larry dan Sergey yang semula ingin menunjukkan kehadiran mereka pada Festival Burning Man di Nevada.

Seiring perjalanan waktu tuntutan menghadirkan informasi dan gambar yang lebih beragam meningkat, sehingga akhirnya Google membentuk tim tersendiri yang terdiri dari pakar teknik dan ilustrasi, yang dijuluki “the doodlers.”

Bagi mereka membuat gambar dan informasi unik semakin memperkaya beranda Google dan menghadirkan senyum bagi pengguna Google di seluruh dunia. Hingga saat ini sudah ada lebih dari 2.000 gambar dan informasi, atau disebut “doodles” – yang dibuat untuk halaman depan Google. 

Continue Reading

Tokoh

Jejak Emas Wismoyo Arismunandar Sebagai Ketua KONI

Published

on

Jejak Emas Wismoyo Arismunandar Sebagai Ketua KONI
Sumber Foto : NusantaraTv/ Wismoyo Arismunandar

Wismoyo Arismunandar meninggal pada usia 80 tahun, Pada Kamis, 28 Januari. Jenazah Almarhum tersebut akan daimakam dalam Astana Giribangun, Solo, Jawa Tengah.

Ketua Umum KONI Pusat, Letjen TNI (Purn) Marciano Norman, mewakili masyarakat olahraga prestasi mendoakan almarhum Wismoyo.

“Semoga almarhum diampuni dosa-dosanya dan diterima amal ibadahnya serta mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT,” katanya seperti termuat dalam laman KONI.

“Bagi keluarga yang ditinggalkan, semoga diberikan kekuatan dan ketabahan, Amin.”

Mengutip dari Antara melalui Tempo. Wismoyo merupakan Ketum KONI Pusat yang ketiga, setelah Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Jenderal (Purn) Surono.

Ia memimpin KONI Pusat selama 2 periode yakni pada 1995 hingga 1999 dan 1999 hingga 2003.

Ia menjabat periode pertama pada tahun 1995 ketika masih menjabat sebagai Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD).

Presiden Soeharto memberikan restu kepada Wismoyo untuk menjadi Ketua KONI Pusat.

Pada Era kepemimpinannya, salah satu peninggalan penting adalah Lagu Mars Patriot Olahraga yang hingga saat ini terus berkumandang untuk pengurus, pembina hingga atlet pada berbagai kegiatan. Wismoyo menciptakan liriknya sedangkan lagu adalh ciptaan Melky Goeslaw.

Pada kepemimpinannya KONI Pusat sempat merasakan terbatasnya dukungan dana dari pemerintah.

Sebagai solusi, Wismoyo mengundang para pengusaha besar ke Gedung KONI Senayan. dengan harapan agar berkontribusi dalam pembinaan olahraga prestasi tanah air.

Selain itu, ia juga menggulirkan Program Garuda Emas yang kemudian berhasil mengantarkan Indonesia melanjutkan tradisi emas Olimpiade Sydney tahun 2000.

dan peringkat 14 Asian Games XIII di Busan, Korea Selatan tahun 2002.

Prestasi tingkat Asia Tenggara selama masa kepemimpinannya juga membanggakan, yakni peringkat kedua SEA Games XVIII Chiang Mai tahun 1995, Juara SEA Games XIX di Jakarta tahun 1997, peringkat tiga SEA Games XX Bandar Seri Begawan tahun 1999, peringkat ketiga SEA Games XXI Kuala Lumpur tahun 2001

Jenderal TNI (Purn) Wismoyo Arismunandar adalah purnawirawan perwira tinggi TNI-AD yang pernah menjabat sebagai KSAD ke-17 pada tahun 1993 sampai 1995 dan Pangkostrad periode 1990 sampai dengan 1992.

Ia juga pernah menjabat sebagai Wakasad pada tahun 1992 hingga 1993. Sebelum mengemban jabatan sebagai Pangkostrad, almarhum juga pernah menjabat sebagai Pangdam XVII/Tkr pada 1986 dan Pangdam IV/Dip pada 1989.

Jabatan demi jabatan dalam jajaran korps baret merah sampai dengan jabatan Danjen Kopassus.

Sosok Wismoyo yang merupakan ipar Presiden Kedua RI Soeharto (menikah dengan Sri Hardjanti) terkenal dekat dengan bawahan dan tegas dalam kedisiplinan.

Namanya sempat mencuat sebagai kandidat Panglima ABRI tetapi Soeharto lebih memilih Feisal Tanjung dan menugaskan Wismoyo sebagai Ketua KONI.

Wismoyo Arismunandar, lulusan Akademi Militer Nasional tahun 1963, merupakan anak dari pasangan Sri Wurjan dan Arismunandar.

Continue Reading

Advertisement

KORAN GENCIL NEWS

TRENDING