Internasional

Indonesia Tolak Resolusi PBB Soal Situasi HAM di Iran

Indonesia Tolak Resolusi PBB Soal Situasi HAM di Iran
Massa berunjuk rasa mengelilingi gedung pemerintah di kota Bukan, Iran, yang mayoritas penduduknya Kurdi, 16 November 2022. ( ESN / AFP)

Gencil News – VOA – Indonesia menolak rancangan resolusi mengenai situasi HAM di Iran. Sejak awal rancangan resolusi ini dibuat, Indonesia telah mengusulkan agar dilakukan dialog terlebih dahulu dengan pemerintah Iran. 

Indonesia termasuk di antara 28 negara yang menolak rancangan resolusi mengenai situasi hak asasi manusia (HAM) di Iran dalam pemungutan suara yang berlangsung di sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Kota New York, Amerika Serikat, pekan lalu.

Rancangan resolusi itu akhirnya disahkan dengan dukungan 80 negara anggota, sedangkan 68 negara lainnya abstain.

Direktur HAM Kementerian Luar Negeri Achsanul Habib kepada VOA, Senin (21/11), menjelaskan posisi Indonesia sejak awal rancangan resolusi dibuat sangat konsisten. Indonesia mengusulkan dilangsungkannya dialog dengan pemerintah Iran untuk secara konstruktif membantu mereka dalam isu HAM.

“Jangan dipojokkan, kemudian diputus malah hubungan dialog dan kerjasama dengan Iran tersebut. Jadi maunya kita gitu dulu. Di samping itu, resolusi juga diikuti pemberian sansi-sanksi dan sebagainya yang akhirnya menimpa rakyat Iran sendiri akibat blokade energi, blokade ekspor, dan sebagainya,” kata Achsanul.

Achsanul menegaskan pemerintah Indonesia juga ingin agar persoalan di dunia ini dibawa ke arah multilateralisme, didialogkan secara objektif, transparan, dan adil, serta mengedepankan prinsip-prinsip yang diatur dalam Piagam PBB.

Terhadap negara yang sedang disasar, lanjut Achsanul, Indonesia ingin masyarakat internasional mendorong peningkatan kapasitas nasionalnya. Sebab, persoalan dalam negeri negara anggota PBB itu harus dimulai dari kapasitas nasionalnya. Jangan sebelum hal itu dilakukan, dunia internasional sudah diintervensi dan tindakan itu sangat tidak sehat untuk pembangunan, hubungan antar negara yang sejajar dan saling menghormati.

Dia menekankan prinsip diadopsi Indonesia itu diterapkan bukan hanya dalam isu Iran. Selain penghormatan terhadap negara berdaulat, Indonesia juga tidak menginginkan sistem tebang pilih. Kalau memang ada keprihatinan terhadap isu HAM, jangan negara-negara tertentu saja yang disasar.

Tanpa menyebut nama negara yang dimaksud, Achsanul menyatakan jika negara yang bermasalah dalam isu HAM adalah temannya, maka pura-pura tidak tahu. Tapi sebaliknya, jika negara yang memiliki persoalan HAM itu bukan teman atau tidak sehaluan, buru-buru dimunculkan resolusi.

Baca juga   Presiden Palestina Tak Minta Maaf atas Serangan terhadap Olimpiade Munchen

Achsanul menambahkan kebijakan luar negeri Indonesia itu tidak kaku dalam arti tidak tutup mata terhadap perkembangan. Jika resolusi itu dibuat benar-benar untuk mencari solusi atas sebuah persoalan, tentu Indonesia akan melihat seperti apa konteks dan perkembangannya agar diplomasi Indonesia dapat ikut membantu menciptakan perdamaian dunia.

Sikap Indonesia Dinilai Tepat

Pengamat Hubungan Internasional dari Universitas Diponegoro, Mohammad Rosyidin, mengatakan sikap Indonesia menolak resolusi tersebut sudah tepat. Jika Indonesia mengecam atau memberikan aksi-aksi yang lebih konkret tentu itu bertentangan dengan prinsip bebas aktif dan non-intervensi terhadap urusan domestik negara lain yang dianut oleh Indonesia.

“Karena urusan di Iran ini kan urusan domestik Iran sendiri. Indonesia bisa jadi sangat menahan diri untuk tidak melibatkan diri atau intervensi dalam urusan itu. Namun yang perlu digarisbawahi adalah tindakan pemerintah Iran yang menindas dengan melakukan pembunuhan di luar pengadilan, tindakan-tindakan yang berlebihan terhadap demonstran itu juga perlu untuk diberi perhatian lebih,” ujar Rosyidin.

Dewan HAM PBB menyatakan keprihatinan mengenai penindakan Iran terhadap aktivis oposisi.
Dewan HAM PBB menyatakan keprihatinan mengenai penindakan Iran terhadap aktivis oposisi.

Rosyidin mengatakan artinya Indonesia sebetulnya kurang tepat jika bersikap pasif. Yang paling tepat adalah Indonesia perlu mendesak pemerintah Iran menghormati prinsip-prinsip HAM dan demokrasi walaupun sistem di negara tersebut tidak bisa dikatakan demokratis. Namun karena kedua hal itu merupakan norma pergaulan antar bangsa, maka Indonesia harus menunjukkan keprihatinan terhadap isu HAM dan demokrasi tersebut, tapi tidak melewati prinsip non-intervensi urusan dalam negeri Iran.

Menurutnya sikap Indonesia yang terkesan jaga jarak ini mungkin juga dipengaruhi oleh faktor Indonesia sebagai negara berpenduduk mayoritas muslim terbesar. Kalau memojokkan Iran, bisa jadi akan memicu kecaman dari masyarakat domestik sendiri, terutama dari kalangan Islam.

Rosyidin memperkirakan demonstrasi yang telah berlangsung dua bulan di Iran memprotes kematian Mahsa Amini, usia 22 tahun, di dalam tahanan polisi tiga hari setelah ditangkap polisi moral karena tidak mengenakan jilbab secara benar, akan terus berlanjut. Terlebih karena pemerintah Iran melakukan tindakan keras untuk menindak para demonstran. Tetapi sulit untuk memprediksi apakah mampu menumbangkan rezim yang ada, karena struktur kekuasaan di Iran berbeda dengan negara-negara lain.

Pengamat : Pesan dari 68 Negara yang Abstain

Menurut pengamat Hubungan Internasional dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Nanto Sriyanto mengatakan Indonesia masih menganggap internasionalisasi isu HAM belum dirasa mendesak. Selain itu, Indonesia masih menganggap hal tersebut sebagai penghormatan terhadap kedaulatan sebuah negara.

Yang menarik, lanjutnya, adalah negara-negara yang mengambil posisi abstain dalam pemungutan suara atas rancangan resolusi mengenai situasi HAM di Iran.

FOTO FILE: Sebuah sepeda motor polisi terbakar selama protes atas kematian Mahsa Amini, perempuan yang meninggal setelah ditangkap oleh "polisi moral" republik Islam, di Teheran, Iran 19 September 2022. WANA (West Asia News Agency) via REUTERS/File Foto
FOTO FILE: Sebuah sepeda motor polisi terbakar selama protes atas kematian Mahsa Amini, perempuan yang meninggal setelah ditangkap oleh “polisi moral” republik Islam, di Teheran, Iran 19 September 2022. WANA (West Asia News Agency) via REUTERS/File Foto

“Dari posisi abstain itu, banyak negara Teluk yang abstain, termasuk Qatar, Oman. Di luar wilayah itu, India dan Pakistan juga menolak, sama posisinya dengan Indonesia. Artinya di voting itu, negara-negara yang menolak adalah rata-rata negara-negara proponen Non-Blok yang boleh dikatakan proponen Dasa Sila Bandung,” tutur Nanto.

Menurut Nanto, 68 negara yang abstain dalam voting itu adalah negara-negara yang masih ambigu antara melihat isu HAM adalah masalah internasional atau problem domestik negara bersangkutan.

Dia menilai pemerintah Indonesia mengambil sikap menolak karena melihat situasi HAM di Iran masih dalam batas urusan domestik. Dia menduga Indonesia juga akan mengambil posisi serupa dalam kasus situasi HAM di Provinsi Xinjiang, China.

Baca juga   Wartawan Hadapi Tingginya Ancaman Pembunuhan

Nanto menambahkan demonstrasi yang sedang berlangsung di Iran sejak pertengahan September lalu adalah sebuah bentuk pertanyaan terhadap bentuk teokrasi di negara itu. Dia menyarankan Indonesia bisa berkonsultasi atau berbagi pengalaman mengenai demokrasi di BDF (Forum Demokrasi Bali) yang memang harus melibatkan Iran juga.

Dia mendorong ada konsultasi bersama dengan Iran untuk menghindari jalur-jalur yang terkesan Indonesia mengkhotbah Iran mengenai HAM. Konsultasi bersama itu misalnya dengan menanyakan langsung kepada duta besar Iran apa yang sebenarnya terjadi di negara tersebut.

Nanto mengakui lobi pemerintah Iran ke Indonesia relatif kuat. Jika Indonesia ingin terlibat adalah dalam konteks membantu Iran keluar dari isolasi.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERPOPULER

To Top