Bermitra dengan Organisasi Berbasis Agama dan Kepercayaan

Bermitra dengan Organisasi Berbasis Agama dan Kepercayaan

Untuk memajukan negara-negara di seluruh dunia, pemerintah Amerika kini menyertakan kelompok-kelompok yang berbasis agama dalam program-program pembangunan internasionalnya. Kelompok keagamaan ini termasuk kelompok di negara Irak yang baru-baru ini dilanda kerusuhan terkait kesulitan ekonomi dan gejolak politik.

Badan Pembangunan Internasional Amerika atau USAID, bertekad untuk meragamkan basis mitranya untuk membantu negara-negara menuju kemandirian, tujuan utama dari upaya pengembangan AS. Di bawah Prakarsa Kemitraan Baru, USAID berfokus pada peningkatan dan mempertahankan hubungan dengan mitra baru atau mitra yang belum sepenuhnya dimanfaatkan, terutama mitra lokal.

Salah satu kelompok mitra semacam itu adalah organisasi berbasis agama, kata Wakil Pimpinan USAID Bonnie Glick.

Wakil USAID Bonnie Glick. (Foto: Courtesy/USAID)
Wakil USAID Bonnie Glick. (Foto: Courtesy/USAID)

“Komunitas agama memiliki tempat yang baik di banyak negara untuk melayani penduduk setempat. Melayani yang lain, menjadi landasan penting bagi semua agama, bagian dari misi keagamaan mereka. Tetapi di negara-negara berkembang, komunitas agama juga paling dekat dengan penduduk lokal yang membutuhkan sehingga merupakan jaringan yang siap pakai bagi kita untuk membantu kemajuan masyarakat lokal,” katanya.

Baca juga   Enam Universitas Bentuk Konsorsium Perguruan Tinggi Inklusif

Glick mengatakan, di bawah Prakarsa Kemitraan Baru, USAID menciptakan berbagai bentuk kontrak dan pemberian hibah bagi kelompok-kelompok yang selama beberapa tahun terakhir “tidak sepenuhnya diundang terlibat dalam program USAID:”

“Ini adalah cara yang bisa ditempuh organisasi yang lebih kecil dan sering berbasis agama, untuk terlibat dengan USAID tanpa harus mengumpulkan proposal setebal 400 halaman. Sebaliknya, mereka bisa mengirimkan kepada kita gagasan, makalah konsep, sepanjang tiga halaman mengenai ide-ide mereka yang berdampak pada komunitas yang mereka melayani,” kata Glick.

Enam organisasi lokal di Irak Utara baru-baru ini dipilih sebagai bagian dari Prakarsa Kemitraan Baru. Hibah tersebut akan digunakan untuk membantu minoritas agama dan etnis yang menjadi sasaran ISIS.

Wakil pimpinan USAID Glick mengatakan sangat penting bagi berbagai organisasi, termasuk kelompok kecil berbasis agama di seluruh dunia, untuk mengetahui bahwa Amerika ingin mendukung mereka dalam upaya mereka mengangkat komunitas yang membutuhkan.

Baca juga   Pameran Kisah-Kisah Muslim Warga Chicago

Sementara itu terkait Irak, Paus Fransiskus pekan lalu menyampaikan doanya bagi warga Irak yang berdemonstrasi dan meminta masyarakat internasional untuk mengupayakan “jalan dialog dan rekonsiliasi dan mencari solusi yang tepat”.

Paus Fransiskus meminta pihak berwenang Irak, bersama dengan komunitas internasional mencari “solusi adil” untuk situasi yang dihadapi warga Irak.

Paus Francis menyapa para kardinal di Aula Paul VI di Vatikan setelah audiensi dengan para siswa dan guru dari Universitas Katolik LUMSA, 14 November 2019. (Foto: AP)
Paus Francis menyapa para kardinal di Aula Paul VI di Vatikan setelah audiensi dengan para siswa dan guru dari Universitas Katolik LUMSA, 14 November 2019. (Foto: AP)

Ribuan warga Irak baru-baru ini turun ke jalan dalam demonstrasi gelombang kedua terhadap pemerintah dan elit politik yang mereka katakan korup dan tidak tersentuh.

Korban tewas sejak gelombang kerusuhan yang meluas dan dimulai sejak 1 Oktober itu sekurangnya mencapai 250.

Berbicara kepada ribuan umat yang menghadiri misa mingguannya di Lapangan Santo Petrus, Paus Fransiskus menyatakan kedekatannya dengan rakyat Irak.

“Saya mengundang pihak berwenang untuk mendengarkan seruan penduduk yang meminta kehidupan yang bermartabat dan damai,” kata Paus Fransiskus.

Demonstrasi massa yang didorong oleh ketidakpuasan atas kesulitan ekonomi dan korupsi telah mengganggu Irak yang relatif stabil selama hampir dua tahun. 

Penulis : Gencil News
Editor : Gencil News
Sumber : Gencil News