Connect with us

Mild Report

Dana Desa untuk Tanggulangi Bencana Terkendala Regulasi

Published

on

Dalam beberapa kasus, kepala daerah juga memerlukan persetujuan DPRD untuk penetapan anggaran bencana darurat. Sistem serupa, juga belum ada di tingkat desa. Namun, tambah Hening, di luar berbagai persoalan itu, desa memang harus disiapkan untuk menghadapi bencana. “Kita harus bikin siap desa itu untuk, menyiapkan dirinya terhadap resiko bencana. Karena dampak pertama bencana itu ada di desa. Kejadian bencana tidak pernah bisa diprediksi, sehingga masyarakat desa setempat harus siap dengan resiko, kalau daerahnya rawan bencana,” kata Hening. Pemerintah, masyarakat dan pihak swasta harus bekerja sama dalam upaya ini. Dalam kasus tertentu, dana sosial pihak swasta dapat dijadikan jalan keluar darurat, karena dapat digunakan tanpa mengikuti aturan birokrasi yang rumit dan panjang. Hening juga berpesan agar perhatian tidak hanya diberikan dalam soal pendanaan, tetapi juga mitigasi bencana. Warga desa harus memahami potensi bencana di setiap wilayahnya, dan paham apa yang harus dilakukan jika tanda-tanda bencana sudah terlihat. Semua bisa dibentuk melalui pelatihan terus menerus. BNPB sendiri menjadikan desa sebagai salah satu tulang punggung penanggulangan bencana. Salah satunya melalui program Desa Tanggung Bencana (Destana). Pada 2019 lalu, BNPB melakukan ekspedisi sepanjang Pantai Selatan Pulau Jawa. Sebanyak 512 desa di jalur ini disadarkan mengenai bahaya bencana tsunami yang mengintai mereka sewaktu-waktu.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana menyebut, sekitar 184 juta penduduk di puluhan ribu desa di Indonesia tinggal di kawasan rawan bencana.

Menyusul bencana yang kerapterjadi di berbagai daerah Indonesia, belakangan muncul wacana agardana desa dapat dipakai dalam penanganan bencana.

Menteri Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Abdul Halim Iskandar menyebut, dana desa bisa digunakan untuk tanggap darurat bencana. Abdul Halim menyampaikan itu di Yogyakarta, ketika menghadiri acara sanggat inovasi desa, pada Minggu (5/12).

“Dari peta BNPB itu ada 50 ribu desa yang potensi bencana, makanya kemudian di kebijakan Kementerian Desa, ada regulasi yang mengatur dibolehkannya penggunaan dana desa untuk tanggap tanggap darurat bencana, utamanya adalah untuk penyelamatan warga,” kata Abdul Halim.

Prioritas penggunaan dana desa dalam penanganan bencana, lanjut Abdul Halim, adalah untuk penyelamatan.

Kebijakan itu sesuai dengan keputusan Presiden Jokowi, bahwa yang pertama dilakukan dalam kejadian bencana adalah peyelamatan warga. Halim menambahkan, dana desa bisa digunakan untuk pos itu, sesuai dengan aturan perundang-undangan yang sudah ditetapkan.

Namun Halim tidak menguraikan lebih rinci ketentuan dalam penggunaan dana desa ini. Dia hanya memastikan berulangkali, bahwa upaya tanggap darurat di tingkat desa dapat menggunakan dana yang dikirimkan setiap tahunnya oleh pemerintah pusat itu. Setiap desa di Indonesia, rata-rata bisa menerima bantuan dana hingga Rp 1 miliar per tahun.

Kebijakan Sulit Diterapkan

Pernyataan Menteri Desa PDTT Abdul Halim Iskandar bahwa dana desa bisa dipakai dalam tanggap darurat bencana, semestinya melegakan. Namun, bagi Tomon Haryo Wirosobo kebijakan itu masih menyisakan ganjalan.

Tomon Haryo adalah kepala desa di Wonokerto, Kecamatan Turi, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Desa di ujung utara Yogyakarta ini masuk dalam Kawasan Rawan Bencana (KRB) letusan Gunung Merapi.

Tidak hanya itu, seperti juga kawasan lain di Indonesia, desa ini juga terancam bencana seperti puting beliung, tanah longsor, banjir lahar, dan tentu saja letusan Merapi.

Dalam pelaksanaannya, kata Tomon Haryo, setiap dana desa turun, pemerintah kabupaten menetapkan sejumlah program yang harus dilaksanakan.

Dana desa pun terkuras untuk program itu, sehingga kewenangan desa dalam penentuan program dinilai Tomon Haryo tidak terwujud. Pada berbagai pertemuan, pemerintah desa juga diyakinkan bahwa persoalan bencana menjadi kewenangan pemerintah daerah.

“Bencana ini menjadi kewenangan kabupaten, meskipun kita berada di daerah rawan bencana, tidak ada anggaran itu. Sampai hari ini saya belum melihat, desa-desa di wilayah KRB yang menganggarkan dana untuk bencana, karena semua bencana ditangani BPBD,” ujar Tomon Haryo yang sudah empat tahun memimpin Desa Wonokerto.

Selama ini, ketika bencana terjadi di wilayah desa, Tomon Haryo lebih sering menggunakan dana operasional kepala desa untuk bertindak. Tomon Haryo juga mempertanyakan, pada pos anggaran apa dana kebencanaan bisa masuk dalam sistem keuangan desa.

Kendala Birokrasi yang Mengganggu

Aktivis kemanusiaan dan pengamat kebencanaan, Hening Parlan menyebut, penggunaan dana desa untuk menanggulangi bencana menyisakan persoalan birokrasi dan teknokrasi dalam nomenklaturnya. Hening aktif di Muhammadiyah Disaster Management Centre (MDMC) dan telah menggeluti bidang ini selama kurang lebih 20 tahun.

Hening menyebut, dana desa hanya bisa dikeluarkan melalui nomenklatur yang telah disetujui di awal penyusunan anggaran.

Jika akan dipakai untuk kebencanaan, maka harus ada nomenklatur khusus. Dalam sistem anggaran, dana ini dapat disebut sebagai dana siap pakai. Ketentuannya, jika tidak terpakai tahun ini, maka dana dapat disimpan untuk dipakai tahun berikutnya.

“Seharusnya di setiap desa, ada satu dana yang bisa diambil kapan saja, sehingga dana ini bisa terpakai. Karena kalau kita mengikuti birokrasi, mengeluarkan dana itu tidak mudah. Tidak ada satupun kepala desa, camat atau bupati yang mau dipenjara karena mengeluarkan uang untuk bencana. Sama-sama untuk kemanusiaan, tetapi di sini ada proses birokrasi dan teknokrasi, ada waktunya, ada nomenklaturnya, tidak bisa cepat,” ujar Hening. Dana semacam ini, tambah Hening, sudah ada di tingkat pemerintah kabupatan/kota. Tetapi ujarnya lagi, di tingkat desa belum biasa ditemukan.


Dalam beberapa kasus, kepala daerah juga memerlukan persetujuan DPRD untuk penetapan anggaran bencana darurat. Sistem serupa, juga belum ada di tingkat desa. Namun, tambah Hening, di luar berbagai persoalan itu, desa memang harus disiapkan untuk menghadapi bencana.

“Kita harus bikin siap desa itu untuk, menyiapkan dirinya terhadap resiko bencana. Karena dampak pertama bencana itu ada di desa. Kejadian bencana tidak pernah bisa diprediksi, sehingga masyarakat desa setempat harus siap dengan resiko, kalau daerahnya rawan bencana,” kata Hening.

Pemerintah, masyarakat dan pihak swasta harus bekerja sama dalam upaya ini. Dalam kasus tertentu, dana sosial pihak swasta dapat dijadikan jalan keluar darurat, karena dapat digunakan tanpa mengikuti aturan birokrasi yang rumit dan panjang.

Hening juga berpesan agar perhatian tidak hanya diberikan dalam soal pendanaan, tetapi juga mitigasi bencana. Warga desa harus memahami potensi bencana di setiap wilayahnya, dan paham apa yang harus dilakukan jika tanda-tanda bencana sudah terlihat. Semua bisa dibentuk melalui pelatihan terus menerus.

BNPB sendiri menjadikan desa sebagai salah satu tulang punggung penanggulangan bencana. Salah satunya melalui program Desa Tanggung Bencana (Destana). Pada 2019 lalu, BNPB melakukan ekspedisi sepanjang Pantai Selatan Pulau Jawa. Sebanyak 512 desa di jalur ini disadarkan mengenai bahaya bencana tsunami yang mengintai mereka sewaktu-waktu.

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Nongkrong

Ketupat Colet, Menu Wajib Saat Lebaran Di Melayu Kayong Utara

Published

on

GENCIL NEWS – Ketupat Colet, Menu Wajib Saat Lebaran Di Melayu Kayong Utara. Ketupat colet merupakan menu wajib yang harus ada ketika lebaran, baik ketika Idul Adha maupun Idul Fitri. Meskipun begitu ketupat colet juga disajikan ketika ada acara seperti pindah rumah, syukuran dan acara lainnya.

Masyarakat Melayu Kayong Utara biasanya akan menyuguhkan ketupat colet ketika hari raya Idul Fitri hari pertama maupun kedua. Menurut masyarakat melayu Kayong Utara, tak lengkap rasanya jika tidak ada ketupat colet dalam menu lebaran.

Untuk ketupat colet khas melayu ini memiliki berbagai bentuk seperti; ketupat biasa, ketupat bawang merah, ketupat bawang putih, ketupat jontong, ketupat ketam, ketupat kumbek dan masih banyak bentuk ketupat lainnya.

Cara makan ketupat colet pada umumnya masyarakat Melayu Kayong Utara langsung memakannya tanpa menggunakan sendok, hal ini sebagai simbol kebersamaan dan kesederhanaan keluarga. Di dalam masyarakat Melayu Kayong Utara, seorang wanita harus dapat membuat kupat, karena jika tidak maka wanita tersebut akan di anggap pemalas.

Untuk cara membuat ketupat colet, sama seperti membuat ketupat pada umumnya, yaitu dengan menganyam daun kelapa. Biasnya masyarakat Melayu Kayong Utara, menyajikan ketupat colet dengan lauk pauk seperti rendang, daging ayam, ikan tenggiri, ikan pari, ikan teri, ikan roman dan lauk pauk lainnya.

Meskipun ketupat colet menjadi menu wajib atau makanan khas ketika lebaran bagi masyarakat Melayu Kayong Utara, namun ketupat colet juga bisa anda temukan di beberapa warung makan di Kayong Utara.

Continue Reading

Bisnis

Tempat-tempat Kerja Beralih Peran untuk Perangi Virus Corona

Published

on

Ketika permintaan akan barang dan jasa anjlok karena penyebaran COVID-19, perusahaan-perusahaan di seluruh dunia mengalihkan ruang kerja mereka untuk membuat produk-produk bagi pekerja garis depan dalam perang melawan virus corona.

Dari produsen mobil balap di Inggris, hingga gerobak makanan di Afghanistan, upaya global ini melibatkan perusahaan besar dan kecil.

Produsen sarung tangan mewah di Perancis mengadaptasi pabriknya untuk membuat sarung tangan kain yang bisa dicuci bagi pekerja yang berada di garis depan dalam penanggulangan COVID-19, penyakit yang diakibatkan virus corona.

Presiden perusahaan itu, Agnelle, Sophie Gregoire mengatakan, “Ketika mulai ada pembicaraan tentang diakhirinya karantina, dan ingin membuat orang merasa aman, kami berbicara banyak tentang masker, dan saya berkata pada diri sendiri bahwa kami juga harus berpartisipasi dalam upaya ini. Jadi, sempat terpikir untuk membuat masker, tetapi menurut saya banyak orang yang bisa membuat masker, sedangkan membuat sarung tangan jauh lebih sulit.”

Beberapa perusahaan minuman keras beralih meproduksi gel penyanitasi tangan selama pandemi (foto: ilustrasi).
Beberapa perusahaan minuman keras beralih meproduksi gel penyanitasi tangan selama pandemi (foto: ilustrasi).

Di Inggris, buruh produsen mobil balap memproduksi ventilator dan alat tes untuk rumah sakit di seluruh negara itu.

McLaren adalah satu dari banyak perusahaan yang mengalihkan operasinya, menjawab prakarsa pemerintah, membuat ventilator.

Richard Wilcox, Teknisi Otomotif McLaren mengatakan, “Bagi saya, menjadi sukarelawan dan melakukan sesuatu yang benar-benar bisa membantu, adalah faktor motivasi yang besar.”

Di Belgia, tim peneliti menggunakan pencetakan tiga dimensi (3D) untuk membuat plastik yang bisa mengubah masker selam menjadi pelindung wajah bagi staf medis agar tidak tertular virus corona.

Pabrik mobil Ford ikut memproduksi ventilator selama pandemi.
Pabrik mobil Ford ikut memproduksi ventilator selama pandemi.

Benedicte Geniets, dokter anestesi di Rumah Sakit Antwerp mengatakan, “Saya dan rekan-rekan khawatir, mungkin pada satu saat, akan kekurangan bahan, jadi kami mencoba mencari alternatif.”

Di Afghanistan, penjual makanan Marzia Sikandar mengenakan pelindung dari ujung rambut sampai kaki ketika menjajakan makanannya di jalan. Tetapi, kali ini ia tidak menawarkan burger, melainkan menyediakan tempat cuci tangan, menyemprot orang dengan disinfektan dan membagikan masker.

Marzia Sikandar mengatakan, “Kami memiliki bahan sanitasi dan masker di mobil gerobak, dan kami membagikan 60 hingga 70 masker sehari. Kami menjelaskan tentang masalah kesehatan ini kepada orang-orang dan menyarankan mereka agar mencuci tangan.”

Sekitar 40 kendaraan bertenaga surya mirip bajaj di Kabul telah dialihkan menjadi kendaraan penyemprot disinfektan dalam upaya menghentikan penyebaran virus corona.

Pemerintah menyediakan dana untuk mengubah kendaraan itu dan juga membiayai pembelian pasokan disinfektan, masker, dan gaji para pekerja itu.

Kala pandemi virus corona terkendali, warga yang berkorban itu berharap kembali ke pekerjaan rutin mereka. Tetapi, sementara ini, mereka ikut membantu melindungi sesama warga dari virus yang mematikan itu.

Continue Reading

Nongkrong

Hasil Studi: Kucing Mengenali “Nama” Karena Imbalan

Published

on

Hasil Studi: Kucing Mengenali "Nama" Karena Imbalan
Hey Kitty! Iya, kamu. Sebuah studi menyatakan kucing peliharaan dapat memahami suara panggilan nama yang diberikan kepadanya.
Hasil Studi: Kucing Mengenali "Nama" Karena Imbalan
Hasil Studi: Kucing Mengenali “Nama” Karena Imbalan

Jadi kucing agak-agak mirip dengan anjing, dimana komunikasi dengan manusia telah banyak dipelajari, dan telah ditunjukkan bahwa mereka dapat mengenal ratusan kata apabila mereka terlatih dengan baik. Maaf, apabila perbandingan tadi membuat kamu tersinggung, Kitty.

Sama sekali tidak mengejutkan bagi anda atau kebanyakan pemelihara kucing, bukan? Namun para ilmuwan Jepang hari Kamis mengatakan bahwa mereka telah memberikan bukti percobaan pertama bahwa kucing dapat membedakan kata-kata yang diucapkan manusia.

Atsuko Saito dari Sophia University di Tokyo mengatakan tidak ada bukti bahwa kucing dapat menghubungkan kata-kata dengan maknanya, bahkan tidak juga pada nama-nama mereka sendiri. Sebaliknya, mereka belajar saat mereka mendengar nama-nama itu mereka mendapat imbalan seperti makanan atau mainan, atau sesuatu yang buruk seperti dibawa ke tempat praktek dokter hewan. Dan mereka banyak mendengar namanya disebut. Jadi suara itu menjadi spesial, bahkan saat mereka tidak paham bahwa suara itu merujuk pada identitas mereka.

Saito dan para koleganya menjelaskan hasil dari penelitian mereka dalam jurnal Scientific Reports. Dalam empat percobaan yang dilakukan pada 16 hingga 34 hewan, masing-masing kucing mendengar rekaman dari suaranya sendiri, atau suara orang lain, yang perlahan-lahan membacakan daftar empat kata benda atau nama-nama kucing lain, diikuti dengan nama kucing itu sendiri.

Banyak kucing awalnya bereaksi – seperti menggerak-gerakan kepalanya, telinganya atau ekornya – namun lama-lama mereka kehilangan minat saat kata-kata itu dibacakan. Pertanyaan krusial adalah apakah mereka lebih merespon pada namanya.

Seperti yang diperkirakan, rata-rata, kucing-kucing ini menjadi sangat riang saat mendengar nama-nama mereka.

Kristyn Vitale, yang mempelajari tingkah laku kucing dan ikatan antara kucing dan manusia di Oregon State University di Corvallis namun tidak ikut serta dalam studi ini, mengatakan hasilnya “sangat masuk akal bagi saya.”

Vitale, yang mengatakan ia telah melatih banyak kucing untuk merespon pada perintah lisan, sepakat bahwa hasil temuan baru tidak berarti kucing mengerti namanya sendiri. Namun, lebih karena ia dilatih untuk mengenali suara, ujarnya.

Monique Udell, yang juga mempelajari perilaku hewan di Oregon State, mengatakan hasil studi tersebut menunjukkan “kucing-kucing memberi perhatian pada anda, apa yang anda katakan dan apa yang anda lakukan, dan mereka belajar dari situ.” [ww/fw]

Continue Reading

Kumpulan Resep Masakan Enak

TRENDING