Connect with us

Mild Report

Sunat Perempuan: Praktik Purba yang Dilestarikan Tanpa Alasan

Published

on

Tanggal 6 Februari dikenal sebagai Hari Internasional Tidak Ada Toleransi bagi Mutilasi Alat Kelamin Perempuan (International Day Zero of Tolerance for Female Genital Mutilation). Indonesia ternyata masuk tiga besar negara di dunia yang mempraktikkannya.

Gencil News – Voa – Tanggal 6 Februari dikenal sebagai Hari Internasional Tidak Ada Toleransi bagi Mutilasi Alat Kelamin Perempuan (International Day Zero of Tolerance for Female Genital Mutilation). Indonesia ternyata masuk tiga besar negara di dunia yang mempraktikkannya.

Sunat atau khitan adalah aktivitas wajar dalam masyarakat Indonesia. Sejak lama, juru sunat secara merata berpraktik di tanah air, meski kini peran mereka banyak digantikan oleh dokter. Namun, yang terbayang setiap melihat papan nama juru sunat, tentu adalah anak kecil, laki-laki, dan memakai sarung yang berjalan tertatih. Kadang, sunat bahkan dirayakan dengan acara kesenian atau pertunjukan musik.

Padahal, sebagian anak perempuan Indonesia juga menjalani praktik sunat. Aktivitas ini tertutup dan tidak dirayakan, sebagaimana sunat anak laki-laki.

Menurut peneliti dari Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan (PSKK) UGM Yogyakarta, Sri Purwantiningsih, praktik ini terus terjadi.

“Terjadi reproduksi kultural dalam rumah tangga. Nenek yang disunat cenderung menyunat anaknya (Ibu) dan Ibu yang disunat oleh neneknya juga cenderung menyunat anaknya,” kata Sri Purwantiningsih.

Purwantiningsih menyampaikan itu ketika berbicara dalam diskusi “Membedah Mitos dan Fakta Tentang Sunat Perempuan” di PSKK UGM, Kamis (6/2). Diskusi ini diselenggarakan untuk memperingati 6 Februari, sebagai Hari Internasional Tidak Ada Toleransi bagi Mutilasi Alat Kelamin Perempuan. PSKK UGM menyebut sunat perempuan sebagai Pemotongan atau Perlukaan Genital Perempuan (P2GP).

Diskusi Membedah Mitos dan Fakta Tentang Sunat Perempuan di PSKK UGM, Kamis, 6 Februari 2020. (Foto: VOA/ Nurhadi)
Diskusi Membedah Mitos dan Fakta Tentang Sunat Perempuan di PSKK UGM, Kamis, 6 Februari 2020. (Foto: VOA/ Nurhadi)

Lembaga ini pernah melakukan penelitian pada 2017, dengan responden 4.250 rumah tangga di 10 provinsi di Indonesia. Terkuak bahwa 87,3 persen responden mendapatkan informasi sunat perempuan dari orang tua. Sebanyak 92,7 persen responden mengungkapkan perintah agama sebagai alasan sunat perempuan dan 84,1 persen karena alasan tradisi. Purwantiningsih juga menyebut, 97,8 persen responden mengatakan bahwa sunat perempuan perlu dilakukan.

Penelitian ini juga mengungkapkan, 45 persen tindakan sunat perempuan dilakukan dukun bayi, 38 persen oleh bidan, perawat atau mantri, 10 persen oleh dukun sunat perempuan, dan hanya 1 persen oleh dokter. Dari sisi alat, 84,6 persen dukun bayi melakukan sunat perempuan menggunakan pisau, cutter, atau silet. Sedangkan 3,9 persen menggunakan gunting dan 7,7 persen menggunakan jarum.

Menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013, tercatat 51 persen perempuan usia 0-11 tahun di Indonesia pernah disunat. Dari jumlah itu, 72,4 persen diantaranya disunat pada usia 1-5 bulan. Kemudian 13,9 persen disunat usia 1-5 bulan, 13,9 persen pada usia 1-4 tahun, dan 3,3 persen pada usia 5-11 tahun.

Agama Menjadi Alasan

Masyarakat menjadikan agama sebagai dasar melakukan sunat perempuan. Padahal menurut dosen Fakultas Syariah dan Hukum, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Hamim Ilyas, perintah langsungnya tidak ada. Ada beberapa kisah seputar sunat perempuan tetapi ulama sepakat mengelompokkannya sebagai sabda nabi yang lemah.

Dalam ajaran agama, sunat mulai dikenal pada masa Ibrahim. Dia adalah nabi yang dikenal tidak hanya dalam Islam, tetapi juga dalam agama-agama lain. Pada masa ini, sunat juga hanya dilakukan pada laki-laki. Hamim menyebut, mereka yang bersikeras melakukan sunat perempuan, adalah kelompok agama yang menafsirkan ajaran secara literal.

“Ini pasti kelompok keagamaan yang kembali pada ajaran agama secara literal, tidak menerima tafsir yang tidak literal. Saya yakin, tidak babalan ada NU dan Muhammadiyah menyelenggarakan khitanan massal perempuan, karena NU dan Muhammadiyah menerima tafsir yang kontekstual,” ujar Hamim.

Dalam ajaran Islam, dikisahkan bahwa Nabi Muhammad pernah menyinggung masalah ini. Sunat perempuan ketika itu sudah menjadi tradisi sebagai agama datang. Karena itu, Muhammad meminta kepada dukun sunat perempuan agar tidak melakukan pemotongan secara berlebihan. Dalam konteks saat ini, kata Hamim, di mana masyarakat sudah mampu berpikir obytektif, harus dilihat bahwa tidak ada alasan kemuliaan beragama bagi sunat perempuan.

Agama dijadikan dasar sunat perempuan, namun sebagian meyakini pemahaman itu keliru. (Foto: VOA/ Nurhadi)
Agama dijadikan dasar sunat perempuan, namun sebagian meyakini pemahaman itu keliru. (Foto: VOA/ Nurhadi)

Hamim juga menandaskan, ada perbedaan jelas dalam mazhab yang berkembang dalam Islam. Di dunia modern, semestinya persoalan ini didekati dengan “mazhab kenegaraan” di mana yang harus ditaati adalah keputusan pemerintah. Hamim mengibaratkan ini seperti lampu lalu lintas, di mana agama tidak mengajarkan orang berhenti ketika lampu berwarna merah, tetapi tanda ini wajib ditaati seluruh pemakai jalan.

“Peraturan Menteri Kesehatan sudah melarang, itu sebenarnya sudah jadi mazhab. Tetapi pemerintah nampaknya keder sama gertakan. Kalau pemerintahkekeh, kalau pemerintah berani, sebenarnya bisa. Tetapi nampaknya, belum berani karena masyarakat belum siap. Kita harus mengubah masyarakat kita, supaya anti khitan perempuan. Yang dilakukan dengan mentransformasikan paham agamanya, dan itu bukan mengubah ajaran agama. Yang diubah adalah pahamnya,” ujar Hamim.

Pemerintah Tidak Tegas

Aktivis Jaringan Perempuan Yogyakarta (JPY), Ika Ayu mengkritisi sikap pemerintah yang berubah-ubah terkait sunat perempuan. Ayu mencatat, pada 2006 ada larangan dari Kementerian Kesehatan terkait pemakaian fasilitas kesehatan pemerintah untuk praktik sunat perempuan. Dua tahun kemudian, muncul fatwa MUI yang juga menolak praktik ini. Namun, pada 2010 keluar Peraturan Menteri Kesehatan yang mencabut larangan yang dikeluarkan pada 2006 tadi.

Ika melanjutkan, pada 2014 keluar Permenkes yang berhubungan dengan kesehatan reproduksi, yang mencabut Permenkes 2010.

“Jadi, dari sepanjang perjalanan tahun ini, terlihat sekali bahwa pemerintah Indonesia ini tidak benar-benar punya sikap yang jelas, atas sunat perempuan ini. Melarang atau membolehkan tapi dengan syarat, atau mengatur yang tidak boleh dilakukan klinik pemerintah. Jadi sikap pemerintah Indonesia sebenarnya tidak pernah jelas, dalam pengaturan praktek sunat perempuan, yang dalam target SDG’s sudah masuk dalam praktek yang membahayakan,” kata Ika dalam diskusi ini.

Ketidakjelasan sikap itu, menurut Ika perlu ditanyakan kembali pada pemerintah.

“Hari ini peringatan hari nol toleransi terhadap praktik sunat perempuan, tetapi faktanya masih banyak. Bagaimana kemudian negara bisa menyediakan jaminan atas pemenuhan hak bagi setiap warganya, ya kita bisa mempertanyakan. Bagaimana sunat itu melanggar hak, karena dilakukan tanpa persetujuan atau konsen anak perempuan,” ujar Ika.

Alasan Harus Ditolak

Aktivis kesehatan reproduksi, Mukhotib MD yang juga menjadi pembicara diskusi mengatakan, ada banyak alasan praktik sunat perempuan harus ditolak. Dia menyebut, alasan pertama adalah karena tidak ada keuntungan secara medis.

“Tidak ada untungnya. Tidak membuat perempuan menjadi sehat. Kalau tidak ada keuntungan secara medis, kenapa harus dilakukkan perlukaan itu, apalagi sampai pemotongan,” ujar Mukhotib.

Praktik sunat perempuan juga melanggar hak anak. Pemotongan atau perlukaan genital jelas melanggar hak anak yang dijamin berbagai konvensi dan UU Perlindungan Anak. Anak-anak telah dijamin bebas dari praktik yang merusak dan menyakiti tanpa persetujuan, dan sunat dilakukan tanpa persetujuan. Sunat perempuan juga ditengarai menjadi langkah kontrol atas tubuh perempuan. Tindakan ini juga beresiko menimbulkan rasa tidak percaya diri, rendah diri, dan perasaan menjadi korban.

Mukhotib merekomendasikan beberapa langkah yang perlu dilakukan, diantaranya mengubah perspektif masyarakat. Norma dan nilai sosial terkait sunat perempuan harus diubah.

“Melarang tindakan di fasilitas kesehatan dan tenaga kesehatan pemerintah, setidak-tidaknya. Dalam Peraturan Dirjen tahun 2006, seluruh Faskes dan Nakes negara dilarang melakukan itu. ini minimal harus dilakukan,” kata Mukhotib.

Sayang aturan tahun 2006 itu justru sudah diganti beberapa kali dengan aturan diatasnya, yang tidak memiliki semangat sama.

Mukhotib juga melihat pentingnya pendidikan bagi masyarakat agar lebih sadar, dengan basis kaluarga dan budaya. Pendidikan terkait dampak sunat perempuan juga harus diajarkan di fakultas kedokteran dan juga akademi kebidanan, agar pemahaman tenaga kesehatan sudah dimiliki sejak dini.

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Nongkrong

Ketupat Colet, Menu Wajib Saat Lebaran Di Melayu Kayong Utara

Published

on

GENCIL NEWS – Ketupat Colet, Menu Wajib Saat Lebaran Di Melayu Kayong Utara. Ketupat colet merupakan menu wajib yang harus ada ketika lebaran, baik ketika Idul Adha maupun Idul Fitri. Meskipun begitu ketupat colet juga disajikan ketika ada acara seperti pindah rumah, syukuran dan acara lainnya.

Masyarakat Melayu Kayong Utara biasanya akan menyuguhkan ketupat colet ketika hari raya Idul Fitri hari pertama maupun kedua. Menurut masyarakat melayu Kayong Utara, tak lengkap rasanya jika tidak ada ketupat colet dalam menu lebaran.

Untuk ketupat colet khas melayu ini memiliki berbagai bentuk seperti; ketupat biasa, ketupat bawang merah, ketupat bawang putih, ketupat jontong, ketupat ketam, ketupat kumbek dan masih banyak bentuk ketupat lainnya.

Cara makan ketupat colet pada umumnya masyarakat Melayu Kayong Utara langsung memakannya tanpa menggunakan sendok, hal ini sebagai simbol kebersamaan dan kesederhanaan keluarga. Di dalam masyarakat Melayu Kayong Utara, seorang wanita harus dapat membuat kupat, karena jika tidak maka wanita tersebut akan di anggap pemalas.

Untuk cara membuat ketupat colet, sama seperti membuat ketupat pada umumnya, yaitu dengan menganyam daun kelapa. Biasnya masyarakat Melayu Kayong Utara, menyajikan ketupat colet dengan lauk pauk seperti rendang, daging ayam, ikan tenggiri, ikan pari, ikan teri, ikan roman dan lauk pauk lainnya.

Meskipun ketupat colet menjadi menu wajib atau makanan khas ketika lebaran bagi masyarakat Melayu Kayong Utara, namun ketupat colet juga bisa anda temukan di beberapa warung makan di Kayong Utara.

Continue Reading

Bisnis

Tempat-tempat Kerja Beralih Peran untuk Perangi Virus Corona

Published

on

Ketika permintaan akan barang dan jasa anjlok karena penyebaran COVID-19, perusahaan-perusahaan di seluruh dunia mengalihkan ruang kerja mereka untuk membuat produk-produk bagi pekerja garis depan dalam perang melawan virus corona.

Dari produsen mobil balap di Inggris, hingga gerobak makanan di Afghanistan, upaya global ini melibatkan perusahaan besar dan kecil.

Produsen sarung tangan mewah di Perancis mengadaptasi pabriknya untuk membuat sarung tangan kain yang bisa dicuci bagi pekerja yang berada di garis depan dalam penanggulangan COVID-19, penyakit yang diakibatkan virus corona.

Presiden perusahaan itu, Agnelle, Sophie Gregoire mengatakan, “Ketika mulai ada pembicaraan tentang diakhirinya karantina, dan ingin membuat orang merasa aman, kami berbicara banyak tentang masker, dan saya berkata pada diri sendiri bahwa kami juga harus berpartisipasi dalam upaya ini. Jadi, sempat terpikir untuk membuat masker, tetapi menurut saya banyak orang yang bisa membuat masker, sedangkan membuat sarung tangan jauh lebih sulit.”

Beberapa perusahaan minuman keras beralih meproduksi gel penyanitasi tangan selama pandemi (foto: ilustrasi).
Beberapa perusahaan minuman keras beralih meproduksi gel penyanitasi tangan selama pandemi (foto: ilustrasi).

Di Inggris, buruh produsen mobil balap memproduksi ventilator dan alat tes untuk rumah sakit di seluruh negara itu.

McLaren adalah satu dari banyak perusahaan yang mengalihkan operasinya, menjawab prakarsa pemerintah, membuat ventilator.

Richard Wilcox, Teknisi Otomotif McLaren mengatakan, “Bagi saya, menjadi sukarelawan dan melakukan sesuatu yang benar-benar bisa membantu, adalah faktor motivasi yang besar.”

Di Belgia, tim peneliti menggunakan pencetakan tiga dimensi (3D) untuk membuat plastik yang bisa mengubah masker selam menjadi pelindung wajah bagi staf medis agar tidak tertular virus corona.

Pabrik mobil Ford ikut memproduksi ventilator selama pandemi.
Pabrik mobil Ford ikut memproduksi ventilator selama pandemi.

Benedicte Geniets, dokter anestesi di Rumah Sakit Antwerp mengatakan, “Saya dan rekan-rekan khawatir, mungkin pada satu saat, akan kekurangan bahan, jadi kami mencoba mencari alternatif.”

Di Afghanistan, penjual makanan Marzia Sikandar mengenakan pelindung dari ujung rambut sampai kaki ketika menjajakan makanannya di jalan. Tetapi, kali ini ia tidak menawarkan burger, melainkan menyediakan tempat cuci tangan, menyemprot orang dengan disinfektan dan membagikan masker.

Marzia Sikandar mengatakan, “Kami memiliki bahan sanitasi dan masker di mobil gerobak, dan kami membagikan 60 hingga 70 masker sehari. Kami menjelaskan tentang masalah kesehatan ini kepada orang-orang dan menyarankan mereka agar mencuci tangan.”

Sekitar 40 kendaraan bertenaga surya mirip bajaj di Kabul telah dialihkan menjadi kendaraan penyemprot disinfektan dalam upaya menghentikan penyebaran virus corona.

Pemerintah menyediakan dana untuk mengubah kendaraan itu dan juga membiayai pembelian pasokan disinfektan, masker, dan gaji para pekerja itu.

Kala pandemi virus corona terkendali, warga yang berkorban itu berharap kembali ke pekerjaan rutin mereka. Tetapi, sementara ini, mereka ikut membantu melindungi sesama warga dari virus yang mematikan itu.

Continue Reading

Nongkrong

Hasil Studi: Kucing Mengenali “Nama” Karena Imbalan

Published

on

Hasil Studi: Kucing Mengenali "Nama" Karena Imbalan
Hey Kitty! Iya, kamu. Sebuah studi menyatakan kucing peliharaan dapat memahami suara panggilan nama yang diberikan kepadanya.
Hasil Studi: Kucing Mengenali "Nama" Karena Imbalan
Hasil Studi: Kucing Mengenali “Nama” Karena Imbalan

Jadi kucing agak-agak mirip dengan anjing, dimana komunikasi dengan manusia telah banyak dipelajari, dan telah ditunjukkan bahwa mereka dapat mengenal ratusan kata apabila mereka terlatih dengan baik. Maaf, apabila perbandingan tadi membuat kamu tersinggung, Kitty.

Sama sekali tidak mengejutkan bagi anda atau kebanyakan pemelihara kucing, bukan? Namun para ilmuwan Jepang hari Kamis mengatakan bahwa mereka telah memberikan bukti percobaan pertama bahwa kucing dapat membedakan kata-kata yang diucapkan manusia.

Atsuko Saito dari Sophia University di Tokyo mengatakan tidak ada bukti bahwa kucing dapat menghubungkan kata-kata dengan maknanya, bahkan tidak juga pada nama-nama mereka sendiri. Sebaliknya, mereka belajar saat mereka mendengar nama-nama itu mereka mendapat imbalan seperti makanan atau mainan, atau sesuatu yang buruk seperti dibawa ke tempat praktek dokter hewan. Dan mereka banyak mendengar namanya disebut. Jadi suara itu menjadi spesial, bahkan saat mereka tidak paham bahwa suara itu merujuk pada identitas mereka.

Saito dan para koleganya menjelaskan hasil dari penelitian mereka dalam jurnal Scientific Reports. Dalam empat percobaan yang dilakukan pada 16 hingga 34 hewan, masing-masing kucing mendengar rekaman dari suaranya sendiri, atau suara orang lain, yang perlahan-lahan membacakan daftar empat kata benda atau nama-nama kucing lain, diikuti dengan nama kucing itu sendiri.

Banyak kucing awalnya bereaksi – seperti menggerak-gerakan kepalanya, telinganya atau ekornya – namun lama-lama mereka kehilangan minat saat kata-kata itu dibacakan. Pertanyaan krusial adalah apakah mereka lebih merespon pada namanya.

Seperti yang diperkirakan, rata-rata, kucing-kucing ini menjadi sangat riang saat mendengar nama-nama mereka.

Kristyn Vitale, yang mempelajari tingkah laku kucing dan ikatan antara kucing dan manusia di Oregon State University di Corvallis namun tidak ikut serta dalam studi ini, mengatakan hasilnya “sangat masuk akal bagi saya.”

Vitale, yang mengatakan ia telah melatih banyak kucing untuk merespon pada perintah lisan, sepakat bahwa hasil temuan baru tidak berarti kucing mengerti namanya sendiri. Namun, lebih karena ia dilatih untuk mengenali suara, ujarnya.

Monique Udell, yang juga mempelajari perilaku hewan di Oregon State, mengatakan hasil studi tersebut menunjukkan “kucing-kucing memberi perhatian pada anda, apa yang anda katakan dan apa yang anda lakukan, dan mereka belajar dari situ.” [ww/fw]

Continue Reading

Kumpulan Resep Masakan Enak

TRENDING