Serba Serbi Kehidupan Kampus di Amerika

Serba Serbi Kehidupan Kampus di Amerika
Para siswa dari grup band sekolah menengah atas Battle High School di Columbia, Missouri, berdarmawisata sekaligus tampil di Washington, D.C. (Foto: VOA/Videograb)

Serba Serbi Kehidupan Kampus di Amerika -Banyak mahasiswa yang memasuki jenjang perguruan tinggi memiliki anggapan mereka siap menghadapi tantangan akademik berikutnya. Di Amerika, perguruan tinggi memberikan bantuan bimbingan kepada para mahasiswanya untuk mempermudah mereka dalam beradaptasi.

Sebagian mahasiswa menganggap diterimanya mereka di perguruan tinggi secara otomatis diikuti dengan kesiapan mereka untuk kuliah. Padahal menurut Fuji Lozada, Direktur Pusat Pengajaran dan Pembelajaran John Crosland Jr Davidson College di Davidson, North Carolina, sesungguhnya hampir setiap siswa membutuhkan bantuan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan akademik yang baru.

Michael Christenssen, mahasiswa perguruan tinggi NOVA mengatakan transisi dari SMU ke perguruan tinggi tidak semudah yang dibayangkan.

Seperti halnya NOVA, Crosland Center di Davidson mirip dengan pusat bimbingan di banyak perguruan tinggi yang dirancang untuk membantu pencapaian mahasiswa. Pusat bimbingan ini melatih sesama mahasiswa sebaya untuk membantu mahasiswa lain. Menurut Fuji Lozada, dengan membantu orang lain di bidangnya maka secara tidak langsung akan memperkuat pemahaman mereka sendiri mengenai bidang studi yang mereka tekuni.

Baca juga   Uniknya Ospek di Ubaya, 2400 Mahasiswa Baru Bikin Wayang Kertas

“Ketika siswa pertama kali masuk ke perguruan tinggi, mereka masih berpikiran berada di sini untuk belajar sendiri. Tapi masalah akademik merupakan sebuah kerjasama tim,” kata Fuji Lozada.

Mahasiswa memanfaatkan program bimbingan yang disediakan perguruan tinggi.

“Saya mengambilnya di tahun pertama, membantu saya memulai perguruan tinggi dan mengelola hidup saya sendiri. Tanpa program itu saya tidak akan tahu ke mana harus pergi,” ujar Christenssen.

Menulis adalah salah satu bidang yang dianggap menyulitkan bagi mahasiswa. Sebagian besar SMU Amerika mengajarkan siswa bentuk tulisan yang lebih pendek, seperti bentuk esai lima paragraf. Sementara para profesor di perguruan tinggi mengharapkan para mahasiswanya bisa menulis mengenai mata kuliah yang jauh lebih panjang dan dalam. Mereka mengharapkan siswa untuk mempresentasikan argumen rumit yang didukung oleh banyak penelitian. Mahasiswa yang berbakat dalam disiplin ilmu lain tetapi tidak bisa menulis di tingkat perguruan tinggi mungkin bisa tertinggal, kata Lozada.

Baca juga   Aktivis Remaja Greta Thurnberg Marahi Pemimpin Dunia di KTT Iklim PBB

Mahasiswa internasional mungkin menemui kesulitan untuk menulis dalam bentuk seperti yang diharapkan oleh profesor Amerika, meskipun sebetulnya kemampuan bahasa Inggris mereka umumnya bagus. Hal ini dikarenakan perguruan tinggi dan universitas di Amerika Serikat memiliki aturan ketat terkait penelitian luar negeri. Para profesor menginginkan para mahasiswanya untuk menerapkan analisa kritis sambil menguji semua penelitian.

Christenssen mengambil jurusan Ilmu Komputer, meskipun kampusnya tidak menawarkan bantuan khusus untuk studinya, ia mendapat manfaat dari bimbingan belajar.

“Saya kira satu-satunya yang mereka miliki terkait bidang saya adalah program bimbingan gratis. Kita bisa pergi ke perpustakaan selama satu jam dan mendapat bimbingan gratis mengenai jurusan apa saja,” kata Christenssen.

Lozada menunjukkan bahwa perguruan tinggi dan universitas tidak ingin mahasiswa mereka gagal. Sebagian mahasiswa mungkin tidak menyadari bahwa perguruan tinggi mereka memiliki program dan kantor pendukung seperti Crosland Center di Davidson, yang siap membantu. Meski demikian, ada juga mahasiswa yang takut mengakui bahwa mereka sebenarnya membutuhkan bantuan.

Penulis : ab
Editor : Gencil News
Sumber : voa