Mimbar Islam

Bisa Jatuh Talak, Jangan Berkata Kepada Istri, Pulanglah Kamu Ke Rumah Orang Tuamu

Bisa Jatuh Talak, Jangan Berkata Kepada Istri, Pulanglah Kamu Ke Rumah Orang Tuamu

GENCIL NEWS – Bisa Jatuh Talak, Jangan Berkata Kepada Istri, Pulanglah Kamu Ke Rumah Orang Tuamu. Nasehatku Buat Para Suami, Agar lebih hati-hati dalam berucap dan Jangan Berkata Kepada Istri ketika terjadi keretakan dalam rumah tangga.

Yaitu kata Talak, baik yang Shorih (Lugas/Jelas) maupun Lafadz Talak Secara Kinayah yaitu Lafadz kiasan atau Sindiran.

Seperti:

Aku Talak Kamu (Lafadz Shorih)

Pulanglah Ke Rumah Orang Tuamu (Lafadz Kinayah)

(Aku pulangkamu kerumah orang tuamu baru tau rasa (Lafadz Kinayah)

Masih banyak lagi lafadz Talak kinayah yang semua itu bisa jatuh Talak.

Memang, terkadang suami melontarkan perkataan tersebut kepada istrinya ketika terjadi perselisihan atau ketika marah kepadanya. 

Yang menjadi masalah, apakah perkataan semacam ini termasuk lafal talak?  

Mari kita simak penjelasan Syaikh Shalih al-Fauzan berikut,

“Masalah ini kembali kepada niat orang tersebut. Apabila ia meniatkan talak dengan ucapannya tadi maka ucapannya dianggap lafal talak, sebab lafal tersebut termasuk lafal kinayah (sindiran), sedangkan lafal-lafal kinayah merupakan lafal talak yang tidak sharih (lugas), yang makna lafal tersebut hanya jatuh bila diniatkan. 

Kesimpulannya, apabila ia meniatkan dengan ucapannya, “Sesungguhnya rumah ayah terbuka lebar (dan semisalnya – red),” adalah talak, maka ucapan tersebut dianggap talak. Namun, apabila ia tidak meniatkannya, maka talak tidak jatuh pada sang istri.” (Fatwa Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah al-Fauzan dalam al-Muntaqa min Fatawa, 5/278)

Baca juga   Sejarah Es Batu Dulu Hanya Dikonsumsi Oleh Orang Kaya

Syaikh Wahbah Az Zuhaili dalam kitabnya Al Fiqh Al Islami wa Adillatuhu menjelaskan bahwa; Ucapan (lafazh) yang digunakan untuk menjatuhkan talak ada dua macam, yaitu ucapan yang sharih (jelas) dan ucapan yang kinayah (sindiran). Ucapan itu bisa jadi berupa ucapan berbahasa Arab ataupun selain bahasa Arab yang menurut bahasa (lughah) dan kebiasaan (‘urf) digunakan untuk menjatuhkan talak, baik itu diucapkan langsung (bil lafzhi), atau dengan tulisan (bil kitabah), atau dengan isyarat (bil isyarah). (Wahbah Az Zuhaili, Al Fiqh Al Islami wa Adillatuhu, 9/356; Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah, 29/17)

Dua macam ucapan (lafazh) talak tersebut adalah; 

Pertama, Ucapan talak yang sharih (jelas), yaitu ucapan yang jelas maksudnya dan menurut kebiasaan digunakan untuk menjatuhkan talak, seperti kata “thalaaq” (bahasa Arab), “talak” atau “cerai” (bahasa Indonesia), atau “pegat” (bahasa Jawa), dan sebagainya.

Misalnya, Suami mengucapkan kepada istrinya dalam bahasa Arab, “Thallaqtuki” (kamu saya talak), atau dalam bahwa Indonesia, ”Kamu saya talak.” Atau dalam bahasa Jawa, ”Kowe tak pegat” (Kamu saya ceraikan)

Hukum ucapan talak yang sharih seperti ini adalah bahwa talak dihukumi l telah jatuh menurut kesepakatan seluruh fukaha, tanpa melihat lagi niat dari suami ketika mengucapkannya.

Artinya, baik suami berniat menceraikan atau tidak, talak tetap jatuh. Maka pada saat suami mengatakan kepada istrinya, ”Kamu saya talak,” talak dihukumi telah jatuh walaupun suami mengklaim bahwa dia sebenarnya tidak berniat menjatuhkan talak. (Wahbah Az Zuhaili, Al Fiqh Al Islami wa Adillatuhu, 9/358; Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah, 29/18, Musthofa bin Al ‘Adawi, Ahkam Al Thalaq fi Al Syari’ah Al Islamiyyah, hlm. 34)

Baca juga   Marquez Diprediksi Bisa Balapan, Lengan Kanan Mulai Membaik

Kedua, Ucapan talak kinayah (sindiran), yaitu ucapan yang bisa berarti talak namun juga bisa berarti bukan talak dan masyarakat tidak biasa menggunakan ucapan itu untuk menjatuhkan talak.

Misalkan: Ucapan suami kepada istrinya, ”Pulanglah kamu ke keluargamu,” (Arab: ilhaqiy bi-ahliki), atau ucapan suami kepada istrinya, ”Keluar kamu dari rumah ini,” atau, ”Pergi kamu,” dan sebagainya. (Wahbah Az Zuhaili, Al Fiqh Al Islami wa Adillatuhu, 9/358; Musthofa bin Al ‘Adawi, Ahkam Al Thalaq fi Al Syari’ah Al Islamiyyah, hlm. 35).

Hukum ucapan talak kinayah ini adalah bahwa talak tidak jatuh, kecuali jika disertai niat untuk menceraikan.

Alasannya, Karena ucapan talak secara kinayah ini memang mengandung dua kemungkinan makna, yaitu bisa berarti menjatuhkan talak atau bisa juga tidak menjatuhkan talak.

Misalnya ucapan suami kepada istrinya, ”Pulanglah kamu ke rumah orang tuamu,” bisa jadi suami bermaksud menceraikan namun bisa jadi suami tak bermaksud menceraikan namun hanya menyuruh istrinya pulang ke rumah orang tuanya karena kesal.

Baca juga   Hukum Pinjam Uang Masjid

Maka dari itu, ucapan talak kinayah ini tidak berarti menjatuhkan talak, kecuali disertai niat dari suami untuk menceraikan. Ini juga disepakati seluruh fukaha. (Wahbah Az Zuhaili, Al Fiqh Al Islami wa Adillatuhu, 9/359; Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah, 29/18)

Jika seorang suami mengklaim di hadapan hakim (qadhi), bahwa dia sebenarnya tidak meniatkan cerai ketika mengucapkan talak secara kinayah, klaimnya diterima, yakni hakim memutuskan tidak jatuh talak, asalkan suami mengucapkan sumpah di hadapan hakim.

Jika suami mengklaim tak berniat menceraikan tapi tak berani bersumpah, maka klaimnya tak diterima dan hakim memutuskan bahwa talaknya telah jatuh. (Wahbah Az Zuhaili, Al Fiqh Al Islami wa Adillatuhu, 9/359)

Kesimpulannya, Ucapan suami kepada istrinya, ”Pulang saja kamu ke rumah orang tuamu,” termasuk ucapan talak secara kinayah (sindiran) dan talaknya dihukumi jatuh jika suami memang berniat menceraikan. Jika tak berniat menceraikan, talaknya tidak jatuh. 

Wallaahu A’lam Bish-Showwaab… Wallaahu Waliyyut Taufiq

Demikian Faedah Ilmiyah dan Mau’izhoh Hasanah pada hari ini. Semoga bisa memberikan manfaat untuk kita semua, serta bisa sebagai acuan untuk senantiasa memperbaiki amal kita diatas sunnah Nabi Shollallaahu ‘Alaihi Wa Sallam dan Tidak berbicara agama dengan menggunakan Akal dan Hawa Nafsu melainkan dg Dalil Yang Shohih. (Abu Hashif Wahyudin Al-Bimawi)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

TERPOPULER

To Top