FOTO Suasana Idul Adha di Kota Pontianak – Gencil News
Connect with us

Mimbar Islam

FOTO Suasana Idul Adha di Kota Pontianak

Published

on

FOTO Suasana Idul Adha di Kota Pontianak
Selamat Hari Raya Idul Adha 1441 H/2020 H taqabbalallahu minna wa minkum Mohon Maaf Lahir Bathin - Foto by gencil news 2020

GENCIL NEWS – FOTO Suasana Idul Adha di Kota Pontianak. Idul Adha 1441 H Tahun 2020 jatuh pada hari jumat (31/072020). Suasana Idul Adha dalam situasi pandemi Covid-19 ini, mengharuskan masyarakat untuk patuh terhadap protokol kesehatan.

Mesjid yang menyelenggarakan Sholat Ied Idul Adha menerapkan protokol kesehatan. Terlihat masyarakat patuh mengenakan masker dan membawa sajadah sendiri.

Mesjid Attaw wabin jalan merdeka timur pontianak
gencil news 2020
Mesjid Al -Jamaah Jalan Surya Pontianak
gencil NEws 2020
Mesjid Sirajul Islam Jalan Merdeka Barat Pontianak
gencil news 2020
usai sholat Ied idul Adha di Mesjid Sirajul Islam Jalan Merdeka Barat
usai sholat Ied idul Adha di Taman Alun Kapuas Pontianak

Selamat Hari Raya Idul Adha 1441 H/2020 H
taqabbalallahu minna wa minkum
Mohon Maaf Lahir Bathin

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Mimbar Islam

Keutamaan Tawakal yang Punya Banyak Hikmah Dalam Hidup

Published

on

Keutamaan Tawakal yang Punya Banyak Hikmah Dalam Hidup

Tawakal berarti berserah sepenuhnya kepada Allah dalam menghadapi atau menunggu hasil suatu pekerjaan, atau menanti akibat dari suatu keadaan.

Kata tawakal berasal dari bahasa Arab dengan kata dasarnya wakilun. Dalam kamus-kamus bahasa, seperti kamus Al-Munjid menyebutkan, kata wakil/wakilun artinya menyerahkan, membiarkan, serta merasa cukup.

Tawakal bukan berarti penyerahan mutlak nasib manusia kepada Allah semata. Namun penyerahan tersebut harus ada usaha secara manusiawi.

Dalam QS. Al-Maaidah [5]:23, “Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.”

Mengutip dari islam.nu.or.id, menyebutkan banyak hikmah dalam hidup:

Orang yang bertawakal kepada Allah akan mendapatkan perlindungan , pertolongan dan bahkan anugerah dari Allah SWT sebagaimana ada dalam Surah Al-Anfal ayat 49 yang berbunyi:

Artinya: “Barangsiapa yang tawakkal kepada Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

Orang yang bertawakal kepada Allah SWT akan mendapatkan kebaikan dunia dan akhirat sebagaimana ada dalam Surah An-Nahl, ayat 41-42:

وَالَّذِيۡنَ هَاجَرُوۡا فِى اللّٰهِ مِنۡۢ بَعۡدِ مَا ظُلِمُوۡا لَـنُبَوِّئَنَّهُمۡ فِى الدُّنۡيَا حَسَنَةً‌  ؕ وَلَاَجۡرُ الۡاٰخِرَةِ اَكۡبَرُ‌ۘ لَوۡ كَانُوۡا يَعۡلَمُوۡنَۙ

الَّذِيۡنَ صَبَرُوۡا وَعَلٰى رَبِّهِمۡ يَتَوَكَّلُوۡنَ

Artinya: 41 “Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah sesudah mereka teraniaya, pasti Kami akan memberikan tempat yang bagus kepada mereka di dunia. 42 (yaitu) orang yang sabar dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal.

Dan sesungguhnya pahala akhirat adalah lebih besar, kalau mereka mengetahui, (yaitu) orang-orang yang sabar dan hanya kepada Allah saja mereka bertawakkal.”

Orang yang bertawakal hidupnya akan Allah SWT cukupkan sebagaimana dalam dalam Surah Ath-Thalaaq ayat 3:

وَّيَرۡزُقۡهُ مِنۡ حَيۡثُ لَا يَحۡتَسِبُ‌ ؕ وَمَنۡ يَّتَوَكَّلۡ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسۡبُهٗ ؕ اِنَّ اللّٰهَ بَالِغُ اَمۡرِهٖ‌ ؕ

قَدۡ جَعَلَ اللّٰهُ لِكُلِّ شَىۡءٍ قَدۡرًا

Artinya: “Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya.”

Continue Reading

Mimbar Islam

Khutbah Jumat : 23 Juli 2020M / 13 Dzul Hijjah 1442 H

Published

on

Khutbah Jumat
Khutbah Jumat : 23 Juli 2020M / 13 Dzul Hijjah 1442 H 📸 shutterstock premium 302716745

Assalamu’alaikum wr.wb
Hadirin Rahimakumullah
Selain Ramadhan, dalam Islam ada satu bulan lagi yang memiliki keistimewaan yakni bulan Dzulhijjah. Di antara keistimewaan bulan Dzulhijjah terletak di 10 hari pertama. Sebagaimana diriwayatkan dalam hadits Imam at Tirmidzi, Rasulullah SAW bersabda:

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ ». يَعْنِى أَيَّامَ الْعَشْرِ. قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ « وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ ».


“Tidak ada satu amal sholeh yang lebih dicintai Allah SWT melebihi amal sholeh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzulhijjah).” Para sahabat bertanya: “Tidak pula jihad di jalan Allah SWT?” Rasulullah SAW menjawab, “Tidak pula jihad di jalan Allah SWT, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satupun.”

Allah SWT berfirman dalam surat Al-Fajr ayat 2:


وَلَيَالٍ عَشْرٍ
 

“Dan demi malam-malam yang sepuluh.”

Selain keistimewaan tersebut, ada sebuah hadits yang menjelaskan tentang amalan kecintaan Allah SWT. Hadits tersebut adalah riwayat Imam Bukhari dari Sayyidina Abdullah ibn’Abbas, Rasulullah SAW bersabda:
“Tidaklah ada hari-hari yang amal shalih di dalamnya lebih Allah cintai dari hari-hari ini (maksudnya sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah).

Berikut amalan yang bisa dilakukan umat Islam di bulan Dzulhijjah:
1. Puasa
Puasa Arafah menjadi salah satu ibadah yang sebaiknya dilakukan tiap muslim di bulan Dzulhijjah. Ibadah puasa sebelum Idul Adha 10 Dzulhijjah yaitu pada 9 Dzulhijjah

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ
 

“Puasa Arafah (9 Dzulhijjah) dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyuro (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (HR Muslim).

Selain puasa Arafah, muslim juga bisa melakukan ibadah sejenis lainnya misal puasa Senin-Kamis.
Ada juga sejumlah ulama yang berpendapat puasa sunah dimulai dari tanggal 1 hingga 9 Dzulhijjah. Sebagaimana Imam An Nawawi mengatakan dalam Kitab Al Majmu’ jilid 6, “Dan di antara puasa sunnah juga adalah puasa sembilan hari pertama bulan Dzulhijjah.”

Dalam kitab Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab Imam An-Nawawi juga kemudian memberikan dalil shahih mengenai syariat puasa tersebut. Yaitu hadits yang diriwayatkan Imam Abu Daud dari Hunaidah ibn Khalid dan istri-istri Nabi SAW berikut:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَصُومُ تِسْعَ ذِى الْحِجَّةِ وَيَوْمَ عَاشُورَاءَ وَثَلاَثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ أَوَّلَ اثْنَيْنِ مِنَ الشَّهْرِ وَالْخَمِيسَ
 

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada sembilan hari awal Dzulhijah, pada hari Asyura (10 Muharram), berpuasa tiga hari setiap bulannya, awal bulan di hari Senin dan Kamis.” (HR Abu Daud).

2. Memperbanyak takbir dan dzikir
Setiap muslim bisa memperbanyak takbir dan dzikir di bulan Dzulhijjah, misal memanfaatkan momen sebelum sholat Idul Adha. Takbir dan dzikir bisa dilakukan juga dalam kegiatan sehari-hari

وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِى أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ أَيَّامُ الْعَشْرِ ، وَالأَيَّامُ الْمَعْدُودَاتُ أَيَّامُ التَّشْرِيقِ . وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ وَأَبُو هُرَيْرَةَ يَخْرُجَانِ إِلَى السُّوقِ فِى أَيَّامِ الْعَشْرِ يُكَبِّرَانِ ، وَيُكَبِّرُ النَّاسُ بِتَكْبِيرِهِمَا . وَكَبَّرَ مُحَمَّدُ بْنُ عَلِىٍّ خَلْفَ النَّافِلَةِ .
 

Ibnu Abbas berkata, “Berdzikirlah kalian pada Allah di hari-hari yang ditentukan yaitu 10 hari pertama Dzulhijah dan juga pada hari-hari tasyriq.” Ibnu ‘Umar dan Abu Hurairah pernah keluar ke pasar pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah, lalu mereka bertakbir, lantas manusia pun ikut bertakbir. Muhammad bin ‘Ali pun bertakbir setelah shalat sunnah. (HR Bukhari).

3. Menunaikan haji dan umroh
Bagi muslim yang mampu, haji dan umroh menjadi amalan yang dilakukan di bulan Dzulhijjah. Haji hukumnya wajib dan dilaksanakan sekali seumur hidup bagi yang mampu. Keutamaan haji tercantum dalam hadits yang dijelaskan Nabi Muhammad SAW

سُئِلَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – أَىُّ الأَعْمَالِ أَفْضَلُ قَالَ « إِيمَانٌ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ » . قِيلَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ « جِهَادٌ فِى سَبِيلِ اللَّهِ » . قِيلَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ « حَجٌّ مَبْرُورٌ
 

Rasulullah SAW ditanya, “Amalan apa yang paling afdhol?” Beliau menjawab, “Beriman kepada Allah SWT dan Rasul-Nya.” Ada yang bertanya lagi, “Kemudian apa lagi?” Beliau menjawab, “Jihad di jalan Allah SWT.” Ada yang bertanya kembali, “Kemudian apa lagi?” “Haji mabrur,” jawab Rasulullah SAW. (HR Bukhari).

Ibadah umroh dijelaskan bisa menghapus kefakiran dan dosa

تَابِعُوا بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ فَإِنَّهُمَا يَنْفِيَانِ الْفَقْرَ وَالذُّنُوبَ كَمَا يَنْفِى الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ وَالذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَلَيْسَ لِلْحَجَّةِ الْمَبْرُورَةِ ثَوَابٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ
 

“Ikutkanlah umroh kepada haji, karena keduanya menghilangkan kemiskinan dan dosa-dosa sebagaimana pembakaran menghilangkan karat pada besi, emas, dan perak. Sementara tidak ada pahala bagi haji yang mabrur kecuali surga.” (HR An Nasai).

4. Qurban
Ibadah qurban sebaiknya dilakukan tiap muslim yang mampu di bulan Dzulhijjah saat perayaan Idul Adha. Dalam hadist dijelaskan, qurban adalah salah satu amalan yang dicintai Allah SWT

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « مَا عَمِلَ ابْنُ آدَمَ يَوْمَ النَّحْرِ عَمَلاً أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ هِرَاقَةِ دَمٍ وَإِنَّهُ لَيَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِقُرُونِهَا وَأَظْلاَفِهَا وَأَشْعَارِهَا وَإِنَّ الدَّمَ لَيَقَعُ مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ بِمَكَانٍ قَبْلَ أَنْ يَقَعَ عَلَى الأَرْضِ فَطِيبُوا بِهَا نَفْسًا »
 

Dinarasikan Aisyah, Rasulullah SAW mengatakan, “Tidaklah pada hari nahr manusia beramal suatu amalan yang lebih dicintai Allah SWT daripada mengalirkan darah dari hewan kurban. Ia akan datang pada hari kiamat dengan tanduk, kuku, rambut hewan kurban tersebut. Dan sungguh, darah tersebut akan sampai kepada (ridho) Allah SWT sebelum tetesan darah tersebut jatuh ke bumi, maka bersihkanlah jiwa kalian dengan berkurban.” (HR Tirmidzi).

5. Taubat
Sebagai tempatnya salah, manusia tidak bisa lepas dari dosa dalam tiap kesempatan. Allah SWT telah membuka kesempatan taubat bagi tiap hambaNya yang berharap pengampunan dari Allah SWT

قَالَ اللَّهُ يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِى وَرَجَوْتَنِى غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيكَ وَلاَ أُبَالِى يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِى غَفَرْتُ لَكَ وَلاَ أُبَالِى يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِى بِقُرَابِ الأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِى لاَ تُشْرِكُ بِى شَيْئًا لأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً
 

“Wahai anak Adam, sesungguhnya jika engkau menyeru dan mengharap padaKu, maka pasti Aku ampuni dosa-dosamu tanpa Aku pedulikan. Wahai anak Adam, seandainya dosamu membumbung tinggi hingga ke langit, tentu akan Aku ampuni, tanpa Aku pedulikan. Wahai anak Adam, seandainya seandainya engkau mendatangiKu dengan dosa sepenuh bumi dalam keadaan tidak berbuat syirik sedikit pun padaKu, tentu Aku akan mendatangiMu dengan ampunan sepenuh bumi pula.” (HR Tirmidzi).

6. Meningkatkan amalan sholeh lainnya
Selain yang telah disebutkan, tiap muslim sebaiknya meningkatkan amalan sholeh lainnya di bulan Dzulhijjah. Amalan ini misalnya meningkatkan sholat sunah, sedekah, membaca Al-Qur’an, dan menjalin tali silaturahmi. Saat mengerjakan amal sholeh jangan lupa selalu berdoa supaya Allah selalu memberi kesehatan, keselamatan, dan perlindungan menghadapi COVID-19.

7. Dzikir
Sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah dengan memperbanyak dzikir kepada Allah SWT. Rasulullah Saw secara tegas memerintahkan kita memperbanyak dzikir tahlil, takbir, tasbih dan tahmid.

8. Sholat
Sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah bisa dijadikan sebagai momentum untuk semakin memperkuat semangat dan melaksanakan sholat dengan cara terbaik. Ada satu jenis sholat khusus yakni hari raya Idul Adha. Yang dalam surat Al Kautsar, kita diperintahkan di hari itu untuk melaksanakan sholat Idul Adha.

sumber : https://bdkbandung.kemenag.go.id/

Continue Reading

Mimbar Islam

Prokes akibat Pandemi Tingkatkan Biaya Ibadah Haji 2021

Published

on

Prokes akibat Pandemi Tingkatkan Biaya Ibadah Haji 2021

Ibadah Haji pada 2021 atau 1442 Hijriah adalah kedua kalinya Pemerintah Arab Saudi membatasi jumlah jemaah haji. Namun bedanya selain jumlah jemaah yang hanya ribuan dan tak sampai dua juta seperti biasanya, para jemaah dikenakan biaya dengan harga yang lebih mahal dengan prokes ketat.

Continue Reading

Mimbar Islam

WNI Terpilih Sebagai Jemaah Haji, Ungkapkan “Pelayanannya Luar Biasa”

Pemerintah Arab Saudi mengizinkan 60 ribu warga dan penduduknya menunaikan ibadah haji tahun ini. Dari jumlah itu, 0,5 persen adalah warga Indonesia. Mereka mengungkapkan rasa syukur bisa terpilih, memuji pelayanan yang luar biasa, dan tidak keberatan membayar ONH 400 % lebih tinggi.

Published

on

WNI Terpilih Sebagai Jemaah Haji, Ungkapkan "Pelayanannya Luar Biasa"
Para jemaah melakukan ibadah Tawaf, hari Selasa (20/7). Hanya 60 ribu orang yang diizinkan pemerintah Saudi untuk melaksanakan ibadah haji tahun ini, termasuk beberapa warga Indonesia yang tinggal di sana.

Gencil News – VOA – Jemaah haji kini berada di Mina untuk melempar jumrah. Dengan demikian, rangkaian ibadah haji tahun ini hampir selesai. Namun, para jemaah belum selesai mengungkapkan rasa syukur karena terpilih dan memuji pelayanan yang luar biasa.

Konjen Indonesia di Jeddah Eko Hartono terpilih untuk berhaji tahun ini. Ia merasakan kenyamanan berhaji pada masa pandemi. “Dengan adanya COVID ini, kita lebih nyaman memang karena jemaahnya kan lebih sedikit. Tawaf enak, sa’i enak juga, tidak uyel-uyelan, tidak desak-desakan.”

Ibu rumah tangga Nur Ainun Sinambela mengaku bisa merasakan kenyamanan yang luar biasa ketika tawaf di Masjidil Haram. “Saya selalu bisa berada di posisi yang aman, di posisi lingkaran kecil, tanpa disentuh orang. Itu yang saya rasakan, nyamannya di situ.”

Ini bukan pertama kali Eko dan Nur menjalankan ibadah haji. Jadi, mereka mengatakan, bisa merasakan bedanya pelayanan kali ini. “Di Mina kami tinggal dalam tenda yang bagus, luas, dan hanya diisi enam orang,” kata Nur, yang sempat menangis ketika ditolak berhaji tahun lalu dan pengumuman terpilih berhaji tahun ini lebih lambat dari yang diterima suaminya, Windratmo Suwarno yang juga terpilih berhaji tahun ini.

Nur Ainun Sinambela, salah satu jemaah haji yang terpilih (foto: courtesy).
Nur Ainun Sinambela, salah satu jemaah haji yang terpilih (foto: courtesy).

Di Arafah, Nur menambahkan, jemaah juga bisa khusyuk beribadah karena berada dalam tenda sehingga tidak harus kepanasan di luar.

Tahun ini, panitia mengandalkan sistem digital. Informasi jemaah ada dalam kartu pintar. Jemaah juga dibiarkan beribadah sesuai keinginan, tanpa pendamping.

Bagi Eko, itu adalah kenyamanan lain. “Nah, malah lebih tenang. Tidak harus mencari-cari siapa gitu. Saya jalan sendiri, merdeka. Paling jam sekian harus sudah ke bus. Jadi, malah enak. Malah mantap bisa lebih nyaman, tenang, tanpa harus mengumpulkan teman-teman.”

Pandemi memaksa pemerintah Arab Saudi kembali mengadakan ibadah haji dengan jumlah jemaah terbatas. Menurut kementerian haji negara itu, sekitar 558 ribu orang mendaftar untuk berhaji tahun ini namun hanya diizinkan 60 ribu, itupun khusus untuk warga Saudi dan ekspatriat yang berada di sana. Dari jumlah itu, 327 atau 0,5 persen adalah warga Indonesia.

Pendaftar disaring berdasar kondisi kesehatan – harus sudah divaksinasi atau sudah pulih dari COVID, usia antara 18 dan 65 tahun, tidak berhaji dalam lima tahun terakhir, dan bersedia membayar biaya.

Suasana di dalam tenda jemaah haji di Arafah (foto: courtesy).
Suasana di dalam tenda jemaah haji di Arafah (foto: courtesy).

Soal biaya, begitu mendaftar secara online, calon jemaah haji diberitahu bahwa mereka harus membayar. Panitia menawarkan tiga paket biaya layanan: 12 ribu, 14 ribu, dan 19 ribu riyal atau sekitar 60 juta sampai 80 juta rupiah. Jemaah yang terpilih diberitahu melalui telepon, kemudian diberi waktu tiga jam untuk memilih paket layanan dan membayarnya.

Sebagian jemaah, misalnya seorang karyawan perusahaan Aswin Mauludy Naufalfarras dan dua mahasiswa doktoral Akbar Nugroho Wicaksono dan Indra Arifianto, menilai biaya itu cukup besar. Jauh lebih tinggi dari ongkos naik haji (ONH) untuk orang lokal yang mereka ketahui, termurah 3.000 riyal.

Aswin Mauludy Naufalfarras (tengah) dan dua mahasiswa doktoral, Akbar Nugroho Wicaksono dan Indra Arifianto (foto: courtesy).
Aswin Mauludy Naufalfarras (tengah) dan dua mahasiswa doktoral, Akbar Nugroho Wicaksono dan Indra Arifianto (foto: courtesy).

“Cuma alhamdulillah kami tidak merasa terberatkan ya karena memang sudah diniatkan dan dipanggilnya tahun ini. Jadi, ya ikhtiar saja. Uang bisa dicarilah. Kesempatan ini, bisa jadi hanya datang sekali untuk tiap orang. Jadi, ya disyukuri saja,” tutur Akbar.

Sementara, Indra Arifianto mengatakan, “Memang terasa besar karena biasanya yang delapan ribu itu sudah yang VIP. Ini kok 12 ribu. Memang cukup besar. Tapi, kami sudah menyiapkan karena belum tentu tahun depan pandemi selesai dan punya kesempatan lagi berhaji, umur juga tidak ada yang tahu. Jadi, ya sudahlah, haji paling tidak sekali seumur hidup, mumpung ada kesempatan, ada rezeki, kita berangkat. Bismillah.”

Walaupun membayar sampai 400 persen lebih tinggi dari ONH yang paling murah untuk orang lokal, Aswin Mauludy Naufalfarras menilai biaya itu wajar. Ia ‘menghitung’ dari sisi berbeda.

“Kapasitas haji setiap tahun biasanya kan 4 juta sampai lima juta, bahkan ada yang sampai 7 juta. Kali ini hanya 60.000. Ya, alhamdulillah jadi nggak berdesak-desakkan, bisa leluasa, doanya bisa lebih fokus. Istirahatnya juga lebih cukup. Bahasanya ya tidak terkena capeknya haji-haji yang mungkin dirasakan orang yang 4 juta 5 juta itu,” tukas Aswin.

Windratmo Suwarno (kanan), Konsul Ekonomi KJRI Jeddah saat melakukan Tawaf bersama jemaah lainnya (foto: courtesy).
Windratmo Suwarno (kanan), Konsul Ekonomi KJRI Jeddah saat melakukan Tawaf bersama jemaah lainnya (foto: courtesy).

Biaya itu, Indra menambahkan, terbayar dengan pelayanan yang, ia nilai, spesial. “Yang jelas berbedalah pengalamannya karena dari cerita teman-teman, di Mina ini tidurnya berjejer-jejer. Nah, sekarang itu bahkan dikasih tempat tidur khusus untuk setiap jemaah. Jadi, memang spesial sih. Beda dari cerita-cerita sebelumnya.”

Berhaji pada masa pandemi menuntut jemaah berdamai dengan banyak aturan. “Wajib pakai masker. Kalau tidak, akan kena denda seribu riyal satu orang,” imbuh Nur Ainun Sinambela.

Berbagai pengaturan juga diberlakukan untuk jemaah keluar masuk Masjidil Haram, harus terus menjaga jarak, dan tidak boleh berkumpul. Tetapi bagi Aswin, Akbar dan Indra, yang baru pertama kali beribadah haji, itu semua tidak masalah. Hanya satu yang mengganjal perasaan mereka: meskipun begitu dekat, mereka tidak bisa menyentuh Kaabah.

“Ya sedihnya di situ. Tidak bisa mencium Hajar Aswad,” pungkas Aswin.

Continue Reading

Advertisement

DOWNLOAD APLIKASI GENCILNEWS

Advertisement

TRENDING