Hukum-hukum Seputar Makan di Waktu Sahur – Gencil News
Connect with us

Mimbar Islam

Hukum-hukum Seputar Makan di Waktu Sahur

Published

on

Hukum-hukum Seputar Makan di Waktu Sahur

Gencil News – Hukum-hukum Seputar Makan di Waktu Sahur. Diantara perkara yang juga harus selalu diperhatikan dan dijaga oleh orang yang berpuasa adalah SAHUR atau MAKAN SAHUR.

Mengapa begitu?

Ya, hal itu karena Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

تسحروا فإن في السحور بركة

“Makan sahurlah kalian, karena sesungguhnya di dalam sahur itu terdapat barokah/keberkahan.”

(HR Imam Al-Bukhori no. 1923 dan Muslim no. 1095, dari hadits Anas bin Malik rodhiyallohu ‘anhu)

Apa yang dimaksud dengan BAROKAH (keberkahan) dalam hadits ini?

Tentang makna barokah yang terdapat dalam makan sahur, dijelaskan oleh Al-Imam Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqolani rohimahulloh: 

“Sesungguhnya keberkahan di dalam (makan) sahur itu bisa dicapai/diraih dari berbagai sisi, (diantaranya) yaitu:

(1) mengikuti sunnah (mencontoh sunnah/tuntunan Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam, edt.),

(2) untuk menyelisihi/membedakan diri dengan puasanya ahlul Kitab (Yahudi dan Nashoro, edt.),

(3) untuk menguatkan ibadah,

(4) untuk menambah semangat,

(5) menolak atau menghindari munculnya akhlak yang jelek yang ditimbulkan karena lapar (seperti : keinginan untuk membatalkan puasa, dll),

(6) merupakan sebab untuk bersedekah kepada orang yang minta-minta (yakni minta makan karena lapar), atau mengajaknya untuk makan bersama dengannya (sahur bersama),

(7) merupakan sebab untuk banyak berdzikir dan berdoa di waktu yang diharapkan terkabulnya doa (karena waktu itu termasuk akhir-akhir malam, yang merupakan salah satu waktu dikabulkannya doa bagi yang mau berdoa, edt.).

(8) untuk mendapatkan niat berpuasa, bagi orang yang lupa berniat sebelum dia tidur malam………dsb…”

(Fathul Bari Syarh Shohih Al-Bukhori, 4/164)

Al-Imam Ibnu Daqiqil ‘Ied rohimahulloh juga berkata: 

“Keberkahan ini, boleh jadi kembali kepada perkara-perkara ukhrowi (akhirat), karena dengan menegakkan/mengamalkan sunnah (tuntunan Rosululloh, khususnya makan sahur ini, edt.) akan diberi pahala dan tambahan (kebaikan yang banyak, edt.).

Dan bisa jadi pula kembali kepada urusan-urusan dunia, seperti kuatnya badan untuk melakukan puasa, dan kemudahan lainnya tanpa adanya bahaya bagi orang yang berpuasa…”

(Fathul Bari, Syarh Shohih Al-Bukhori, 4/164)         

Mengingat begitu besarnya keberkahan dalam makan sahur itu, maka tidak selayaknya kita meninggalkannya. 

Sebagaimana hal ini juga ditunjukkan hadits sebagai berikut ini:

“Salah seorang dari sahabat Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam pernah bercerita: “Aku pernah masuk (menjumpai) Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam, saat itu beliau sedang sahur, lalu beliau bersabda:

إنها بركة أعطاكم الله إياها فلا تدعوه

“Sesungguhnya dia (sahur itu) barokah, yang Alloh telah memberikannya untuk kalian, karena itu janganlah kalian meninggalkannya.”

(HR Imam An-Nasa’i (4/145), dishohihkan oleh Syaikh Al-‘Allamah Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i rohimahulloh dalam Al-Jami’us Shohih, 2/422)

Bahkan Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam menjadikan makan sahur itu sebagai pembeda antara puasa kita kaum muslimin dengan puasanya Ahlul Kitab (orang-orang yahudi dan nashoro), sebagaimana dalam sabda beliau :

فصل ما بين صيامنا و صيام أهل الكتاب أكلة السحور

“Pemisah/pembeda antara puasa kita dengan puasa Ahlul Kitab adalah makan sahur.”

(HR Imam Muslim no. 1096, dari sahabat ‘Amru bin Al-Ash rodhiyallohu ‘anhu)

LALU, APA HUKUMNYA MAKAN SAHUR ITU?

Al-Imam An-Nawawi rohimahulloh mengatakan: 

“Ibnul Mundzir rohimahulloh dalam Al-Isyrof mengatakan: “Umat Islam ini telah sepakat, bahwa sahur itu hukumnya sunnah, tidak ada dosa bagi orang yang meninggalkannya.”

(Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab, 6/360).

Al-Imam Ibnu Qudamah rohimahulloh juga menyatakan: 

“Kami tidak mengetahui adanya khilaf (perselisihan) di antara para ulama (yakni tentang sunnahnya hal tersebut).”

(Al-Mughni, 3/54) Lihat juga Fathul Bari Syarh Shohih Al-Bukhori (1922)

KAPAN WAKTUNYA MAKAN SAHUR ITU?

Waktu makan sahur itu disunnahkanntuk diakhirkan, yakni beberapa saat menjelang datangnya waktu shubuh (terbitnya fajar shodiq di waktu shubuh tersebut). 

Dalam hadits Anas bin Malik rodhiyallohu ‘anhu, dari Zaid bin Tsabit rodhiyallohu ‘anhu, dia bercerita: 

“Kami pernah sahur bersama Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam, kemudian kami sholat (yakni sholat Shubuh, edt.)”

Saya (Anas bin Malik) bertanya: “Berapakah jarak antara waktu adzan dan sahur?”

Dia (Zaid) menjawab: “Kira-kira lima puluh ayat (yakni kira-kira selama orang membaca lima puluh ayat dari Al-Qur’an, kurang lebih 10-15 menit, wallohu a’lam, edt.).”

(HR Imam Al-Bukhori no. 1921 dan Muslim no. 1097)

Sahl bin Sa’ad rodhiyallohu ‘anhu juga bercerita: 

“Aku pernah sahur di rumah keluargaku, kemudian aku cepat-cepat untuk mendapatkan sholat Shubuh bersama Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam.” (HR Imam Al-Bukhori no. 577)

Dari hadits-hadits tersebut di atas, para ulama menyimpulkan dan menyatakan disunnahkannya untuk mengakhirkan makan sahur bagi orang yang hendak berpuasa.

(Al-Majmu’ (6/360), Al-Mughni (3/54), Fathul Bari (4/165) )

DENGAN APAKAH MAKAN SAHUR ITU DISUNNAHKAN?

Para ulama, diantaranya Al-Imam Ibnu Qudamah dan Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqolani rohimahumalloh menegaskan: 

“Sahur itu sudah bisa terpenuhi dengan sesuatu yang sedikit, baik itu yang dimakan atau diminum oleh seseorang.”

(tidak mesti dengan makan atau minum yang banyak, edt.).

Hal itu ditunjukkan dalam sebuah hadits Abu Sa’id Al-Khudri rodhiyallohu ‘anhu secara marfu’, bahwa Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :

السحور بركة فلا تدعوه ولو أن يجرع أحدكم جرعة من ماء فإن الله و ملاءكته يصلون على المتسحرين

“Sahur itu barokah, karena itu janganlah kamu meninggalkannya (yakni tidak mau makan sahur), meskipun salah seorang dari kamu (hanya sekedar) minum dengan seteguk air. Kerena sesungguhnya Alloh dan para Malaikatnya bersholawat (yakni mendoakan kebaikan, edt.) kepada orang-orang yang makan sahur.”

(HR Imam Ahmad dalam Al-Musnad, 3/12)

Tentang hadits tersebut, guru kami, Syaikh Abu Abdillah Muhammad bin Ali bin Hizam hafidzhohulloh mengatakan: 

“Tetapi di dalam sanad hadits ini ada Rifa’ah Abu Rifa’ah, dia ini keadaannya Majhul (tidak diketahui/tidak dikenal), juga di dalam hadits ini ada ‘an’anah Yahya bin Abi Katsir.

Hadits tersebut juga mempunyai jalan-jalan yang lain di sisi Imam Ahmad (3/44), tetapi di dalam sanadnya ada Abdurrohman bin Zaid bin Aslam, dia ini disepakati akan kedho’ifannya.

Akan tetapi lafadz hadits: “Sahur itu barokah”, mempunyai banyak penguat dan telah disebutkan sebagiannya di depan.

Adapun lafadz: “meskipun salah seorang dari kamu (hanya sekedar) minum dengan seteguk air”, juga mempunyai penguat (yakni) hadits Abdullah bin ‘Amru bin Al-Ash rodhiyallohu ‘anhuma di sisi Ibnu Hibban (no. 3476), tetapi dalam sanadnya ada ‘Imron Al-Qoththon, yang rojih dia ini didho’ifkan.

Adapun bagian akhir hadits tersebut: (“Karena sesungguhnya Alloh dan para Malaikatnya bersholawat (yakni mendoakan kebaikan, edt.) kepada orang-orang yang makan sahur”), tidak aku temukan penguat yang bagus untuk menguatkan hadits tersebut.

Sehingga (kesimpulannya), hadits ini HASAN tanpa bagian akhirnya.”

(Ithaaful Anam bi Ahkami wa Masaailis Shiyaam, hal. 50-51)

Jadi, kalau seseorang hanya mampu sekedar minum seteguk air untuk sahur* (baik karena tidak ada makanan atau karena waktu yang sempit atau karena sebab-sebab yang lainnya), maka hal itu *sudah mencukupi.

Tetapi bila seseorang mampu untuk makan sahur (dengan makanan apapun), maka hal itu lebih baik.

Sebagaimana kata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rohimahulloh: 

“Dan yang jelas, bahwa  bila (seseorang) mampu untuk makan, maka hal itu (lebih sesuai) dengan sunnah.”

(Kitabus Shiyaam, 1/520-521) 

(Lihat juga masalah ini dalam: Al-Mughni (3/55), Fathul Bari (no. 1922)

Semoga pembahasan yang ringkas ini bermanfaat untuk penulisnya, dan juga untuk seluruh kaum muslimin di mana saja berada.

Walhamdu lillahi robbil ‘aalamiin. (Abu Abdirrohman Yoyok WN Sby)

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Mimbar Islam

Jangan Goda Istri Orang, Dosanya sangat Besar

Published

on

Jangan Goda Istri Orang, Dosanya sangat Besar.

Gencil News – Jangan Goda Istri Orang, Dosanya sangat Besar. Menggoda istri orang lain, ternyata bukan hal yang remeh dalam Islam. Meski sekedar iseng, tapi ternyata ada bahaya besar mengancam. 

Hal ini merupakan dosa yang sangat besar, dan juga telah membantu Iblis untuk menyukseskan programnya menyesatkan manusia.

Dalam sebuah hadist dari Abu Hurairah disebutkan bahwa Rasulullah Shallalahu alaihi wa sallam bersabda:

لَيْسَ مِنَّا مَنْ خَبَّبَ امرَأَةً عَلَى زَوجِهَا

“Bukan bagian dariku seseorang yang melakukan takhbib terhadap seorang wanita, sehingga dia melawan suaminya.” (HR. Abu Daud).

Dalam hadis lain riwayat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

وَمَنْ أَفْسَدَ امْرَأَةً عَلَى زَوْجِهَا فَلَيْسَ مِنَّا

“Siapa yang merusak hubungan seorang wanita dengan suaminya maka dia bukan bagian dariku.” (HR. Ahmad).

Rusaknya rumah tangga dan perceraian sangat disukai oleh Iblis. Hukum asal perceraian adalah dibenci, karenanya ulama menjelaskan hadits peringatan akan perceraian

Al-Munawi menjelaskan mengenai hadits ini,

إن هذا تهويل عظيم في ذم التفريق حيث كان أعظم مقاصد اللعين لما فيه من انقطاع النسل وانصرام بني آدم وتوقع وقوع الزنا الذي هو أعظم الكبائر

“Hadits ini menunjukan peringatan yang sangat menakutkan tentang celaan terhadap perceraian. Hal ini merupakan tujuan terbesar (Iblis) yang terlaknat karena perceraian mengakibatkan terputusnya keturunan. Bersendiriannya (tidak ada pasangan suami/istri) anak keturunan Nabi Adam akan menjerumuskan mereka ke perbuatan zina yang termasuk dosa-dosa besar yang paling besar menimbulkan kerusakan dan yang paling menyulitkan” (Faidhul Qadiir II/408)

Secara garis besar, takhbib bisa disebut merusak rumah tangga seseorang. Beberapa bentuk takhbib, misalnya menggoda salah satu pasangan suami istri yang sah dengan mengajak berzina, baik zina mata, tangan maupun zina hati sehingga ia menjadi benci dengan pasangan sahnya. 

“Karena interaksi lawan jenis yang tidak halal inilah, Allah cabut rasa cintanya terhadap keluarganya, digantikan dengan kehadiran orang baru dalam hatinya.”

Perlu diketahui bahwa prestasi terbesar bagi Iblis adalah merusak rumah tangga seorang muslim dan berujung dengan perceraian, sehingga hal ini termasuk membantu mensukseskan program Iblis.

Perhatikan hadits berikut, Dari Jabir radhiallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ إِبْلِيْسَ يَضَعُ عَرْشَهُ عَلَى الْمَاءِ ثُمَّ يَبْعَثُ سَرَايَاهُ فَأَدْنَاهُمْ مِنْهُ مَنْزِلَةً أَعْظَمُهُمْ فِتْنَةً يَجِيْءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُوْلُ فَعَلْتُ كَذَا وَكَذَا فَيَقُوْلُ مَا صَنَعْتَ شَيْئًا قَالَ ثُمَّ يَجِيْءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُوْلُ مَاتَرَكْتُهُ حَتَّى فَرَّقْتُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ قَالَ فَيُدْنِيْهِ مِنْهُ وَيَقُوْلُ نِعْمَ أَنْتَ

“Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air (laut) kemudian ia mengutus bala tentaranya. Maka yang paling dekat dengannya adalah yang paling besar fitnahnya. Datanglah salah seorang dari bala tentaranya dan berkata, “Aku telah melakukan begini dan begitu”. Iblis berkata, “Engkau sama sekali tidak melakukan sesuatupun”. Kemudian datang yang lain lagi dan berkata, “Aku tidak meninggalkannya (untuk digoda) hingga aku berhasil memisahkan antara dia dan istrinya. Maka Iblis pun mendekatinya dan berkata, “Sungguh hebat (setan) seperti engkau” (HR Muslim IV/2167 no 2813)

Menggoda istri orang lain dengan memberikan perhatian dan kasih sayang yang semu, misalnya melalui WA atau inbox sosial media. Sang istri pun terpengaruh karena selama ini mungkin suaminya sibuk mencari nafkah , merantau ataupun yang lainnya.

Mengompor-ngompori salah satu pasutri agar membenci pasangannya dengan sering menyebut-nyebut kekurangan suaminya dengan membandingkan dirinya atau suami orang lain. 

Padahal suaminya sangat baik dan bertanggung jawab, hanya saja pasti ada kekurangannya. Dan masih banyak yang lain jenis jenis perbuatan takhbib lainnya.

Adapun ancaman dosa melakukan “takhbib” telah dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadist yang kami kutip diawal tulisan.

ﻟَﻴْﺲَ ﻣِﻨَّﺎ ﻣَﻦْ ﺧَﺒَّﺐَ ﺍﻣﺮَﺃَﺓً ﻋَﻠَﻰ ﺯَﻭﺟِﻬَﺎ

”Bukan bagian dari kami, Orang yang melakukan takhbib terhadap seorang wanita, sehingga dia melawan suaminya.” (HR. Abu Daud)

Ad-Dzahabi menjelaskan yaitu merusak hati wanita terhadap suaminya, beliau berkata,

ﺇﻓﺴﺎﺩ ﻗﻠﺐ ﺍﻟﻤﺮﺃﺓ ﻋﻠﻰ ﺯﻭﺟﻬﺎ

”Merusak hati wanita terhadap suaminya.” (Al-Kabair, hal. 209).

Dalam riwayat yang lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﻭَﻣَﻦْ ﺃَﻓْﺴَﺪَ ﺍﻣْﺮَﺃَﺓً ﻋَﻠَﻰ ﺯَﻭْﺟِﻬَﺎ ﻓَﻠَﻴْﺲَ ﻣِﻨَّﺎ

”Barang siapa yang merusak hubungan seorang wanita dengan suaminya maka dia bukan bagian dari kami.”( HR. Ahmad, shahih)

Dalam kitab Mausu’ah Fiqhiyyah dijelaskan bahwa merusak di sini adalah mengompor-ngimpori untuk minta cerai atau menyebabkannya (mengompor-ngompori secara tidak langsung).

ﻣَﻦْ ﺃَﻓْﺴَﺪَ ﺯَﻭْﺟَﺔَ ﺍﻣْﺮِﺉٍ ﺃَﻱْ : ﺃَﻏْﺮَﺍﻫَﺎ ﺑِﻄَﻠَﺐِ ﺍﻟﻄَّﻼَﻕِ ﺃَﻭِ ﺍﻟﺘَّﺴَﺒُّﺐِ ﻓِﻴﻪِ ، ﻓَﻘَﺪْ ﺃَﺗَﻰ ﺑَﺎﺑًﺎ ﻋَﻈِﻴﻤًﺎ ﻣِﻦْ ﺃَﺑْﻮَﺍﺏِ ﺍﻟْﻜَﺒَﺎﺋِﺮِ ” ﺍﻧﺘﻬﻰ

“Maksud merusak istri orang lain yaitu mengompor-ngompori untuk meminta cerai atau menyebabkannya, maka ia telah melalukan dosa yang sangat besar.” (Mausu’ah Fiqhiyyah 5/291).

Maka dari itu ikhwan wa akhwat fiillah, marilah kita bersama meminta perlindungan dari Allah Azza wa Jalla dari dasyatnya dosa ini. 

Melihat dosa takhbib ini bisa menimpa atau dilakukan siapa saja, tanpa memandang siapa dia, entah itu orang awwam, tholib ataupun yang terlihat alim. 

Terakhir nasehat ini kami tujukan kepada diri pribadi dan bagi siapapun yang membaca tulisan ini. “Rumput tetangga memang terkadang tampak lebih hjiau dimata kita, namun yakinlah rumput sendiri tetap yang terbaik.”

Penulis: Abu Ibrohim Ayyash. (tulisan diambil dari beberapa sumber, semoga menjadikan manfaat bagi kami dan semua).

Continue Reading

Mimbar Islam

Muslim di Berlin Ikuti Tes COVID Sebelum Salat Jumat

Published

on

Muslim di Berlin Ikuti Tes COVID Sebelum Salat Jumat

Gencil News – VOA- Di luar masjid “House of Wisdom” di Berlin, satu tim medis yang terdiri dari warga asal Libya, Suriah dan Armenia melakukan pengetesan cepat COVID-19 gratis untuk jemaah yang antre sambil membawa sajadah.

Ini merupakan bagian dari upaya dan dukungan pihak berwenang di ibukota Jerman itu untuk meningkatkan kesadaran akan virus corona di kalangan Muslim selama bulan suci Ramadan, dan di kalangan populasi migran secara keseluruhan.

Dengan kepala mendongak dan masker ditarik ke bawah, Imam Abdallah Hajjir dengan sabar menjalani tes usap pada bagian dalam hidungnya di luar satu masjid di Berlin. Ia menjalani tes virus corona.

“Negatif!,” cetusnya sambil tersenyum beberapa menit kemudian, dan masuk ke masjid untuk salat Jumat.

Tim medis bekerja di halaman muka masjid “House of Wisdom” yang berdinding batubata merah. Mereka mengoperasikan pusat pengetesan di sana sebagai bagian dari upaya pihak berwenang di ibu kota Jerman itu untuk meningkatkan kesadaran akan COVID di kalangan Muslim selama bulan suci Ramadan, dan di kalangan populasi migran secara umum.

Duduk di balik sebuah meja di tempat parkir masjid, beberapa staf yang terdiri dari warga asal Libya, Suriah, dan Armenia melakukan pengetesan cepat secara gratis kepada jemaah yang antre sambil mengepit gulungan sajadah di ketiak.

Imam Abdallah Hajjir mengenakan peci berbingkai emas mengemukakan, mendorong jemaah untuk dites merupakan “salah satu sumbangsih” mereka dalam memerangi pandemi virus corona. Kepada kantor berita AFP ia mengatakan, “Dengan melindungi anggota komunitas, kami melindungi orang-orang yang berhubungan dengan mereka. Jadi, masyarakat secara keseluruhan.”

Warga di Berlin, Jerman menerima vaksinasi COVID-19 di Velodrom (foto: dok).
Warga di Berlin, Jerman menerima vaksinasi COVID-19 di Velodrom (foto: dok).

Sekitar 35 persen penduduk Berlin berlatar belakang migran. Kawasan permukiman dengan jumlah migran paling banyak telah mencatat jumlah infeksi virus corona tertinggi sejak pandemi dimulai setahun lalu. Kawasan itu juga sering merupakan daerah dengan kepadatan penduduk di atas rata-rata.

Banyak imigran tinggal saling berdekatan dalam apartemen kecil, atau di beberapa pusat pencari suaka di mana hingga lima orang tidur dalam satu kamar.

Oktober tahun lalu, OECD memperingatkan hal yang memprihatinkan itu sekaligus menyatakan pekerja migran berada “di garis depan” pandemi di negara-negara maju. OECD adalah Badan Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan dengan sekitar 40 negara anggota, umumnya kaya. Organisasi itu memperkirakan risiko infeksi virus corona “sedikitnya dua kali sama tinggi” dengan populasi lainnya.

Di Jerman, sama seperti di negara lain, warga pendatang juga cenderung dipekerjakan dalam bidang-bidang yang tidak dapat dilakukan dari rumah, seperti membersihkan atau merawat lansia, menurut institut Dezim yang melakukan penelitian tentang integrasi dan migrasi.

Sementara upaya vaksinasi di Jerman meningkat, pemerintah kota meningkatkan upaya untuk mengatasi lonjakan migran yang enggan divaksinasi, kata Katarina Niewiedzial, petugas integrasi Berlin.

“Ada informasi salah yang beredar tentang vaksin. Mulai dari vaksin yang katanya akan membuat mandul sampai menanamkan chip,” ujar Katarina.

Berlin juga telah meluncurkan podcast terkait informasi virus corona dalam belasan bahasa, termasuk bahasa Arab, Farsi, dan Kurdi.

Vaksinasi terhadap 18.500 pengungsi yang tinggal dalam fasilitas bersama di Berlin juga telah dilakukan.

Di luar masjid di kawasan Moabit yang beragam di Berlin, sekelompok kecil warga Muslim menggelar sajadah di aspal. Mereka menyimak khotbah Jumat yang terdengar melalui pengeras suara dari dalam masjid.

Pandemi memaksa masjid melakukan pembatasan terhadap jumlah jemaah yang diizinkan salat di dalam sehingga sebagian jemaah salat di luar. Jemaah juga diharuskan sudah berwudu ketika datang ke masjid.

Ali, usia 30 tahun, setiap Jumat salat di masjid tersebut. Ia mengungkapkan, ia tidak akan membiarkan virus menghambat ibadahnya dalam bulan suci Ramadan untuk tahun kedua berturut-turut.

“Menurut saya, sangat disayangkan kita tidak bisa berbuka puasa bersama di masjid. Tetapi kita beruntung bisa berkomunikasi langsung dengan keluarga melalui video,” tukasnya.

Continue Reading

Mimbar Islam

Kapan Waktu Menyerahkan Zakat Fitrah? Simak!

Published

on

Kapan Waktu Menyerahkan Zakat Fitrah? Simak!

Gencil News – Kapan Waktu Menyerahkan Zakat Fitrah? Simak! Seperti diketahui, kewajiban umat Islam setelah berpuasa adalah menunaikan zakat, termasuk zakat fitrah. Kapan waktu yang tepat untuk menunaikan zakat fitrah? 

Para ulama menyebutkan ada dua waktu dalam penyerahan zakat fitrah.

1. Waktu Afdal

Waktu ini adalah dimulai dari terbitnya fajar (pada tanggal satu Syawal) sampai sebelum ditunaikannya salat Id. Hal itu berdasarkan hadis Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma,

أن النبي صلى الله عليه وسلم أمر بزكاة الفطر قبل خروج الناس إلى الصلاة 

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk menyerahkan zakat fitrah sebelum keluarnya manusia untuk menuju salat (Id)” (Al-Bukhari, no. 1.509).

2. Waktu Mubah

Waktu ini adalah sehari atau dua hari sebelum Idulfitri. Hal itu berdasarkan hadis Ibnu ’Umar radhiyallahu ‘anhuma,

وكانوا يعطون قبل الفطر بيوم أو يومين

“Dahulu para sahabat (pernah) memberikan zakat fitrah satu atau dua hari sebelum Idulfitri” (Al-Bukhari, no. 1.511).

Demikian ulasan singkat tentang Waktu Menyerahkan Zakat Fitrah yang mesti diketahui kaum muslimin. Yuk berzakat!

WaAllahu ‘Alam bi Showab.

Penulis: Abu Fudhail Abdurrahman Ibnu Umar

Continue Reading

Mimbar Islam

Dan Ramadhanku Pergi namun Kita Belum Tentu Bertemu Kembali

Published

on

Dan Ramadhanku Pergi namun Kita Belum Tentu Bertemu Kembali

Gencil News – Dan Ramadhanku Pergi namun Kita Belum Tentu Bertemu Kembali. Pagi ini Ramadhan seolah mendekap hangat.

Sambil tersenyum ia seolah berkata,

“Terima kasih untuk semua jamuanmu …

Kini tiba masaku tuk pergi.

Kan kuceritakan kepada Rabbku semua kesan saat kita bersama. 

Saat engkau menantiku dengan ru’yah dan hisab.

Kau bahkan berdebat demi memastikan kedatanganku, sungguh sambutan yang indah.

Terima kasih untuk jamuan tahajudmu…

Jamuan tilawahmu…

Jamuan sedekahmu

Dan jamuan amal sholeh lainnya.

Kudoakan, semoga semua jamuan ketaatan itu diterima disisi-Nya.

Ku berharap agar jamuan yang sama kau hidangkan untuk kawan-kawanku yang akan datang lagi menemanimu, Syawal, Dzulqo’dah dan bulan-bulan lainnya.

Mungkin mereka tak semulia aku, namun Rabb kita sama.

Tingkatkan amal sholehmu dan bersungguh-sungguhlah.

Karena saat bersama mereka nanti, amal-amalmu tak mendapat jaminan dilipatgandakan seperti saat kita bersama.”

Selamat tinggal…

Sampai jumpa di musim yang akan datang.

Aku pasti kembali, In Syaa Allah…

Namun apakah engkau masih disini…?

Di kehidupan dunia ini…?

Entahlah…

Semoga ini bukan ramadhan terakhirmu…

Aamiin…

Oh ya…

Masih tersisa beberapa saat untuk kebersamaan kita…

Maukah engkau mendekapku lebih erat dengan do’a dan tilawahmu…?

Ku ingin mendengarnya untuk yang terakhir kali, sebelum aku benar-benar pergi

Penulis: Ustadz. Aan Chandra Thalib El Gharantaly

Continue Reading

Advertisement

DOWNLOAD APLIKASI GENCILNEWS

Advertisement

TRENDING