Kultum Pangdam XII/Tpr: Setiap Muslim Harus Jadi Rahmat Bagi Sekalian Makhluk
Connect with us

Mimbar Islam

Kultum Pangdam XII/Tpr: Setiap Muslim Harus Jadi Rahmat Bagi Sekalian Makhluk

Published

on

Kultum Pangdam XII/Tpr
📷 Panglima Kodam XII/Tanjungpura, Mayjen TNI Muhammad Nur Rahmad mendapat giliran menyampaikan Kuliah Tujuh Menit atau Kultum kepada Jemaah sholat Tarawih di Masjid Raya Mujahidin, Kota Pontianak. - Pendam XII TPR

Gencil News – Dalam kuliah singkatnya, Pangdam XII/Tpr, Mayjen TNI Muhammad Nur Rahmad mengingatkan kepada jamaah bahwa kemerdekaan bangsa Indonesia tidak lepas dari peran para tokoh-tokoh dan umat Islam di seluruh wilayah Indonesia yang berjuang bahu-membahu dengan komponen bangsa yang lainnya dengan kebulatan tekad untuk merdeka.

Selanjutnya mengatakan, dalam mengisi kemerdekaan ini kita harus memiliki ketahanan nasional yang tangguh agar bangsa kita tidak kembali dijajah oleh bangsa asing baik secara ekonomi, politik, budaya dan lain-lain.

Dijelaskan Pangdam, ketahanan memiliki arti kuat menderita, dapat menguasai diri, tetap pada keadaannya, keteguhan hati dan kesabaran. Sedangkan nasional memiliki pengertian penduduk dari suatu wilayah yang telah mempunyai pemerintah serta menunjukkan makna sebagai kesatuan dan persatuan dalam kepentingan bangsa yang telah bernegara.

“Ada pula yang mengartikan nasional sebagai seluruh kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara,” jelas Pangdam.

Mayjen TNI Muhammad Nur Rahmad juga mengatakan, masalah ketahanan nasional telah disebutkan dalam Al Quran seperti misalnya ketahanan dalam bentuk kekuatan dan larangan bercerai berai tetap menjaga persatuan dan kesatuan dengan kokoh tercantum dalam surat Ali Imran ayat 103. Ketahanan nasional dalam bentuk saling tolong menolong sesama manusia, anak bangsa dalam kebaikan tercantum dalam surat Al Maidah ayat 2.

Dengan demikian kata Pangdam, sebenarnya ketahanan negara merupakan suatu hal yang pokok yang menyangkut kemaslahatan manusia khususnya warga negara dalam sebuah negara. Ketahanan disini dapat diartikan sebagai daya tahan suatu bangsa dan akan lebih tepat dikategorikan di dalam lingkup dan materi keamanan insani yaitu ancaman yang mengancam negara secara individual.

Salah satu bentuk ancaman non fisik seperti Covid-19 termasuk dalam ketahanan. Ketahanan nasional di tengah masa pandemi Covid-19 dapat dirasakan dalam wujud kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah seperti kebijakan pembatasan sosial berskala besar, keringanan biaya listrik, larangan mudik pada saat lebaran, keringanan kredit dan prioritas anggaran kesehatan dan kebijakan lainnya.

Tidak dipungkiri bahwa setiap kebijakan tersebut tidaklah bisa memuaskan semua pihak pasti ada yang sependapat dan yang kurang sependapat. Hal ini wajar dalam sebuah negara demokrasi hal ini bukanlah sebuah masalah jika semua gagasan dan tanggapan dilandaskan konsensus berbangsa dan bernegara.

Mesti dipahami bahwa pandemi covid 19 tidak hanya menginfeksi manusia dari aspek kesehatan tetapi juga menginfeksi ketahanan bangsa. Untuk memutus rantai penularan Covid-19 maka gerakan manusia haruslah dibatasi, tetapi jika gerakan manusia dibatasi maka juga akan beresiko perekonomian akan cenderung stagnan, jika ekonomi stagnan maka negara akan menghadapi Resesi sehingga persoalan yang dihadapi sedemikian kompleks.

Untuk itu diperlukan kerjasama seluruh pihak untuk mengatasi ini. Jadi efek Covid-19 memang dirasakan terhadap seluruh sektor, sektor kesehatan, sosiokultural, ekonomi, politik hingga secara khusus masalah tata cara beribadah.

Oleh karena itu, Pangdam XII/Tpr berharap kepada umat Islam yang ada di Kota Pontianak sebagai pemeluk agama mayoritas memegang peranan yang sangat penting di dalam memperkuat ketahanan nasional. Umat Islam harus memiliki kontribusi dalam menjaga dan memperkuat ketahanan nasional sebab Islam memiliki teladan yang sempurna yaitu Rasululoh yang merupakan rahmatan lil alamin.

“Oleh karenanya setiap pribadi muslim juga harus menjadi rahmat bagi sekalian makhluk, memiliki akhlakul karimah yang disegani oleh umat yang lain,” tegas Mayjen TNI Muhammad Nur Rahmad.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Mimbar Islam

Jangan Goda Istri Orang, Dosanya sangat Besar

Published

on

Jangan Goda Istri Orang, Dosanya sangat Besar.

Gencil News – Jangan Goda Istri Orang, Dosanya sangat Besar. Menggoda istri orang lain, ternyata bukan hal yang remeh dalam Islam. Meski sekedar iseng, tapi ternyata ada bahaya besar mengancam. 

Hal ini merupakan dosa yang sangat besar, dan juga telah membantu Iblis untuk menyukseskan programnya menyesatkan manusia.

Dalam sebuah hadist dari Abu Hurairah disebutkan bahwa Rasulullah Shallalahu alaihi wa sallam bersabda:

لَيْسَ مِنَّا مَنْ خَبَّبَ امرَأَةً عَلَى زَوجِهَا

“Bukan bagian dariku seseorang yang melakukan takhbib terhadap seorang wanita, sehingga dia melawan suaminya.” (HR. Abu Daud).

Dalam hadis lain riwayat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

وَمَنْ أَفْسَدَ امْرَأَةً عَلَى زَوْجِهَا فَلَيْسَ مِنَّا

“Siapa yang merusak hubungan seorang wanita dengan suaminya maka dia bukan bagian dariku.” (HR. Ahmad).

Rusaknya rumah tangga dan perceraian sangat disukai oleh Iblis. Hukum asal perceraian adalah dibenci, karenanya ulama menjelaskan hadits peringatan akan perceraian

Al-Munawi menjelaskan mengenai hadits ini,

إن هذا تهويل عظيم في ذم التفريق حيث كان أعظم مقاصد اللعين لما فيه من انقطاع النسل وانصرام بني آدم وتوقع وقوع الزنا الذي هو أعظم الكبائر

“Hadits ini menunjukan peringatan yang sangat menakutkan tentang celaan terhadap perceraian. Hal ini merupakan tujuan terbesar (Iblis) yang terlaknat karena perceraian mengakibatkan terputusnya keturunan. Bersendiriannya (tidak ada pasangan suami/istri) anak keturunan Nabi Adam akan menjerumuskan mereka ke perbuatan zina yang termasuk dosa-dosa besar yang paling besar menimbulkan kerusakan dan yang paling menyulitkan” (Faidhul Qadiir II/408)

Secara garis besar, takhbib bisa disebut merusak rumah tangga seseorang. Beberapa bentuk takhbib, misalnya menggoda salah satu pasangan suami istri yang sah dengan mengajak berzina, baik zina mata, tangan maupun zina hati sehingga ia menjadi benci dengan pasangan sahnya. 

“Karena interaksi lawan jenis yang tidak halal inilah, Allah cabut rasa cintanya terhadap keluarganya, digantikan dengan kehadiran orang baru dalam hatinya.”

Perlu diketahui bahwa prestasi terbesar bagi Iblis adalah merusak rumah tangga seorang muslim dan berujung dengan perceraian, sehingga hal ini termasuk membantu mensukseskan program Iblis.

Perhatikan hadits berikut, Dari Jabir radhiallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ إِبْلِيْسَ يَضَعُ عَرْشَهُ عَلَى الْمَاءِ ثُمَّ يَبْعَثُ سَرَايَاهُ فَأَدْنَاهُمْ مِنْهُ مَنْزِلَةً أَعْظَمُهُمْ فِتْنَةً يَجِيْءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُوْلُ فَعَلْتُ كَذَا وَكَذَا فَيَقُوْلُ مَا صَنَعْتَ شَيْئًا قَالَ ثُمَّ يَجِيْءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُوْلُ مَاتَرَكْتُهُ حَتَّى فَرَّقْتُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ قَالَ فَيُدْنِيْهِ مِنْهُ وَيَقُوْلُ نِعْمَ أَنْتَ

“Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air (laut) kemudian ia mengutus bala tentaranya. Maka yang paling dekat dengannya adalah yang paling besar fitnahnya. Datanglah salah seorang dari bala tentaranya dan berkata, “Aku telah melakukan begini dan begitu”. Iblis berkata, “Engkau sama sekali tidak melakukan sesuatupun”. Kemudian datang yang lain lagi dan berkata, “Aku tidak meninggalkannya (untuk digoda) hingga aku berhasil memisahkan antara dia dan istrinya. Maka Iblis pun mendekatinya dan berkata, “Sungguh hebat (setan) seperti engkau” (HR Muslim IV/2167 no 2813)

Menggoda istri orang lain dengan memberikan perhatian dan kasih sayang yang semu, misalnya melalui WA atau inbox sosial media. Sang istri pun terpengaruh karena selama ini mungkin suaminya sibuk mencari nafkah , merantau ataupun yang lainnya.

Mengompor-ngompori salah satu pasutri agar membenci pasangannya dengan sering menyebut-nyebut kekurangan suaminya dengan membandingkan dirinya atau suami orang lain. 

Padahal suaminya sangat baik dan bertanggung jawab, hanya saja pasti ada kekurangannya. Dan masih banyak yang lain jenis jenis perbuatan takhbib lainnya.

Adapun ancaman dosa melakukan “takhbib” telah dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadist yang kami kutip diawal tulisan.

ﻟَﻴْﺲَ ﻣِﻨَّﺎ ﻣَﻦْ ﺧَﺒَّﺐَ ﺍﻣﺮَﺃَﺓً ﻋَﻠَﻰ ﺯَﻭﺟِﻬَﺎ

”Bukan bagian dari kami, Orang yang melakukan takhbib terhadap seorang wanita, sehingga dia melawan suaminya.” (HR. Abu Daud)

Ad-Dzahabi menjelaskan yaitu merusak hati wanita terhadap suaminya, beliau berkata,

ﺇﻓﺴﺎﺩ ﻗﻠﺐ ﺍﻟﻤﺮﺃﺓ ﻋﻠﻰ ﺯﻭﺟﻬﺎ

”Merusak hati wanita terhadap suaminya.” (Al-Kabair, hal. 209).

Dalam riwayat yang lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﻭَﻣَﻦْ ﺃَﻓْﺴَﺪَ ﺍﻣْﺮَﺃَﺓً ﻋَﻠَﻰ ﺯَﻭْﺟِﻬَﺎ ﻓَﻠَﻴْﺲَ ﻣِﻨَّﺎ

”Barang siapa yang merusak hubungan seorang wanita dengan suaminya maka dia bukan bagian dari kami.”( HR. Ahmad, shahih)

Dalam kitab Mausu’ah Fiqhiyyah dijelaskan bahwa merusak di sini adalah mengompor-ngimpori untuk minta cerai atau menyebabkannya (mengompor-ngompori secara tidak langsung).

ﻣَﻦْ ﺃَﻓْﺴَﺪَ ﺯَﻭْﺟَﺔَ ﺍﻣْﺮِﺉٍ ﺃَﻱْ : ﺃَﻏْﺮَﺍﻫَﺎ ﺑِﻄَﻠَﺐِ ﺍﻟﻄَّﻼَﻕِ ﺃَﻭِ ﺍﻟﺘَّﺴَﺒُّﺐِ ﻓِﻴﻪِ ، ﻓَﻘَﺪْ ﺃَﺗَﻰ ﺑَﺎﺑًﺎ ﻋَﻈِﻴﻤًﺎ ﻣِﻦْ ﺃَﺑْﻮَﺍﺏِ ﺍﻟْﻜَﺒَﺎﺋِﺮِ ” ﺍﻧﺘﻬﻰ

“Maksud merusak istri orang lain yaitu mengompor-ngompori untuk meminta cerai atau menyebabkannya, maka ia telah melalukan dosa yang sangat besar.” (Mausu’ah Fiqhiyyah 5/291).

Maka dari itu ikhwan wa akhwat fiillah, marilah kita bersama meminta perlindungan dari Allah Azza wa Jalla dari dasyatnya dosa ini. 

Melihat dosa takhbib ini bisa menimpa atau dilakukan siapa saja, tanpa memandang siapa dia, entah itu orang awwam, tholib ataupun yang terlihat alim. 

Terakhir nasehat ini kami tujukan kepada diri pribadi dan bagi siapapun yang membaca tulisan ini. “Rumput tetangga memang terkadang tampak lebih hjiau dimata kita, namun yakinlah rumput sendiri tetap yang terbaik.”

Penulis: Abu Ibrohim Ayyash. (tulisan diambil dari beberapa sumber, semoga menjadikan manfaat bagi kami dan semua).

Continue Reading

Mimbar Islam

Muslim di Berlin Ikuti Tes COVID Sebelum Salat Jumat

Published

on

Muslim di Berlin Ikuti Tes COVID Sebelum Salat Jumat

Gencil News – VOA- Di luar masjid “House of Wisdom” di Berlin, satu tim medis yang terdiri dari warga asal Libya, Suriah dan Armenia melakukan pengetesan cepat COVID-19 gratis untuk jemaah yang antre sambil membawa sajadah.

Ini merupakan bagian dari upaya dan dukungan pihak berwenang di ibukota Jerman itu untuk meningkatkan kesadaran akan virus corona di kalangan Muslim selama bulan suci Ramadan, dan di kalangan populasi migran secara keseluruhan.

Dengan kepala mendongak dan masker ditarik ke bawah, Imam Abdallah Hajjir dengan sabar menjalani tes usap pada bagian dalam hidungnya di luar satu masjid di Berlin. Ia menjalani tes virus corona.

“Negatif!,” cetusnya sambil tersenyum beberapa menit kemudian, dan masuk ke masjid untuk salat Jumat.

Tim medis bekerja di halaman muka masjid “House of Wisdom” yang berdinding batubata merah. Mereka mengoperasikan pusat pengetesan di sana sebagai bagian dari upaya pihak berwenang di ibu kota Jerman itu untuk meningkatkan kesadaran akan COVID di kalangan Muslim selama bulan suci Ramadan, dan di kalangan populasi migran secara umum.

Duduk di balik sebuah meja di tempat parkir masjid, beberapa staf yang terdiri dari warga asal Libya, Suriah, dan Armenia melakukan pengetesan cepat secara gratis kepada jemaah yang antre sambil mengepit gulungan sajadah di ketiak.

Imam Abdallah Hajjir mengenakan peci berbingkai emas mengemukakan, mendorong jemaah untuk dites merupakan “salah satu sumbangsih” mereka dalam memerangi pandemi virus corona. Kepada kantor berita AFP ia mengatakan, “Dengan melindungi anggota komunitas, kami melindungi orang-orang yang berhubungan dengan mereka. Jadi, masyarakat secara keseluruhan.”

Warga di Berlin, Jerman menerima vaksinasi COVID-19 di Velodrom (foto: dok).
Warga di Berlin, Jerman menerima vaksinasi COVID-19 di Velodrom (foto: dok).

Sekitar 35 persen penduduk Berlin berlatar belakang migran. Kawasan permukiman dengan jumlah migran paling banyak telah mencatat jumlah infeksi virus corona tertinggi sejak pandemi dimulai setahun lalu. Kawasan itu juga sering merupakan daerah dengan kepadatan penduduk di atas rata-rata.

Banyak imigran tinggal saling berdekatan dalam apartemen kecil, atau di beberapa pusat pencari suaka di mana hingga lima orang tidur dalam satu kamar.

Oktober tahun lalu, OECD memperingatkan hal yang memprihatinkan itu sekaligus menyatakan pekerja migran berada “di garis depan” pandemi di negara-negara maju. OECD adalah Badan Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan dengan sekitar 40 negara anggota, umumnya kaya. Organisasi itu memperkirakan risiko infeksi virus corona “sedikitnya dua kali sama tinggi” dengan populasi lainnya.

Di Jerman, sama seperti di negara lain, warga pendatang juga cenderung dipekerjakan dalam bidang-bidang yang tidak dapat dilakukan dari rumah, seperti membersihkan atau merawat lansia, menurut institut Dezim yang melakukan penelitian tentang integrasi dan migrasi.

Sementara upaya vaksinasi di Jerman meningkat, pemerintah kota meningkatkan upaya untuk mengatasi lonjakan migran yang enggan divaksinasi, kata Katarina Niewiedzial, petugas integrasi Berlin.

“Ada informasi salah yang beredar tentang vaksin. Mulai dari vaksin yang katanya akan membuat mandul sampai menanamkan chip,” ujar Katarina.

Berlin juga telah meluncurkan podcast terkait informasi virus corona dalam belasan bahasa, termasuk bahasa Arab, Farsi, dan Kurdi.

Vaksinasi terhadap 18.500 pengungsi yang tinggal dalam fasilitas bersama di Berlin juga telah dilakukan.

Di luar masjid di kawasan Moabit yang beragam di Berlin, sekelompok kecil warga Muslim menggelar sajadah di aspal. Mereka menyimak khotbah Jumat yang terdengar melalui pengeras suara dari dalam masjid.

Pandemi memaksa masjid melakukan pembatasan terhadap jumlah jemaah yang diizinkan salat di dalam sehingga sebagian jemaah salat di luar. Jemaah juga diharuskan sudah berwudu ketika datang ke masjid.

Ali, usia 30 tahun, setiap Jumat salat di masjid tersebut. Ia mengungkapkan, ia tidak akan membiarkan virus menghambat ibadahnya dalam bulan suci Ramadan untuk tahun kedua berturut-turut.

“Menurut saya, sangat disayangkan kita tidak bisa berbuka puasa bersama di masjid. Tetapi kita beruntung bisa berkomunikasi langsung dengan keluarga melalui video,” tukasnya.

Continue Reading

Mimbar Islam

Kapan Waktu Menyerahkan Zakat Fitrah? Simak!

Published

on

Kapan Waktu Menyerahkan Zakat Fitrah? Simak!

Gencil News – Kapan Waktu Menyerahkan Zakat Fitrah? Simak! Seperti diketahui, kewajiban umat Islam setelah berpuasa adalah menunaikan zakat, termasuk zakat fitrah. Kapan waktu yang tepat untuk menunaikan zakat fitrah? 

Para ulama menyebutkan ada dua waktu dalam penyerahan zakat fitrah.

1. Waktu Afdal

Waktu ini adalah dimulai dari terbitnya fajar (pada tanggal satu Syawal) sampai sebelum ditunaikannya salat Id. Hal itu berdasarkan hadis Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma,

أن النبي صلى الله عليه وسلم أمر بزكاة الفطر قبل خروج الناس إلى الصلاة 

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk menyerahkan zakat fitrah sebelum keluarnya manusia untuk menuju salat (Id)” (Al-Bukhari, no. 1.509).

2. Waktu Mubah

Waktu ini adalah sehari atau dua hari sebelum Idulfitri. Hal itu berdasarkan hadis Ibnu ’Umar radhiyallahu ‘anhuma,

وكانوا يعطون قبل الفطر بيوم أو يومين

“Dahulu para sahabat (pernah) memberikan zakat fitrah satu atau dua hari sebelum Idulfitri” (Al-Bukhari, no. 1.511).

Demikian ulasan singkat tentang Waktu Menyerahkan Zakat Fitrah yang mesti diketahui kaum muslimin. Yuk berzakat!

WaAllahu ‘Alam bi Showab.

Penulis: Abu Fudhail Abdurrahman Ibnu Umar

Continue Reading

Mimbar Islam

Dan Ramadhanku Pergi namun Kita Belum Tentu Bertemu Kembali

Published

on

Dan Ramadhanku Pergi namun Kita Belum Tentu Bertemu Kembali

Gencil News – Dan Ramadhanku Pergi namun Kita Belum Tentu Bertemu Kembali. Pagi ini Ramadhan seolah mendekap hangat.

Sambil tersenyum ia seolah berkata,

“Terima kasih untuk semua jamuanmu …

Kini tiba masaku tuk pergi.

Kan kuceritakan kepada Rabbku semua kesan saat kita bersama. 

Saat engkau menantiku dengan ru’yah dan hisab.

Kau bahkan berdebat demi memastikan kedatanganku, sungguh sambutan yang indah.

Terima kasih untuk jamuan tahajudmu…

Jamuan tilawahmu…

Jamuan sedekahmu

Dan jamuan amal sholeh lainnya.

Kudoakan, semoga semua jamuan ketaatan itu diterima disisi-Nya.

Ku berharap agar jamuan yang sama kau hidangkan untuk kawan-kawanku yang akan datang lagi menemanimu, Syawal, Dzulqo’dah dan bulan-bulan lainnya.

Mungkin mereka tak semulia aku, namun Rabb kita sama.

Tingkatkan amal sholehmu dan bersungguh-sungguhlah.

Karena saat bersama mereka nanti, amal-amalmu tak mendapat jaminan dilipatgandakan seperti saat kita bersama.”

Selamat tinggal…

Sampai jumpa di musim yang akan datang.

Aku pasti kembali, In Syaa Allah…

Namun apakah engkau masih disini…?

Di kehidupan dunia ini…?

Entahlah…

Semoga ini bukan ramadhan terakhirmu…

Aamiin…

Oh ya…

Masih tersisa beberapa saat untuk kebersamaan kita…

Maukah engkau mendekapku lebih erat dengan do’a dan tilawahmu…?

Ku ingin mendengarnya untuk yang terakhir kali, sebelum aku benar-benar pergi

Penulis: Ustadz. Aan Chandra Thalib El Gharantaly

Continue Reading

Advertisement

DOWNLOAD APLIKASI GENCILNEWS

Advertisement

TRENDING