Muslim di Berlin Ikuti Tes COVID Sebelum Salat Jumat
Connect with us

Mimbar Islam

Muslim di Berlin Ikuti Tes COVID Sebelum Salat Jumat

Published

on

Muslim di Berlin Ikuti Tes COVID Sebelum Salat Jumat

Gencil News – VOA- Di luar masjid “House of Wisdom” di Berlin, satu tim medis yang terdiri dari warga asal Libya, Suriah dan Armenia melakukan pengetesan cepat COVID-19 gratis untuk jemaah yang antre sambil membawa sajadah.

Ini merupakan bagian dari upaya dan dukungan pihak berwenang di ibukota Jerman itu untuk meningkatkan kesadaran akan virus corona di kalangan Muslim selama bulan suci Ramadan, dan di kalangan populasi migran secara keseluruhan.

Dengan kepala mendongak dan masker ditarik ke bawah, Imam Abdallah Hajjir dengan sabar menjalani tes usap pada bagian dalam hidungnya di luar satu masjid di Berlin. Ia menjalani tes virus corona.

“Negatif!,” cetusnya sambil tersenyum beberapa menit kemudian, dan masuk ke masjid untuk salat Jumat.

Tim medis bekerja di halaman muka masjid “House of Wisdom” yang berdinding batubata merah. Mereka mengoperasikan pusat pengetesan di sana sebagai bagian dari upaya pihak berwenang di ibu kota Jerman itu untuk meningkatkan kesadaran akan COVID di kalangan Muslim selama bulan suci Ramadan, dan di kalangan populasi migran secara umum.

Duduk di balik sebuah meja di tempat parkir masjid, beberapa staf yang terdiri dari warga asal Libya, Suriah, dan Armenia melakukan pengetesan cepat secara gratis kepada jemaah yang antre sambil mengepit gulungan sajadah di ketiak.

Imam Abdallah Hajjir mengenakan peci berbingkai emas mengemukakan, mendorong jemaah untuk dites merupakan “salah satu sumbangsih” mereka dalam memerangi pandemi virus corona. Kepada kantor berita AFP ia mengatakan, “Dengan melindungi anggota komunitas, kami melindungi orang-orang yang berhubungan dengan mereka. Jadi, masyarakat secara keseluruhan.”

Warga di Berlin, Jerman menerima vaksinasi COVID-19 di Velodrom (foto: dok).
Warga di Berlin, Jerman menerima vaksinasi COVID-19 di Velodrom (foto: dok).

Sekitar 35 persen penduduk Berlin berlatar belakang migran. Kawasan permukiman dengan jumlah migran paling banyak telah mencatat jumlah infeksi virus corona tertinggi sejak pandemi dimulai setahun lalu. Kawasan itu juga sering merupakan daerah dengan kepadatan penduduk di atas rata-rata.

Banyak imigran tinggal saling berdekatan dalam apartemen kecil, atau di beberapa pusat pencari suaka di mana hingga lima orang tidur dalam satu kamar.

Oktober tahun lalu, OECD memperingatkan hal yang memprihatinkan itu sekaligus menyatakan pekerja migran berada “di garis depan” pandemi di negara-negara maju. OECD adalah Badan Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan dengan sekitar 40 negara anggota, umumnya kaya. Organisasi itu memperkirakan risiko infeksi virus corona “sedikitnya dua kali sama tinggi” dengan populasi lainnya.

Di Jerman, sama seperti di negara lain, warga pendatang juga cenderung dipekerjakan dalam bidang-bidang yang tidak dapat dilakukan dari rumah, seperti membersihkan atau merawat lansia, menurut institut Dezim yang melakukan penelitian tentang integrasi dan migrasi.

Sementara upaya vaksinasi di Jerman meningkat, pemerintah kota meningkatkan upaya untuk mengatasi lonjakan migran yang enggan divaksinasi, kata Katarina Niewiedzial, petugas integrasi Berlin.

“Ada informasi salah yang beredar tentang vaksin. Mulai dari vaksin yang katanya akan membuat mandul sampai menanamkan chip,” ujar Katarina.

Berlin juga telah meluncurkan podcast terkait informasi virus corona dalam belasan bahasa, termasuk bahasa Arab, Farsi, dan Kurdi.

Vaksinasi terhadap 18.500 pengungsi yang tinggal dalam fasilitas bersama di Berlin juga telah dilakukan.

Di luar masjid di kawasan Moabit yang beragam di Berlin, sekelompok kecil warga Muslim menggelar sajadah di aspal. Mereka menyimak khotbah Jumat yang terdengar melalui pengeras suara dari dalam masjid.

Pandemi memaksa masjid melakukan pembatasan terhadap jumlah jemaah yang diizinkan salat di dalam sehingga sebagian jemaah salat di luar. Jemaah juga diharuskan sudah berwudu ketika datang ke masjid.

Ali, usia 30 tahun, setiap Jumat salat di masjid tersebut. Ia mengungkapkan, ia tidak akan membiarkan virus menghambat ibadahnya dalam bulan suci Ramadan untuk tahun kedua berturut-turut.

“Menurut saya, sangat disayangkan kita tidak bisa berbuka puasa bersama di masjid. Tetapi kita beruntung bisa berkomunikasi langsung dengan keluarga melalui video,” tukasnya.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Mimbar Islam

Menjadi Manusia Supaya Mampu Jaga Lisan, Hati dan Akal

Published

on

Menjadi Manusia Supaya Mampu Jaga Lisan, Hati dan Akal

Gencil News– Sebaik-baiknya manusia dalam menjalani kehidupan, pastilah Ia akan sebaiknya juga dalam menjaga lisan, Hati dan Akal serta fikirannya.

Jaga lisan, hati dan akal selama ramadhan bukan lah perkara yang mudah. khususnya supaya hal tersebut menjadi berarti.

Dalam Tafsir Ar-Razi , bulan ini adalah bulan membakar dosa-dosa supaya berganti menjadi amal saleh.

Jika semua hilang begitu saja maka sia-sia lah perilaku hati, lisan dan akal

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

…وَرَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَه ..
رواه الترمذي ورواه البخاري

“Dan celakalah seseorang yang kedatangan bulan Ramadhan kemudian berlalu sebelum diampuni disa-dosanya.” (HR. At-Tirmidzi,Al-Bukhari)

Selain itu, Tidak ada manusia yang sempurna dalam dunia ini. Manusia-manusia yang baik pun bisa memiliki kekurangan.

Maka itu, kaum muslimin yang oleh ALLAH SWT ridhai, jaga hati dan lisan juga akal mu setiap waktu. agar Kebaikan dan Rezeki kerap datang padamu.

Bukankah seorang hamba seharusnya merasa malu dengan teguran Tuhannya yang mengumpamakan semua itu dengan ‘memakan daging bangkai saudaranya yang sudah mati’?

Perumpamaan tersebut mengaitkan manusia kepada hal yang tidak baik.

Selain itu, Jauhkanlah kami dari dosa tersebut.

Wallahualam Bissawab

Continue Reading

Mimbar Islam

Menjadi Nama Sejumlah Masjid, Benarkah Cheng Ho Seorang Muslim?

Published

on

Menjadi Nama Sejumlah Masjid, Benarkah Cheng Ho Seorang Muslim?
Umat Muslim mengantre untuk menerima barang-barang yang disumbangkan oleh konsulat China di Masjid Cheng Ho di Surabaya pada 6 Mei 2021, menjelang Idul Fitri yang menandai berakhirnya bulan suci Ramadhan. (Foto: AFP/Juni Kriswanto)

Gencil News – VOA – Komunitas Tionghoa Muslim di Indonesia menjadikan Laksamana Cheng Ho sebagai salah satu tokoh pemersatu. Namanya bahkan diabadikan sebagai nama belasan masjid di Tanah Air. Namun, ada dugaan pemahaman yang tidak tepat mengenai apa agama Cheng Ho sebenarnya.

Upaya untuk menelusuri agama Cheng Ho antara lain dilakukan oleh Novi Basuki. Dia adalah santri salah satu pesantren di Jawa Timur, yang kini sedang menempuh pendidikan S3 Politik Internasional di Universitas Sun Yat-sen, China.

“Saya tidak menampik, terus terang, bahwa Cheng Ho ini dilahirkan dari keluarga seorang muslim, sebagaimana epitaf tadi, ayahnya adalah seorang haji. Mungkin dia terlahir sebagai seorang muslim, tetapi saya curiga jangan-jangan setelah dia dewasa, dia mungkin mengubah keyakinannya,” kata Novi.

Muslim Konfusianis

Bahasan terkait itu ditulis Novi dalam buku berjudul “Islam di China Dulu dan Kini” yang belum lama diterbitkan. Buku itu dibedah oleh Pusat Penelitian Politik LIPI dan Penerbit Buku Kompas, Rabu (2/6). Novi sendiri menempuh pendidikan S1 jurusan Bahasa dan Budaya China di Universitas Huaqiao, China dan melanjutkan studi S2 Hubungan Internasional, Universitas Xiamen. Dia juga duduk sebagai Sekjen Forum Sinologi Indonesia dan Pemimpin Redaksi di laman Aseng.ID.

Novi tentu saja tidak begitu saja mengambil kesimpulan. Dia memastikan telah membaca teks-teks berbahasa Mandarin, terutama literatur kedinastian klasik, yang masih memakai model penulisan kuno. Dalam penelusurannya, Novi tidak menemukan bukti langsung yang menyatakan bahwa Cheng Ho seorang muslim.

Masjid Muhammad Cheng Ho di Surabaya, 7 Desember 2019. (Foto: AFP/Juni Kriswanto)
Masjid Muhammad Cheng Ho di Surabaya, 7 Desember 2019. (Foto: AFP/Juni Kriswanto)

Selain itu, dalam sebuah naskah sutera Budhis yang dilelang di sebuah balai lelang di New York tahun 2015, Cheng Ho justru menyebut dirinya sebagai kasim Kaisar Ming yang menganut Budha dan mempunyai nama darma Fu Jixiang.

“Sementara yang menyebut Cheng Hho adalah muslim, hanya berdasar kepada satu bukti, yaitu satu epitaf atau batu nisan ayah Cheng Ho yang bermana Haji Ma. Epitaf ayah Cheng Ho ini sekarang ada di Yunan,” lanjut Novi.

Menurut silsilah, Cheng Ho memang lahir di tengah keluarga muslim. Dia masih keturunan Sayyid Ajal Syamsuddin Umar, gubernur pertama Provinsi Yunan. Sayyid adalah julukan lain untuk Habib, atau keturunan Nabi Muhamamad. Nenek moyang Cheng Ho, berasal dari Bukhara, sebuah kota yang kini ada di wilayah Uzbekistan.

Kemungkinan pertama, Cheng Ho mengubah agamanya pada umur belasan tahun, setelah menjadi tawanan dalam era Dinasti Ming. Ini adalah dinasti yang sangat anti pada segala sesuatu berbau asing, dan tentu saja tidak mudah bagi Cheng Ho untuk tetap menjadi muslim. Kemungkinan kedua, kata Novi, jika Cheng Ho tetap muslim, maka dia mengamalkan juga ajaran Konfusianisme. Di China sendiri, Konfusianisme tidak dianggap sebagai agama, tetapi sebagai ajaran tata krama. Praktik ini juga berlaku di sebagian muslim Indonesia, seperti Islam Kejawen, yang beragama tetapi tetap mempraktikan ajaran leluhurnya.

“Ketika Cheng Ho mau berangkat muhibah tujuh kali ke mancanegara, dia nyekar ke makam muslim, dan di waktu yang sama, dia juga melakukan ibadah di Kuil Mazu, yang dikenal sebagai dewi laut,” tambahnya.

Cheng Ho sendiri dianugerahi gelar Laksamana oleh Kaisar Zhu Di, yang kemudian memerintahkannya melakukan perjalanan internasional. Cheng Ho masuk ke perairan Nusantara pada 1405 dan singgah di sejumlah wilayah, mulai dari Aceh, Palembang, hingga Surabaya.

Banyak Versi Sejarah

Sejarawan LIPI, Asvi Warman Adam mengakui sejumlah versi terkait peran Cheng Ho dalam penyebaran Islam di Nusantara. Salah satu pertanyaan yang mengemuka misalnya adalah apakah benar Cheng Ho singgah di Semarang dan menyebarkan agama. Ada pendapat lain yang meyakini, yang turun adalah salah satu anak buahnya

“Wang jinghong yang turun di Semarang karena sakit. Dan karena sakit, dia ditinggal dan kemudian tidak mau ikut rombongan Cheng Ho dan menetap di Jawa. Dan Wang Jinghong yang kemudian disebut sebagai Kyai Juru Mudi Dampo Awang, yang menyebarkan agama Islam,” kata Asvi.

Menurut Asvi, ada banyak tarik menarik soal kebenaran sejarah peristiwa tertentu. Misalnya terkait buku karya sejarawan Slamet Muljono yang terbit 1968. Buku ini berjudul “Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara Islam di Nusantara.”

Buku ini, kata Asvi, dilarang terbit oleh Kejaksaan Agung. Alasannya, Slamet Muljono meyakini bahwa jika tidak semuanya, sebagian Walisongo berasal dari China. Walisongo adalah sembilan tokoh agama Islam di Jawa, yang dianggap menjadi tokoh sangat penting dalam penyebaran agama.

Slamet sendiri mendasarkan pendapatnya pada tiga buku yaitu Serat Kanda, Babad Tanah Jawi dan buku Tuanku Rao. Buku yang disebut terakhir tersebut, mendasarkan datanya pada arsip-arsip yang hingga saat ini tidak dapat diakses kembali.

Terkait penyebaran agama, Asvi meyakini bahwa sebuah tanggal atau tahun tertentu tidak dapat dipastikan dalam sejarah sebagai acuan.

Lukisan dinding bergambar Muhammad Cheng Ho di Masjid Muhammad Cheng Ho Surabaya, 7 Desember 2019. (Foto: AFP/Juni Kriswanto)
Lukisan dinding bergambar Muhammad Cheng Ho di Masjid Muhammad Cheng Ho Surabaya, 7 Desember 2019. (Foto: AFP/Juni Kriswanto)

“Karena masuknya agama itu paling tidak ada tiga hal. Ada utusan datang. Ada saudagar yang berkunjung kemudian pada waktu lain dia menyebarkan agama. Dan terakhir, ketika agama itu berkembang, misalnya ketika sultan ataupun raja sudah menganutnya,” ujar Asvi.

Tiga periode ini, tambahnya, adalah proses yang tidak terjadi pada saat yang sama. Karena itulah, masuknya suatu agama ke suatu wilayah, terjadi pada periode yang cukup panjang.

“Menurut Denys Lombard, yang mengambil dari catatan Ma Huan, ada seribu keluarga China di Tuban. Seribu keluarga, artinya cukup banyak orang China di Tuban ketika armada Cheng Ho datang kesana. Jadi artinya, sudah ada orang Islam sebelum kedatangan armada Cheng Ho ini di Jawa,” papar Asvi.

Menjadi Nama Masjid

Hamdan Basyar, peneliti di Pusat Penelitian Politik LIPI menyebut, salah satu persoalan terkait Cheng Ho ini adalah karena anggapan yang melekat padanya.

“Tokoh ini sudah terlanjur mashur di Indonesia, sebagai tokoh Islam dan ikut andil menyebarkan Islam di Nusantara. Saat ini, kita melihat ada beberapa masjid dengan nama Cheng Ho sebagai penghargaan,” kata Hamdan.

Mengutip beberapa contoh, Hamdan menyebut Masjid Cheng Ho ada di Surabaya, Palembang hingga Malang. Sebagian bahkan cukup besar dan diresmikan oleh pejabat setingkat menteri agama. Menurut data yang ada, selain di tiga kota itu Masjid Cheng Ho setidaknya sudah berdiri di Semarang, Batam, Purbalingga, Banyuwangi, Gowa, Kutai, Samarinda, hingga Jambi.

Umat Muslim membawa barang-barang yang disumbangkan oleh konsulat China di Masjid Cheng Ho di Surabaya pada 6 Mei 2021, menjelang Idul Fitri yang menandai berakhirnya bulan suci Ramadhan. (Foto: AFP/Juni Kriswanto)
Umat Muslim membawa barang-barang yang disumbangkan oleh konsulat China di Masjid Cheng Ho di Surabaya pada 6 Mei 2021, menjelang Idul Fitri yang menandai berakhirnya bulan suci Ramadhan. (Foto: AFP/Juni Kriswanto)

“Temuan Mas Novi tentang agama Cheng Ho ini mestinya akan menjadi sebuah diskusi yang menarik bagi kalangan sejarawan Islam di Indonesia,” tambahnya.

Hamdan bahkan merekomendasikan penelitian perlu dilakukan, dengan mendasarkan sejumlah pendapat yang sudah ada dalam buku-buku yang telah terbit di Indonesia. Klaim yang ada harus disandingkan dengan temuan Novi Basuki, yang diperoleh dari naskah-naskah kuno berbahasa mandarin, agar fakta sejarah yang disimpulkan lebih pas.

Continue Reading

Mimbar Islam

Jangan Goda Istri Orang, Dosanya sangat Besar

Published

on

Jangan Goda Istri Orang, Dosanya sangat Besar.

Gencil News – Jangan Goda Istri Orang, Dosanya sangat Besar. Menggoda istri orang lain, ternyata bukan hal yang remeh dalam Islam. Meski sekedar iseng, tapi ternyata ada bahaya besar mengancam. 

Hal ini merupakan dosa yang sangat besar, dan juga telah membantu Iblis untuk menyukseskan programnya menyesatkan manusia.

Dalam sebuah hadist dari Abu Hurairah disebutkan bahwa Rasulullah Shallalahu alaihi wa sallam bersabda:

لَيْسَ مِنَّا مَنْ خَبَّبَ امرَأَةً عَلَى زَوجِهَا

“Bukan bagian dariku seseorang yang melakukan takhbib terhadap seorang wanita, sehingga dia melawan suaminya.” (HR. Abu Daud).

Dalam hadis lain riwayat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

وَمَنْ أَفْسَدَ امْرَأَةً عَلَى زَوْجِهَا فَلَيْسَ مِنَّا

“Siapa yang merusak hubungan seorang wanita dengan suaminya maka dia bukan bagian dariku.” (HR. Ahmad).

Rusaknya rumah tangga dan perceraian sangat disukai oleh Iblis. Hukum asal perceraian adalah dibenci, karenanya ulama menjelaskan hadits peringatan akan perceraian

Al-Munawi menjelaskan mengenai hadits ini,

إن هذا تهويل عظيم في ذم التفريق حيث كان أعظم مقاصد اللعين لما فيه من انقطاع النسل وانصرام بني آدم وتوقع وقوع الزنا الذي هو أعظم الكبائر

“Hadits ini menunjukan peringatan yang sangat menakutkan tentang celaan terhadap perceraian. Hal ini merupakan tujuan terbesar (Iblis) yang terlaknat karena perceraian mengakibatkan terputusnya keturunan. Bersendiriannya (tidak ada pasangan suami/istri) anak keturunan Nabi Adam akan menjerumuskan mereka ke perbuatan zina yang termasuk dosa-dosa besar yang paling besar menimbulkan kerusakan dan yang paling menyulitkan” (Faidhul Qadiir II/408)

Secara garis besar, takhbib bisa disebut merusak rumah tangga seseorang. Beberapa bentuk takhbib, misalnya menggoda salah satu pasangan suami istri yang sah dengan mengajak berzina, baik zina mata, tangan maupun zina hati sehingga ia menjadi benci dengan pasangan sahnya. 

“Karena interaksi lawan jenis yang tidak halal inilah, Allah cabut rasa cintanya terhadap keluarganya, digantikan dengan kehadiran orang baru dalam hatinya.”

Perlu diketahui bahwa prestasi terbesar bagi Iblis adalah merusak rumah tangga seorang muslim dan berujung dengan perceraian, sehingga hal ini termasuk membantu mensukseskan program Iblis.

Perhatikan hadits berikut, Dari Jabir radhiallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ إِبْلِيْسَ يَضَعُ عَرْشَهُ عَلَى الْمَاءِ ثُمَّ يَبْعَثُ سَرَايَاهُ فَأَدْنَاهُمْ مِنْهُ مَنْزِلَةً أَعْظَمُهُمْ فِتْنَةً يَجِيْءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُوْلُ فَعَلْتُ كَذَا وَكَذَا فَيَقُوْلُ مَا صَنَعْتَ شَيْئًا قَالَ ثُمَّ يَجِيْءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُوْلُ مَاتَرَكْتُهُ حَتَّى فَرَّقْتُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ قَالَ فَيُدْنِيْهِ مِنْهُ وَيَقُوْلُ نِعْمَ أَنْتَ

“Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air (laut) kemudian ia mengutus bala tentaranya. Maka yang paling dekat dengannya adalah yang paling besar fitnahnya. Datanglah salah seorang dari bala tentaranya dan berkata, “Aku telah melakukan begini dan begitu”. Iblis berkata, “Engkau sama sekali tidak melakukan sesuatupun”. Kemudian datang yang lain lagi dan berkata, “Aku tidak meninggalkannya (untuk digoda) hingga aku berhasil memisahkan antara dia dan istrinya. Maka Iblis pun mendekatinya dan berkata, “Sungguh hebat (setan) seperti engkau” (HR Muslim IV/2167 no 2813)

Menggoda istri orang lain dengan memberikan perhatian dan kasih sayang yang semu, misalnya melalui WA atau inbox sosial media. Sang istri pun terpengaruh karena selama ini mungkin suaminya sibuk mencari nafkah , merantau ataupun yang lainnya.

Mengompor-ngompori salah satu pasutri agar membenci pasangannya dengan sering menyebut-nyebut kekurangan suaminya dengan membandingkan dirinya atau suami orang lain. 

Padahal suaminya sangat baik dan bertanggung jawab, hanya saja pasti ada kekurangannya. Dan masih banyak yang lain jenis jenis perbuatan takhbib lainnya.

Adapun ancaman dosa melakukan “takhbib” telah dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadist yang kami kutip diawal tulisan.

ﻟَﻴْﺲَ ﻣِﻨَّﺎ ﻣَﻦْ ﺧَﺒَّﺐَ ﺍﻣﺮَﺃَﺓً ﻋَﻠَﻰ ﺯَﻭﺟِﻬَﺎ

”Bukan bagian dari kami, Orang yang melakukan takhbib terhadap seorang wanita, sehingga dia melawan suaminya.” (HR. Abu Daud)

Ad-Dzahabi menjelaskan yaitu merusak hati wanita terhadap suaminya, beliau berkata,

ﺇﻓﺴﺎﺩ ﻗﻠﺐ ﺍﻟﻤﺮﺃﺓ ﻋﻠﻰ ﺯﻭﺟﻬﺎ

”Merusak hati wanita terhadap suaminya.” (Al-Kabair, hal. 209).

Dalam riwayat yang lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﻭَﻣَﻦْ ﺃَﻓْﺴَﺪَ ﺍﻣْﺮَﺃَﺓً ﻋَﻠَﻰ ﺯَﻭْﺟِﻬَﺎ ﻓَﻠَﻴْﺲَ ﻣِﻨَّﺎ

”Barang siapa yang merusak hubungan seorang wanita dengan suaminya maka dia bukan bagian dari kami.”( HR. Ahmad, shahih)

Dalam kitab Mausu’ah Fiqhiyyah dijelaskan bahwa merusak di sini adalah mengompor-ngimpori untuk minta cerai atau menyebabkannya (mengompor-ngompori secara tidak langsung).

ﻣَﻦْ ﺃَﻓْﺴَﺪَ ﺯَﻭْﺟَﺔَ ﺍﻣْﺮِﺉٍ ﺃَﻱْ : ﺃَﻏْﺮَﺍﻫَﺎ ﺑِﻄَﻠَﺐِ ﺍﻟﻄَّﻼَﻕِ ﺃَﻭِ ﺍﻟﺘَّﺴَﺒُّﺐِ ﻓِﻴﻪِ ، ﻓَﻘَﺪْ ﺃَﺗَﻰ ﺑَﺎﺑًﺎ ﻋَﻈِﻴﻤًﺎ ﻣِﻦْ ﺃَﺑْﻮَﺍﺏِ ﺍﻟْﻜَﺒَﺎﺋِﺮِ ” ﺍﻧﺘﻬﻰ

“Maksud merusak istri orang lain yaitu mengompor-ngompori untuk meminta cerai atau menyebabkannya, maka ia telah melalukan dosa yang sangat besar.” (Mausu’ah Fiqhiyyah 5/291).

Maka dari itu ikhwan wa akhwat fiillah, marilah kita bersama meminta perlindungan dari Allah Azza wa Jalla dari dasyatnya dosa ini. 

Melihat dosa takhbib ini bisa menimpa atau dilakukan siapa saja, tanpa memandang siapa dia, entah itu orang awwam, tholib ataupun yang terlihat alim. 

Terakhir nasehat ini kami tujukan kepada diri pribadi dan bagi siapapun yang membaca tulisan ini. “Rumput tetangga memang terkadang tampak lebih hjiau dimata kita, namun yakinlah rumput sendiri tetap yang terbaik.”

Penulis: Abu Ibrohim Ayyash. (tulisan diambil dari beberapa sumber, semoga menjadikan manfaat bagi kami dan semua).

Continue Reading

Mimbar Islam

Renungan Jum’at: Sembuhkan Hati dengan Meninggalkan Dosa

Published

on

Renungan Jum'at: Sembuhkan Hati dengan Meninggalkan Dosa

Gencil News- Renungan Jum’at: Sembuhkan rasa marah dan dengki dari hati dengan mengupayakan dan berikhtiar meninggalkan dosa.

Meninggalkan dosa dapat membuat hati menjadi lembut dan pikiran jernih. Hati yang lembut adalah hati yang dengan tulus menerima nasihat agama dan mematuhinya, serta melaksanakannya dengan khusyuk.

“Siapa meninggalkan perkara yang haram dalam makanan, pakaian dan lainnya serta memakan hanya yang halal, maka pikirannya akan menjadi jernih,” –Nashaih Al-Ibad.

Maka dari itu wajib bagi hamba Allah memperbanyak tafakur untuk memperkuat keyakinannya tentang kebangkitan setelah mati.

Selain itu, harus pula mengakui adanya perhitungan seluruh perbuatannya selama di dunia.

Sesuai dengan kadar kekuatan iman yang niscaya akan timbul semangat dan kesungguhan untuk menjunjung tinggi perintah Allah SWT dan menjauhi larangannya.

Allah SWT berfirman dalam surat Asy Syura ayat 40:

وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا ۖ فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ

“Barangsiapa yang memaafkan dan mendamaikan maka pahalanya dari Allah SWT” (QS: Asy-Syura: 40)

Sembuhkanlah hati, dan buka pintu maaf dengan ikhlas agar senantiasa sehat.

Selalu waspada dan hati-hati terhadap keangkuhan karena keangkuhan membuat Iblis enggan bersujud kepada Adam. Hati-hatilah terhadap tamak (rakus) karena ketamakan mengantar Adam memakan buah terlarang, dan berhati-hatilah terhadap iri hati karena kedua anak Adam (Qabil dan Habil) salah seorang di antaranya membunuh saudaranya akibat dorongan iri hati.

Continue Reading

Advertisement

DOWNLOAD APLIKASI GENCILNEWS

Advertisement

TRENDING