Renungan Harian

RENUNGAN HARIAN 17Juni 2022

Renungan Harian Katolik Hari Ini 30 Mei 2022


Dalam 2Raj 11:1-4.9-18.20, dikisahkan: “Ketika Ahazia, raja Yehuda mati terbunuh, Atalya (ibunya) bangkit utk membinasakan semua keturunan raja. Tetapi Yoseba, anak perempuan raja Yoram, saudara perempuan Ahazia, mengambil Yoas bin Ahazia, menculik dia dari tengah-tengah anak-anak raja yang hendak dibunuh itu. Dia memasukkan anak itu dengan inang penyusunya ke dalam gudang tempat tidur, dan menyembunyikan dia terhadap Atalya, sehingga dia tidak dibunuh.

Maka tinggallah dia enam tahun lamanya bersama-sama perempuan itu dengan bersembunyi di rumah Tuhan, sementara Atalya memerintah negeri.

Dalam tahun yang ketujuh Yoyada mengundang para kepala pasukan seratus dari orang Kari dan dari pasukan bentara penunggu. Disuruhnyalah mereka datang kepadanya di rumah Tuhan, lalu diikatnya perjanjian dengan mereka dengan menyuruh mereka bersumpah di rumah Tuhan. Kemudian diperlihatkannyalah anak raja itu kepada mereka.

Para kepala pasukan seratus itu melakukan tepat seperti yang diperintahkan imam Yoyada. Masing-masing mengambil orang-orangnya yang selesai bertugas pada hari Sabat bersama dengan orang-orang yang masuk bertugas pada hari itu, lalu datanglah mereka kepada imam Yoyada.

Imam memberikan kepada para kepala pasukan seratus itu tombak-tombak dan perisai-perisai kepunyaan raja Daud yang ada di rumah Tuhan.

Baca juga   RENUNGAN HARIAN TGL 12 JUNI 2022 Hari Raya Tritunggal Mahakudus

Kemudian para bentara itu, masing-masing dengan senjatanya di tangannya, mengambil tempatnya di lambung kanan sampai ke lambung kiri rumah itu, dengan mengelilingi mezbah dan rumah itu untuk melindungi raja.

Sesudah itu Yoyada membawa anak raja itu ke luar, mengenakan jejamang kepadanya dan memberikan hukum Allah kepadanya. Mereka menobatkan dia menjadi raja serta mengurapinya, dan sambil bertepuk tangan berserulah mereka: “Hiduplah raja!”

Ketika Atalya mendengar suara para bentara penunggu dan rakyat, pergilah ia mendapatkan rakyat itu ke dalam rumah Tuhan. Lalu dilihatnyalah raja berdiri dekat tiang menurut kebiasaan, sedang para pemimpin dengan para pemegang nafiri ada dekat raja. Dan seluruh rakyat negeri bersukaria sambil meniup nafiri. Maka Atalya mengoyakkan pakaiannya sambil berseru: “Khianat, khianat!”

Lalu, Imam Yoyada memerintahkan para kepala pasukan seratus, yakni orang-orang yang mengepalai tentara, katanya kepada mereka: “Bawalah dia keluar dari barisan! Siapa yang memihak kepadanya bunuhlah dengan pedang!” Sebab tadinya imam itu telah berkata: “Janganlah ia dibunuh di rumah Tuhan!”

Lalu mereka menangkap perempuan itu. Pada waktu ia masuk ke istana raja dengan melalui pintu bagi kuda, dibunuhlah dia di situ. Kemudian Yoyada mengikat perjanjian antara Tuhan dengan raja dan rakyat, bahwa mereka menjadi umat Tuhan; juga antara raja dengan rakyat.

Baca juga   RENUNGAN HARIAN Katolik Tanggal 9 JUNI 22

Sesudah itu masuklah seluruh rakyat negeri ke rumah Baal, lalu merobohkannya; mereka memecahkan sama sekali mezbah-mezbahnya dan patung-patung dan membunuh Matan, imam Baal, di depan mezbah-mezbah itu. Kemudian imam Yoyada mengangkat penjaga-penjaga untuk rumah Tuhan.

Bersukarialah seluruh rakyat negeri dan amanlah kota itu, setelah Atalya mati dibunuh dengan pedang di istana raja.
    
Matius dalam injilnya (6:19-23) mewartakan sabda Yesus:  “Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya.

Kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.

Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu; Jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu.

Baca juga   Renungan Harian Katolik: Merayakan Hari Raya Pentakosta

Hikmah yang dapat kita petik:

  1. Dikisahkan bhw “Ketika Atalya, ibu Ahazia, melihat bahwa anaknya ( Ahazia = raja Yehuda) sudah mati, bangkitlah ia dan membinasakan semua keturunan raja.

Betapa tega dia ( = seorang ibu) membinasakan anaknya sendiri, karena dia ingin dihormati, punya banyak uang dan kekuasaan mutlak.

Hendaknya kita sadar bhw ada ibu kandung yg tega membunuh anak kandungnya sendiri, namun jauh lebih banyak kaum ibu yg baik dan setia.

Kalau manusia yg penuh kelemahan, bisa bertindak baik dan setia, apalagi Tuhan kita. Dia tidak pernah lupa akan janji-Nya.

  1. Yesus bersabda: “Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu; jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu.

Mata, tatapan dan sorot mata merupakan cermin dari apa yg sedang kita alami. Dg melihat semuanya itu, dan dg cermat mengamatinya, kita dpat menangkap suasana batin yg sdg dialami org itu.

Semoga tatapan mata kita sungguh bersih, dan mencerminkan pribadi yg damai dan penuh syukur. Amin. (Mgr. Nico Adi MSC).

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

TERPOPULER

To Top