Dialog Anak dan Kemendikbud-Ristek: PR yang Bertumpuk Bebani Siswa
Connect with us

Pendidikan

Dialog Anak dan Kemendikbud-Ristek: PR yang Bertumpuk Bebani Siswa

Published

on

Dialog Anak dan Kemendikbud-Ristek

Gencil News – VOA – Berbagai isu disampaikan dalam dialog Kemendikbud-Ristek dengan perwakilan siswa dari sejumlah daerah, termasuk soal kesulitan dan kemudahan mengikuti pembelajaran jarak jauh, terlalu banyaknya pekerjaan rumah (PR) yang membebani hingga harapan siswa agar pandemi virus corona segera berakhir.

Merasa bosan dan kurang bisa memahami pelajaran disuarakan para siswa terkait pengalaman mereka selama mengikuti pembelajaran jarak jauh semasa pandemi COVID-19 dalam setahun terakhir.

Setiawan, pelajar kelas 12 Sekolah Menengah Kejuruan asal Jawa Barat mengungkapkan tantangan yang dihadapi anak selama belajar dari rumah, antara lain terlalu banyak pekerjaan rumah (PR) dan tugas dari guru dalam kegiatan pembelajaran online. Selain itu anak-anak juga dihadapkan pada situasi di rumah yang tidak ideal untuk belajar.

“Stresdengan beban PR dan tugas lainnya. Kedua Kondisi rumah yang tidak kondusif untuk belajar, konflik keluarga, misalkan anak yang terkena dampak broken home dan lain sebagainya, yang ketiga jenuh di rumah terbatas ruang dan waktu,” kata Setiawan dalam Dialog Anak Bersama Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, Minggu (2/5). Kegiatan itu diinisiasi oleh Dewan Penasehat Anak dan Kaum Muda, lembaga swadaya masyarakat, Save the Children Indonesia.

Para pelajar dan guru memakai masker setelah pemerintah Indonesia membuka kembali kegiatan belajar tatap mukadi tengah pandemi COVID-19 di Pariaman, Provinsi Sumatera Barat, 13 Juli 2020. (Foto: Antara /Iggoy el Fitra/via Reuters)
Para pelajar dan guru memakai masker setelah pemerintah Indonesia membuka kembali kegiatan belajar tatap mukadi tengah pandemi COVID-19 di Pariaman, Provinsi Sumatera Barat, 13 Juli 2020. (Foto: Antara /Iggoy el Fitra/via Reuters)

Riset yang dilakukan oleh Jaringan Komunitas Anak untuk Gerakan “Save Our Education” terhadap 125 anak di Sulawesi Tengah, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta pada 15-20 April 2021, mengungkap tantangan yang dihadapi anak-anak menjalani pembelajaran jarak jauh yang terdampak terlalu lama menatap layar gawai dan komputer.

“Jadi karena sering menatap layar, teman-teman itu juga merasa pusing, lelah, stres dan dia tidak bertemu dengan teman secara langsung,” kata Anisa, pelajar asal Yogyakarta.

Menurut Anisa, kurang lebih 45 anak yang dilibatkan dalam studi itu menyatakan kurang bisa fokus saat belajar di rumah karena terkadang diminta orang tua mengerjakan sesuatu, serta situasi berisik dari lingkungan sekitar.

Anisa mengungkapkan harapan agar pandemi bisa segera berakhir sehingga bisa kembali melakukan pembelajaran secara tatap muka di sekolah.

Studi Global Save

Dewi Sri Sumanah, Media & Brand Manager Save the Children Indonesia kepada VOA mengatakan pesan yang disampaikan anak-anak dalam dialog itu memperkuat temuan studi global pada 2020 di 46 negara, termasuk Indonesia.

“Tercatat delapan dari sepuluh anak tidak dapat mengakses bahan pembelajaran yang memadai dan empat dari sepuluh anak kesulitan memahami pekerjaan rumah selama PJJ (pembelajaran jarak jauh),” ujar Dewi.

Inggit Andini (kanan) mengajar anak-anak yang tidak punya akses internet di rumahnya, di Tangerang, 10 Agustus 2020.
Inggit Andini (kanan) mengajar anak-anak yang tidak punya akses internet di rumahnya, di Tangerang, 10 Agustus 2020.

Menurut Dewi pada 2021 pihaknya berupaya mendorong pemerataan akses pendidikan agar setiap anak memperoleh pendidikan yang berkualitas di lingkungan belajar yang aman baik luring maupun daring melalui kampanye gerakan “Save Our Education.” Tahun ini kampanye itu dilaksanakan di Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Jawa Barat, Yogyakarta dan DKI Jakarta.

“Fokus pesan yang kita angkat dalam gerakan ini adalah tentang pemerataan akses terhadap pendidikan untuk setiap anak lalu juga kualitas pembelajaran yang didapat oleh setiap anak dan pentingnya peran orangtua dalam mendukung proses pembelajaran, baik pembelajaran jarak jauh maupun tatap muka yang sedang dipersiapkan,” jelas Dewi.

Penguasaan Teknologi Informasi

Direktur Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) pada Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Muhammad Hasbi mengatakan situasi pandemi COVID-19 juga menempatkan guru pada situasi yang belum pernah dihadapi sebelumnya. Para guru kini dihadapkan pada kebutuhan penguasaan teknologi informasi untuk pembelajaran secara daring dan kemampuan guru berkomunikasi dengan para orangtua siswa.

“Sehingga apa yang tadinya terjadi di kelas bisa terjadi di rumah melalui perantaraan orang tua dan satu hal yang menopang itu adalah bagaimana orang tua dan guru masing-masing memiliki perangkat teknologi informasi yang memadai,” kata Hasbi.

Diakuinya tidak banyak orangtua yang siap menjadi pendidik di rumah karena keterbatasan kompetensi mengajar seperti guru di kelas.

“Ini membuktikan bahwa memang kita memiliki permasalahan terhadap kompetensi pedagogik orangtua dan kompetensi substansi orangtua, nah keadaan ini kemudian membuat orangtua menjadi stres. Mereka mengalami kesulitan melaksanakan pembimbingan belajar dari rumah,” jelasnya.

Dikatakannya Kementerian Pendidikan telah menyediakan sumberdaya pendidikan bagi siswa dan guru untuk mengakses materi pembelajaran yang lebih bervariasi di platform Rumah Belajar dan Guru Berbagi.

Selain itu Kementerian Pendidikan mulai tahun 2021 akan merekrut satu juta guru dengan perjanjian kerja untuk ditempatkan di daerah-daerah yang mengalami kekurangan guru.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Pendidikan

UGM Rencanakan Kuliah Bauran Semester Depan

Published

on

UGM Rencanakan Kuliah Bauran Semester Depan

Gencil News – VOA – Mahasiswa angkatan 2020 di Indonesia akan dikenang karena nasibnya di tengah pandemi. Setelah hampir setahun kuliah, mayoritas dari mereka belum pernah masuk gerbang kampus.

Nasib itu antara lain dialami Al Irhaska Firdaus, mahasiswa Sastra Arab, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Sejak dinyatakan diterima sebagai mahasiswa di kampus idamannya setahun lalu, dia kuliah dari rumahnya, di Lumajang, Jawa Timur. Seperti punya teman, tetapi seperti juga tidak punya, ujarnya, karena kontak lebih banyak dilakukan di grup aplikasi percakapan.

“Yang paling terasa itu hubungan sama temen-teman, soalnya kalau ketemu langsung lebih cepat dekat, lebih cepat bonding-nya, lebih kenal. Sekarang ini belum terasa dekatnya,” kata Firdaus kepada VOA.

Kuliah daring juga tidak selalu mudah. Firdaus memberi contoh, ada banyak tugas seperti menulis naskah drama yang harus dilakukan berkelompok. Tentu saja jarak menjadi persoalan bagi mereka.

Nasib sama dialami Naufal A’isy, mahasiswa akuntansi sektor publik angkatan 2020 di Universitas Gadjah Mada. “Saya belum pernah ke kampus, cuma lewat doang,” katanya kepada VOA.

Naufal mengikuti perkuliahan dari rumahnya di Pemalang, Jawa Tengah. Ini pula yang membuatnya merasa, kuliah daring membuat boros kuota internet. Selain itu, dia merasa tidak bisa bergaul dengan teman seangkatan secara wajar, minim pengalaman sebagai mahasiswa, kesulitan memahami materi dan terkendala ketika ingin bertanya kepada dosen.

“Tapi ada enaknya juga. Kuliahnya bisa disambi mengerjakan tugas, kalau presentasi juga lebih gampang. Irit karena tidak perlu kos dan rapat-rapat dengan teman rasanya lebih efektif. Selain itu, bisa kuliah sambil tidur,” ujar Naufal.

Kedua mahasiswa ini berharap UGM segera membuka kesempatan kuliah luring atau tatap muka. Firdaus berpendapat, kuliah tatap muka penting bagai mereka yang sama sekali belum pernah datang ke kampus. Namun, dia mengaku mungkin tidak akan mengikutinya dalam waktu dekat, karena orang tuanya belum setuju. Sedangkan Naufal memastikan akan ikut, salah satunya karena dia merasa sebagai mahasiswa membutuhkan interaksi langsung.

Kuliah Bauran di UGM

Firdaus dan Naufal adalah dua dari ribuan mahasiswa UGM yang diminta berpendapat mengenai rencana kampus tersebut membuka kuliah bauran atau campuran semester depan, yang akan dimulai sekitar bulan Agustus.

Kepala Pusat Inovasi Kebijakan Akademik (PIKA) UGM, Dr. Hatma Suryatmojo menyebut, kuliah bauran sebenarnya sudah ada di UGM sejak 2018. Meski waktu itu belum populer, rektor telah mengizinkan dosen kampus itu untuk mengajar melalui jaringan internet, maksimal 40 persen materi. Pandemi COVID 19, kata Hatma, memaksa semua pihak untuk melakukan kuliah daring penuh, dan tentu bukan proses yang mudah.

Setelah setahun berjalan, UGM melakukan evaluasi. Melalui survei yang dilakukan, ditemukan fakta bahwa mayoritas mahasiswa merasa kuliah yang mereka ikuti tidak memberi hasil maksimal. Karena itu, kuliah daring seratus persen tidak seterusnya bisa dilakukan.

“Kalau kita melaksanakan daring penuh terus, nanti ada konsekuensi kemungkinan kualitas lulusan kita akan menurun, karena mahasiswa sendiri sudah mengakui mereka mengalami kesulitan dalam pemenuhan kompetensi untuk mata kuliah yang diambil,” kata Hatma.

UGM memang telah menyelenggarakan survei dengan responden mahasiswa dan dosen. Diketahui kemudian, sekitar 80 persen mahasiswa mengaku mengalami kesulitan memenuhi kompetensi. Faktornya beragam, mulai dari fasilitas komputer hingga jaringan internet di rumah mahasiswa.

“Hanya 11,6 persen mahasiswa yang mengatakan pemenuhan kompetensi pembelajaran terpenuhi dalam kuliah secara daring penuh,” tabah Hatma.

Sementara 76 persen dosen menyatakan lebih nyaman, jika mulai semester depan kuliah dilaksanakan secara bauran.

Hatma mengatakan, kondisi memang terus berubah terkait COVID 19. Namun setidaknya, pihak kampus telah melakukan persiapan seandainya kuliah akan dilakukan secara bauran. Saat ini setiap fakultas dan sekolah di UGM sedang melakukan pemetaan mata kuliah yang membutuhkan kegiatan tatap muka. Juga dilakukan pemetaan terhadap dosen yang memenuhi syarat untuk mengajar tatap muka dan pemetaan fasilitas serta ruang kelas untuk perkuliahan.

“Semua kita siapkan mulai dari infrastruktur hingga SDM. Harapannya saat nantinya menyambut mahasiswa baru sudah dalam kondisi siap,” tambahnya.

Kondis Pandemi Menentukan

Sementara itu, Wakil Rektor UGM Bidang Pendidikan, Pengajaran, dan Kemahasiswaan, Prof. Djagal Wiseso, rencana ini tentu disusun dengan mengutamakan aspek kesehatan dan keselamatan.

“Diharapkan masing-masing program studi melakukan langkah persiapan, mengutamakan keselamatan. Tim Health Promoting University diperkuat di tiap fakultas, membentuk tim Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) bauran di tingkat fakultas dan universitas, dan memberi prioritas kepada mahasiswa angkatan 2020 dan 2021,” ujar Djagal.

Sejumlah syarat juga ditetapkan bagi mahasiswa yang akan mengikuti kuliah tatap muka, seperti membawa surat keterangan sehat bebas COVID 19 dan mengantongi izin atau persetujuan orang tua/wali. Mahasiswa peserta kuliah tatap muka akan menjalani pemeriksaan GeNose C-19 rutin, yang tersedia di setiap fakultas/sekolah di lingkungan UGM.

“Kepatuhan mahasiswa untuk menjalankan protokol kesehatan baik saat di kampus maupun di luar kampus juga harus dijalankan,” imbuhnya.

Selain diprioritaskan bagi mahasiswa angkatan 2020 dan 2021, mahasiswa tugas akhir dan program studi yang membutuhkan penyelenggaraan kegiatan secara tatap muka seperti praktikum, penelitian dan lainnya guna mencapai target capaian pembelajaran juga diberi kesempatan.

Djagal memastikan, rencana ini tetap memperhatikan perkembangan pandemi di tanah air. Jika jumlah kasus meningkat, bisa saja ditangguhkan hingga mereda.

Keputusan UGM ini akan menjadi acuan banyak kampus lain di Indonesia, khususnya di Yogyakarta. Jika terlaksana, dunia perguruan tinggi tanah air mungkin akan kembali normal, dan mahasiswa angkatan 2020 akan menginjakkan kaki di kampusnya pertama kali, setelah setahun menanti.

Continue Reading

Pendidikan

Ini Syarat Mengikuti Program Pertukaran Mahasiswa Merdeka dari Kemendikbud

Published

on

Ini Syarat Mengikuti Program Pertukaran Mahasiswa Merdeka dari Kemendikbud

Gencil News- Mulai Senin, 14 – 27 Juni 2021 mendatang, Program Pertukaran Mahasiswa Merdeka telah dibuka untuk mahasiswa seluruh Indonesia.

Selanjutnya, Calon peserta dapat mengakses pendaftaran melalui laman Pertukaran Mahasiswa  Merdeka  https://kampusmerdeka.kemdikbud.go.id/web/pertukaranMahasiswaMerdeka2021.

Nadiem Makarim dalam sambutannya meyakini para mahasiswa akan mendapat banyak pengalaman dan pelajaran.

Khususnya terkait keragaman budaya Indonesia dan toleransi antar sesama individu.

“Dari pertemuan dan perkenalan tersebut, kalian akan bersama-sama belajar menghargai perbedaan, dan merayakan keberagaman. Dan semua itu kalian lakukan sambil mengikuti perkuliahan,” terang Mendikbudristek secara virtual di Jakarta, pada Sabtu (12/6).

Ketua Subpokja Pertukaran Mahasiswa Merdeka, Andi Ilham menyampaikan:

“Bahwa program ini bertujuan untuk mendorong tumbuhnya semangat cinta tanah air melalui persahabatan antar generasi muda di berbagai wilayah Nusantara.”

“Jadilah calon pemimpin bangsa yang berintegritas, memahami keberagaman dan arif mengelola kekayaan sumber daya untuk membangun bangsa yang berdaulat adil dan makmur,” ujar Andi Ilham mengawali paparannya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan beberapa persyaratan yang harus mahasiswa penuhi untuk mengikuti program ini, yaitu;

1) mahasiswa S1 non-vokasi, aktif pada semester 3, 5, dan 7 dari PTN – PTS di seluruh tanah air;

2) memiliki IPK minimal 2,75 atau memiliki pengalaman prestasi non-akademik tingkat daerah/nasional/ internasional (lampirkan dengan dokumen yang sah).

Berikutnya, 3) memiliki kemampuan dan peluang untuk mengembangkan penalaran, wawasan, serta berintegritas, kreatif dan inovatif;

 4) tidak pernah terkena sanksi akademik dan non akademik pada perguruan tinggi pengirim;

5) bersedia mentaati seluruh ketentuan tertulis pada buku POB (Pedoman Operasional Baku) Program Pertukaran Mahasiswa Merdeka; serta

6) mendapatkan rekomendasi dari PT asal dan izin orang tua/wali. “Jika Anda memiliki semua persyaratan ini ayo daftar sekarang,” tekannya.

Selain itu, Andi Ilham menyampaikan , Pertukaran Mahasiswa akan dikirim ke salah satu kampus untuk mengikuti proses pembelajaran dengan tiga skema yang mahasiswa pilih.

Pertama, total 20 SKS dapat mahasiswa atau mahasiswi tempuh secara luring.

Kedua, total 20 SKS dapat mahasiswa tempuh dengan kombinasi, yaitu beberapa mata kuliah (10 SKS) pada perguruan tinggi penerima secara luring dan beberapa mata kuliah (10 SKS) pada perguruan tinggi pengirim (asal) secara daring.

Ketiga, total 20 SKS dapat mahasiswa tempuh dengan kombinasi, yaitu beberapa mata kuliah (10 SKS) pada perguruan tinggi penerima secara luring, dan beberapa mata kuliah (10 SKS) pada perguruan tinggi mitra secara daring.

Selain itu, mahasiswa juga akan mengikuti kegiatan Modul Nusantara yang setara dengan 2 sks dan mendapat bimbingan dari dosen.

Empat kegiatan pokok yang ada pada Modul Nusantara ini antara lain kebhinekaan (14 kegiatan), inspirasi (3 kegiatan), refleksi (7 kegiatan), dan kontribusi sosial (1 kegiatan).

Continue Reading

Pendidikan

Berikut Cara Cek Pengumuman SBMPTN Tahun 2021

Published

on

By

Berikut Cara Cek Pengumuman SBMPTN Tahun 2021

Gencil News- Pengumuman hasil Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi (SBMPTN) Tahun 2021 akan segera diumumkan oleh Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT). Pada hari Senin (14/6) pukul 15.00 WIB.

Budi Prasetyo, eksekutif LTMPT menjelaskan mengenai cara cek pengumuman SBMPTN 2021 dapat melalui situs LTMPT serta beberapa laman mirror PTN.

“Hasil seleksi SBMPTN bisa diakses pada mirrorinf 28 web PTN,”kata Budi.

Penyelenggara LTMPT menjelaskan untuk hasil pengumuman SBMPTN yang berada dalam situs tersebut hanya bisa pribadi yang mengakses.

Jadi anda tidak perlu khawatir untuk keamanannya, karena laman mirror sendiri sudah dipersiapkan khusus dari pihak LTMPT.

Laman mirror berguna untuk membantu mengumumkan hasil SBMPTN bila situs utamanya megalami down ketika yang mengakses banyak.

Peserta perlu meyiapkan beberapa hal yang mecakup no peserta serta data lainnya untuk melihat hasilnya, yakni :

  • Nomor Pendaftaran
  • Tanggal Lahir
  • NISN
  • NPSN

Cara cek pengumuman SBMPTN 2021 berdasarkan laman resmi LTMPT:

  1. Masuk pada laman LTMPT https://portal.ltmpt.ac.id/login. Ini link pengumuman SBMPTN 2021 yang resmi.
  2. Login menggunakan email dan password yang telah terdaftar sebelumnya.
  3. Pengumuman SBMPTN 2021 nantinya akan muncul dengan keterangan lolos atau tidak lolos.

Tahun ini hasil seleksi SBMPTN tidak bisa diakses secara publik. Namun bersifat pribadi dan individual. Pada 14 Juni mendatang, para peserta SBMPTN tidak hanya mendapatkan hasil UTBK (Ujian Tes Berbasis Komputer) melainkan akan memperoleh sertifikat hasil UTBK.

Sertifikat tersebut berguna untuk mendaftar ke perguruan tinggi lain seperti jalur mandiri atau pendidikan kedinasan yang memiliki syarat tersebut.

Selain lewat jalur SBMPTN. Calon mahasiswa juga masih memiliki kesempatan bisa masuk PTN melalui jalur mandiri pada masing-masing kampus.

Continue Reading

Pendidikan

Tingkatkan IPM, Disdikbud Kalbar Sosialisasikan Program Gemar Sabar

Published

on

By

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalbar
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalbar, Sugeng Hariadi

Gencil News – Rendahnya angka Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kalbar saat ini masih menjadi perhatian bagi pemerintah. Saat ini Kalbar menempati posisi ke 32 rata-rata langka sekolah dan posisi ke 30 harapan lama sekolah dari 34 provinsi se-Indonesia.

Pemerintah Provinsi Kalbar melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalbar terus mencari solusi untuk mengatasi hal tersebut.

Dengan itu, Disdikbud Kalbar melakukan inovasi dengan membuat program Gerakan Mari Belajar Masyarakat KALBAR (GEMAR SABAR).

Tujuan program GEMAR SABAR ini agar dapat menjadi jembatan koordinasi bersama stakholder pendidikan dan masyarakat.

Mengutip dari laman Youtube Disdikbud Kalbar, melalui program ini akan terbentuk kader penggerak untuk meningkatkan mutu pendidikan melalui pendidikan formal dan non formal.

Kadisdikbud Kalbar, Sugeng Hariadi mengatakan dengan rendahnya tingkat IPM di Kalbar perlu melakukan percepatan pada semua sektor pendidikan.

“Untuk itu mari kita dukung program Gemar Sabar, sehingga kita dapat mempercepat peningkatan IPM dengan menekan angka putus sekolah,” ujar Sugeng Hariadi

Selain itu, menurutnya pemberian akses pelayanan pemerataan pendidikan pada semua jenjang. Kemudian mendorong orangtua untuk menyekolahkan putera puterinya, baik pada lembaga pendidikan formal maupun non formal.

Gubernur Kalbar, Sutarmidji juga meminta masyarakat untuk mensukseskan program Gemar Sabar tersebut.

“Ini kita lakukan karena IPM Kalbar masih sangat rendah, angka lamanya belajar masyarakat Kalbar itu rata-rata 7,37 tahun,” terang Sutarmidji

Sementara, untuk angka harapan lamanya belajar bagi usia 18 tahun kebawah, kurang lebih 12,6 tahun.

“Hal itu masih sangat kecil, maka dari itu mari dorong anak-anak kita untuk tidak putus sekolah,” pintanya

Sutarmidji juga meminta agar masyarakat dapat mengikuti pendidikan non formal lainnya, seperti sekolah paket A, B dan C.

“Ini semua untuk mendongkrak supaya angka lamanya belajar di Kalbar semakin membaik. Supaya investasi di Kalbar menarik para investor,” tambahnya

Ciptakan Investasi Kompetitif

Karena menurutnya, jika SDMnya tidak mumpuni maka investasi di Kalbar tidak kompetitif. Karena harus mendatangkan pekerja-pekerja dari luar Kalbar.

Sehingga, Kedepannya untuk mengelola sumber daya alam Kalbar pengelolanya adalah masyarakat Kalbar sendiri. Dan satu-satunya jalan adalah meningkatkan SDM agar dapat berperan dalam pembangunan segala bidang.

“Saya tidak ingin masyarakat Kalbar hanya menjadi penonton proses pembangunan karena ketidakmampuan pada sisi SDMnya,”pungkasnya

Maka dari itu, Sutarmidji berharap kepada masyarakat agar terus mensosialisasikan dan mensukseskan bersama program Disdikbud ini.

Continue Reading

Advertisement

DOWNLOAD APLIKASI GENCILNEWS

Advertisement

TRENDING