Bayi Panda Raksasa Dilahirkan di Singapura
Connect with us

Lingkungan

Bayi Panda Raksasa Dilahirkan di Singapura

Published

on

Bayi Panda Raksasa Dilahirkan di Singapura

Gencil News – VOA – Seekor panda jantan dilahirkan di Singapura bulan lalu, bayi panda pertama yang dilahirkan di negara itu.

Anak panda itu adalah anak pertama dari sepasang panda raksasa yang berada di taman margasatwa River Safari di Singapura.

Panda betina bernama Jia Jia melahirkan anaknya itu pada 14 Agustus lalu. Sementara pengumumannya baru disampaikan Wildlife Reserves pada Jumat, 10 September dan menyatakan bahwa bayi yang dilahirkan itu jantan.

Jenis kelamin panda ditentukan melalui serangkaian penilaian visual oleh tim perawatan panda.

Pengungkapan jenis kelamin dilakukan ketika merayakan ulang tahun ke-14 bapak panda, yang bernama Kai Kai.

Panda raksasa yang dipelihara di taman itu merupakan bagian dari kerjasama antara China Wildlife Conservation Association dan Wildlife Reserves Singapore untuk mendukung konservasi panda raksasa.

Publik Singapura diminta ikut serta membantu memberikan nama bayi panda itu, yang diharapkan dapat diumumkan sebelum bayi panda itu berusia 100 hari pada 21 November mendatang.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Lingkungan

63 Ekor Penguin Mati Diserang Lebah di Afrika Selatan

Tim dokter hewan di Afrika Selatan menyimpulkan bahwa kematian mendadak yang terjadi pada 63 ekor penguin di pantai Boulders, di dekat Simonstow, pada minggu lalu disebabkan oleh serangan lebah.

Published

on

63 Ekor Penguin Mati Diserang Lebah di Afrika Selatan

Gencil News – VOA – Kematian sekelompok penguin tersebut terjadi secara tiba-tiba antara Kamis sore dan Jumat pagi minggu lalu. Penyelidikan awal menunjukkan, hewan-hewan itu mati karena disengat kawanan lebah madu Cape.

Tidak tampak luka fisik pada bagian luar penguin-penguin itu.

Hasil pemeriksaan bangkai oleh Yayasan Afrika Selatan untuk Konservasi Burung Pesisir (SANCCOB) menunjukkan bahwa terdapat beberapa bekas serangan lebah pada semua penguin tersebut. Selain itu, bukti lain menujukkan bahwa banyak ditemukan lebah mati di lokasi yang sama dengan tempat penguin-penguin tersebut mati.

“Kami menduga pada dasarnya nasib buruk saja yang terjadi pada penguin-penguin itu. Kami tidak berharap (kejadian ini) terulang kembali, karena (jika terulang kembali) lebah akan mulai menjadi ancaman bagi penguin,” ungkap Manajer Penelitian SANCCOB Katta Ludyia pada Senin (20/9).

Seekor penguin juga ditemukan mati di pantai Fish Hoek pada Minggu (19/9). Dokter hewan SANCCOB mengukuhkan juga terdapat beberapa sengatan lebah pada burung itu. Namun, sampel masih diuji untuk kemungkinan toksisitas dan penyakit lain guna menepiskan kemungkinan penyebab lainnya.

Continue Reading

Lingkungan

Komodo Masuk Daftar Merah Hewan yang Terancam Punah

Published

on

Komodo Masuk Daftar Merah Hewan yang Terancam Punah
Seekor komodo di Taman Nasional Komodo di Pulau Komodo, Provinsi Nusa Tenggara Timur. (Foto: Reuters)

Gencil News – VOA – Komodo yang terdapat di Taman Nasional Komodo dan Flores, dinyatakan sebagai hewan yang terancam punah pada Sabtu (4/9).

Perkembangan itu tercatat dalam Daftar Merah bagi Spesies yang Terancam yang diterbitkan oleh Serikat Internasional bagi Konservasi Alam (International Union for the Conservation of Nature/IUCN).

IUCN mengatakan spesies itu “semakin terancam oleh dampak perubahan iklim.” IUCN mencatat naiknya permukaan laut diperkirakan akan menggerus habitat komodo hingga 30 persen dalam 45 tahun ke depan.

“Kemungkinan hewan pra-sejarah ini satu langkah lebih dekat menuju kepunahan akibat perubahan iklim, sangat menakutkan,” kata Andrew Terry, Direktur Konservasi pada Masyarakat Zoologi London.

Penurunan itu adalah “seruan keras agar alam diprioritaskan dalam semua pengambilan keputusan” ujarnya dalam pembicaraan iklim PBB di Glasgow.

Sekitar 28 persen dari 138.000 spesies yang dipelajari oleh IUCN kini terancam punah selamanya karena dampak aktivitas manusia.

Pesan penting dari Kongres IUCN yang diadakan di Prancis adalah menghilangnya spesies dan kehancuran ekosistem merupakan ancaman yang sejalan dengan perubahan iklim. 

Continue Reading

Lingkungan

Alih Fungsi Hutan Papua untuk Sawit, Mengancam Sumber Pangan

Published

on

Alih Fungsi Hutan Papua untuk Sawit Ancam Sumber Pangan Masyarakat Adat
Pekerja mengumpulkan buah sawit dari kebun sawit di kawasan transmigrasi Arso, Papua, 19 April 2007. (Foto: REUTERS/Oka Barta)

Gencil News- VOA – Greenpeace Indonesia melaporkan dalam rentang 2011-2019, luas hutan yang hilang (deforestasi) di Provinsi Papua dan Papua Barat mencapai hingga 435 ribu hektare.

Hilangnya hutan tersebut turut berdampak pada semakin berkurangnya hutan sagu yang menjadi sumber pangan bagi masyarakat adat setempat.

Pembabatan hutan untuk perkebunan kelapa sawit di wilayah Papua berdampak pada semakin berkurangnya lahan hutan pohon sagu sebagai sumber pangan bagi masyarakat adat di wilayah itu.

Pegiat Perempuan Adat dan Ekonomi Kreatif di Kabupaten Maybrat, Papua Barat, Beyum Baru, mengatakan untuk mendapatkan sagu para perempuan harus berjalan kaki dua hingga sepuluh kilometer jauhnya dari kampung. Situasi itu membuat beras menjadi pilihan pertama bahan pangan masyarakat.

“Karena beras semakin banyak dikonsumsi di kampung, sagu-sagu yang dulunya selalu dikonsumsi, sudah tidak dikonsumsi lagi,” kata Beyum Baru dalam webinar yang diselenggarakan oleh Greenpeace Indonesia bertema “Sagu Terakhir, Sa Punya,” Selasa (7/9).

Data pemerintah dalam kegiatan Pekan Sagu Nusantara 2020 silam menyebutkan, Indonesia memiliki luas lahan sagu terbesar di dunia.

Dari 6,5 juta hektare lahan sagu di seluruh dunia, sebesar 5,4 juta hektare berada di Indonesia dan lebih dari 95 persen atau 5,3 juta hektare terfokus di wilayah Papua.

Jenis sagu yang tumbuh di wilayah Papua menghasilkan “pati” yang lebih tinggi dibandingkan sagu yang tumbuh di daerah lain.

Rasela Melinda, peneliti Yayasan Pusaka Bentala Rakyat mengungkapkan dalam 20 tahun terakhir sebanyak 1,5 juta hektare lahan masyarakat adat Papua telah beralih kepemilikan untuk kepentingan investasi.

Situasi ini sangat mempengaruhi kehidupan masyarakat adat Papua, khususnya perempuan yang mengemban tanggung jawab lebih besar untuk penyediaan pangan rumah tangga.

“Karena bagi perempuan ini, hutan adalah ruang produksi mereka, tempat mereka kerja. Jadi kalau kita kerja ke kantor, perempuan kerjanya ke hutan. Mereka sebut hutan itu pasar raksasa, hutan itu apotek kami, di sana ada pangan, air, obat-obatan dan ruang aman,” jelas Rasela.

Alih fungsi lahan untuk investasi menyebabkan perempuan kehilangan ruang produksinya dan bahkan terkondisikan menjadi pekerja upahan di perkebunan.

Seorang petani mengumpulkan buah kelapa sawit di kawasan transmigrasi Arso di Provinsi Papua, 19 April 2007. (Foto: Reuters)
Seorang petani mengumpulkan buah kelapa sawit di kawasan transmigrasi Arso di Provinsi Papua, 19 April 2007. (Foto: Reuters)

Nico Wamafma, juru kampanye hutan Papua Greenpeace mendorong pemerintah melihat sagu di Papua bukan sekadar sebagai jenis tumbuhan, tapi sagu sebagai kehidupan masyarakat adat Papua. Pelestarian Sagu oleh masyarakat adat Papua dilakukan dalam skala kecil yang berbasis pada kearifan lokal.

“Kita ada lebih dari 250 suku dan di antara 250 suku itu, ada memang suku-suku yang kehidupannya melekat dengan sagu. Budidaya sagu skala kecil berbasis pada kearifan lokal masyarakat adat Papua yang juga menghitung daya dukung lingkungan itu sangat menjamin kualitasnya dan menjamin keberlanjutan pengelolaan di masa depan,” jelas Nico.

Ribuan Hektare Hutan Hilang

Juru bicara Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia, Sekar Banjaran Aji menyebutkan sejak tahun 2015, sekitar 130 ribu hektare hutan hujan Papua dibabat oleh produsen minyak sawit.

“Greenpeace setidaknya memetakan kira-kira ada 25 produsen minyak sawit menebangi sekitar 130 ribu hektare hutan hujan sejak dari 2015 dan menemukan 40 persen deforestasi terjadi di Papua,” kata Sekar dalam diskusi tersebut.

Dia menambahkan data Greenpeace terbaru menyebutkan luas hutan yang hilang di Provinsi Papua dan Papua Barat antara tahun 2011 hingga 2019 mencapai hingga 435.223 hektare.

Sekar kemudian menjelaskan berdasarkan peta tutupan lahan hutan 2019 diperkirakan terdapat 71,2 juta ton karbon di dalam hutan Papua. Hutan mempengaruhi cuaca dengan mengontrol curah hujan dan penguapan air dari tanah. Hutan membantu menstabilkan iklim Bumi dengan menyimpan karbon dalam jumlah besar, jika karbon tersebut tidak tersimpan akan berkontribusi pada perubahan iklim.

Continue Reading

Lingkungan

Orangutan Borneo Menjalani Swab Test COVID

Published

on

Orangutan Borneo Menjalani Swab Test COVID
Orangutan yang tadinya dijadwalkan akan dilepasliarkan, terpaksa “ditahan” tanpa kepastian kapan akan dibiarkan bebas berkeliaran di hutan akibat pandemi Covid-19. (Foto: BOS (Borneo Orang Utan Survival))

Gencil News – Dilengkapi dengan pakaian pelindung hazmat, beberapa dokter hewan tampak sibuk menjalani tugas mereka untuk melaksanakan tes usap (swab test) pada puluhan orangutan di Sabah, Malaysia, dalam sebuah pemeriksaan pada Selasa (7/9) minggu lalu.

Tes tersebut dilakukan pada 30 orangutan untuk mengetahui apakah sekelompok satwa, yang tergolong pada kelompok hewan yang terancam punah, terjangkit oleh virus corona. Petugas yang berwenang telah mengumumkan bahwa seluruh tes menunjukkan hasil negatif.

Tiga puluh orangutan yang di tes pada minggu lalu itu merupakan kelompok kera pertama yang menjalani tes COVID-19 di Malaysia. Tes tersebut dilakukan karena petugas pusat rehabilitasi dan margasatwa tempat sekelompok orangutan tersebut tinggal positif terinfeksi oleh COVID-19.

“Melakukan tes COVID-19 merupakan upaya penting bagi kami untuk melewati pandemi ini dan hal ini juga sama pentingnya bagi populasi orangutan,” kata Sen Nathan, asisten direktur dari Badan Margasatwa Sabah.

“Penyakit ini terbukti sangat berbahaya bagi kesehatan (para orangutan) dan dapat menghambat (progres) dari program rehabilitasi mereka.”

Petugas mengatakan para dokter hewan akan terus memantau kondisi sekelompok orangutan tersebut dan melakukan tes COVID-19 secara berkala.

Dalam beberapa kesempatan, COVID-19 terbukti telah berhasil menginfeksi hewan-hewan. Pada akhir pekan lalu, salah satu kebun binatang di Atlanta, Amerika Serikat, mengumumkan bahwa gorila di tempat mereka terjangkit oleh virus tersebut. Kucing-kucing peliharaan, anjing-anjing dan setidaknya satu musang juga telah terinfeksi oleh virus COVID-19.

Malaysia sendiri sedang berjuang memerangi kejadian luar biasa yang diakibatkan oleh COVID-19 di negaranya, terutama setelah kondisinya diperparah oleh varian Delta yang sangat menular. Negara di Asia Tenggara itu telah mencatat ribuan kasus baru dan ratusan kematian setiap harinya.

Negara bagian Sabah, yang terletak di timur laut dari Borneo dan merupakan rumah bagi jajaran hutan yang luas dan beragam jenis hewan, juga mengalami kenaikan jumlah kasus positif COVID-19

Orangutan Borneo dikategorikan sebagai kelompok hewan yang “terancam punah” oleh Kelompok Konservasi Alam Internasional.

Data dari World Wildlife Fund (WWF) menunjukkan populasi orangutan Borneo telah turun lebih dari 50 persen dalam 60 tahun terakhir. Penurunan tersebut dikarenakan hutan tempat tinggal mereka sudah banyak berkurang dan dialihfungsikan menjadi lahan pertanian.

Pulau Borneo sendiri terbagi ke dalam tiga negara yaitu Brunei, Indonesia dan Malaysia.

Continue Reading

Advertisement

DOWNLOAD APLIKASI GENCILNEWS

Advertisement

TRENDING