Connect with us

Pendidikan

Dua Tim Mahasiswa ITB, Menang Lomba Rancang Sistem Otomasi Bangunan

Published

on

Dua Tim Mahasiswa ITB, Menang Lomba Rancang Sistem Otomasi Bangunan
Bangunan komersial rancangan tim Wetonia ITB dilengkapi taman hijau dan elemen vegetasi.

Gencil News – VOA – Dua tim mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) baru-baru ini memenangkan kompetisi internasional merancang sistem pengaturan suhu ruang yang efisien.

Tim Wetonia dan tim Ganeshantuy keluar sebagai juara pertama dan kedua kategori Applied Engineering Challenge yang diadakan oleh organisasi HVAC (heating, ventilation, and air conditioning) terbesar di AS.

Dalam kompetisi internasional itu, para mahasiswa ditantang untuk merancang sebuah sistem agar para pengguna yang berada dalam sebuah bangunan bisa melaporkan isu-isu operasional terkait suhu ruang kepada operator bangunan itu.

Tim Wetonia merancang sebuah bangunan komersial ramah lingkungan di Bandung, di mana beberapa titik dan koridor lampunya diotomatisasi dengan memanfaatkan CCTV sehingga bisa lebih hemat energi.

Salah seorang anggotanya, Kamilita Hening Musono mengatakan kepada VOA bangunan itu juga dilengkapi dengan sistem otomatis untuk meningkatkan kenyamanan termal dalam ruangan.

“Kami memikirkan soal keekonomisan dan visibilitas untuk digunakan juga. Kita memanfaatkan apa yang sudah ada dalam bangunan itu dan kami juga memiliki sistem berpikir yang lebih runtut.”

Sistem otomasi bangunan rancangan tim Wetonia ITB.

Tim Wetonia beranggotakan enam mahasiswa dari berbagai jurusan yaitu R. Muhammad Nadhir Nasrudin Tanujiwa dari Teknik Lingkungan, Alpinus Raditya Dewangga, Reza Dzikri Khusaini dan Kamilita Hening Musono dari Teknik Mesin, serta Hilman Prakoso and Selvia Diwanty dari Teknik Arsitektur.

Sementara tim Ganeshantuy beranggotakan Calvin Sawaddah dari Teknik Mesin, Rezky Mahesa Nanda dan Ahmad Revo Guci dari Teknik Fisika, Ainun Fitryh Vianiryzki dari Teknik Informatika, serta Hafidza Fara Hapsari dan Valeryn Horlanso dari Teknik Arsitektur.

Mereka merancang sebuah bangunan komersial di Balikpapan yang dilengkapi muka bangunan (façade) yang kinetik sehingga bisa lebih adaptif terhadap iklim.

“Jadi saat pagi dan belum panas, façade kinetiknya terbuka, kemudian saat siang semakin hari semakin panas, façade kinetiknya adaptif bisa menutup sendiri. Ditambah dengan automated system yang dibangun oleh informatik-nya, mungkin bisa menghasilkan desain yang bagus dan berguna,” kata Valeryn.

Bangunan itu dilengkapi dengan sistem komputasi yang memungkinkan pengguna memberikan masukan mengenai kenyamanan suhu ruang yang mereka rasakan.

Kedua tim ITB tersebut mendominasi kategori Applied Engineering Challenge yang diadakan ASHRAE atau American Society of Heating Refrigerating and Air Conditioning. Wetonia keluar sebagai juara pertama, disusul Ganeshantuy sebagai juara kedua. Dipandu dosen pembimbing, mereka mengalahkan tim-tim mahasiswa lain dari seluruh dunia, termasuk dari Ekuador dan Mesir.

Bagi Calvin pengalamannya mengikuti kompetisi ini memberinya pelajaran berharga yaitu pentingnya kolaborasi. “Setelah ikut lomba ini saya mikirnya mesin sendiri itu tidak bisa apa-apa, jadi mereka harus berkolaborasi dengan bidang-bidang lain untuk menghasilkan suatu hasil tertentu. Kalau sendiri ngga bisa apa-apa.”

Sebagian besar kerja kelompok dilakukan secara daring di tengah pandemi virus corona dan aturan karantina wilayah.

Setelah diumumkan sebagai juara pertama pada Agustus, para anggota tim Wetonia mengaku sangat bersyukur karena kerja keras mereka selama beberapa bulan belakangan terbayar, seperti disampaikan Reza dan Selvia.

“Sampai hari-hari terakhir kita sempat benar-benar video call tiap hari 12 jam, bahkan hari terakhir 24 jam, bener-bener sampai ngga tidur, saya sampai ngga mandi dua hari, itu epik sekali,” ujar Reza sambil tertawa.

“How fun it is to work with people yang chemistrynya sangat cocok. No hard feeling. Bahkan ketika ada yang ketiduran, ya udah ngga apa-apa, kita jadikan guyonan,” kata Selvia.

Sebagai juara pertama, tim Wetonia berhak mendapat hadiah sebesar 5.000 dolar. Proyek mereka juga akan dipamerkan dalam Konferensi ASHRAE yang rencananya akan diadakan di Chicago, negara bagian Illinois pada musim dingin mendatang.

ASHRAE atau American Society of Heating Refrigerating and Air Conditioning merupakan sebuah asosiasi global yang bergerak dalam bidang pemanasan, pendinginan, dan pengondisian udara yang biasa disingkat “HVAC&R.” 

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Pendidikan

Pembelajaran Tatap Muka Diberhentikan, Pontianak Zona Orange

Published

on

By

Pembelajaran Tatap Muka Diberhentikan, Pontianak Zona Orange

Gencil News – Pembelajaran Tatap Muka Diberhentikan setelah diumumkannya Kota Pontianak berstatus zona orange. Maka dari itu proses pembelajaran tatap muka diberhentikan kembali dan dilanjutkan pembelajaran daring.

Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Barat Sugeng Hariadi menyampaikan bahwa proses pembelajaran SMA, SMK, dan SLB harus diberhentikan. Kebijakan ini berdasarkan Surat Keputusan Bersama 4 Menteri yaitu, Menteri Pendidikan, Menteri Agama, Mendagri, dan Menteri Kesehatan.

” Berdasarkan SKB 4 Menteri bahwa untuk wilayah zona orange proses pembelajaran tatap muka harus diberhentikan dan dilanjutkan belajar daring “. terangnya

Dikalimantan Barat kini ada empat kabupaten kota yang dinyatakan zona orange, yaitu Kota Pontianak, Singkawang, Kabupaten Kubu Raya, dan Kabupaten Sintang. empat wilayah ini proses pembelajaran harus diberhentikan kembali.

Sementara untuk wilayah yang berstatus zona kuning dan hijau masih diperbolehkan melakukan aktivitas pembelajaran tatap muka. Pembelajaran tatap muka juga hanya berlaku untuk kelas dua belas saja.

Untuk zona kuning dan hijau yang melakukan pembelajaran tatap muka harus terapkan protokol kesehatan dengan syarat melakukan rapid tes dan swab pemberlakuan jaga jarak senantiasa cuci tangan serta wajib menggunakan masker bagi siswa dan guru.

Pemberhentian pembelajaran tatap muka diminta khusus ke sekolah-sekolah yang telah melakukan uji coba pembelajaran tatap muka.

Sekolah yang telah melakukan pembelajaran tatap muka dikota pontianak seperti SMA 1, SMA 2, dan SMA 3 Pontianak meski telah terapkan protokol kesehatan kini juga harus memberhentikan pembelajaran tatap muka hingga waktu yang belum ditentukan.

Selain proses pembelajaran tatap muka yang harus diberhentikan beberapa tempat yang menimbulkan keramaian juga telah dibatasi. Seperti mall, warung kopi, dan taman yang ada dikota Pontianak selama 14 hari kedepan.

Kebijakan ini guna mencegah penyebaran covid 19 dikota pontianak yang kini berstatus zona orange. Lonjakan kenaikan kasus Covid 19 dikota Pontianak sendiri harus diwaspadai bersama.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sugeng Hariadi menyatakan bahwa SKB dari 4 Menteri tentang pemberhentian pembelajaran tatap muka untuk wilayah zona orange ini juga telah disetujui oleh Gubernur Kalimantan Barat dan semua pihak sekolah.

Continue Reading

Pendidikan

Kurikulum Baru Berbasis Industri, Lulusan SMK Sandang Gelar Diploma

Published

on

By

Kurikulum Baru Berbasis Industri, Lulusan SMK Sandang Gelar Diploma

Gencil News – Kurikulum Baru Berbasis Industri yang sedang disusun oleh pemerintah ini kabarnya akan menambah masa pendidikan SMK menjadi 4 tahun. dengan penambahan masa pendidikan ini nantinya lulusan SMK akan setara dengan gelar Diploma.

inovasi Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (kemendikbud) RI ini menambah masa pendidikan selama setahun menjadi 4 tahun. siswa SMK juga diwajibkan mengikuti program praktek kerja di industri. selain itu kurikulum SMK, juga harus disesuaikan dengan kebutuhan industri.

Data pada tahun 2018, tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Kalbar ada 104.518 orang, dari jumlah tersebut 12.950 orang di antaranya merupakan lulusan SMK. menghindari hal tersebut dengan adanya kurikulum berbasis industri ini diharapkan mampu mencetak lulusan SMK yang memiliki keahlian lebih, siap bekerja, dan berjiwa wirausahawan.

Hal ini dibenarkan oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sugeng Hariadi saat di temui di Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan.

“Itu rencana pak mentri bahwa SMK itu nanti ada SMK 4 tahun kelulusannya akan setara diploma, dan masih disusun kurikulumnya,” jelas Sugeng.

Gubernur Kalbar Sutarmidji sendiri mengingatkan bahwa SMK itu akan melewati masa 2 tahun pembekalan teori dan 1 tahun praktek. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan sendiri juga telah menyuarakan UU Cipta Kerja di seminar-seminar.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan juga tak mempermasalahkan jika nantinya SMK akan menjadi pilihan siswa lulusan SMP untuk melanjutkan pendidikannya. berdasarkan jumlah pelajar SMA dan SMK sekalimantan Barat berjumlah kurang lebih 200.000 pelajar 77.000 diantaranya pelajar SMK sementara sebanyak 123.000 merupakan pelajar SMA. artinya hanya 38.5% saja pelajar SMK yang ada dikalimantan Barat.

“Tidak masalah jika nantinya dengan kebijakan ini akan banyak yang memilih SMK untuk melanjutkan pendidikan, karena pemerintah juga tidak akan mampu memfasilitasi lulusan SMA untuk jadi pegawai negri semua. dengan kurikulum baru nanti ini kan pelajar lulusan SMK bisa lebih siap bekerja,” tambahnya.

Dengan adanya kurikulum berbasis industri ini juga diharapkan mampu mempersiapkan pelajar menjadi lulusan yang produktif dan siap bekerja. setelah magang atau praktek kemudian siswa akan diverifikasi berdasarkan keahliannya. dengan begitu akan mengurangi angka pengangguran.

Continue Reading

Pendidikan

Atasi Penurunan Mutu Pendidikan Di Era Pandemi

Published

on

By

Atasi Penurunan Mutu Pendidikan Di Era Pandemi

Gencil News- Atasi Penurunan Mutu Pendidikan Di Era Pandemi, Kementrian Pendidikan dan kebudayaan Mengatasi penurunan mutu pendidikan pada siswa dengan memberlakukan kurikulum penyesuaian di masa pandemi. kurikulum penyesuaian ini diberlakukan dengan mengutamakan mata pelajaran kompetensi dasar.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sugeng Hariadi menerangkan bahwa diawal terjadinya masa pandemi memanng terjadi penurunan Mutu Pendidikan pada siswa. sistem pembelajaran daring yang cukup memakan waktu banyak tidak memungkinkan untuk guru menyampaikan seluruh mata pelajaran. sehingga Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan mengatasi Penurunan Mutu ini agar tidak berkelanjutan dengan kebijakan kurikulum penyusuaian.

“kita sudah share ke sekolah-ekolah melalui MKKS untuk mendownload kurikulum yang disesuaikan di era pandemi untuk di ajarkan, jadi tidak semua mata pelajaran di ajarkan.” ujarnya

Keterbatasan akses internet disejumlah daerah dan beberapa perangkat penunjang pembelajaran daring juga menjadi sebab menurunnya Mutu Pendidikan. dengan dimulainya uji coba pelajaran tatap muka bisa kembali menaikkan greet pada siswa.

Berdasarkan saran Gubernur Kalimantan Barat pada semester ini setidaknya ada 7 mata pelajaran yanbg wajib diberikan pada siswa di era pandemi ini, yaitu 6 mata pelajaran yang diujikan untuk perguruan tinggi dan 1 mata pelajaran agama.

Namun beberapa sekolah yang sudah melakukan pembelajaran tatap muka juga ada yang masih memberikan mata pelajaran penunjang lainnya seperti seni. sementara untuk mata pelajaran ekstrakurikuler itu ditiadakan.

Hasil peninjauan sekolah Negeri di kota Pontianak yang melakukan uji coba pembelajaran tatap muka belum ditemukan kluster satuan pendidikan terpapar covid. hal ini yang kemudian menjadi acuan sekolah-sekolah lain yang melakukan pembelajaran tatap muka mengikuti protokol kesehatan.

berdasarkan Surat Keputusan Bersama 4 Menteri jika pada sistem pembelajaran tatap muka ditemukan terjadi kluster satuan pendidikan positif covid 19. maka proses pembelajaran harus ditutup sementara untuk dilakukan sterilisasi dan isolasi terlebih dahulu.

Untuk di Kalimantan Barat sendiri belum ditemukan kasus kluster satuan pendidikan. dan beberapa sekolah yang ada di Kota Pontianak seperti SMA 1 Pontianak saat rapid tes ditemukan 2 siswa reaktif namun pada saat swab 2 kali dinyatakan negatif. karena memang hasil mutlak itu terletak pada hasil swab.

Continue Reading

TRENDING