Connect with us

Pendidikan

Membentuk Karakter Sistem Pendidikan Sekolah Dasar Di Jepang

Published

on

Membentuk Karakter Sistem Pendidikan Sekolah Dasar Di Jepang
“Pada akhir tahun 1800-an, para pemimpin Meiji membentuk sistem pendidikan publik, sehingga meningkatkan kemampuan literasi di negara ini. Bahkan pada periode Edo lebih dari 70% dari semua anak-anak di Jepang pergi ke sekolah. Saat ini 99% orang di Jepang bisa membaca dan menulis, dan sekolah masih dipandang sebagai batu loncatan yang sangat penting di awal kehidupan”.

GENCIL NEWS – Membentuk Karakter Sistem Pendidikan Sekolah Dasar Di Jepang. Sistem pendidikan yang dirancang sendiri membuat Jepang secara mandiri telah membentuk para pemudanya menjadi bentuk masyarakat yang harmonis seperti sekarang ini. Salah satu contoh menarik yang mengajarkan tentang teamwork dan kepemimpinan terlihat dari sistem keberangkatan siswa SD Jepang ke sekolah mereka.

Membentuk Karakter Sistem Pendidikan Sekolah Dasar Di Jepang. Siswa SD Jepang diharuskan berjalan kaki ke sekolah, mereka berkumpul di pos masing-masing tiap-tiap wilayah secara berkelompok. Tidak ada yang berjalan sendiri, saling menunggu dan akan berangkat apabila anggota kelompok sudah lengkap. Mereka berjalan berbaris di pimpin anggota kelas 6 yang berjalan di urutan paling depan.

Berikut adalah hal menarik dari sistem pendidikan sekolah dasar di jepang yang patut anda ketahui

1. Pendidikan Karakter

Di berbagai negara, seringkali mereka berlomba-lomba untuk mendidik siswa mereka (bahkan sejak kelas 1 SD). Agar menjadi pintar membaca, menulis dan pada akhirnya lulus ujian kenaikan kelas.

Di sekolah Jepang, siswa tidak mengikuti ujian sampai mereka mencapai kelas empat SD (sekitar usia 10 tahun). Diyakini bahwa tujuan untuk 3 tahun pertama sekolah bukanlah untuk menilai pengetahuan atau pembelajaran anak.

Untuk membangun perilaku yang baik dan untuk mengembangkan karakter mereka.

2. Tahun  Ajaran Baru Di Mulai Pada Awal April

Sementara sebagian besar sekolah dan universitas di dunia memulai tahun ajaran baru mereka pada bulan September atau Oktober tahun ajaran baru di Jepang dimulai pada bulan April.  Hari pertama sekolah sering bertepatan dengan berseminya bunga Sakura (Cherry blossom).

Tahun akademis sekolah dibagi menjadi 3 trimester, yaitu: 1 April – 20 Juli, 1 September – 26 Desember, dan 7 Januari – 25 Maret.

Liburan sekolah terbagi menjadi 2 periode, yaitu liburan musim panas selama 6 minggu (Juli – Agustus), 1 minggu dalam musim dingin (Desember – Januari) dan 1 minggu dalam musim semi (Maret – April).

3. Makan Siang Disediakan Dari Sekolah Dan Disantap Bersama di Kelas

Sistem pendidikan Jepang memberikan yang terbaik dan memastikan bahwa para siswa mendapat makan siang yang sehat dan seimbang.

Makan siang di sekolah SD dan SMP negeri disiapkan oleh sekolah dan sesuai dengan menu standar yang dimasak tidak hanya oleh koki berkualitas tetapi juga oleh para profesional ahli nutrisi.

Para siswa makan di dalam kelas masing-masing bersama-sama dengan guru. Hal ini membantu membangun hubungan guru-murid yang positif.

4. Kebersihan Sekolah Dikerjakan Oleh Para Murid

Para siswa harus membersihkan ruang kelas, kafetaria, dan bahkan toilet sekolah sendiri. Saat membersihkan, para siswa dibagi dalam kelompok-kelompok kecil dan tugas yang diberikan dirotasi sepanjang tahun.

Sistem pendidikan Jepang mengajarkan siswa untuk belajar merapikan dan membersihkan peralatan dan ruang mereka sendiri bekerja dalam kelompok dan saling membantu.

Pada saat siswa menyapu, mengepel, dan mengelap, mereka dapat merasakan dan melihat hasil jerih payah mereka sendiri dan sebaliknya juga dapat belajar menghormati jerih payah siswa lain.

 Disinilah terbentuk kesadaran untuk senantiasa menjaga kebersihan, tidak membuang sampah sembarangan dan menghargai kerja orang lain.

5. Kegiatan Ekstrakulikuler Adalah Hal Yang Populer Di Sekolah Jepang

Untuk dapat masuk ke sekolah SMP pilihan kebanyakan siswa Jepang harus mengikuti apa yang disebut dengan sekolah persiapan atau kelas tambahan pada sekolah swasta (semacam pelajaran tambahan / les di Indonesia).

Kelas-kelas tambahan ini diadakan pada sore hari. Para siswa di Jepang harus menjalani sekolah selama 8 jam. Selain itu mereka juga belajar bahkan selama liburan dan akhir pekan.

Hal ini tidak mengherankan bila siswa di negeri ini hampir tidak pernah mengulang kelas di SD, Sekolah Menengah Pertama (SMP), atau Sekolah Menengah Atas (SMA).

6. Belajar kaligrafi dan Puisi

Selain pelajaran umum, para siswa juga diajarkan menulis indah atau kaligrafi yang disebut Shodo. Dengan menggunakan kuas bambu yang dicelupkan ke dalam tinta dan ditulis di atas kertas beras.

Selain menulis indah atau kaligrafi para siswa juga diajarkan Haiku. Atau berpuisi menggunakan ekspresi sederhana untuk mengungkapkan luapan emosi yang dalam.

Kedua kelas yang diajarkan ini merupakan warisan bangsa Jepang yang sudah berusia ratusan tahun. Dan ditanamkan kepada para siswa sejak dini agar mereka dapat menghargai warisan budaya mereka.

Apa yang Kita pelajari dari sistem pendidikan ini nanti nya bisa menghasilkan Budi pekerti, disiplin, kebersihan, etika dan sopan santun harus ditanamkan sejak dini.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Pendidikan

Jadwal Belajar Di Rumah Dari TVRI, Selasa 20 Oktober 2020

Published

on

Jadwal Belajar Di Rumah Dari TVRI, Selasa 20 Oktober 2020

Gencil News – Jadwal Belajar Di Rumah Dari TVRI untuk selasa 20 oktober 2020 telah dirilis jadwalnya. Jadwal Belajar Di Rumah Dari TVRI bisa disimak mulai dari pukul 08.00 – 11.00 Wib, melalui siaran TVRI.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) tengah menyiapkan episode lanjutan untuk penayangan program Belajar dari Rumah (BDR) di Tahun Ajaran Baru di TVRI sebagai alternatif kegiatan pembelajaran selama masa pandemi Covid-19.

Kemendikbud tengah merancang penyederhanaan kurikulum yang sesuai dengan konteks Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) agar berjalan lebih efektif di tahun ajaran baru 2020/2021.

Jadwal Tayangan Belajar dari Rumah di TVRI, Selasa 20 Oktober 2020

08.00 – 08.30 WIB  Air dan Suara

08.30 – 09.00 WIB Pengurangan dan Mata Uang

09.00 – 09.30 WIB Ikan dan Budidaya Ikan

09.30 – 10.00 WIB Suhu dan Pemuaian

10.00 – 10.05 WIB Pelajaran Bahasa Inggris 28 : Aku Melewatinya

10.05 – 10.30 WIB Barisan Geometri

10.30 – 11.00 WIB Keluarga Kita: Menstimulasi Anak Gemar Membaca Sejak Dini

Jika tidak bisa menyaksikan tayangan Belajar dari Rumah di televisi, bisa mengaksesnya melalui layanan live streaming. Simak cara live streaming TVRI Online

Continue Reading

Pendidikan

Angkatan Pertama Guru Penggerak Diikuti 2.800 Tenaga Pengajar

Published

on

Angkatan Pertama Guru Penggerak Diikuti 2.800 Tenaga Pengajar

Gencil News- Angkatan Pertama Guru Penggerak Diikuti 2.800 Tenaga Pengajar. Sebanyak 2.800 calon Guru Penggerak yang berhasil diseleksi pada angkatan pertama akan menjalani program Pendidikan Guru Penggerak.

Sebelumnya Mendikbud Nadiem Anwar Makarim telah resmi membuka program Pendidikan Guru Penggerak 2020.

Mendikbud berharap guru terus belajar dan mencoba hal baru selama mengikuti pendidikan. Perjuangan para guru penggerak ini akan menjadi roda dalam menuju transformasi pendidikan untuk pembelajaran yang berpihak pada murid dan pembelajaran yang merdeka.

Sesuai dijadwalkan maka mereka akan menjalani pendidikan selama sembilan bulan sebelum resmi meyandang status sebagai Guru Penggerak.

Sekretaris Ditjen Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Kemendikbud Nunuk Suryani mengatakan, rekrutmen calon Guru Penggerak angkatan pertama telah dilakukan dengan menjaring 19.218 pendaftar. Dari jumlah itu telah berhasil diseleksi sebanyak 2.800 calon Guru Penggerak

Nunuk menjelaskan dalam program peluncuran program pendidikan guru penggerak “Mereka akan mengikuti Pendidikan Guru Penggerak yang dibagi dua tahap. Pertama sebanyak 2.460 peserta Pendidikan Guru Penggerak akan dimulai pada 15 Oktober 2020 dan 340 lagi pendidikanya baru akan dimulai April tahun depan”

Nunuk menjelaskan, calon Guru Penggerak akan mengikuti pendidikan selama sembilan bulan. Pelatihan yang akan dijalani meliputi pelatihan daring, lokakarya dan pendampingan.

“Untuk tahun 2020 ini pendidikan akan dilaksanakan selama dua bulan untuk menyelesaikan empat modul. Pendidikan selanjutnya tujuh bulan pada tahun 2021 yang akan dimulai pada Februari dan berakhir Agustus 2021,” kata Nunuk pada peluncuran Program Pendidikan Guru Penggerak yang dilangsungkan secara daring, Kamis (15/10).

Nunuk melanjutkan, tujuan Pendidikan Guru Penggerak ini adalah memberikan bekal kemampuan kepemimpinan pembelajaradan dari pedagogi kepada guru. Sehingga guru mampu menggerakkan komunitas belajar baik didalam maupun diluar satuan pendidikan.

Selain itu juga berpotensi menjadi pemimpin yang dapat mewujudkan rasa nyaman dan kebahagiaan peserta didik ketika berada di lingkungan satuan pendidikan.

Rasa nyaman dan kebahagiaan peserta didik, jelasnya, ditunjukkan melalui sikap dan emosi positif terhadap satuan pendidikan.

Dia menerangkan, penjaminan mutu Pendidikan Guru Penggerak akan dilaksanakan pada variabel standar sumber daya manusia. Terdiri dari instruktur, fasilitator, pendamping dan peserta.

“Standar pengeelolaan juga akan menjadi sasaran evaluasi dari pengaturan rombongan bahan dan media pembelaajaran dan waktu pelaksanaan serta standar sarana prasarana.

Continue Reading

Pendidikan

Suka Duka Mahasiswa Kuliah Online Dimasa Pandemi

Published

on

By

Suka Duka Mahasiswa Kuliah Online Dimasa Pandemi

Tak bisa dipungkiri banyak sekali mahasiswa alami suka duka kuliah online yang hampir satu tahun ini dirasakan.

Mahasiswa yang identik dengan jiwa mudanya yang masih ingin terus mengeksplor diri dan bakat sangat merasakan ketidaknyamanan kuliah online.

Selain ruang lingkup perkuliahan yang hanya bisa dilakukan secara daring. Beberapa mahasiswa juga alami suka duka tersendat perkuliahan dikarenakan berada di daerah dengan sinyal terbatas. Naik ke atas bukit terlebih dahulu untuk mendapatkan sinyal agar bisa mengikuti perkuliahan.

” Susah sih terutama didaerah saya harus naik bukit dulu, Bahkan kadang ketinggalan informasi jika dosen mendadak memberi info ” kata hotip mahasiswa salah satu kampus di Pontianak

Tak sedikit memang mahasiswa berasal daerah-daerah dan akhirnya pulang kedaerahnya dikarenakan orangtua mahasiswa tak ingin anaknya berada di kota karena masih rawan terkonfirmasi covid 19.

Selain itu biaya hidup di kota jadi pertimbangan orangtua mahasiswa membiarkan anaknya tetap jalani kuliah online di kota.

” Suka dukanya banyak menghabiskan banyak kuota kalau terus kuliah online ” ujar Nurul Yakin

Tidak semua lembaga pendidikan mengajukan nomor siswa atau mahasiswa jika ditingkatan perkuliahan untuk didaftarkan mendapat kuota gratis. Jika sebelumnya kuota hanya digunakan untuk kebutuhan tugas mahasiswa.

Kini mahasiswa juga harus menambah kapasitas kuotanya untuk mengikuti perkuliahan via zoom meeting atau E-Learning. Namun tak sedikit pula yang suka atau senang saja kuliah online karena tidak perlu repot-repot bersiap menuju kampus.

” Sukanya karena gak perlu persiapan yang gimana-gimana kalau kuliah online. Belum mandi sambil tiduran pun bisa ikut perkuliahan ” kata mahasiswi salah satu kampus di Kota Pontianak

Memang proses perkuliahan online juga ada sisi positif yang dialami mahasiswa bisa lebih tenang dan bisa sambil mengerjakan aktivitas lainnya dan bisa dilakukan dimana saja. Hingga mahasiswa bebas berekspresi tanpa adanya beban harus kuliah didalam ruangan.

Tak sedikit pula ada yang keluhkan sistem kuliah online membuat dirinya gagal faham dengan materi yang disampaikan dosen.

Suka duka kuliah online memang tergantung dari sudut mana memandangnya, apakah itu menjadi beban atau bisa mengambil sisi positifnya.

Mau tidak mau semua lapisan masyarakat harus menerima keadaan baru dan kebiasaan baru sejak adanya wabah covid 19.

Continue Reading

TRENDING