Dua Jasad Sisa Letusan Gunung 2.000 Tahun Lalu Ditemukan
Connect with us

Sains

Dua Jasad Sisa Letusan Gunung 2.000 Tahun Lalu Ditemukan

Published

on

Dua Jasad Sisa Letusan Gunung 2.000 Tahun Lalu Ditemukan
Dua jasad yang diyakini adalah orang kaya dan budak prianya yang melarikan diri dari letusan gunung berapi Vesuvius hampir 2.000 tahun yang lalu. (Foto: AP)

Gencil News – VOA – Sisa-sisa kerangka dua manusia akibat letusan gunung berapi yang meletus hampir 2.000 tahun lalu ditemukan di Pompeii. Pejabat di taman arkeologi di Italia mengatakan mayat tersebut diyakini sebagai orang kaya dan budak prianya yang berusaha melarikan diri dari kematian akibat letusan Gunung Vesuvius.

Associated Press melaporkan, bagian dari tengkorak dan tulang kedua pria itu ditemukan dalam penggalian reruntuhan tempat yang dulunya merupakan vila elegan dengan pemandangan Laut Mediterania di pinggiran kota Romawi kuno. Kota tersebut hancur akibat letusan gunung berapi pada tahun 79 Masehi.

Pejabat Pompeii mengatakan orang-orang itu tampaknya lolos dari abu vulkanik Gunung Vesuvius, tetapi akhirnya menyerah pada ledakan vulkanik kuat yang terjadi keesokan paginya. Ledakan berikutnya “tampaknya menyerbu daerah itu dari banyak titik, mengelilingi dan mengubur para korban dalam abu,” kata pejabat Pompeii dalam sebuah pernyataan.

Mereka mengatakan sisa-sisa dua korban itu berbaring bersebelahan di punggung mereka, ditemukan di lapisan abu abu-abu sedalam setidaknya dua meter.

Seperti yang telah dilakukan ketika sisa-sisa lain telah ditemukan di situs Pompeii, para arkeolog menuangkan kapur cair ke dalam rongga, atau kekosongan, yang ditinggalkan oleh tubuh yang membusuk di abu dan batu apung yang turun dari gunung berapi dekat Napoli modern dan menghancurkan tingkat atas vila.

Teknik yang dirintis pada tahun 1800-an ini tidak hanya memberikan gambaran tentang bentuk dan posisi korban ketika meninggal, tetapi juga membuat sisa-sisa “tampak seperti patung,” kata Massimo Osanna, seorang arkeolog yang merupakan direktur jenderal arkeologi. taman dioperasikan di bawah yurisdiksi Kementerian Kebudayaan Italia.

Pria satunya memiliki struktur tulang yang kuat, terutama di area dadanya, dan meninggal dengan tangan di dada dan kakinya ditekuk dan terbuka lebar. Para pejabat memperkirakan ia berusia 30- hingga 40 tahun. Fragmen cat putih ditemukan di dekat wajah pria itu, mungkin sisa-sisa dinding atas yang runtuh.

Kedua kerangka tersebut ditemukan di ruang samping di sepanjang koridor bawah tanah, atau lorong, yang pada zaman Romawi kuno dikenal sebagai cryptoporticus, yang mengarah ke lantai atas vila.

Gunung Vesuvius merupakan sisa dari gunung berapi aktif. Sementara penggalian berlanjut di situs dekat Napoli, wisatawan saat ini dilarang masuk ke taman arkeologi untuk memendam perebakan virus Covid-19.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Sains

Slothbot, Robot Kungkang Yang Membantu Konservasi

Published

on

Slothbot, Robot Kungkang Yang Membantu Konservasi

Gencil News – Slothbot, Robot Kungkang Yang Membantu Konservasi. Banyak robot dikembangkan dengan mengutamakan kecepatan agar pabrik dapat memproduksinya secara efisien dalam jumlah banyak. Tapi sebuah robot yang dikembangkan Institut Teknologi Georgia di AS justru memiliki keunggulan karena gerakannya yang lamban.

Atlanta Botanical Garden merupakan taman botani yang bakal menggunakan Slothbot sebagai upaya menyelamatkan beberapa spesies flora maupun fauna yang paling terancam di dunia.

Serupa dengan karakter kungkang yang lamban, Slothbot juga bergerak dengan perlahan. Robot akan dengan digantung di kabel sepanjang 30 meter yang berada diantara dua pohon.

Di lingkungan yang lebih besar, Slothbot akan dapat beralih di antara kabel untuk mencakup lebih banyak area. Georgia Tech menyebut, kelambatan merupakan prinsip desain dalam pembuatan SlothBot.

Desain tubuh 3D Slothbot dibuat untuk melindungi motor, roda gigi, dan baterai, serta sensor dalam robot.

Berikut laporan Helmi Johannes dari VOA.

Continue Reading

Sains

Kapur Barus Rempah Berharga Dari Indonesia Yang Kian Langka

Published

on

Kapur Barus Rempah Berharga Dari Indonesia Yang Kian Langka

GENCIL NEWS – Kapur barus rempah berharga yang berasal dari Indonesia merupakan rempah berbentuk kristal berwarna putih agak transparan dengan aroma yang khas dan kuat.

Kapur barus rempah berharga ini berbentuk seperti Kristal putih tersebut diperoleh dari batang pohon kapur (Dryobalanops aromatica dan Cinnamomum camphora).

Sebutan “kapur barus” merujuk pada Barus. Daerah penghasil kamper yang terletak di pesisir barat Sumatra bagian Tapanuli Tengah.

Dahulu pohon kapur pernah melimpah di Barus dan wilayah sekitarnya. Sayangnya saat ini pohon kapur semakin langka dan sulit ditemukan.

Dalam buku tertua ilmu kedokteran yang ditulis dalam bahasa Persia pada abad ke-19 getah yang mengkristal dari pohon kapur.

Itu sudah menjadi komoditas yang paling banyak dicari karena salah satu khasiatnya adalah untuk menghentikan  mimisan  dengan dicampur air kurma hijau dan kemangi.

Dan dalam kadar tertentu  kapur barus juga dapat diminum untuk mengobati gangguan asam lambung, usus halus dan usus besar.

Sayangnya komoditas berharga ini sudah mulai langka bahkan diambang kepunahan. Ini karena penebangan yang tidak terkendali.

Sehingga pohon-pohon yang mengandung kristal kapur mati. Padahal tidak semua pohon memiliki kadar kristal yang sama.

Di Singapura, satu botol kecil berisi 6 milimeter cairan aroma terapi dengan kandungan kamper alami bisa dijual sampai Rp500 ribu. Di pasar internasional, bentuk kristal dengan konsentrasi 98 persen bisa dijual sampai Rp100 juta.

Ditemukan Catatan transaksi dari 1839 sampai 1844. tercatat China sudah mengimpor kamper dari Sumatera sedikitnya 400 kilogram.

Sebenarnya China punya jenis pohon kapur sendiri. Namun mereka mengaku bahwa kapur asli Sumatera memiliki kualitas yang lebih baik dengan aroma yang lebih kuat.

Dalam laporan penelitian tahun 2017 yang bertajuk Kamper: Hasil Hutan Bukan Kayu yang Semakin Hilang disebutkan bahwa di pantai barat Sumatra.

Saat ini pohon kapur hanya dijumpai pada beberapa spot hutan yang tersisa di Subulussalam, Aceh Singkil dan Barus.

“Di Indonesia jenis D. aromatica sudah jarang ditemukan dan saat ini hanya dijumpai di Kepulauan Riau dan ketiga lokasi yang disebut sebelumnya,” tulis Aswandi dan Cut Rizlani Kholibrina, penulis studi.

Penelitian tersebut dilakukan di bawah naungan Balai Penelitian Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Aek Nauli, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Kelangkaan dan terancam punahnya spesies tanaman ini diakibatkan oleh penebangan yang tidak terkendali untuk mendapatkan kristal kapur di dalamnya.

Padahal kandungan kapur dalam setiap pohon tidak sama, bahkan terkadang sangat kurang atau tidak ada.

Ancaman lainnya diakibatkan oleh kerusakan hutan dan kebakaran hutan serta konversi lahan menjadi kebun kelapa sawit.

Continue Reading

Sains

Cara Kreatif Ilmuwan Dalam Menangani Invasi Landak Laut

Published

on

Cara Kreatif Ilmuwan Dalam Menangani Invasi Landak Laut -Dampak perubahan iklim terus terlihat di seluruh lautan dunia. Permukaan air meningkat bersamaan dengan suhu.

Air laut yang semakin hangat mempercepat jumlah reproduksi beberapa hewan laut dan membuat spesies lainnya harus menghadapi resiko dalam bertahan hidup.

Sebuah pesawat nirawak untuk penelitian sedang terbang melintasi pesisir California Utara untuk merekam video tentang ekosistem yang rusak di bawah permukaan air.

“Kita memiliki ekosistem hutan rumput laut yang stabil selama 100 tahun terakhir, namun dalam empat atau lima tahun belakangan, kami melihat adanya tekanan besar yang menghancurkan hutan rumput laut itu,” kata Cynthia Catton dari Laboratorium Laut UC Davis Bodega.

Para ilmuwan mengatakan, kawasan rumput laut yang menyediakan makanan dan tempat tinggal bagi ikan-ikan dan kerang, telah berkurang sebesar 90 persen. Para pakar menyalahkan adanya ledakan populasi landak laut atau omnivora ungu yang kelaparan.

“Jumlahnya sangat banyak. Jutaan landak laut yang mencari makanan dan memakan rumput laut itu menimbulkan dampak ekologis, termasuk membuat rumput laut dan tumbuhan laut mati,” jelas Steven Rumrill dari Departemen Perikanan dan Satwa Liar Amerika.

Para peneliti itu menemukan solusi yang kreatif dan sektor swasta ikut memberi bantuan dalam menangani masalah tersebut. Brian Takeda, direktur perusahaan rintisan Urchinomics mengatakan, “Kami mengambil landak laut-landak laut pemakan rumput laut yang merusak hutan laut. Kami mencabuti mereka, menernakkannya dan mengubahnya menjadi produk makanan berupa uni yaitu sushi yang terbuat dari landak laut.”

Mereka yang terlibat dalam hal itu mengatakan pemasaran landak laut dapat membantu mengurangi dan mengembalikan kerusakan yang disebabkan oleh makhluk-mahkluk kecil laut tersebut.

“Tidak saja menyediakan menu baru hidangan laut, namun pada saat yang bersamaan juga sekaligus membantu memulihkan hutan laut,” kata Laura Rogers-Bennett dari Departemen Perikanan dan Satwa Liar California.

Para pelestari alam mengatakan, perubahan iklim menjadi penyebab bertambahnya jumlah landak laut dan rusaknya hutan rumput laut.

Norah Eddy dari organisasi nirlaba lingkungan, The Nature Conservancy mengatakan, “Kami sudah melihat adanya perkembangan baru akibat gelombang panas di pesisir kami. Hutan rumput laut sangat rentan terhadap perubahan suhu air laut.”

Hutan rumput laut hidup subur di dalam air laut dingin yang mengandung kaya nutrisi. Peternakan landak laut merupakan salah satu cara untuk menyelamatkan hutan laut. Namun para pakar mengatakan, kelangsungan hidup rumput-rumput laut yang panjang bergelombang itu tetap terancam selama suhu air laut tetap meningkat.

Continue Reading

TRENDING