Sore ini, Fenomena Gerhana Matahari Cincin Tidak Melewati Indonesia
Connect with us

Sains

Sore ini, Fenomena Gerhana Matahari Cincin Tidak Melewati Indonesia

Published

on

Sore ini, Fenomena Gerhana Matahari Cincin Tidak Melewati Indonesia

Gencil News- Fenomena gerhana matahari cincin akan terjadi sore ini, 10 Juni 2021, Mulai pukul 15:21 WIB hingga 20:11 fase Puncaknya terjadi pada pukul 17.43 WIB.

Kemudian fenomena gerhana matahari tahap tengah atau ‘cincin api’ berlangsung selama maksimal 3 menit 51 detik.

Gerhana matahari cincin ini akan jelas teramati pada wilayah Amerika Selatan dan Eropa. Menurut hasil perhitungan Pusat Sains Antariksa Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Pussainsa-LAPAN).

Fenomena alam yang langka ini terjadi pada wilayah yang dilintasi Umbara, seperti Kanada, Greenland, dan Rusia timur jauh.

Tepatnya, Gerhana Matahari Cincin hanya dapat disaksikan di Pulau Ellesmere dan Bafin (Kanada) serta kawasan Siberia (Rusia).

Sementara itu, sebagian besar wilayah di Eropa, Rusia, Asia Tengah, dan Asia Timur hanya dapat menyaksikan gerhana matahari sebagian pada puncak gerhana.

Menurut laman LAPAN, wilayah Indonesia sayangnya tidak nisa menyaksikan fenomena tersebut. Hal ini karena bayangan penumbra bulan yang jatuh pada permukaan bumi tidak melintasi Indonesia. Sehingga bulan tidak akan menutupi matahari.

Bulan tidak sepenuhnya mengaburkan matahari karena letak bulan lebih jauh dari biasanya. Akibatnya, matahari tidak mengalami gerhana total, namun meninggalkan ‘cincin api’ di tepinya.

Gerhana ini terjadi bersamaan dengan fase bulan baru tepatnya 10 Juni 2021 dengan jarak 404,245 km dari bumi (geosentrik) dan terletak di konstelasi Taurus.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Sains

Penelitian Arkeolog, Congklak Permainan Tertua di Dunia

Published

on

Penelitian Arkeolog, Congklak Permainan Tertua di Dunia

Gencil News- Berdasarkan dari temuan arkeolog dari National Geographic, Congklak adalah permainan tertua dunia yang ada sejak tahun 7.000-5.000 SM.

Sebelum sampai ke Indonesia, Permainan tertua Congklak sudah berkeliling dunia terlebih dahulu.

Berasal dari kebudayaan kuno Timur Tengah, Congklak di bawa ke daratan Afrika baru kemudian menyebar ke Asia melalui para pedagang.

Selanjutnya, Setiap wilayah akan memberikan beragam nama untuk permainan ini. Pada kawasan Timur tengah Permainan ini disebut Mancala yang artinya Bergerak.

Sedangkan Congklak atau Dakon biasa terkenal pada wilayah Indonesia khususnya Pulau Jawa. Dan ternyata masih ada 279 nama lain untuk permainan ini dari berbagai budaya berbagai negara.

Permainan yang nonkompetitif ini menggunakan papan dengan 16 lubang yang terdiri dari 14 lubang kecil berhadapan dan 2 lubang besar.

Dengan total 98 buah congklak, permainan tradisional yang menarik ini bisa melatih pola kognitif dan kemampuan analisa anak.

Fakta menarik lainnya adalah congklak bisa juga menjadi latihan dalam pembelajaran matematika untuk mengenalkan konsep penjumlahan, pengurangan, perkalian, bahkan pembagian bilangan.

Seluruh operasi bilangan tersebut sangat penting dalam permainan congklak.

Selain itu, Bermain congklak juga melatih kesabaran, karena pemain harus sabar menunggu gilirannya bermain

Continue Reading

Sains

Keberadaan Lebah Hutan Indonesia Yang Mengkhawatirkan

Published

on

Sarang lebah madu "apis dorsata" atau dikenal sebagai lebah madu raksasa yang hidup di hutan-hutan Asia, termasuk Indonesia.
Sarang lebah madu "apis dorsata" atau dikenal sebagai lebah madu raksasa yang hidup di hutan-hutan Asia, termasuk Indonesia.

Gencil News – VOA- Penelitian Perhimpunan Entomologi Indonesia (PEI) tahun 2020 mengungkapkan terjadinya penurunan 57 persen populasi lebah di Indonesia. Berkurangnya habitat lebah hutan berdampak pada sumber pakan dan penurunan populasi lebah hutan Indonesia, termasuk apis dorsata.

Purnomo, peneliti dan pemerhati lebah hutan yang saat ini aktif mengelola dan mengolah produk perlebahan di Kampar, Riau, menjelaskan populasi lebah hutan penghasil madu dengan ukuran terbesar di dunia, apis dorsata, semakin terdesak dari tahun ke tahun akibat habitatnya yang terancam di Indonesia.

Pendiri rumah madu Wilbi itu mengatakan, “Apis dorsata itu di hutan habitatnya. Dia menempati pohon-pohon menjulang tinggi. Sekarang pohon-pohonnya sudah banyak ditebang. Pakannya juga sudah berubah akibat alih fungsi hutan, jadi HTI (hutan tanaman industri) dan perkebunan kelapa sawit.”

Apis dorsata dikenal masyarakat setempat sebagai lebah sialang karena bersarang dan bergantungan di berbagai jenis pohon sialang yang tinggi di hutan Sumatra.

Sarang lebah dorsata di pohon sialang di hutan Jambi (foto: courtesy).
Sarang lebah dorsata di pohon sialang di hutan Jambi (foto: courtesy).

“Tempat bertengger bersarangnya lebah itu di pohon yang besar disebut pohon sialang, sedangkan pakanannya tuh dia makannya diambil dari pohon akasia, pohon sawit,” jelas Candra Lela.

Di Jambi, Candra Lela, yang menjabat Ketua Asosiasi Perlebahan Jambi juga sangat prihatin akan populasi lebah sialang yang semakin langka sejak bencana asap tahun 2015 dan kebakaran hutan Sumatra termasuk Riau dan Palembang. “Jambi berasap hampir mau 1 tahun. Memang musibah asap. Jadi tuh ya lebahnya kabur adanya, sebagian mati, punah gitu,” tambahnya.

Pohon Sialang di Riau tempat lebah dorsata dengan 30-60 sarang (foto: courtesy).
Pohon Sialang di Riau tempat lebah dorsata dengan 30-60 sarang (foto: courtesy).

Berawal menemani suami ke hutan, ibu rumah tangga itu terjun ke usaha madu lebah sengat tahun 2008, masuk hutan menemui para pemanjat pohon sialang sekaligus mengantarkan galon-galon madu dengan menempuh perjalanan 2-4 jam dari rumahnya di kota Jambi.

Harga madu lebah sialang meningkat mulai dari harga Rp 7.500/kg tahun 2008 menjadi Rp 60.000/kg tahun 2015. Lela menyampaikan dalam sebulan bisa mengumpulkan 10ton madu lebah dorsata bahkan pada tahun 2010 pernah mencapai 24ton dalam satu bulan. Pendiri Rumah Madu Hutan Jambi (RMHJ) itu aktif melakukan kampanye panen lestari kepada beberapa kelompok pemungut madu hutan yang beranggotakan 20-25 pemanjat sialang supaya lebah hutan Sumatra tidak punah dan dapat terjaga untuk regenerasi.

Candra Lela membawa anaknya masuk hutan Jambi sejak bayi berumur 22 hari, mengumpulkan madu lebah dorsata (foto: courtesy).
Candra Lela membawa anaknya masuk hutan Jambi sejak bayi berumur 22 hari, mengumpulkan madu lebah dorsata (foto: courtesy).

“Panennya tidak boleh panen siang, baiknya itu panennya di malam hari atau subuh. Kemudian tidak dihabiskan, tidak dipotong semua, larvanya jangan dipanen juga. Kalau bisa dipanen larvanya ditinggalin gitu. Tidak menggunakan api, cukup asap,” kata Candra Lela.

Lebah dorsata sangat bergantung pada ketersediaan tanaman sumber pakan di hutan, jika kurang memadai akan mengakibatkan populasi lebah itu bermigrasi, Purnomo menjelaskan. Ia menyebutkan periode 20 tahun lalu populasi lebah dorsata diperkirakan 10.000 koloni di Riau. Alih fungsi hutan dengan pembukaan sejumlah perkebunan kelapa sawit sejak 10 tahun lalu berdampak pada penurunan populasi lebah yang kini hanya sekitar 50 persen di hutan Riau.

“Mungkin kalau dibanding 20 tahun yang lalu dengan sekarang ini, paling sekarang ini 15%. Dari 20 tahun yang lalu 10.000 (populasi lebah) kalau 10% berarti sudah 1.500-an,” tukas Purnomo.

Sekitar tahun 2000-an Riau dapat menghasilkan 60 ton madu hutan per bulan. “Kalau produksi sekarang ini, sebulan itu paling-paling sekitar 6 sampai 10 ton,” ungkap Purnomo.

Alih fungsi hutan Riau menjadi hutan tanaman industri dan perkebunan kelapa sawit, baik yang dikelola oleh pemerintah dan sejumlah perusahaan serta dimiliki oleh masyarakat berdampak pada 50 persen lebih perubahan lahan sejak 20 tahun lalu, kata Purnomo.

“Kalau sekarang kan, kalau kita ambil titik Pekanbaru ke hutannya sekitar 5-6 jam itu baru nanti jumpa hutan. Kalau dulu, 20 tahun yang lalu, istilahnya setengah jam, satu jam sudah ketemu hutan,” ujarnya.

Bencana asap akibat kebakaran hutan Sumatra tahun 2015 telah memaksa Candra Lela beralih ke budidaya mellifera, lebah hutan asal Eropa yang didatangkan dari Jawa. Sejak Januari 2020, 48 kotak bibit lebah mellifera yang dibeli RMHJ dengan kisaran harga 2 juta 400 ribu rupiah per kotak, kini berhasil dikembangkan menjadi 1.000 kotak lebah.

Kebakaran hutan di Sumatra bulan Juli tahun 2015 (foto: dok).
Kebakaran hutan di Sumatra bulan Juli tahun 2015 (foto: dok).

Purnomo menyampaikan bahwa budidaya lebah mellifera berhasil dikembangkan dalam dua tahun terakhir. Lebah mellifera memanfaatkan sumber nektar dari akasia yang liar sementara sumber polennya diambil dari bunga sawit. Namun demikian lebah dorsata di Sumatra, Purnomo menegaskan, pada akhirnya akan seperti kondisi di Jawa, yang hanya tinggal kenangan dalam 5-10 tahun ke depan.

“Kalau di Jawa dulu kan, populasi lebah hutan juga cukup baik. Sekarang tinggal kenangan. Dorsata mungkin sudah sulit ditemukan walau lebah ternak (mellifera) ini sudah cukup berhasil untuk dijadikan usaha.”

Budi selama 4 tahun dibina oleh Purnomo melalui Rumah Madu Wilbi. Ia beralih dari berkebun untuk mencari madu lebah sialang. Harga madu hutan dari Pulau Rupat yang berbatasan dengan Singapura itu dijual dengan harga Rp95.000-100.000 per kilogram.

Budi bersama rekan panen madu sialang di Pulau Rupat, dekat perbatasan Singapura (foto: courtesy).
Budi bersama rekan panen madu sialang di Pulau Rupat, dekat perbatasan Singapura (foto: courtesy).

“Lebah sialang itu kalau sarangnya lebih dari 30 sarang mencapai 500 kg atau lebih untuk satu pohon,” kata Budi.

Purnomo menegaskan lebah hutan asli Indonesia, apis dorsata sangat penting untuk dilestarikan karena, “Pengaruhnya besar sekali terutama bagi kelangsungan ekosistem, penyerbukan vegetasi di hutan.” 

Continue Reading

Sains

Dua Anak Badak Jawa Langka Terlihat di Ujung Kulon

Published

on

Dua Anak Badak Jawa Langka Terlihat di Ujung Kulon
Salah satu dari dua anak badak jawa langka yang tertangkap video di Taman Nasional Ujung Kulon. (Foto: Courtesy KLHK/AFP)

Gencil News – VOA – Dua anak badak Jawa, salah satu mamalia paling terancam punah di dunia, terlihat di Taman Nasional Ujung Kulon.

Kantor berita AFP mengutip keterangan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melaporkan kedua anak badak tersebut tertangkap oleh kamera CCTV pada Maret. Keduanya diperkirakan berusia mulai dari tiga bulan hingga satu tahun.

Ujung Kulon adalah habitat liar terakhir bagi populasi badak Jawa yang tersisa.

Setelah bertahun-tahun terjadi penurunan populasi, diyakini hanya ada 73 mamalia langka di Taman Nasional Ujung Kulon yang memiliki luas 5.100 hektare. Ujung Kulon masih dipenuhi hutan hujan yang rimbun dan sungai-sungai air tawar.

Badak Jawa memiliki lipatan-lipatan kulit sehingga terlihat seperti mengenakan baju besi.

Populasi badak di Asia Tenggara pernah mencapai ribuan, tetapi perburuan liar yang merajalela dan perambahan manusia di habitat mereka menyebabkan jumlahnya turun drastis.

Continue Reading

Sains

Tulang Dinosaurus Terbesar Ditemukan di Australia

Published

on

Tulang Dinosaurus Terbesar Ditemukan di Australia

Gencil News – VOA – Tulang belulang yang ditemukan di Australia 15 tahun lalu adalah tulang dinosaurus terbesar yang pernah ditemukan di negara itu, menurut pengumuman pejabat Australia.

Scott Hocknull dari Museum Queensland mengatakan awal Juni (7/6) bahwa ia memperkirakan dinosaurus yang disebut Cooper itu panjangnya hampir 30 meter dan beratnya lebih dari 60 ton.

“Hari ini kami mengumumkan Australotitan cooperensis, spesies dinosaurus terbesar di Australia. Hewan ini sangat besar. Kami memperkirakan panjangnya sekitar 25 hingga 30 meter, tinggi pinggulnya sekitar enam setengah meter dan beratnya mungkin sekitar 60-70 ton. Saya menyamakannya seperti 1.400 kanguru merah, ini benar-benar hewan yang sangat besar,” jelasnya.

Turis-turis berkumpul di Eromanga untuk melihat tulang belulang dinosaurus yang dipajang museum.

Hocknull mengatakan, “Ini kali pertama para peneliti dapat memverifikasi bahwa Cooper, kependekan dari Australotitan cooperensis, benar-benar dinosaurus terbesar di Australia.”

Ia menambahkan bahwa penelitian itu merupakan proses yang panjang dalam mempersiapkan fosil-fosil tersebut dan membandingkannya dengan spesies dinosaurus lain dari berbagai penjuru dunia.

Tulang-tulang dinosaurus itu ditemukan oleh Robyn Mackenzie dan suaminya Stuart ketika mereka sedang menggembalakan ternak di lahan mereka di dekat kota Eromanga, Queensland Barat Daya pada tahun 2006.

Tim peneliti berpose dengan tulang dari "Cooper" (Eromanga Natural History Museum/Handout via Reuters)
Tim peneliti berpose dengan tulang dari “Cooper” (Eromanga Natural History Museum/Handout via Reuters)

Robyn mengatakan, “Ketika Stuart, suami saya dan saya menemukan potongan-potongan awal tulang itu, kami benar-benar tidak membayangkan ukuran dinosaurus. Tidak pernah ada dalam pikiran kami bahwa kami akan menghadapi hewan yang merupakan hewan terbesar di Australia dan salah satu yang terbesar di dunia, jadi itu benar-benar tidak terpikirkan oleh kami.”

Tentang hewan terbesar di Australia itu, Robyn Mckenzie menambahkan, “Hewan yang berkembang hingga panjangnya 30 meter itu, praktis merupakan hewan terbesar di Australia, hewan darat terbesar yang pernah berjalan di atas tanah Australia, dan itu juga menempatkan kita ke dalam kelompok elit dari dunia hewan raksasa yang sebelumnya hanya ditemukan kebanyakan di Amerika Selatan. Kita juga menemukan dinosaurus sebelumnya di Australia, namun tidak satu pun yang sebesar yang kami temukan di kota Eromanga. 

Continue Reading

Advertisement

DOWNLOAD APLIKASI GENCILNEWS

Advertisement

TRENDING