Connect with us

Sains

Kapur Barus Rempah Berharga Dari Indonesia Yang Kian Langka

Published

on

Kapur Barus Rempah Berharga Dari Indonesia Yang Kian Langka

GENCIL NEWS – Kapur barus rempah berharga yang berasal dari Indonesia merupakan rempah berbentuk kristal berwarna putih agak transparan dengan aroma yang khas dan kuat.

Kapur barus rempah berharga ini berbentuk seperti Kristal putih tersebut diperoleh dari batang pohon kapur (Dryobalanops aromatica dan Cinnamomum camphora).

Sebutan “kapur barus” merujuk pada Barus. Daerah penghasil kamper yang terletak di pesisir barat Sumatra bagian Tapanuli Tengah.

Dahulu pohon kapur pernah melimpah di Barus dan wilayah sekitarnya. Sayangnya saat ini pohon kapur semakin langka dan sulit ditemukan.

Dalam buku tertua ilmu kedokteran yang ditulis dalam bahasa Persia pada abad ke-19 getah yang mengkristal dari pohon kapur.

Itu sudah menjadi komoditas yang paling banyak dicari karena salah satu khasiatnya adalah untuk menghentikan  mimisan  dengan dicampur air kurma hijau dan kemangi.

Dan dalam kadar tertentu  kapur barus juga dapat diminum untuk mengobati gangguan asam lambung, usus halus dan usus besar.

Sayangnya komoditas berharga ini sudah mulai langka bahkan diambang kepunahan. Ini karena penebangan yang tidak terkendali.

Sehingga pohon-pohon yang mengandung kristal kapur mati. Padahal tidak semua pohon memiliki kadar kristal yang sama.

Di Singapura, satu botol kecil berisi 6 milimeter cairan aroma terapi dengan kandungan kamper alami bisa dijual sampai Rp500 ribu. Di pasar internasional, bentuk kristal dengan konsentrasi 98 persen bisa dijual sampai Rp100 juta.

Ditemukan Catatan transaksi dari 1839 sampai 1844. tercatat China sudah mengimpor kamper dari Sumatera sedikitnya 400 kilogram.

Sebenarnya China punya jenis pohon kapur sendiri. Namun mereka mengaku bahwa kapur asli Sumatera memiliki kualitas yang lebih baik dengan aroma yang lebih kuat.

Dalam laporan penelitian tahun 2017 yang bertajuk Kamper: Hasil Hutan Bukan Kayu yang Semakin Hilang disebutkan bahwa di pantai barat Sumatra.

Saat ini pohon kapur hanya dijumpai pada beberapa spot hutan yang tersisa di Subulussalam, Aceh Singkil dan Barus.

“Di Indonesia jenis D. aromatica sudah jarang ditemukan dan saat ini hanya dijumpai di Kepulauan Riau dan ketiga lokasi yang disebut sebelumnya,” tulis Aswandi dan Cut Rizlani Kholibrina, penulis studi.

Penelitian tersebut dilakukan di bawah naungan Balai Penelitian Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Aek Nauli, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Kelangkaan dan terancam punahnya spesies tanaman ini diakibatkan oleh penebangan yang tidak terkendali untuk mendapatkan kristal kapur di dalamnya.

Padahal kandungan kapur dalam setiap pohon tidak sama, bahkan terkadang sangat kurang atau tidak ada.

Ancaman lainnya diakibatkan oleh kerusakan hutan dan kebakaran hutan serta konversi lahan menjadi kebun kelapa sawit.

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

HEADLINE

Hilangnya Lapisan Es Greenland Picu Kenaikan Permukaan Laut

Published

on

Hilangnya Lapisan Es Greenland Picu Kenaikan Permukaan Laut -Hilangnya lapisan es Greenland memberikan peringatan tanda bahaya yang mengakibatkan 40% kenaikan permukaan air laut dari tahun 2019.

Sejumlah ilmuwan melaporkan lapisan es dengan tebal berkilo-kilometer yang menutupi Greenland tahun lalu hampir mencapai rekor yang menunjukkan ketidakseimbangan antara turunnya salju, dengan es yang mencair ke laut.

Kehilangan sebesar 600 miliar ton es dapat menaikkan permukaan air global 1,5 milimeter, sekitar 40 persen dari total kenaikan permukaan air laut pada tahun 2019.

Lapisan es Greenland – yang sampai akhir abad ke-20 menumpuk sama banyaknya dengan jumlah es yang mencair, punya cukup lapisan es untuk menaikkan permukaan lautan dunia setinggi tujuh meter, apabila seluruhnya mencair.

Namun, hampir sama mengkhawatirkannya, seperti percepatan mencairnya lapisan es, adalah faktor pendorongnya yang kuat, kata laporan yang dimuat oleh The Cryosphere, jurnal yang diterbitkan oleh European Geosciences Union pada bulan April 2020.

Lebih dari separuh lapisan es itu menghilang secara dramatis tahun 2019

bukan karena temperatur yang lebih tinggi dari suhu udara rata-rata, melainkan tingginya tekanan udara yang tidak biasa terjadi terkait pemanasan global.

Beberapa kondisi antisiklon tersebut menghalangi pembentukan awan-awan di atas Greenland bagian selatan sehingga menyebabkan sinar matahari mencairkan permukaan lapisan es. Lebih sedikit awan juga mengakibatkan salju yang lebih sedikit – 100 miliar ton lebih rendah dari rata-rata tahun 1980-1999.

Di samping itu, berkurangnya salju yang tersisa menyebabkan es yang tertutup kotoran debu hitam menyerap panas, dan tidak memantulkannya, seperti salju putih.

Kondisi di bagian utara dan barat Greenland berbeda, karena udara yang hangat dan lembab yang diserap dari kawasan yang terletak lebih jauh ke selatan dari kawasan kutub, kata penelitian itu.

Semua faktor itu menyebabkan percepatan es mencair dan menciptakan sungai-sungai deras yang memotong lapisan es menuju laut.

“Beberapa kondisi atmosfer itu lebih sering terjadi selama beberapa dekade terakhir,” kata penulis utama Marco Tedesco, seorang ilmuwan pada Lamont-Doherty Earth Observatory, Columbia University.

“Ini mungkin disebabkan oleh gelombang arus angin, yang kuat yang bergerak dari barat ke timur di atas wilayah kutub,” kata Marco lebih jauh.

Gangguan pola arus angin yang normal itu dikaitkan dengan lenyapnya es dilaut, makin cepatnya tingkat pemanasan atmosfer di Kutub Utara, dan hilangnya lapisan salju di Siberia – semuanya dampak dari pemanasan global.

Suhu rata-rata di wilayah Kutub Utara meningkat dua derajat Celcius sejak pertengahan abad ke-19, dua kali lipat dari suhu rata-rata global.

“Perubahan iklim, dengan kata lain, dapat membuat kondisi atmosfer yang merusak, yang umumnya terjadi di Greenland,” kata Tedesco.

Diakui tahun 2019 bukan kali pertama anomali seperti itu muncul, karena lebih dari separuh abad ini menunjukkan pola-pola yang mirip sama.

Hingga tahun 1990-an, lapisan es Greenland berada dalam kondisi seimbang, akan tetapi kehilangan bobot tahunan kian meningkat sejak itu.

Secara keseluruhan, Greenland telah kehilangan sekitar empat triliun ton es antara tahun 1992 dan 2018, menyebabkan permukaan laut naik rata-rata 11 milimeter, menurut sebuah penelitian yang diterbitkan Study in Nature bulan Desember 2019.

Continue Reading

HEADLINE

Johnson & Johnson: Vaksin Covid-19 Siap Digunakan Awal 2021

Published

on

Perusahaan farmasi raksasa AS Johnson & Johnson mengatakan uji coba vaksin virus corona pada manusia akan dimulai bulan September dan vaksin tersebut akan tersedia untuk penggunaan darurat pada awal tahun depan.

Perusahaan itu Senin mengatakanbersama Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS telah menganggarkan1 miliar dolar lebih untuk mengembangkan dan menguji vaksin.Johnson & Johnson mengatakanjika uji coba vaksin itu pada manusia berhasil, pihaknya siap untuk memproduksi lebih dari 1 milyar dosis vaksin.

Johnson & Johnson mengantisipasi paket pertama vaksin akan siap untuk digunakan dalam situasi darurat pada awal 2021.

CEO Perusahaan itu Alex Gorsky mengatakan kepada program NBC “Today” indikasi awal dari penelitian menunjukkanvaksin percobaan itu kemungkinan akan efektif.

“Kami memiliki bakal vaksin yang tingkat kemungkinannya melawan virus COVID-19 tinggi,” katanya.

“Kami memiliki kemampuan produksi untuk meningkatkan produksi ini dalam waktu yang relatif singkat, sehingga bisa tersedia,” tambahnya.

Gorsky mengatakan perusahaannya berencana untuk meningkatkan produksi vaksin dalam beberapa minggu mendatang, sehingga beberapa ratus juta dosis akan tersedia pada pertengahan tahun depan dan satu miliar dosis pada akhir 2021.

Continue Reading

Sains

Peneliti Identifikasi 69 Obat yang Bisa Bantu Memerangi Virus Corona

Published

on

Sebuah tim peneliti internasional telah mengidentifikasi 69 obat dan senyawa yang bisa efektif untuk mengobati virus corona. Temuan itu muncul saat para ilmuwan berlomba untuk menemukan cara-cara baru untuk memerangi pandemi yang kini sedang berlangsung.

Para peneliti mengatakan lebih dari sepertiga obat sudah disetujui oleh Badan Obat-Obatan dan Makanan Amerika (Food and Drugs Administration/FDA) dan saat ini digunakan untuk mengobati berbagai penyakit yang tidak terkait, termasuk diabetes, kanker dan hipertensi.

Mereka mengatakan bahwa meneliti obat yang telah diketahui seperti itu mungkin merupakan metode yang lebih cepat untuk menemukan obat untuk virus corona daripada mencoba membuat obat antivirus baru dari awal.

Studi itu, ditulis bersama oleh hampir 100 peneliti, telah dipublikasikan di situs web untuk studi biologi pracetak yang disebut bioRxiv. Para peneliti mengatakan mereka telah mengirimkan hasil penelitian itu ke sebuah jurnal untuk publikasi.

Daftar obat-obatan yang berpotensi dapat digunakan itu beragam, menurut para peneliti. Obat-obatan tersebut termasuk metformin, yang dikonsumsi oleh penderita diabetes tipe 2, obat skizofrenia haloperidol, dan kloroquin, obat antimalaria yang telah menjadi berita utama karena potensinya untuk mengobati virus corona. 

Continue Reading

TRENDING