Connect with us

Sains

Slothbot, Robot Kungkang Yang Membantu Konservasi

Published

on

Gencil News – Slothbot, Robot Kungkang Yang Membantu Konservasi. Banyak robot dikembangkan dengan mengutamakan kecepatan agar pabrik dapat memproduksinya secara efisien dalam jumlah banyak. Tapi sebuah robot yang dikembangkan Institut Teknologi Georgia di AS justru memiliki keunggulan karena gerakannya yang lamban.

Atlanta Botanical Garden merupakan taman botani yang bakal menggunakan Slothbot sebagai upaya menyelamatkan beberapa spesies flora maupun fauna yang paling terancam di dunia.

Serupa dengan karakter kungkang yang lamban, Slothbot juga bergerak dengan perlahan. Robot akan dengan digantung di kabel sepanjang 30 meter yang berada diantara dua pohon.

Di lingkungan yang lebih besar, Slothbot akan dapat beralih di antara kabel untuk mencakup lebih banyak area. Georgia Tech menyebut, kelambatan merupakan prinsip desain dalam pembuatan SlothBot.

Desain tubuh 3D Slothbot dibuat untuk melindungi motor, roda gigi, dan baterai, serta sensor dalam robot.

Berikut laporan Helmi Johannes dari VOA.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Sains

Fosil Beruang Gua Zaman Es Ditemukan dalam Kondisi Utuh

Published

on

Para ilmuwan di sebuah universitas Rusia mengumumkan penemuan fosil beruang gua zaman es dalam kondisi yang sangat baik, dengan sebagian besar jaringan tulang lunaknya termasuk hidung, daging, dan giginya masih utuh.

Gencil News – Fosil Beruang Gua Zaman Es Ditemukan dalam Kondisi Utuh. Para ilmuwan di sebuah universitas Rusia mengumumkan penemuan fosil beruang gua zaman es dalam kondisi yang sangat baik, dengan sebagian besar jaringan tulang lunaknya termasuk hidung, daging, dan giginya masih utuh. Penemuan fosil beruang gua ini ditemukan di Kepulauan Lyakhovsky dan mengasumsikan bahwa beruang gua yang punah tersebut berusia kurang lebih 15.000 tahun lalu.

Foto File: Anonymous- Ilustrasi Tulang Beruang

Dalam sebuah pernyataan, sejumlah ilmuwan dari North-Eastern Federal University (NEFU) di Yakutsk menyatakan beberapa penggembala rusa kutub pulau Great Lyakhovsky di kepulauan New Siberian Islands menemukan fosil di lapisan es yang mencair. NEFU termasuk pusat utama penelitian terhadap mamut berbulu dan spesies prasejarah lainnya, pada jaman es.

Seorang ilmuwan bernama Lena Grihorieva mengatakan jika penemuan di pulau menganai binatang besar ini menjadi satu-satunya dan yang pertama ditemukan dalam kondisi diawetkan dengan sempurna. Pasalnya, sebelumnya hanya bisa ditemukan tengkorang serta tulang saja.

Sisa penemuan beruang gua zaman es ini pun akan dianalisis oleh para ilmuwan di NEFU yang sebelumnya berada di garis terdepan dalam penelitian mammoth serta badak berbulu yang telah punah. Namun, beberapa ilmuwan lainnya juga akan diundang untuk bergabung dalam studi fosil ini.

Beberapa ilmuwan di pusat penelitian itu memuji hasil temuan itu sebagai sebuah terobosan. Sebelumnya, sejumlah pakar hanya meneliti tulang beruang gua. Spesies, atau subspesies yang hidup di Eurasia pada periode pertengahan dan akhir dari masa Pleistosen dan mengalami kepunahan sekitar 15.000 tahun yang lalu.

Analisa awal menunjukkan spesimen itu berusia antara 22.000 dan 39.500 tahun, tetapi akan diberi penanggalan karbon untuk memastikan hal tersebut.

Beberapa tahun terakhir terjadi beberapa penemuan besar atas mammoth, badak berbulu, anak kuda pada jaman Es, beberapa anak anjing dan singa gua ketika lapisan es dalam lingkar kutub Arktik mencair. 

Continue Reading

Sains

Kenali Bahan Kimia Berbahaya di Sekitar Kita

Published

on

Kenali Bahan Kimia Berbahaya di Sekitar

GENCIL NEWS– Meski sering kali dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari, menyimpan dan menggunakan produk berbahan kimia tidak boleh sembarangan.

Hal ini karena sebagian bahan kimia yang kerap digunakan di rumah kita memiliki potensi untuk menyebabkan keracunan yang bahkan bisa berakibat fatal.

Sadar atau tidak, hampir setiap hari kita menggunakan banyak bahan kimia, seperti produk pembersih kamar mandi, sabun deterjen, dan disinfektan.

Walau bermanfaat, bahan-bahan kimia tersebut juga bisa membahayakan kesehatan dan menimbulkan beragam penyakit.

Kenali bahan kimia sehari-hari apa saja yang bisa menimbulkan bahaya jika tidak diperhatikan penggunaannya dalam kehidupan sehari hari.

  • Pengharum atau penyegar udara 

Pengharum atau penyegar udara kemungkinan besar mengandung phthalates. Bahan kimia ini memiliki dampak negatif pada kesehatan seperti pernapasan dan reproduksi. Selain itu, phthalates mengganggu sistem endokrin dan juga dapat menurunkan jumlah sperma pada pria.

  • Deodoran mengandung antiperspirant

Salah satu bahan yang digunakan untuk membuat antiperspirant yaitu alumunium.
 Penelitian menyebutkan, aluminium adalah salah satu pemicu kanker payudara. Bahkan US Food and Drug Administration meminta dipasangkan label peringatan pada semua antiperspirant.

  • Bahan pelembut

Bahan pelembut pakaian yang sering digunakan ternyata mengandung garam amonium quantenary dan bahan kimia lainnya. akibatnya pada tubuh yaitu menyebabkan sakit kepala, iritasi kulit dan masalah bahkan pernapasan.

  • Peralatan masak anti lengket

Pada umumnya, ibu rumah tangga memilih peralatan masak seperti panci penggorengan anti lengket. Namun, siapa sangka peralatan memasak anti lengket itu mengandung bahan kimia berbahaya bagi kesehatan yaitu politetrafluoroetilen.
 Ketika terpapar suhu tinggi, politetrafluoroetilen akan mengeluarkan gas beracun yang tidak baik untuk kesehatan reproduksi dan lainnya.

  • Deterjen

Deterjen yang kita gunakan saat mencuci pakaian mengandung bahan kimia yang dapat menyebabkan kanker, diantaranya yaitu natrium lauril sulfat, NPE (nonylphenol terkonversi), fosfat dan 1,4 dioksan. bahan kimia di atas dapat menyebabkan iritasi pada kulit, organ toksisitas, mempengaruhi kesehatan reproduksi, bahkan menimbulkan kanker.
 

Bila bahan-bahan kimia tersebut tidak sengaja terhirup, tertelan, atau mengenai kulit, segera lakukan pertolongan pertama dan konsultasikan ke dokter untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

Continue Reading

Sains

Hasil Studi: Kucing Mengenali “Nama” Karena Imbalan

Published

on

Hasil Studi: Kucing Mengenali "Nama" Karena Imbalan
Hey Kitty! Iya, kamu. Sebuah studi menyatakan kucing peliharaan dapat memahami suara panggilan nama yang diberikan kepadanya.
Hasil Studi: Kucing Mengenali "Nama" Karena Imbalan
Hasil Studi: Kucing Mengenali “Nama” Karena Imbalan

Jadi kucing agak-agak mirip dengan anjing, dimana komunikasi dengan manusia telah banyak dipelajari, dan telah ditunjukkan bahwa mereka dapat mengenal ratusan kata apabila mereka terlatih dengan baik. Maaf, apabila perbandingan tadi membuat kamu tersinggung, Kitty.

Sama sekali tidak mengejutkan bagi anda atau kebanyakan pemelihara kucing, bukan? Namun para ilmuwan Jepang hari Kamis mengatakan bahwa mereka telah memberikan bukti percobaan pertama bahwa kucing dapat membedakan kata-kata yang diucapkan manusia.

Atsuko Saito dari Sophia University di Tokyo mengatakan tidak ada bukti bahwa kucing dapat menghubungkan kata-kata dengan maknanya, bahkan tidak juga pada nama-nama mereka sendiri. Sebaliknya, mereka belajar saat mereka mendengar nama-nama itu mereka mendapat imbalan seperti makanan atau mainan, atau sesuatu yang buruk seperti dibawa ke tempat praktek dokter hewan. Dan mereka banyak mendengar namanya disebut. Jadi suara itu menjadi spesial, bahkan saat mereka tidak paham bahwa suara itu merujuk pada identitas mereka.

Saito dan para koleganya menjelaskan hasil dari penelitian mereka dalam jurnal Scientific Reports. Dalam empat percobaan yang dilakukan pada 16 hingga 34 hewan, masing-masing kucing mendengar rekaman dari suaranya sendiri, atau suara orang lain, yang perlahan-lahan membacakan daftar empat kata benda atau nama-nama kucing lain, diikuti dengan nama kucing itu sendiri.

Banyak kucing awalnya bereaksi – seperti menggerak-gerakan kepalanya, telinganya atau ekornya – namun lama-lama mereka kehilangan minat saat kata-kata itu dibacakan. Pertanyaan krusial adalah apakah mereka lebih merespon pada namanya.

Seperti yang diperkirakan, rata-rata, kucing-kucing ini menjadi sangat riang saat mendengar nama-nama mereka.

Kristyn Vitale, yang mempelajari tingkah laku kucing dan ikatan antara kucing dan manusia di Oregon State University di Corvallis namun tidak ikut serta dalam studi ini, mengatakan hasilnya “sangat masuk akal bagi saya.”

Vitale, yang mengatakan ia telah melatih banyak kucing untuk merespon pada perintah lisan, sepakat bahwa hasil temuan baru tidak berarti kucing mengerti namanya sendiri. Namun, lebih karena ia dilatih untuk mengenali suara, ujarnya.

Monique Udell, yang juga mempelajari perilaku hewan di Oregon State, mengatakan hasil studi tersebut menunjukkan “kucing-kucing memberi perhatian pada anda, apa yang anda katakan dan apa yang anda lakukan, dan mereka belajar dari situ.” [ww/fw]

Continue Reading

TRENDING