7 Langkah Cara Untuk Membedakan Aplikasi Asli dan Palsu
Connect with us

Teknologi Informasi

7 Langkah Cara Untuk Membedakan Aplikasi Asli dan Palsu

Published

on

7 Langkah Cara Untuk Membedakan Aplikasi Asli dan Palsu

Gencil News- 7 Langkah Cara Untuk Membedakan Aplikasi Asli dan Palsu. Banyaknya aplikasi di Google Play Store, tidak semuanya berasal dari sumber yang terpercaya atau bisa dikatakan palsu dan berbahaya. Aplikasi-aplikasi palsu ini bisa merusak sistem yang ada di smartphone android bahkan bisa mencuri data pribadi anda.

Ratusan bahkan ribuan aplikasi bisa ditemui di Google Play Store. Jenisnya pun beragam, dari aplikasi untuk berkirim pesan, aplikasi untuk foto, game, hingga aplikasi penunjang performa smartphone lainnya. Aplikasi-aplikasi ini memiliki fungsi yang berbeda-beda dan berasal dari perusahaan yang berbeda pula.

7 Langkah Cara Untuk Membedakan Aplikasi Asli dan Palsu. perhatikan perbandingan untuk membedakan aplikasi palsu dan aplikasi asli ialah dengan melacak ruang yang tersisa di akhir nama pengembang aplikasi palsu.

Untuk membedakan aplikasi asli dan palsu, pakar TI dan ahli keamanan digital dari Swiss German University, Charles Lim berbagi informasi penting ini untuk anda.

7 Langkah Cara Untuk Membedakan Aplikasi Asli dan Palsu

1. Periksa pembuat aplikasi
Anda harus sangat berhati-hati saat memeriksa nama pembuat aplikasi. Para penipu biasanya menggunakan nama serupa dengan pembuat aplikasi asli. Misalnya, Overstock.com adalah aplikasi asli dan Overstock Inc adalah pembuat aplikasi palsu.

2. Periksa review di App Store atau Play Store
Aplikasi yang sebenarnya biasanya memiliki ribuan review. Sementara aplikasi palsu biasanya tidak memiliki review sama sekali. Selain itu, umumnya review aplikasi palsu didominasi dengan komentar baik tanpa kritik.

3. Lihat tanggal rilis aplikasi
Aplikasi palsu biasanya memiliki tanggal rilis yang relatif baru. Sementara aplikasi asli biasanya hanya menampilkan tanggal update terakhir.

4. Jumlah Unduhan
Jumlah total unduhan juga perlu diperhatikan, sebab aplikasi populer yang memiliki sedikit unduhan, maka Anda patut mencurigai aplikasi tersebut sebagai aplikasi palsu.

5. Periksa kesalahan pada nama dan deskripsi
Aplikasi palsu bisa datang dari manapun, dan termasuk karya pengembang jahat yang berasal dari negara dengan bahasa Inggris bukan sebagai bahasa ibu mereka. Karenanya Anda juga perlu memperhatikan apakah ada kesalahan pada nama dan deskripsi aplikasi.

6. Pastikan Anda mengunduh aplikasi resmi
Ketika Anda hendak mengunduh aplikasi tertentu, Anda bisa mengunjungi situs resminya. Cari tombol atau ikon yang menawarkan untuk mengunduh aplikasi mereka. Hal ini akan membawa Anda ke aplikasi resmi dari situs tersebut di App Store atau Play Store.

7. Waspadai aplikasi yang menawarkan diskon
Jika aplikasi menawarkan diskon besar yang terdengar mustahil, berhati-hatilah. Karena kemungkinan, aplikasi tersebut hanya bermaksud menipu Anda.
 
Untuk lebih menjamin keamanan, Anda perlu mengunduh aplikasi yang sudah ditandatangani atau mendapatkan sertifikasi. Dengan adanya certified apps, maka aplikasi tersebut akan menjadi aplikasi yang dapat dipercaya.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Teknologi Informasi

iPhone 12 Series Resmi Pre-Order di Indonesia 11 Desember, Ini Harganya

Published

on

iPhone 12 Series Resmi Pre-Order di Indonesia 11 Desember, Ini Harganya
Sumber Foto : IPHONE 12 pro/APPLE

Apple akhirnya resmi memperkenalkan deretan iPhone terbarunya, yakni iPhone 12series. Total ada empat varian iPhone 12. Kesemuanya menggunakan konektivitas 5G.

Dari luar, nampak ada desain baru iPhone 12, meski masih tetap memanfaatkan notch yang kini sudah jadi ciri khas iPhone.

Perubahan tersebut terletak pada bingkai alumunium yang mengotak, seperti yang dulu kita temui di iPhone 5.

Meski demikian, terlihat pula bezel yang makin menipis sehingga secara keseluruhan iPhone terbaru ini terlihat makin elegan.

Selain itu, Apple menyematkan layar OLED yang bernama Super Retina XDR. Layar ini mendukung HDR10, Dolby Vision, dan HLG.

Layarnya mengusung bentang 6,1 inci dengan resolusi 1170×2532 piksel, yang membuat kerapatan pikselnya jadi 457.

Ini adalah kali pertama Apple menaikkan kerapatan piksel dan resolusi varian iPhone reguler sejak lama.

Sehingga Hal ini membuat layarnya kini tak akan kalah tajam dengan iPhone versi Pro.

Soal kamera tetap membawa dua kamera yang terdiri dari kamera wide dan ultra wide, namun kedua sensor ini mendapatkan spesifikasi baru yang lebih canggih.

Pasalnya, mulai 11 Desember mendatang, keempat varian iPhone 12 terbaru ini sudah mulai bisa anda pesan (pre-order). Seperti sebelumnya, perangkat resmi iPhone di Indonesia dibawa oleh PT Erajaya Swasembada yang dijual melalui iBox.

Harga iPhone 12 Series Resmi Indonesia

Berikut harga resmi Indonesia mengutip dari laman resmi iBox.

iPhone 12

  • 64GB: Rp 14.999.000
  • 128GB Rp 16.499.000
  • 256GB Rp 17.999.000

iPhone 12 mini

  • 64GB: Rp 12.999.000
  • 128GB Rp 14.499.000
  • 256GB Rp 15.999.000

iPhone 12 Pro

  • 128GB: Rp 18.499.000
  • 256GB: Rp 20.999.000
  • 512GB: Rp 24.999.000

iPhone 12 Pro Max

  • 12 Pro Max 128GB: Rp 20.499.000
  • 12 Pro Max 256GB: Rp 22.999.000
  • Pro Max 512GB: Rp 26.999.000
Continue Reading

Teknologi Informasi

Moorissa Tjokro, Autopilot Software Engineer Garap Fitur Swakemudi Tesla

Moorissa Tjokro (26 tahun) adalah 1 dari hanya 6 Autopilot Software Engineer perempuan yang bekerja untuk perusahaan Tesla, di California. Ia mengakui bahwa profesi ini masih jarang ditekuni perempuan. Belum lama ini, ia dipercaya ikut menggarap fitur swakemudi atau Full-Self-Driving untuk Tesla.

Published

on

Moorissa Tjokro, Autopilot Software Engineer Garap Fitur Swakemudi Tesla
Moorissa Tjokro (26 tahun) Autopilot Software Engineer Tesla, di San Francisco, AS (dok: Moorissa)
Belum lama ini, perusahaan mobil Tesla di Amerika Serikat, meluncurkan fitur kecerdasan buatan swakemudi penuh atau Full-Self-Driving versi beta, yang kini sudah tersedia secara terbatas bagi para pengguna mobilnya.

Gencil News – VOA – Di balik penggarapan fitur ini ada sosok warga Indonesia, Moorissa Tjokro (26 tahun), yang berprofesi sebagai Autopilot Software Engineer atau insinyur perangkat lunak autopilot untuk Tesla di San Francisco, California.

“Sebagai Autopilot Software Engineer, bagian-bagian yang kita lakukan, mencakup computer vision, seperti gimana sih mobil itu (melihat) dan mendeteksi lingkungan di sekitar kita. Apa ada mobil di depan kita? Tempat sampah di kanan kita? Dan juga, gimana kita bisa bergerak atau yang namanya control and behavior planning, untuk ke kanan, ke kiri, maneuver in a certain way (manuver dengan cara tertentu.red),” ujar Moorissa Tjokro lewat wawancara dengan VOA belum lama ini.

Bekerja untuk Tesla sejak Desember 2018 silam, sebelum dipercaya menjadi Autopilot Software Engineer, Moorissa ditunjuk oleh Tesla untuk menjadi seorang Data Scientist, yang juga menangani perangkat lunak mobil.

“Sekitar dua tahun yang lalu, temanku sebenarnya intern (magang.red) di Tesla. Dan waktu itu dia sempat ngirimin resume-ku ke timnya. Dari situ, aku tuh sebenarnya enggak pernah apply, jadi langsung di kontak sama Tesla-nya sendiri. Dan dari situlah kita mulai proses interview,” kenangnya.

Sehari-harinya, perempuan kelahiran tahun 1994 ini bertugas untuk mengevaluasi perangkat lunak autopilot, serta melakukan pengujian terhadap kinerja mobil, juga mencari cara untuk meningkatkan kinerjanya.

“Kita pengin banget, gimana caranya bisa membuat sistem itu seaman mungkin. Jadi sebelum diluncurkan autopilot software-nya, kita selalu ada very rigorous testing (pengujian yang sangat ketat.red), yang giat dan menghitung semua risiko-risiko agar komputernya bisa benar-benar aman untuk semuanya,” jelas perempuan yang sudah menetap di Amerika sejak tahun 2011 ini.

Bekerja Hingga 70 Jam Seminggu

Fitur Full-Self-Driving ini adalah salah satu proyek terbesar Tesla yang ikut digarap oleh Moorissa, yang merupakan tingkat tertinggi dari sistem autopilot, di mana pengemudi tidak perlu lagi menginjak pedal rem dan gas.

“Karena kita pengin mobilnya benar-benar kerja sendiri. Apalagi kalau di tikungan-tikungan. Bukan cuman di jalan tol, tapi juga di jalan-jalan yang biasa,” tambah perempuan yang hobi melukis di waktu senggangnya ini.

Moorissa mengaku bahwa proses penggarapan fitur ini “benar-benar susah” dan telah memakan jam kerja yang sangat panjang, khususnya untuk tim autopilot, mencapai 60-70 jam seminggu.

Walau belum pernah berinteraksi secara langsung dengan CEO Elon Musk, banyak pekerjaan Moorissa yang khusus diserahkan langsung kepadanya.

“Sering ketemu di kantor dan banyak bagian dari kerjaan saya yang memang untuk dia atau untuk dipresentasikan ke dia,” ceritanya.

Mengingat tugasnya yang harus menguji perangkat lunak mobil, sebagai karyawan, Moorissa dibekali mobil Tesla yang bisa ia gunakan sehari-hari.

“Karena kerjanya dengan mobil, juga dikasih perk (keuntungan.red) untuk drive mobilnya juga kemana-mana, biar bisa di testing,” jelas Moorissa.

Perempuan di Dunia STEM Masih Jarang

Prestasi Moorissa di dunia STEM (Sains, Teknologi, Teknik/Engineering, Matematika) memang tidak perlu dipertanyakan lagi. Tahun 2011, saat baru berusia 16 tahun, Moorissa mendapat beasiswa Wilson and Shannon Technology untuk kuliah di Seattle Central College. Pada waktu itu ia tidak bisa langsung kuliah di institusi besar atau universitas di Amerika, yang memiliki persyaratan umur minimal 18 tahun.

Tahun 2012, Moorissa yang telah memegang gelar Associate Degree atau D3 di bidang sains, lalu melanjutkan kuliah S1 jurusan Teknik Industri dan Statistik, di Georgia Institute of Technology di Atlanta.

Selain aktif berorganisasi di kampus, berbagai prestasi pun berhasil diraihnya, antara lain President’s Undergraduate Research Award dan nominasi Helen Grenga untuk insinyur perempuan terbaik di Georgia Tech. Tidak hanya itu, ia pun menjadi salah satu lulusan termuda di kampus, di umurnya yang baru 19 tahun, dengan predikat Summa Cum Laude.

Setelah lulus S1 tahun dan bekerja selama dua tahun di perusahaan pemasaran dan periklanan, MarkeTeam di Atlanta, tahun 2016 Moorissa lalu melanjutkan pendidikan S2 jurusan Data Science di Columbia University, di New York. Ia pun kembali menoreh prestasi dalam beberapa kompetisi, antara lain, juara 1 di ajang Columbia Annual Data Science Hackathon dan juara 1 di ajang Columbia Impact Hackacton.

Kecintaan Moorissa akan bidang matematika dan aljabar sejak dulu telah mendorongnya untuk terjun lebih dalam ke dunia STEM, sebuah bidang yang masih sangat jarang ditekuni oleh perempuan.

Berdasarkan data dari National Science Foundation di Amerika Serikat, jumlah perempuan yang memiliki gelar sarjana di bidang teknik dalam 20 tahun terakhir telah meningkat, namun jumlahnya masih tetap di bawah laki-laki.

Pada kenyataannya, menurut organisasi nirlaba, American Association of University Women yang bertujuan memajukan kesejahteraan perempuan melalui advokasi, pendidikan, dan penelitian, jumlah perempuan yang bekerja di bidang STEM, hanya 28 persen.

Organisasi ini juga mengatakan kesenjangan gender masih sangat tinggi di beberapa pekerjaan dengan pertumbuhan tercepat dan dengan gaji yang tinggi di masa depan, seperti di bidang ilmu komputer dan teknik atau engineering.

Fakta ini terlihat di kantor Tesla, di mana hanya terdapat 6 Autopilot Engineer perempuan, termasuk Moorissa, dari total 110 Autopilot Engineer. Dua dari 6 perempuan tersebut kini fokus menjadi manajer produk.

“Jadi benar-benar jarang. Saya enggak tahu statistik di luar Silicon Valley, atau even di luar Tesla,” kata lulusan SMA Pelita Harapan di Indonesia ini.

Moorissa beruntung bahwa keinginannya untuk terjun ke dunia sains didukung oleh keluarganya, yang melihat prestasi gemilangnya di bidang yang ia cintai ini.

“Tapi sebenarnya yang bikin aku benar-benar tertarik untuk ke dunia ini adalah ayahku, karena aku benar-benar, (beranjak dewasa melihat Ayah sebagai inspirasi terbesar dalam hidupku). Dia seorang insinyur elektrik dan entrepreneur, dan aku bisa ngeliat kalau teknik-teknik insinyur, itu benar-benar fun, penuh tantangan, dan itu aku suka,” ceritanya.

Walau begitu, Moorissa mengatakan, ia merasa beruntung, karena tidak pernah mengalami diskriminasi atau perbedaan di dunia kerja yang masih didominasi oleh laki-laki ini. Meskipun menurutnya, perempuan cenderung lebih “nurut” dan mengiakan.

“Mungkin ini karena saya dibesarkan di Indonesia, jadi juga sering ngomong sorry dan mungkin ini bukan cuman cewek aja, tapi minoritas-minoritas di bidang yang tertentu, gitu. Jadi self-esteem (rasa percaya diri.red) kita juga bisa turun, karena kita representing a minority (mewakili minoritas.red),” ungkapnya.

Mengingat masih jarang terlihat perempuan yang terjun ke dunia STEM, Moorissa melihat kurangnya panutan perempuan di dunia STEM sebagai “tantangan yang paling besar.” Hal ini menyebabkan kurangnya motivasi terhadap perempuan untuk mencapai posisi eksekutif, khususnya di dunia teknologi dan otomotif.

“Karena jarang ya, untuk bisa melihat posisi itu adalah perempuan, karena memang enggak ada, gitu. Hampir enggak ada,” ucap Moorissa.

Pernyataan ini dudukung juga oleh Brenda Ekwurzel, seorang ilmuwan senior di bidang iklim, yang juga adalah Director of Climate Science untuk program iklim dan energi di lembaga Union of Concerned Scientists di Washington, D.C. Menurutnya, kurangnya arahan yang diberikan mengenai karir di bidang STEM adalah salah satu faktor kendala.

“Tidak punya mentor ketika kamu sedang mempelajari perjalanan karier yang berbeda dan mencari tahu apa yang perlu dilakukan untuk bisa sukses. Sebagai ilmuwan tidak hanya perlu mengerti soal sains dan melakukan penelitian. Ada banyak hal lainnya, seperti bagaimana mencari dana dan apa yang perlu dilakukan,” jelasnya kepada VOA.

Kini, dengan semakin banyak perempuan yang menempuh pendidikan secara formal dan berhasil sukses, perlu adanya lebih banyak arahan dan dukungan yang bisa meningkatkan karier mereka.

“Cari orang yang dapat membantumu, siapa pun mereka. Bertanya jika punya pertanyaan,” tambah Ekwurzel.

Moorissa pun tetap optimistis, terutama dengan adanya berbagai organisasi yang meningkatkan pemberdayaan perempuan di bidang STEM, seperti Society of Women Engineers.

“Ini sangatlah penting untuk generasi kita di masa depan,” tegasnya.

Dalam meraih cita-cita dalam bidang apa pun, pesan Moorissa hanyalah satu, yaitu “follow your heart” atau ikuti kata hati.

“Walau pun mungkin banyak orang yang enggak setuju atau berpikir keputusan kita bukan yang terbaik, we have to follow our hearts (dan) karena ketika kita follow our hearts, kita enggak mungkin nyesel,” pesan Moorissa.

“Dan ketika kita tahu apa yang kita suka, sebesar-besarnya tikungan, jalan, atau mountains, ada sedikit semangat untuk menekuni bidang tersebut,” pungkasnya.

Untuk ke depannya, Moorissa bercita-cita untuk membangun yayasan yang bertujuan untuk memberantas kemiskinan di Indonesia.

Continue Reading

Teknologi Informasi

5 Website Gratis Untuk Belajar Coding Online

Published

on

5 Website Gratis Untuk Belajar Coding Online

Gencil News- 5 Website Terbaik Untuk Belajar Coding Online Gratis. Seiring dengan berkembangnya industri digital di tanah air, coding adalah salah satu skill yang sangat dibutuhkan perusahaan. Oleh karena itu, tak heran kalau kini muncul begitu banyak sekolah yang secara khusus mengajarkan seluk-beluk tentang apa itu coding dan cara pemanfaatannya. Coding adalah hal yang berbeda dari pemrograman.

5 Website Terbaik Untuk Belajar Coding Online Gratis. Programmer atau developer bekerja dengan cara menyusun rentetan kode yang disebut dengan istilah bahasa pemrograman. Dalam bahasa yang sederhana, coding adalah aktivitas yang dilakukan programmer untuk bisa melakukan komunikasi dengan komputer. Tanpa adanya coding dari programmer, komputer tidak bisa melakukan apa-apa

Jika tujuan Anda, ingin berkarir sebagai programmer, membuat website, atau bahkan membuat proyek pribadi, maka tutorial belajar coding untuk pemula ini cocok untuk Anda. Berikut kami senyertakan beberapa website belajar coding secara gratis.

1. BitDegree

Situs ini menyediakan reward dan sistem achievement sehingga bisa dengan mudah merekruit talenta-talenta baru dan mengukur keberhasilan kursus.

BitDegree menawarkan banyak sekali kursus gratis mulaid ari programming sampai ke game development. Kursus gamification  menyatukan pencapaian dan interaksi dalam proses pembelajaran. Untuk memulai kursus, langkahnya sangat mudah.

2. Coursera

Coursera menawarkan kursus berbasis coding, tutorial, dan resource yang langsung diajarkan profesor tingkat universitas. Anda bisa memilih satu dari ratusan kursus terkait coding.

Untuk mengelola dan mengembangkan kursus online ini, Coursera bekerja sama dengan beberapa guru terbaik dari berbagai universitas top. Hal ini berarti Anda akan belajar coding langsung dari ahlinya. Setiap kursus di situs ini tidak akan memungut bayaran. Namun, kalau Anda menginginkan sertifikat jika sudah selesai belajar, maka Anda harus membayarnya.Kursus yang disediakan antara lain Python, Java, HTML dan CSS serta Introduction to programming.

3. The Odin Project

Website ini dibuat dengan tujuan untuk orang – orang yang tidak pernah mendapatkan akses untuk belajar mengenai teknologi informasi, namun ingin tetap belajar dengan kualitas yang tinggi.

Anda bisa belajar mengenai HTML + CSS, Javascript, Git, Databases, Ruby, dan Ruby On Rails pada website ini secara gratis. Situs ini juga menyediakan alat untuk mengkoneksikan Anda dengan orang yang sedang belajar lainnya sehingga bisa menukarkan ide dan membangun tim dalam sebuah proyek.

4. Udemy

Udemy menawarkan layanan yang sangat lengkap mulai dari kursus kesehatan, bisnis, matematika, musik, bahasa, fotografi dan banyak lainnnya.

Mirip dengan Coursera yang menawarkan layanan yang sama. Tinggal dimana Anda menemukan kenyamanan untuk belajar coding php dan pemograman lainnya sesuai dengan tipe belajar Anda.

Website ini juga tidak semuanya gratis akan tetapi Anda bisa mencari kursus yang free di website ini melalui kolom pencarian dengan kata kunci “free” 

5. EdX

EdX dibentuk oleh Harvard University dan MIT pada tahun 2012 dan memiliki 53 kelas. Untuk mengakses kelas ini pengguna harus membayar, namun ada kelas Pengenalan Computer Science dari Harvard University yang bisa diakses secara gratis sebagai bekal dasar kemampuan programming.

Continue Reading

TRENDING