Inilah Perbedaan Meeting Online dan Webinar – Gencil News
Connect with us

Teknologi Informasi

Inilah Perbedaan Meeting Online dan Webinar

Published

on

Inilah Perbedaan Meeting Online dan Webinar

Gencil News- Menurut data unduhan aplikasi, pekan lalu software-software video konferensi telah melampaui 62 juta unduhan di iOS dan Google Play. Angka ini tergolong cukup tinggi dan bahkan, angkanya naik 45% dari pekan sebelumnya.

Persentase tersebut menunjukkan bahwa aplikasi ini menjadi kebutuhan primer bagi perorangan maupun bisnis.

Menariknya, meskipun penggunaan video konferensi di dunia begitu tinggi, ternyata masih banyak yang menganggap meeting online dengan webinar adalah hal yang sama.

Memang benar, meeting online dan webinar memungkinkan orang untuk berinteraksi dengan audiens yang tersebar di seluruh dunia.

Namun perbedaannya sangat mendasar dalam fungsi penggunaan.

Apabila salah pemahaman, tentu bisa merusak konsentrasi dan menimbulkan banyak masalah saat acara video konferensi sedang berlangsung.

Inilah Perbedaan Meeting Online dan Webinar

Meeting Online
Secara mendasar, meeting online merupakan aktivitas untuk melakukan diskusi dan kolaborasi melalui web menggunakan audio, video, dan berbagi layar.

Setiap orang dalam rapat dapat mendengarkan dan berbicara satu sama lain dan dapat melakukan interupsi suara ataupun gambar.

Posisi penyelenggara sangat penting untuk mengatur lalu lintas suara dan gambar yang akan muncul. Peserta meeting online dapat aktif berkomunikasi satu sama lain.

Dari sisi biaya, online meeting biasanya gratis dan tidak berbayar

Webinar
Penyelenggara webinar membuat webinar dan mempromosikannya di kalangan audiens yang menjadi target mereka melalui email, media sosial, website, dan blog.

Selama webinar, penyelenggara menyampaikan presentasi kepada audiens. Sementara peserta tetap dalam mode hanya mendengarkan.

Webinar sendiri seperti ruang kuliah virtual atau auditorium. Webinar ideal untuk audiens besar atau acara yang terbuka untuk umum.

Biasanya, pengunjung webinar tidak berinteraksi satu sama lain meskipun menyediakan opsi untuk dapat bersosialisasi dengan peserta. Webinar juga bisa memiliki lebih dari satu orang yang berbicara kepada audiens.

Dengan memahami perbedaan keduanya semoga anda bisa dan dapat menggunakan video konferensi dapat melakukan kegiatan tele konferensi lebih terarah.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Teknologi Informasi

Apakah Manusia Bisa Bertahan di Planet Lain?

Published

on

Apakah Manusia Bisa Bertahan di Planet Lain?

 Suatu hari nanti, manusia mungkin akan bisa menanggulangi dampak pertambahan penduduk, seperti kelaparan, perang dan wabah penyakit; tapi satu hal yang pasti, bumi akhirnya akan musnah terbakar dengan segala isinya.

GENCILNEWS -Sebuah laporan tentang masa depan matahari kita menunjukkan, walaupun bumi mungkin tidak akan hancur sama sekali setelah matahari meledak, sisa yang tinggal hanya akan berupa sebuah batu karang besar yang kering dan beku tanpa kehidupan apapun.

Kata para ahli, dengan memperhitungkan komposisi matahari yang sekarang, serta tingkat evolusinya, diperkirakan matahari akan mati atau habis terbakar dalam serentetan ledakan gas helium yang akan menghancurkan kira-kira 40 persen bobotnya.

Menurut perhitungan para ahli itu, bumi masih punya waktu kira-kira 6,5 milyar tahun lagi sebelum kehidupan di planet ini tidak bisa lagi dipertahankan. Sebab pada waktu itu, matahari akan mulai membengkak, sampai akhirnya menjadi benda angkasa yang besarnya 200 kali dari sekarang, dan memancarkan panas yang sangat tinggi.

Suhu yang tinggi itu akan menguapkan semua air di laut, sungai dan danau, dan membunuh segala bentuk kehidupan di bumi. Sistem tata surya kita yang sekarang, kata para ahli, dengan satu matahari dan delapan planet yang beredar di sekelilingnya, termasuk bumi, tercipta kira-kira 4,5 milyar tahun yang lalu.

Hasil penelitian terhadap matahari atau bintang yang terdapat dalam sistem tatasurya lain menunjukkan, matahari yang kita lihat tiap hari itu, umurnya sudah hampir mencapai separuh masa hidupnya, yang diperkirakan 12 milyar tahun.

Para pakar menggolongkan matahari ke dalam bintang kelas G, diukur dari tingkat cahaya, serta warna radiasinya yang tampak dari bumi. Suhu di permukaannya sekarang diperkirakan sekitar 10.300 derajat Fahrenheit atau 5.700 derajat Celsius.

Saat ini matahari masih berada dalam fase utama yang stabil, dimana ia terus membakar persediaan gas hidrogen yang terkandung di dalamnya. Sebagai bintang dari kelas G, matahari diperkirakan akan terus berada dalam tahap itu selama 6,5 milyar tahun lagi.

Sebuah laporan yang dimuat dalam majalah Astrophysical Journal mengatakan, setelah matahari mencapai umur 11 milyar tahun, benda angkasa itu akan memasuki fase perkembangan berikutnya, dan menjadi apa yang digambarkan sebagai bintang raksasa yang berwarna merah.

Bintang raksasa itu terbentuk karena gas helium yang terdapat di bagian intinya meledak, sehingga matahari menggelembung 200 kali lebih besar dari ukurannya yang sekarang, dan cahayanya-pun 2.000 kali lebih terang.

Kemudian, untuk masa 150 juta tahun berikutnya, suhu matahari akan turun lagi, karena helium yang terdapat di bagian intinya sudah habis. Tapi kemudian gas helium yang terdapat di lapisan-lapisan lebih luar akan meledak secara beruntun, serta melemparkan bagian-bagian yang hancur itu ke angkasa, sehingga bobot atau massa matahari akan terus berkurang. Satu juta tahun kemudian, matahari terus menyusut ukurannya, sampai cahayanya redup dan akhirnya hilang sama sekali.

Sebelum itu, manusia mungkin sudah sempat pindah ke planet lain, seperti dibayangkan oleh mendiang pakar astrofisika terkenal, Profesor Stephen Hawking, dan Elon Musk, pebisnis besar yang sedang menyiapkan penerbangan manusia ke planet Mars. Manusia masa depan itu, mungkin bisa menyaksikan sistem tata surya yang sedang mati itu; sebagai sebuah bintang gelap atau bintang hitam yang di kelilingi planet-planet yang hangus terbakar. [ii]

Continue Reading

Teknologi Informasi

Perhatikan Kembali Kebijakan Baru WhatsApp yang Berlaku Mulai 15 Mei

Published

on

Perhatikan Kembali Kebijakan Baru WhatsApp yang Berlaku Mulai 15 Mei

Gencil News- Pihak WhatsApp telah menyampaikan untuk memperhatikan kembali mengenai kebijakan baru aplikasi yang berlaku mulai tanggal 15 Mei 2021.

Aplikasi pesan WhatsApp mengungkapkan secara bertahap akan melumpuhkan akun pengguna yang tidak menerima perubahan kebijakan privasi baru.

Mengutip melalui Mac Rumors, Minggu, 21 Februari 2021, Perhatikan Kembali Kebijakan Baru WhatsApp yang Berlaku Mulai 15 Mei 2021.

Pihak dari WA akan meminta pengguna yang belum menerima perubahan kebijakan untuk mematuhi persyaratan baru selama beberapa minggu mendatang.

Tujuannya agar memiliki fungsionalitas penuh dari WhatsApp mulai 15 Mei terpenuhi.

Sementara itu, jika tidak menerima persyaratan, untuk waktu yang singkat, pengguna masih bisa menerima panggilan dan pemberitahuan.

“Tetapi tidak akan dapat membaca atau mengirim pesan dari aplikasi,” ujar pihak WhatsApp.

Kepada Tech Crunch, aplikasi besutan Facebook itu mendetailkan rencananya bahwa kebijakan perusahaan akan berlangsung selama beberapa pekan.

Kebijakan WhatsApp untuk pengguna yang tidak aktif akun biasanya terhapus setelah 120 hari tidak aktif.

Aplikasi berlogo gagang telepon itu pertama kali mengumumkan persyaratan penggunaan barunya awal bulan lalu.

Perubahan salah persepsi oleh banyak pengguna bahwa platform akan membagikan pesan mereka dengan perusahaan induk Facebook.

WhatsApp mengklarifikasi bahwa pesan pribadi antar pengguna akan tetap terenkripsi end-to-end, sehingga hanya terakses oleh mereka yang ada dalam percakapan.

Namun, WhatsApp juga memungkinkan pengguna mengirim pesan ke bisnis, dan perlindungan yang sama tidak akan berlaku untuk pesan tersebut.

Data dalam pesan bisnis akan dapat d igunakan untuk tujuan komersial seperti penargetan iklan Facebook, dengan beberapa data disimpan pada server Facebook.

Kesalahan persepsi itu menyebabkan reaksi balik di antara pengguna platform milik Facebook, dan menyebabkan beralih ke aplikasi pesan lain seperti Telegram dan Signal.

Kedua aplikasi itu bahkan dengan cepat mengeksploitasi situasi dengan membujuk mantan pengguna dengan fitur obrolan yang lebih umum.

Sejak saat itu, WhatsApp menggunakan pembaruan Status dalam aplikasi untuk mengklarifikasi bahwa pembaruannya tidak mempengaruhi berbagi data dengan Facebook dalam hal obrolan pengguna atau informasi profil, tapi ketentuan baru ini berlaku bagi mereka yang menggunakan fitur obrolan bisnis.

Dalam beberapa minggu menjelang Mei, aplikasi ini akan mulai meluncurkan spanduk kecil dalam aplikasi yang dapat d iketuk pengguna untuk meninjau ulang kebijakan privasi.

Dengan mengetuk spanduk akan menampilkan ringkasan perubahan yang lebih rinci, termasuk tentang cara kerja WA dengan Facebook.

“Pada akhirnya kami akan mengingatkan pengguna untuk membaca kebijakan baru dan menerimanya untuk terus menggunakan aplikasi,” kata WhatsApp.

Continue Reading

Teknologi Informasi

Google Sumbang Untuk Distribusi Vaksin Covid-19 Sebesar 2 T

Published

on

Google Sumbang Untuk Distribusi Vaksin Covid-19 Sebesar 2 T

Gencil News- Google sebelumnya pernah menyampaikan bahwa perusahaannya akan melakukan dan mendukung pendistribusian vaksin COVID-19.

Total biaya yang akan google investasikan mencapai 150 juta US Dollar atau setara dengan 2 Triliun untuk pendistribusian vaksin Covid-19.

Mengutip dari beberapa sumber. biaya 50 juta US Dollar berikutnya akan di investasikan untuk memberikan informasi terkait vaksin kepada beberapa komunitas yang “kurang terlayani”

Lebih lanjut, perusahaan juga mengumumkan bahwa pada beberapa daerah, pencarian Google dan G-Maps akan menunjukkan lokasi vaksinasi virus corona baru.

Layanan ini pertama kali akan mulai berlaku pada negara bagian Arizona, Louisiana, Mississippi, dan Texas.

Google juga akan menyediakan fasilitas khusus seperti gedung, tempat parkir, dan ruang terbuka untuk klinik vaksinasi.

Sebelumnya, Google sudah memberi hibah senilai USD 5 juta kepada organisasi seperti Morehouse School of Medicine’s Satcher Health Leadership Institute, yang berfokus mengatasi kesenjangan ras dan geografis dalam hal akses pada vaksin.

Tidak hanya itu, mereka juga akan memperluas panel informasi vaksin Covid-19 pada hasil pencarian di mesin pencari.

Pada Desember 2020, Google meluncurkan panel informasi vaksin dalam hasil pencarian G-Search di Inggris.

Google juga mencamtumkan informasi terkait vaksinasi individu. Panel tersebut mirip dengan panel informasi yang dipakai untuk membagikan fakta tentang Covid-19 serta lokasi tes Covid-19.

Continue Reading

Advertisement

KORAN GENCIL NEWS

TRENDING